Deep

Deep
Membuka kenyataan



Chanyeol baru saja selesai mandi ia menatap Jiwon yang masih duduk di balkon. Gadis itu menatap bintang-bintang yang malam itu seolah berlomba-lomba menampakkan cahayanya.


"Sedang apa Jiwon -iie ?" Tanyanya ketika ia berada disamping gadis itu.


"Ani, hanya mengagumi bintang-bintang aku dapat melihatnya begitu jelas dari tempat ini" gadis itu tersenyum tanpa beralih menatap langit.


Chanyeol mengikuti arah pandang gadis itu sekilas lalu menoleh menatap Jiwon.


Dari jarak sedekat itu, kenapa ia merasa sahabatnya itu semakin cantik. Kembali bibirnya membentuk kurva menatap pemandangan di depannya itu.


"Chanyeol -ahh kenapa mereka begitu indah" ucap Jiwon.


"Kau lebih indah" celetuk Chanyeol yang membuat Jiwon menatapnya sekilas lalu mencebikkan bibirnya.


"Jangan menggombal, aku takkan termakan karena itu"selorohnya.


Chanyeol hanya tersenyum menanggapinya.


Aku serius Jiwon -ahh.


Sampai sebuah fikiran terlintas dikepalanya menginterupsikan untuk menelpon Sehun.


"Bagaimana kalau aku menelpon Sehun sekarang untuk ikut kita liburan ke Jeju besok"


Jiwonpun menatap Chanyeol dan mengangguk setuju.


"Boleh saja" katanya lalu menatap ke langit malam lagi.


Chanyeolpun mengambil ponselnya dan mencari kontak Sehun.


"Yeopseo"


"..."


"Sehun -ahh, eodiya?"


"..."


"Aku hanya ingin mengajakmu dan Kyungsoo ke Jeju besok"


"..."


"Yang lain sedang pulang ke rumah mereka, Baekhyun juga sedang ada acara, mungkin aku hanya mengajakmu dan Kyungsoo kebetulan dia juga sedang kosong"


"..."


"Aku juga mengajak Jiwon"


"..."


"Yakk, kenapa kau jadi semangat saat aku menyebut Jiwon" kata Chanyeol sambil melirik Jiwon yang juga menatapnya saat mendengar namanya disebut.


"..."


"Terserah, besok aku akan menjemputmu, Kyungsoo akan berangkat pagi katanya" kata Chanyeol sebelum menutup panggilan.


Sampai ponselnya berdering kembali.


Chanyeol hanya menghembuskan nafas saat tahu nama manager tampak dilayar ponselnya. Ia mengangkat telponnya malas.


"Wae? Ayolah aku sedang berlibur hyung" keluhnya.


"..."


Terlihat Chanyeol memutar bola matanya jengah,


"Aku tak mau memikirkannya"


"..."


"Urus saja, tapi jangan membuat berita yang mengada-ada"


"..."


"Sekali aku bilang tidak ya tidak, hyung harus berapa kali aku menjelaskannya padamu"


"..."


"Lagian kenapa aku harus memikirkan hal yang tidak penting seperti itu"


"..."


"Jigeum -yo?"


"..."


"Aishh, hyung kau tahu kan hari ini aku sedang libur kau mau mengambil waktu liburku juga"


"..."


"Aishh"


"..."


"Tak bisa besok saja"


"..."


"Aniya, geureu 20 menit lagi aku sampai"


"..."


Chanyeol langsung memutus panggilan secara sepihak.


"Wae- yo, Apa ada masalah?" Tanya Jiwon saat melihat perubahan wajah Chanyeol


"Manager memintaku menemuinya, biasalah, kerjaan"


"Pergi saja, mungkin itu hal penting sehingga kau harus menemuinya"


"Kau tak apa disini sendirian?" Tanya Chanyeol.


"Gwenchana, pergilah kau tak perlu mengkhawatirkanku !"


Terlihat Chanyeol menghembuskan nafasnya lalu berdiri.


"Aku pergi dulu, kau bisa tidur di kamarku atau di kamar tamu passwordnya ulang tahunku, kau tak perlu menungguku mungkin aku akan pulang agak malam"


"Hemm, kenapa kau jadi sebawel ini".


"Aishh, kau malah mengataiku bawel"


Jiwon hanya tersenyum menanggapinya.


"Aku pergi" pamit Chanyeol lalu berlalu setelah mendapat anggukan dari Jiwon.


...●●●...


(Sehun POV)


Aku menatap Chanyeol hyung yang sedari tadi sibuk menurunkan barang-barang dari mobilnya. Sesekali kulihat ia melirik Jiwon yang sedang bercakap dan sesekali berteriak kesal dengan Kyungsoo yang membantunya membawa beberapa tas.


Kyungsoo memang sudah datang dari pagi karena dia membawa mobil sendiri.


"Hyung, biar kubantu" tawarku sambil meraih tas dari tangannya.


Ia hanya mengangguk.


"Hyung"


"Hem"


Aku agak ragu menanyakan ini, sampai kurasakan Chanyeol hyung menegurku setelah selesai menyimpan tas dikamarnya.


