Deep

Deep
Baikan



Berulang kali Kyungsoo menelpon Chanyeol tapi sama sekali tak diangkat.


"Kemana perginya anak itu, kenapa belum pulang hingga selarut ini" gumamnya sambil terus menelpon Chanyeol.


Jiwon dan Sehun masih duduk di sofa, Jiwon tampak tenang tapi jauh di dalam hatinya benar-benar tak setenang itu.


"...Tapi jika perasaanku itu cukup menganggu kenyamananmu... aku akan pergi"


Ia menggeleng pelan. Kalimat itu selalu berputar di kepalanya, setelah tadi pagi pria itu pergi begitu saja dengan Rosé.


Apa ia benar-benar marah ?


"Jiwon- iie, coba kau yang telfon dia barang kali ia mau mengangkat jika itu kau, aku akan mencoba menelfon manager" kata Kyungsoo.


Jiwonpun mengangguk dan berdiri lalu keluar ke taman belakang.


Dua kali telfonnya tersambung tapi Chanyeol tak mengangkatnya. Ini bukan jadi kebiasaannya yang mengabaikan panggilan Jiwon. Terlihat Jiwon semakin gusar pikirannya benar-benar kalut memikirkan Chanyeol yang entah dimana sementara jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Jiwon- iie " panggil Sehun yang berdiri diambang pintu.


"Dia tak mengangkat?" Tanyanya


Jiwon menggeleng lemah dan duduk di kursi menghadap taman. Ia mengusak wajahnya kasar.


"Apa kalian bertengkar ?" Tanya Sehun yang kini sudah duduk di samping Jiwon.


Jiwon hanya diam ia sendiri tak tahu apa yang mereka harus pertengkarkan.


"Aku mendengarnya pagi itu saat Seo joon Sunbae datang ke villa" kata Sehun yang membuat Jiwon menatapnya tak percaya.


"Aku tak bermaksud menguping, tapi..."


"Aku harap kau tak marah dengan Chanyeol hyung,"


Jiwon menunggu apa yang akan diucapkan Sehun.


"Aku tak menyalahkan Chanyeol hyung jika dia memang menyukaimu, karena sangat susah untuk pria dan wanita bisa bersahabat sebegitu lama tanpa salah satu dari mereka ada yang menyimpan perasaan lebih dari persahabatan"


Jiwon menggigit bibir bawahnya.


"Aku tak bermaksud ikut campur dengan masalah kalian, tapi aku hanya ingin kau menanyakan ini dengan hatimu sendiri, Apa kau siap jika Chanyeol hyung bersama wanita lain? Yang sudah pasti setelah itu kalian akan memiliki sebuah jarak sebagai sahabat dan apa kau siap jika kau kehilangan masa-masa persahabatan kalian yang indah itu hanya karena masalah itu"


Jiwon masih terdiam bahkan kali ini ia tak menemukan jawaban untuk pertanyaan Sehun itu.


Apa ia siap ?


Ahh, benar juga selama ini Chanyeol kan tak pernah dekat dengan wanita manapun selain Jiwon. Pria itu selalu ada untuknya saat ia selalu membutuhkannya.


Ada sih yang dekat tapi itu hanya sebatas rekan kerja atau partner dance di agensi.


Tapi, untuk kekasih sejauh ia mengenal Chanyeol pria itu memang tak pernah mengkonfirmasi dirinya memiliki kekasih.


Di media memang ia sering di kabarkan dekat dengan beberapa gadis tapi tak pernah sekalipun ia maupun pihak agensi mengkonfirmasi kebenaran berita-berita tersebut.


Seperti terakhir kabar kencannya dengan Rosé Blackpink yang bahkan tadi pagi secara terang-terangan Chanyeol mengatakan padanya jika mereka tak memiliki hubungan apapun.


Apa ia siap kehilangan persahabatan mereka yang indah itu?


Arhh, kenapa ia harus memikirkan itu?


"Jiwon- iie kau tak apa? Apa ucapanku tadi menyinggungmu?" Tanya Sehun membuyarkan pikiran-pikirannya itu


"Ah ani, mungkin aku agak lelah Sehun- ahh"


"Ahh geureu, istirahatlah aku rasa ini memang sudah malam, mungkin Chanyeol hyung ada urusan mendadak hingga tak sempat memberi kabar kita" kata Sehun.


