
Tiba-tiba, gadis pendiam itu berlari memeluknya, keduanya ambruk bersamaan, tangan kakinya gemetar, air matanya terus mengalir.
"Aku sangat takut," lirih Elena menahan air mata.
"Tenanglah, aku di sini." Tangan William bergerak mengusap punggung Elena, berharap ketakutan gadis itu berkurang.
Sejenak, keadaan menjadi hening. Hingga datanglah Sia yang membuat Elena langsung menjauhkan diri dari William.
"Ma-maaf," ucap Elena sedikit gugup.
William tersenyum kecil. "It's, oke."
"Sia, bisa tolong bawa Elena ke UKS? dia tidak akan mau jika aku yang membawanya ke sana," lanjutnya berbicara pada Sia.
"O-oh, tentu saja," sahut Sia.
"Terima kasih, Sia." William tersenyum manis ke arah dua gadis itu.
"Iya, Will. Sama-sama." Setelahnya, William melenggang pergi, meninggalkan Elena dan Sia.
"Apa aku harus minta maaf nanti?" batin Elena menatap William yang mulai menjauh.
"Ayo, El!" ajak Sia membuyarkan pikiran Elena.
"Ah, iya."
Sesampainya di UKS, Sia segera memberikan segelas air putih pada Elena. Beruntung, di ruangan tersebut memang disediakan air mineral. Jadi, siapapun tidak perlu repot-repot berlari ke kantin untuk mendapatkannya.
Elena meneguk habis minumannya. "Terima kasih," ucapnya seraya menyodorkan gelas yang sudah kosong pada Sia.
"Sama-sama," balas Sia yang berpindah duduk di samping Elena.
"Jadi, bisa kau jelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa bisa kau ada di gudang itu?" sambungnya mengintrogasi Elena.
Elena tersenyum kecil. "Kau seperti temanku saja." Mendengar itu Sia langsung memalingkan wajahnya.
"M-memangnya kenapa?! musuh pun bisa menjadi teman sesaat kan?!" cetus Sia.
Elena makin mengukirkan senyumnya. "Hehh?"
"Berisik! cepat ceritakan saja!"
Elena menghela napasnya panjang. "Aku dijebak."
"Dijebak? Siapa yang menjebakmu?"
"Anna." Jawaban Elena membuat Sia terperangah. Namun, sebelum gadis berisik itu berasumsi yang tidak-tidak, Elena kembali membuka suara. "Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan Anna," tambahnya.
"Lalu?"
Elena menghedikkan bahunya. "Entahlah. Dari yang aku dengar, sepertinya ada seseorang yang mengancamnya. Maka dari itu dia berani melakukan hal ini."
Sia mendengus kesal. "Aku yakin. Pasti ini ulah perempuan jalang itu."
"Jangan berfikir negatif dulu."
"Kau yang terlalu baik, bodoh!" celetuk Sia.
"Aku memang baik sejak dalam kandungan," balas Elena tersenyum, sementara Sia lagi-lagi dibuat kesal olehnya.
"Padahal tadi kau sangat kalem di pelukannya," gumam Sia. Mendengar hal itu mendadak wajah Elena menjadi memanas.
"A-apa maksudmu?!" sentak Elena membuat Sia terkejut.
Melihat respon Elena yang tidak biasa, Sia tersenyum kecil. "Hmm, ada yang sedang malu-malu nih."
"Diam!!!"
"Pft! hahahaha, wajahmu sangat lucu, El!" Tawa Sia menggelegar, baru kali ini ia melihat ekspresi yang langka dari seorang Elena itu.
Elena mendecak sebal. "Berhenti menggodaku, Sia!"
“Loh, apa salahku? aku mengatakan fakta kan? tadi kau memeluk laki-laki dengan mudahnya," jelas Sia lagi.
"Tidak! hanya kali ini saja!" celetuk Elena membenarkan.
"Hoo, maksudnya hanya pada William saja?" lagi-lagi Sia membuat Elena darah tinggi, gadis pendiam itu memejamkan matanya lalu beranjak dari duduknya.
"mau kemana?" tanya Sia.
"Aku bisa gila, jika terus-terusan disini!" cetusnya lalu berjalan keluar.
"Dasar, ratu gengsi," gumam Sia lalu beranjak dan mengikuti Elena dari belakang.
Sesampainya di kelas, Elena langsung disambut oleh Erix. "Hai, El. Sepertinya sekarang kau jadi suka membolos ya?"
"Kau bicara seolah sudah mengenalku saja," balas Elena.
"Memang sudah, bahkan aku tau semuanya tentangmu!" Batin Erix.
"Aku hanya basa-basi saja, kenapa kau selalu tidak suka saat aku bicara padamu?"
