ELENA: The Quiet Girl

ELENA: The Quiet Girl
6



Saat ini Elena membawa kumpulan kertas berisi data-data sekolah, ia mendapat kabar jika hanya dirinya yang bisa melakukannya.


Berjalan di lorong-lorong yang sepi sudah biasa baginya, tentu saja sepi karena Elena datang pagi-pagi sekali.


Dari jauh ia melihat sosok laki-laki didepan pintu kepala sekolah, Elena tidak mengerti mengapa laki-laki itu diam saja mematung di sana.


"Apa jangan-jangan hantu?!"


Elena menepis pikiran negatifnya, ia tidak akan tau jika tidak bertanya dan malah memfokuskan untuk berfikir yang tidak-tidak.


Saat sudah dekat, ia ingin menepuk pundak si lelaki itu, namun justru laki-laki itu malah bergumam membuatnya mengurungkan niatnya.


"Masuk tidak ya?"


"Ini semua gara-gara papa! kenapa harus aku yang datang?"


"Aku belum siap untuk masuk sekolah baru!"


"Raihan, kau brengsek!"


"Apa aku kabur saja dan bolos?"


"Hahaha, akan aku sobek dokumen pendaftarannya!"


Laki-laki itu sudah memulai niatnya, saat berbalik ia dikejutkan oleh sosok Elena yang menatapnya dengan tatapan menyeramkan.


Sontak laki-laki itu berteriak. "HANTU!" pada Elena.


Elena menghela nafas, masih pagi sudah bertemu orang aneh membuat hatinya sedikit kesal. Ia langsung membuka pintu ruangan kepala sekolah, dan dilihatnya didalam sudah ada tiga guru.


Tangan kanan Elena menarik laki-laki yang tadi menyebutnya hantu dari balik tembok, karena sudah macam-macam dengannya Elena akan membuatnya gagal untuk bolos.


"Tungg-- apa?!"


"Saya memungutnya tadi dijalan, kasihan dia nyasar," celetuk Elena membuat mata laki-laki itu terbelalak.


"Eh, bukanya kau William? anak pak Henry bukan?"


Laki-laki bernama William itu tersenyum dan mengangguk, sekarang otaknya merencanakan bagian B untuk kabur.


"Anu, saya tidak membawa doku--"


"Dia ingin mengembalikan dokumen pendaftarannya."


Lagi-lagi Elena menggagalkan rencana yang sudah disusun rapih oleh William, laki-laki itu berdecih kesal lalu mengeluarkan dua kertas dari dalam tas.


"Ayo, silakan masuk dulu kalian berdua."


William duduk di kursi khusus tamu sedangkan Elena duduk di kursi rapat bersama dengan dua guru yang mendampinginya.


"Ohh, kau ingin masuk ke dalam kelas 11-2 bersama dengan Raihan?" ujar sang guru pada William, laki-laki itu hanya mengangguk dan sibuk memperhatikan Elena.


"Kalau begitu, kau bisa langsung masuk kelas. Ayo saya antar," ujar sang guru, William justru menggelengkan kepalanya.


"Bu, saya belum tau isi dari sekolah ini, bisakah hari pertama saya habiskan untuk berkeliling agar mengenal lebih banyak tempat?" pinta William, guru itu berfikir sejenak lalu menjawab.


"Masuk akal juga, boleh deh. Ibu akan ajak kau berkeliling," lagi-lagi William menggelengkan kepalanya, bukan itu yang ia mau.


"Ibu, kan sibuk. Biar dia saja yang memandu," ucap William sambil menunjuk ke arah Elena, gadis yang merasa dirinya ditunjuk merasakan firasat buruk dalam hatinya.


"Oke, Elena! apa kau sudah selesai?"


Elena yang merasa ada yang tidak beres ingin menjawab bahwa dirinya masih belum selesai berdiskusi, namun seorang guru malah menjawabnya dengan jawaban lain.


"Belum, Bu. tapi bisa dilanjutkan besok, saya juga ada keperluan lain," jawabnya lalu beranjak pergi dari ruangan.


Elena yang merasa semuanya sudah direncanakan hanya bisa pasrah, ia mendekat agar bisa lebih tau apa yang harus ia lakukan nantinya.


"Apa yang dia rencanakan kali ini?"


