
...Perkataan yang buruk keluar, berlawanan dengan perasaanku...
...Aku membuatmu mengalami kesulitan...
...dan akupun begitu sulit...
...Tidak seperti semangatku, semua sulit...
...Aku selalu mengecewakanmu, aku menyesalinya selalu...
...Aku tak pernah bisa melupakanmu, bahkan saat angin dingin datang menyelimuti...
...Kita saling berpelukan dengan nafas berburu pada malam...
...Dengan penuh kebahagian...
...Disaat malam kita mengimpikan esok yang baik...
...seperti sinar bintang...
...Aku akan mencari alam semesta...
...Sampai aku bisa menemukanmu lagi...
...Aku tidak akan melepaskannya, bahkan kenangan terkecil sekalipun...
...Kenangan terukir di musim...
...Mereka datang dan pergi beberapa kali...
...Tapi aku tetap akan memanggilmu...
...Kenangan selalu membawa air mata...
...Dimana semua itu dicuci merayu, sayang...
...Hanya kamu yang tinggal...
...Ini bukan perasaan yang bisa saya akhiri...
...Hanya dalam satu hari, dengan hanya satu mencoba...
...Saya merasakannya sangat menyakitkan...
...Dimanapun Anda berada, saya akan pergi ke Anda...
...Aku akan mencari alam semesta...
...Sampai aku bisa menemukanmu lagi...
...Aku tidak akan melepaskannya, bahkan kenangan terkecil sekalipun...
...Kenangan terukir di musim...
...Mereka datang kembali...
...Jadi aku akan menemukanmu...
...Karena itu cinta...
...Karena itu cinta...
...UNIVERSE - EXO...
...***...
Kepulan asap rokok mengepul memenuhi ruangan berulang kali sang empunya menghirup benda itu sudah hampir lima tahun ia menjauhinya tapi kali ini kembali ia ingin merasakannya. Kepalanya begitu penuh setelah pertemuannya hari ini dengan staff tertinggi SM Ent setelah ia pulang dari apartemen Jiwon tadi dan saat ini iapun sudah kembali ke apartemen itu lagi.
"Kalau kau bisa membuat keputusan untuk berkencan dengan seseorang kau juga harus siap untuk semua resiko yang akan datang."
Chanyeol pria itu mengacak rambutnya frustasi ucapan petinggi SM itu benar-benar mengganggu pikirannya sekarang.
"Kalau kau siap untuk berkencan kau juga harus siap mempertaruhkan karir dan grupmu"
"Arhhhh" ia mengerang kesal nafasnya naik turun menahan amarahnya.
Ia mengambil satu batang lagi hendak menyalakannya namun koreknya begitu sulit untuk menyalakan rokok itu membuatnya semakin kesal. Ia melempar rokok itu sembarang dan mengacak rambutnya frustasi.
Ia beranjak menuju kulkas di dapur mencari beberapa botol wine mahal yang ia sendiri yang menyimpannya. Benar-benar ia membutuhkan itu sekarang, ia menuangnya hampir segelas kecil penuh. Saat hendak menenggak minuman itu sebuah tangan menahannya dan dirasakannya seseorang memeluknya dari belakang ia begitu hafal aroma parfum ini. Ia melihat ke sisi kanannya Sehun tengah menatapnya datar lalu ia beralih kearah belakangnya dan meletakkan minuman itu di meja lalu berbalik mendapati Jiwon yang kini menatapnya teduh. Ia langsung merengkuh tubuh gadis yang lebih pendek darinya itu.
"Mianhamda" lirihnya tanpa melepas pelukannya.
"Chanyeol -ahh, gwenchana ?" Tanya Jiwon tanpa merubah posisinya.
"Saranghae." jawab pria itu yang terkesan tidak nyambung dengan pertanyaan Jiwon itu membuat gadis itu yakin jika sekarang pria itu sedang tak baik-baik saja.
Jiwonpun mendorong tubuh Chanyeol agak menjauh agar bisa melihat wajah pria itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Jiwon.