"Sebenarnya sejauh apa kau dan Jiwon- iie?" Ketika kami duduk diruang tengah.


Kulihat ia mengerutkan keningnya tak mengerti arah percakapanku.


"Apa maksudmu sejauh mana?"


"Ya, semua orang tau kalian bersahabat sudah lama, dan menurut study mustahil seorang laki-laki dan perempuan bersahabat begitu lama tapi tak ada perasaan lebih diantara keduanya"


Ia sedikit terkekeh "Sejak kapan kau belajar study seperti itu ?


"Aku hanya penasaran hyung, aku berfikir apa persahabatan kalian benar-benar murni, dalam artian tak ada perasaan yang melebihi perasaan sahabat"


Kulihat Chanyeol kembali tersenyum.


"Ada beberapa hal yang gak bisa di paksakan, dan terkadang beberapa hal itu hanya harus kita cukup tau"


Aku tak mengerti dengan ucapannya kali ini.


Kulihat bola matanya kembali menatap obyek yang sedari tadi menjadi perhatiannya dan tersenyum sekilas.


"Jiwon itu pinter, dia mudah bergaul, dia juga pribadi yang menyenangkan, dia juga pendengar yang baik untukku, dan yang gak bisa orang lain elak serta semua orang pasti tahu, Jiwon itu cantik" ia kembali tersenyum saat mengatakan itu.


Jadi dia benar-benar menyukainya.


"Heoh, munafik kalau aku mengatakan dia bukanlah type idealku, yang bahkan Jiwon melebihi semua itu" jawaban itu seolah menjawab pertanyaanku tadi.


"Kenapa kalau kau menyukainya kau tidak mengajaknya berkencan, ? Setidaknya kau adalah orang yang selama ini dekat dengannya"


Kembali ia tersenyum masih melihat objek utamanya Kim Jiwon yang terlihat sedang menelpon seseorang, "Aku rasa Jiwon itu terlalu sempurna, dia memiliki segalanya sebagai type ideal bahkan ia melebihi apapun dari semua syarat yang aku mau"


"Lantas,?" Aku masih penasaran dengan semua kalimat yang ia ungkapkan untuk Jiwon itu.


"Persahabatan itu tak baik jika dicampur-campurkan dengan perasaan cinta, jika perasaaannya sama mungkin akan menjadi pelangi tapi,..." ia menjeda kalimatnya.


"Jika berbeda maka akan menjadi air dan minyak, tak akan bisa bersatu"


"Memangnya kau tahu Jiwon tak menyukaimu bisa saja ia juga menyukaimu ?" Kenapa disini aku merasa perasaan Chanyeol hyung seperti bertepuk sebelah tangan.


"Mungkin aku terlalu pengecut tak berani mengambil resiko dengan mengungkapkan perasaanku, tapi yang jelas aku hanya tak ingin kehilangan semuanya jika aku berada di posisi kedua,.." ia tersenyum dan menunduk.


"Jiwon lebih penting dari segalanya termasuk perasaan sukaku padanya"


Aku hanya membulatkan mulutku mendengar jawabannya itu.


"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu? Tak biasanya kau peduli dengan kisah asmaraku"


"Ani, aku hanya ingin tahu saja apa persahabatan kalian itu memang benar-benar murni ternyata aku salah besar"


"Aishh, jangan bilang kau juga menyukainya" kulihat matanya membulat.


"Aku akan membunuhmu jika kau juga menyukainya"


Aku hanya menggedikkan bahu acuh dan menatap Jiwon yang masih sibuk menelpon.


"Yakk Oh Sehun"


"Hyung, apa kau siap jika dia akhirnya nanti menikah dengan orang lain?"


Dia nampak terdiam, dapat kulihat perubahan di raut wajahnya.


"Hyung" panggilku lagi.


"Aku tak ingin membayangkan itu sekarang" lirihnya. Lalu kembali tersenyum saat kusadari Jiwon berjalan kearah kami.


Hebat juga dia.


Bisa memendamnya sejauh ini.


"Chan, ayo kita ke supermarket ada beberapa hal yang harus ku beli. Aku juga ingin melihat sunset" ajak Jiwon dengan ekspresi yang lucu.


Ah kenapa ia menggemaskan sekali.


Aishh, lupakan Sehun kau sudah tahu kenyataannya 'kan sekarang.


Chanyeol mengangguk dan berdiri "Kajja, Sehun-ahh kau mau ikut tidak, setelah ini aku akan mampir ke pantai sebentar" tanya Chanyeol menyadarkanku.


"Ani, aku akan tidur saja aku masih lelah hyung" tolakku padanya.


"Kau yakin tak ingin ikut melihat sunset Sehun-ssi ?"


"Besok pagi saja aku akan melihat sunrise" tolakku.


"Baiklah, kami pergi dulu" pamitnya lalu berlalu bersama Chanyeol.


Dapat kulihat keseruan mereka ketika menuju mobil.


Chanyeol yang usil, dan Jiwon yang begitu menggemaskan.


Ahh, manabisa aku menggeser posisi Chanyeol hyung.


Aku menggeleng pelan mencoba menghapus pikiran sialan itu.