Jiwong mengangguk "Kau juga istirahatlah, kalau begitu aku pamit" pamit Jiwon lalu berlalu setelah sehun mengangguk.


...●●●...


"Oppa, berhentilah kau sudah terlalu banyak minum" tegur Rose yang saat ini menemani Chanyeol di bar.


Ya, mereka tadinya memang pergi ke tempat wisata yang diajukan Rosé tapi tak berlangsung lama karena suasana hati Chanyeol yang sedang tak bagus. Pria itu berulang kali hanya melamun dan tak menyimak apa yang dikatakannya.


Dan disinilah mereka sekarang duduk disalah satu kursi vip bar. Sudah hampir lima gelas Chanyeol meminum winenya. Dan kepalanyapun sudah mulai pening.


Saat menghabiskan gelas keenam matanya memejam kuat-kuat. Tatapan kecewa Jiwon kembali memenuhi otaknya. Saat dengan terang-terangan gadis itu memintanya membuka hati untuk Rosé.


Kenapa harus semenyakitkan ini.


Ia hendak mengangkat gelasnya lagi tapi sebuah tangan menahannya.


"Kumohon berhentilah oppa, aku tak tahu apa masalahmu tapi jika itu menyangkut skandal tentangmu aku harap jangan menyelesaikannya seperti ini"


Ah iya, skandal sialan itu.


Ia bahkan tak memikirkannya karena memang dasarnya ia memang tak mau mengambil pusing tentang itu.


Skandal yang akhir-akhir ini menyudutkan namanya dengan seorang wanita yang entah siapa itu, dengan segala kebohongannya membeberkan kepada public di dunia maya tentang perselingkuhannya dengan banyak wanita. Hingga dikaitkan dengan kabar kencannya dengan Rosé.


Ah, dari mana juga sumber berita fake sialan yang tak berdasar itu. Jika harus dipikirkannya ia hanya akan pusing sendiri. Terlebih lagi netizen korea yang benar-benar seolah menjadi dewa yang maha benar hanya membuat spekulasi sendiri tentang apa yang mereka lihat di sosial media. Jujur saja, kadang ia lelah berada di dunia yang seperti itu, seolah ia harus menjual privasi tentang kehidupan privasinya.


"Oppa sudah malam, ayo aku antarkan kau pulang, biar kau bisa beristirahat"ajak Rosé.


Chanyeol merasakan kepalanya semakin pening, mungkin ia sudah setengah sadar sekarang karena pengaruh wine itu. Ia menyangga kepalanya dengan tangan kirinya sementara matanya masih terpejam. Bayangan Jiwon seolah tak hilang dari otaknya. Gadis itu menangis. Ya, dan itu karenanya.


Kau bodoh , Park Chanyeol.


"Jiwon -ahh mianhamda" lirihnya yang membuat Rosé mencelos.


Jadi sedari tadi ia memikirkan Jiwon.


Dadanya begitu sesak melihat Chanyeol yang begitu kacau seperti ini. Pria yang biasanya begitu menyenangkan dan penuh humor si penebar kebahagiaan kini begitu kacau dan...


Menyedihkan.


Kenapa ia harus melihatnya seperti ini, dan lebih menyakitkannya lagi saat pria itu bersamanya ia malah mengigaukan nama wanita lain. Apa ia harus sadar sekarang jika pria yang begitu dikaguminya, ah aniya, sepertinya ia sudah mulai menyukainya sekarang, memang menganggapnya tak lebih dari sekedar rekan kerja dan kini kenyataannya mungkin pria itu sudah mencintai gadis lain.


Ia meremas bahu Chanyeol yang masih menunduk. Atensi pria itupun beralih padanya.


"Jadi Jiwon eonni.."


Rosé meneguk ludahnya sukar "orang yang kau sukai?


Chanyeol menatap Rosé sayu, tanpa mengucapkan apapun.


Rosé tersenyum masam "Sudahlah Aku akan telpon Sehun agar dia saja yang menjemputmu aku tak mungkin sanggup membawamu seperti ini." katanya lalu meraih ponsel di tasnya lalu mencari kontak Sehun.


Tak berapa lama Sehun dan Kyungsoo datang.