"Seharusnya kau menatapku dengan penuh cinta, bukan penuh kebencian, El."
Bell berbunyi, mengakhiri semua drama sekolah yang tidak terhitung jumlahnya. Elena menatap keluar jendela, orang-orang terlihat seperti semut yang berhamburan dari sarangnya.
Seperti biasa gadis itu menunggu, para semut pergi, ia melihat Erix. kali ini laki-laki itu tidak menawari untuk jalan bersama sampai gerbang.
"Mungkin dia marah dengan ucapan ku?"
Elena kembali menatap ke luar jendela, ia tidak peduli lagi. Bertambah satu orang yang membencinya justru bertambah pula ketenangannya.
Setelah sudah yakin dengan kondisi sekolah yang tenang, Elena memasukkan buku serta alat tulisnya kedalam ransel miliknya dan pergi keluar kelas.
Sesampainya di depan halte bus, ia duduk di sana, menunggu kendaraan yang akan mengantarkannya pulang lebih cepat dibandingkan berjalan kaki.
"Kenapa lama sekali? Apa mereka sudah punya banyak uang?" gerutu Elena yang lelah menunggu.
Beberapa saat kemudian, terdengar deruman motor yang mendekat ke arah Elena
Kuda besi berwarna merah mengkilap itu, berhenti tepat di depan Elena.
Mata Elena yang awalnya memicing, kini terbuka lebar saat mengetahui siapa pengendara motor tersebut.
William.
“Naik, aku akan mengantarmu,” ucap laki-laki itu.
“Tidak, terimakasih."
“Mau sampai kapan kau akan berdiri di sini? Hari sudah sore, tidak akan ada angkutan umum yang lewat.”
“A-aku bisa memesan ojek atau taksi,” alibi Elena asal.
Padahal, ia sendiri tahu jika ponselnya kehabisan baterai.
“Lalu kenapa kau tidak memesannya dari tadi?”
Skakmat.
“Apa urusanmu? pergi sana!" cetus Elena mengusir William.
“Sudahlah, El. Aku tahu ponselmu mati,” ledek William membuat Elena menggeram kesal.
Gadis itu memilih memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun, bukan William namanya jika menyerah begitu saja. Laki-laki itu turun dari motor dan berdiri di hadapan Elena.
"A-apa!?" tanya Elena gelagapan, entah kenapa kejadian beberapa jam yang lalu membuatnya merasa aneh saat didekat William.
"Aku ingin meminta balasan untuk perbuatan baikku tadi siang," ucap William dengan wajah tanpa dosanya.
Elena tertawa sinis. "Harusnya aku tahu akal licikmu itu."
"No. Bukan licik, tapi cerdas."
Bola mata Elena berotasi malas. "Kau mau apa?"
"Cukup dengan kau pulang bersamaku. Gimana? Mudah, bukan?" William tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan kira aku tidak tau, kau ambil motor siapa itu? aku tidak mau pergi dengan seorang pencuri," ucap Elena mengalihkan pembicaraan.
William mendesis sebal. "Aku tidak mencuri! aku meminjamkannya, ingat Surya? itu motornya."
“Tidak, siapa itu?"
William berjalan menuju motor dan menaikinya. "Naik atau aku sebarkan seorang Elena memelukku erat sambil menangis ketakutan karena gelap!"
"Kau licik!" ketus Elena kesal.
William tersenyum puas. "Memang!"
Dengan raut wajah kesal karena ulah William, Elena memilih jalan aman dengan mengikuti kemauan laki-laki itu.
"Peluk aku lagi, El!" pinta William menoleh kebelakang.
"Tidak usah banyak bicara! Cepat jalankan motornya!" kesal Elena.
Helaan napas lolos dari arah William.
Tanpa aba-aba, William menarik gas motornya, membuat Elena hampir terjengkang ke belakang, jika saja gadis itu tidak cepat-cepat memegang pinggang laki-laki di depannya.
"KAU SENGAJA, YA! SIALAN!" Elena memukul bahu William cukup keras. Namun, bukannya kesakitan, laki-laki itu malah terkikik sendiri.
"Aku kan sudah bilang, peluk aku, Elena. Nanti jatuh."
Elena berdecak pelan. Ia mencoba menahan amarahnya. Jika ia terus meladeni William, maka tidak akan pernah ada habisnya.
"Jalankan motornya sekarang," geram Elena tertahan.
"Baik, baik." Karena tidak mau gadis yang diboncengnya bertambah kesal, William pun melajukan motornya membelah jalanan sore.
Selamanya, ia akan mengingat momen yang tercipta hari ini. Naik motor bersama Elena di sela-sela indahnya senja.