"Saranghae Jiwon -ahh." Lagi-lagi pria itu tak menjawab pertanyaannya dengan benar.
"Chan,?"
"Katakan kalau kau mencintaiku." mohonnya kali ini ia menatap gadis itu serius.
Jiwon mencoba menyelami apa yang ada dipikiran pria itu dan ia yakin sekarang pasti sesuatu sedang terjadi padanya.
"Ji..."
"Nado... Nado saranghae." potong gadis itu sepersekian detik kemudian pria itu tersenyum samar dan meraih tengkuk gadis itu menyatukan bibir mereka. Menciumnya lembut menyalurkan betapa ia begitu menyayanginya, meski ia tahu betul akhir-akhir ini hubungan mereka begitu sulit.
Jiwon membalas ciuman itu, entah kenapa ia merasa begitu akan merindukan kehadiran pria itu. Chanyeol semakin memperdalam ciumannya, meski airmatanya sudah mengalir begitu saja begitu juga Jiwon yang juga menangis dalam diam. Siapapun pasti tak akan baik-baik saja jika diposisi mereka saat ini.
Terlalu rumit.
Itulah kenyataannya, saat semua orang berhak untuk memiliki sandaran yang bisa mendengarkan saat mereka lelah. Tapi untuk idol dan artis semua itu tak berlaku. Kehidupan mereka hanya untuk menghibur dan menjadi kebanggaan para pendukung. Tak peduli jika mereka lelah saat itu juga, beberapa dari mereka dituntut untuk selalu tampil everything is always fine. Itulah sebuah tanggung jawab dari sebuah pekerjaan.
Setelah mulai membutuhkan asupan oksigen Jiwon sedikit menjauhkan dirinya dari Chanyeol. Pria itu masih menatapnya sayu sedetik kemudian ia merasakan tangan besar itu menghapus air mata yang membasahi pipinya. Jiwonpun tersenyum dan melakukan hal yang sama. Kenapa pria selalu menangis saat mereka berciuman. Tak cocok sekali dengan julukannya sebagai "Happy Virus".
"Kenapa kau selalu menangis ?" Tanyanya pada pria itu.
Chanyeol tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya, "Saat aku menciummu ?"
"Em."
Pria itu terlihat menerawang berfikir lalu menatap Jiwon lagi, "Aku terlalu bahagia."
"Jangan berbohong."
Pria itu menggeleng, "Aku benar-benar bahagia setelah bertahun-tahun aku menahannya dan akhirnya sekarang aku bisa melakukannya." jawabnya asal membuat Jiwon memukul lengannya.
"Yakk."
Pria itupun terkekeh melihat gadis itu yang ia yakin kini sedang salah tingkah.
"Aku mencium bau rokok." Ucap gadis itu membuat Chanyeol kini semakin merasa bersalah.
"Kau merokok lagi?" Tanyanya lagi.
Terlihat pria melihat kearah lain tempat Sehun berdiri tadi, meski kini pria itu sudah tak ada disana. Sampai dirasakannya tangan Jiwon meraih wajahnya agar menatapnya.
"Ini yang terakhir." Jawabnya kemudian.
"Aku tak melarangmu." Kata Jiwon lalu berjalan menjauh dari Chanyeol yang kini merutuki dirinya sendiri.
Iapun memilih menyusul Jiwon yang kini sedang berbincang dengan Sehun di depan pintu masuk apartemennya.
"Gomawo Sehun -ahh, kau sudah membantuku banyak hal hari ini."
Pria bermarga Oh itu tersenyum dan menatap kearah Chanyeol sekilas lalu beralih pada gadis itu lagi, "Aku pamit." ucapnya lalu berlalu setelah gadis itu mengangguk dan memintanya untuk berhati-hati.
Jiwonpun berbalik mendapati Chanyeol yang menatapnya sendu, iapun memilih untuk mendekat kearahnya.
Ia menghembuskan nafas sebelum berucap padanya, "Bagaimana pertemuanmu dengan Sajangnim?"