"Rosé -ahh, apa yang terjadi? Kenapa dia bisa seperti ini? Tanya Sehun yang langsung memapah Chanyeol yang berjalan sempoyongan.


"Dia terlalu banyak minum, dan aku rasa dia sedang ada masalah, kalian tolong bawa dia aku harus kembali ke villaku sekarang"


"Kau tak bareng saja dengan kami?" Tanya Kyungsoo


Rosé menggeleng, "Manajerku akan menjemputku dia sedang dalam perjalanan, lagian tempat kita juga beda arah"


"Baiklah, berhati-hatilah"kata Sehun yang diangguki Rosé.


...●●●...


Sudah empat kali Chanyeol memuntahkan isi perutnya. Kepalanya begitu pening, dan perutnya seperti diaduk-aduk. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih.


Jiwon menatap Chanyeol nanar, saat berulang kali pria itu bolak balik ke wastafel dibantu Sehun dan Kyungsoo.


Setelah Chanyeol berbaring di ranjangnya ia baru mendekat.


"Kalian istirahatlah, biar gantian aku yang merawatnya." Seru Jiwon pada Kyungsoo dan Sehun.


"Aku mengantuk sekali" gumam Sehun sambil memijat pundaknya.


"Hem, anak itu benar-benar dia harusnya sadar dia bukan peminum yang handal" gerutu Kyungsoo.


Jiwon beralih menatap Chanyeol yang sudah memejamkan mata. Tangannya terulur untuk memegang dahi pria itu dengan punggung tangannya.


Panas.


"Kalian tidurlah dulu, biar aku yang menjaga Chanyeol" suruh Jiwon.


"Kami akan tidur jika kau sudah selesai Jiwon -iie" tolak Sehun.


Jiwon menggeleng, "Tidurlah duluan, aku akan mengompres Chanyeol sebentar setelah itu aku juga akan tidur"


Kyungsoo dan Sehunpun berpandangan, lalu mengangguk.


"Tidurlah jika sudah selesai, ini sudah larut " nasehat Kyungsoo yang mulai membaringkan tubuhnya di sofa di kamar Chanyeol


"Geureu" sahut Jiwon lalu segera berlalu mengambil kain, baskom dengan air es untuk mengompres.


Ia sudah hafal jika Chanyeol banyak minum suhu tubuhnya pasti akan tinggi. Dia bukan peminum yang handal. Ia bahkan ingat saat sebelum debut dengan EXO saat pria itu masih menjadi trainee biasa, dan karirnya masih jauh dari kata sukses seperti sekarang ia begitu frustasi dan banyak minum malam itu hingga akhirnya ia demam juga esok harinya. Dan Jiwon jugalah yang dihubungi Chanyeol saat itu.


Saat Jiwon kembali terlihat Kyungsoo dan Sehun sudah terlelap sepertinya mereka kelelahan setelah bermain di pantai siang tadi dan selarut ini mereka masih menunggu Chanyeol. Jiwon menghembuskan nafas dan menuju kearah Chanyeol yang juga tengah terpejam.


Saat hendak meletakkan kain untuk mengompres kepala Chanyeol tangan pria itu malah menahannya. Jiwon sedikit terkaget karena mengira pria itu sudah tertidur.


"Hajimal" lirihnya.


"Kau demam" seru Jiwon.


"Gwenchana, istirahatlah aku akan melakukannya sendiri" katanya tanpa menatap Jiwon.


Jiwon menatap Chanyeol yang berpaling, seketika rasa kesalnya menguap begitu saja saat melihat keadaan pria itu sekarang.


Ia memang tak bisa marah lama dengan pria itu sekalipun beberapa hari yang lalu ia harus mendengar sesuatu yang tak diinginkannya dari mulut pria itu.


Atau memang...


Ahh, ia rasa itu terlalu rumit untuk diingat-ingat.


Ia kembali melanjutkan aktifitasnya untuk mengompres Chanyeol.


"Mianhae Chanyeol -ahh" lirih Jiwon yang membuat Chanyeol beralih menatapnya.


Namun gadis itu tak menatapnya dan sibuk mengompres kepalanya.


"Aku yang seharusnya minta maaf" ujar pria itu matanya masih menatap gadis cantik itu.