"Kau akan menjadi pemandu William untuk tour sekolah hari ini, jelaskan apa saja yang ada disekolah, ya?"


"Bu, saya sibuk. OSIS kan ada?" tanpa basa-basi Elena langsung menolak, William sedikit terkejut dengan keberanian gadis yang pada dasarnya penakut itu.


Sambil menggeleng, sang guru menjawab. "No, OSIS sedang sibuk mempersiapkan festival ekskul Minggu depan, hanya kau satu-satunya siswa yang tidak memiliki kesibukan lebih."


Elena memijat pelipisnya, ia sudah tidak bisa menolak permintaan sang guru karena memang hanya dirinya yang tidak berorganisasi. "Hah, baiklah."


Senyuman William semakin sumringah, awalnya ia sedikit kecewa karena berfikir rencananya akan gagal lagi, namun ternyata takdir baik memihak nya.


Keduanya berjalan bersama, William yang menikmati tour sekolah sedangkan Elena sibuk membaca novel didalam ponselnya.


"Siapa namamu?" tanya William yang tidak direspon oleh Elena.


"Elena, ya? nama yang bagus," ucap William lagi.


"Namaku, William Henry Ford. Aku suka mencoba hal baru, mencicipi hal baru, dan semua sesuatu baru," oceh William yang sama sekali tidak direspon oleh Elena.


Saat tiba disebuah kelas dengan plat nama 11-2, Elena berhenti. "Tour selesai, silakan masuk kelas," ucapnya sambil menunjuk pintu kelas yang masih tertutup.


"Tidak bisa, kau harus menemaniku berkeliling sampai aku puas!" celetuk William, Elena berjalan menjauh.


"Lakukan sesukamu," gumam Elena tidak peduli.


William segera mencegat Elena, diambilnya ponsel itu dari tangan gadis itu.


"Hei, kembalikan!" seru Elena berusaha meraih ponsel yang ditinggikan William.


"Ambilah! ayo ambil!" William semakin meninggikan tangannya, ia tertawa melihat gadis yang dingin itu kesusahan meraihnya.


Bukan Elena namanya jika tidak punya akal, gadis itu langsung menendang kaki William hingga laki-laki meringis kesakitan.


Elena terbelalak melihat ponselnya melayang karena William yang kesakitan, dalam ponsel itu banyak dokumen penting miliknya, ia tidak rela semuanya hilang begitu saja.


Dan, hap. Seseorang berhasil menangkap ponsel milik Elena, gadis itu langsung bernafas lega.


"William apa yang kau lakukan?" seseorang itu bicara, Elena segera membuka matanya. laki-laki dengan rompi yang sama dengan William menatapnya.


"Oh, akhirnya kau sampai juga. Kenalkan dia Elena, pemandu tour ku dan ponsel yang kau pegang itu miliknya."


Laki-laki itu mendekat, tangannya memberikan ponsel pada Elena namun dengan cepat ia menendang kembali kaki William yang barusan terkena tendangan Elena.


"KAU SUDAH ADA TEMAN, TIDAK ADIL BRENGSEK!"


William kembali meringis kesakitan, kali ini tendangan sepupunya lebih sakit dari tendangan Elena.


"Suruh siapa kau sibuk main game! Aww, kakiku sakit, dasar kau sialan! Raihan!"


Elena hanya melongo melihat situasi sekarang, saat melihat Raihan ia pikir sudah bertemu orang normal tapi sepertinya keinginan terlalu tinggi melihat tingkah keduanya yang abnormal.


William masih berusaha membalas tendangan Raihan, namun dengan gesit Raihan selalu berhasil menghindari nya.


"Aku permisi," Elena segera berbalik pergi, otaknya sama sekali tidak bisa mencerna apapun sekarang, inginnya hanya menghindari dua orang bodoh itu.


"Tunggu! kau tidak bisa pergi tanpa aku!" teriak William yang langsung dirangkul oleh Raihan. "Lepaskan! aku ingin dia, Elena!"


"Kau tidak boleh bersenang-senang tanpa aku, lain kali aku akan terus mengikuti mu," tekan Raihan menyeret William masuk kelas.


"Tidak, oh no!!!"


Elena menutup kedua telinganya, suara William terdengar menggelar, layaknya seorang yang sedang mendapati KDRT, mulai dari sekarang ia tidak akan pernah bisa tenang karena muncul dua orang bodoh lagi.