Lelaki itu belum berucap dan terlihat menahan sesuatu berulang kali ia mengudarakan nafasnya. Ia bingung harus berucap apa dengan gadis itu.
"Apa dia memintamu untuk memilih?" Tanya gadis itu yang membuat Chanyeol menatapnya.
Gadis itu memang selalu bisa membaca pikirannya. Apa ia punya keahlian yang lain selain membuatnya tak bisa terlalu lama jauh darinya?
Ia menggeleng pelan sebelum balik bertanya, "Bagaimana konferensi persmu?"
"Kau tak bisa memilih?" Tanya Jiwon yang seolah pertanyaan akan dijawab juga dengan pertanyaan.
"Apa pertanyaan mereka aneh-aneh?" Chanyeol balik bertanya kembali.
Jiwon tak menjawab, kedua pasang mata itu bertatapan tanpa saling memberi jawaban dan penjelasan. Dapat mereka rasakan dari tatapan itu, jika saat ini mereka tengah terluka.
...***...
Jiwon memasukkan beberapa pakaian yang akan dibawanya esok hari. Namun kini aktifitasnya terhenti saat tangannya tanpa sengaja menyenggol sebuah cincin yang ada di laci meja riasnya. Ia mengamati cincin itu sebentar.
"Aku mungkin akan sulit untuk memintamu menjadi kekasihku kehidupan kita terlalu rumit terlalu banyak campur tangan orang lain, aku hanya ingin kita menjalaninya bersama"
Jiwon memejamkan matanya mengingat kepingan ingatan yang kini melintas difikirannya.
"Sudah kukatakan aku ingin kau yang memilikinya, karena... kau berharga untukku Kim Jiwon"
"Dengan seluruh keseriusanku, wo aini."
Kalimat itu kembali berputar di kepalanya.
Ia tahu betul siapa pemilik cincin itu. Seseorang yang pasti terluka karenanya, ia tahu betul itu. Dan seperti ucapan pria itu, ia sadar kehidupan mereka terlalu rumit untuk memiliki kekasih.
Meski ia ingin menyangkalnya, tapi begitulah kenyataannya.
Sampai dirasakannya seseorang mengelus lembut lengannya dan menempatkan dagunya di puncak kepala gadis itu. Mereka bertatapan dari pantulan cermin.
"Masih mengingatnya?" Tanya Pria itu dengan suara deep voicenya.
"Aku rasa dia benar kehidupan kita terlalu rumit untuk memiliki kekasih, dan aku menyadarinya akhir-akhir ini." gadis itu seolah menertawakan dirinya sendiri.
"Sudah kukatakan jangan mengkhawatirkan banyak hal." Ucap pria itu tanpa berpaling dari cermin besar itu.
"Bagaimana dengan karirmu, membermu pasti akan terkena dampak dari berita ini ?" Kali ini gadis itu berbalik dan mendongak menatap Chanyeol yang tengah berdiri.
"Apapun yang terjadi aku tak akan pernah melepaskanmu." Katanya setelah sebelumnya ia mencuri ciuman di kening gadisnya itu.
"Jangan berkata seolah kau baik-baik saja, aku mengenalmu lebih dari separuh dari umurku."
Chanyeol meraih tangan Jiwon yang bebas, "Bertahanlah sebentar, aku akan segera menyelesaikan semuanya."
Gadis itu ingin berucap namun tertahan karena tatapannya dikunci oleh tatapan tegas Chanyeol.
"Boleh aku aku tidur disini?" Tanya pria itu membuat Jiwon kaget dengan permintaannya itu.
"Aku berjanji aku tak akan melakukan hal yang belum menjadi hakku." lanjutnya lagi sebelum gadis itu berfikiran jauh.
Gadis itupun mengangguk menyetujui.
Ini mungkin akan jadi yang pertama baginya menghabiskan malam yang panjang dan tidur satu ranjang dengan seorang pria selain appanya dan pria itu adalah Park Chanyeol sahabat kecilnya ah ani, ia bisa menyebutnya kekasih sekarang. Meski hubungan mereka sulit tapi seperti itulah sekarang.