"Aku sudah bosan mendengar ucapan itu darimu, hem?" kelakar Jiwon yang membuat rapper EXO itu mengerutkan kening.


"Kau sudah bosan, tapi kau tak mengatakan kalau kau memaafkanku?"


"Bagaimana aku bisa memaafkanmu?"


"Ji..."


"Aku juga sadar, aku tak berhak mengatur kau harus menyukai siapa" potong Jiwon.


"Jadi ?"


"Boleh aku melupakan pernyataanmu waktu itu?" Tanya Jiwon yang membuat Chanyeol terdiam.


Ia memang tak berharap Jiwon membalas perasaannya. Tapi, ia juga tak munafik jika jika ia tak ingin Jiwon dekat dengan orang lain selain dirinya.


Apa itu egois?


Mungkin iya, tapi apa ia salah jika ia juga berharap jika seiring berjalannya waktu gadis itu akan membuka hatinya.


Tapi itu tadi apa, pertanyaan gadis itu seolah ingin mengubur harapannya yang sekecil itu.


"Chan" panggil Jiwon karena ia sama sekali tak bergeming.


"Ahh, kau bicara apa tadi?" Tanya Chanyeol mencoba menghapus pikiran-pikirannya itu.


Jiwon menghembuskan nafas, "Bolehkah aku melupakan pernyataanmu waktu itu?" Gadis itu terlihat serius.


Chanyeol tersenyum masam, "Apapun asal kau memaafkanku"


"Kau tak akan kenapa-kenapa kan jika nanti aku bersama orang lain?"


Skakmat.


Apa Jiwon mengetahui isi pikirannya?


"Dengarkan aku ! Sudah berapa lama kau mengenalku hem ? Satu tahun, dua tahun ? aku rasa sudah belasan tahun, kau tahu aku tak pernah melarangmu berkencan dengan siapapun itu, termasuk terakhir kau mengencani brengsek itu..."


"Yakk, jangan menyebutnya brengsek lagi, bagaimanapun aku pernah menyukainya" potong Jiwon.


Chanyeol tersenyum.


Selalu saja dia membelanya.


Pria itu menegakkan tubuhnya dan berhadapan dengan Jiwon.


"Aku rasa kau masih menyukainya"


"Aku tak berkata seperti itu"


Chanyeol memutar bola matanya, "Di jidatmu masih tertulis namanya Park seo..."


"Park yang lain" potong Jiwon yang membuat Chanyeol mengerutkan keningnya heran.


Gadis manis itu tersenyum misterius.


Apa sekarang ia salah jika berharap Park yang disebutkan gadis itu adalah dirinya.


Arhh, Park Chanyeol jangan melambungkan harapanmu terlalu tinggi jika nanti kau akan dijatuhkan lagi.


"Jangan bilang kau sudah menyukai orang lain lagi" kata Pria Park itu.


Gadis itu masih saja tersenyum misterius.


"Yakk, Kim Jiwon" panggil Chanyeol karena tak ada jawaban selain senyuman misterius.


"Tidurlah, aku rasa demammu sudah agak turun, aku akan tidur di sofa" kata Jiwon setelah menempelkan punggung tangannya pada dahi Chanyeol. Ia hendak berdiri namun ditahan Chanyeol.


"Kau tak ingin menjawabku dulu ?"


Gadis itu mendekatkan wajahnya pada pria itu dan hanya menyisakan beberapa senti.


Apa dia ingin menggodanya sekarang ?


Ayolah, aku ini pria normal Kim jiwon.


"Berhentilah memikirkan banyak hal, jangan sampai kerutan-kerutan itu muncul di wajah pujaan gadis-gadis pemujamu itu !" Kata Jiwon dengan ekspresi seolah mendramatisir yang dibuat-buat.


Kembali Jiwon terkekeh dan berlalu dari Chanyeol yang masih mematung.


"Jangan mengganggu tidurku lagi, dan jangan berulah arra !" Ujar gadis itu sambil merebahkan dirinya disofa panjang yang ada di kamar Chanyeol.


Gadis itupun memejamkan matanya, sementara Chanyeol masih menatapnya memahami kejadian beberapa saat lalu.


Aishh, kenapa gadis itu selalu membingungkan.


Tapi, bukannya ia ingin melupakan pernyataannya waktu itu.