"Wae, berfikir menggeser posisi Chanyeol?"


"Astaga, kau membuatku kaget saja" umpatku saat tiba-tiba Kyungsoo sudah berdiri di sampingku bukannya tadi ia sibuk dengan makanan.


"Tunggu, ! kau juga tahu Chanyeol hyung menyukai Jiwon"


Kyungsoo sedikit melirik Sehun, "Kau baru saja mengatakannya"


"Yakk, kapan aku mengatakannya,?"


"Baru saja"


"Aishh, hentikan omong kosong itu !"


Aku hanya menggelengkan kepalaku dan menjauh dari Kyungsoo. Rupanya tadi aku keceplosan. Sialan.


Aishh bodoh sekali kau Oh Sehun.


...●●●...


(Author POV)


"Jiwon-ahh, apa yang ingin kau beli?"tanya Chanyeol ketika mereka memasuki supermarket.


"Mungkin hanya beberapa bahan makanan untuk sarapan besok, kau mau apa?"


"Terserah kau saja, aku kan terima jadi saja"


"Aishh, kau ini" desis Jiwon sambil mengambil beberapa makanan kaleng, daging, sayuran, bumbu-bumbu, dan beberapa Ramyeon instan.


Setelah dirasa cukup, ia menuju kasir untuk membayar belanjaannya namun Chanyeol segera menyerahkan Blackcard pada kasir.


"Pakai itu saja !" Kata Chanyeol pada petugas kasir.


Jiwon menatap benda itu, ia baru tahu jika sahabatnya itu memilikinya.


Hebat sekali dia.


Tak sembarang orang memiliki Blackcard, semacam kartu pembayaran unlimited yang hanya dimiliki oleh orang tertentu.


"Jangan menatap kagum seperti itu, kau belum tau seberapa kayanya aku" bisik Chanyeol saat Jiwon masih terpaku menatap Blackcard itu.


Jiwon hanya mendecih sebal, sementara Chanyeol bergaya sok angkuh.


Dasar sombong.


Setelah menyelesaikan pembayaran keduanyapun segera membawa belanjaan mereka ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju pantai.


...●●●...


Sesampainya di pantai, Jiwon segera turun dari mobil Chanyeol diikuti pria itu.


"Aku seperti sedang melepaskan anak kecil, kau tak menungguku, Kim Jiwon" seru Chanyeol.


Jiwonpun berhenti dan menoleh padanya, "Palliwa, jangan berjalan seperti siput heo"


"Kau mengejekku?"


Jiwonpun hanya menjulurkan lidahnya dan berlari menjauhi reflek Chanyeolpun berlari mengejarnya.


Setelah cukup lelah kejar-kejaran, "Tunggu, biar aku mengambil fotomu" Jiwon mengeluarkannya ponselnya hendak memotret Chanyeol.


"Aishh, shireo" tolak Chanyeol sambil mencoba menutupi kamera Jiwon.


"Yakk, kau membuat fotonya jelek"


"Sudah kukatakan aku tidak mau"


"Sekali saja, hem? Bahkan kepada fansmu saja kau tak menolak, kenapa kau pelit sekali denganku? Bahkan kau memiliki banyak fotoku diponselmu"


"Aishh, itu berbeda dimata mereka aku ini adalah idol"


"Arraseo- arraseo, senyumlah Park Chanyeol !"


"Ckrekk" dan ia mendapatkannya meski hasilnya bukan kualitas terbaik seperti foto-foto Chanyeol di sosial media.


Kim jiwon segera berlari ketika mendapatkan itu. Sementara Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya. Sudah lama sekali ia tak bersenda gurau dengan gadis itu.


Tampak gadis itu begitu bahagia, senyumnya begitu mengembang. Ia merentangkan kedua tangannya dan segera saja Chanyeol mengambil ponsel untuk memfotonya.


"Yakk, jangan diam-diam mengambil fotoku" teriaknya lalu menghampiri Chanyeol yang sudah memasukkan ponselnya kesaku celananya kembali.


"Siapa juga yang mengambil fotomu, PD sekali" Chanyeol menjulurkan lidahnya.


"Aishh, menyebalkan sekali" Jiwon meliriknya sebal.


"Chanyeol -ahh, aku ingin ke toilet sebentar, bisa kau menungguku disana?" kata Jiwon sambil menunjuk sebuah ayunan kayu di tepi pantai.


"Mau kuantar?"


"Aku bukan anak kecil"


"Geureu, jangan lama-lama kau bisa ketinggalan sunset !"


"Hem, mau kubelikan sesuatu, sepertinya aku ingin membeli coklat hangat"


Chanyeol mengangguk "kopi hangat juga boleh"


Jiwonpun mengangguk dan pergi meninggalkan Chanyeol.


Tak butuh waktu lama Jiwon di toilet, iapun segera menuju penjual minuman yang berada tak jauh darinya. Setelah mendapatkan pesanannya iapun berbalik, namun seketika kakinya menjadi kaku ketika ia menatap seorang pria yang begitu dikenalinya tengah berjalan dengan seorang wanita yang ia tak tahu siapa.


"Jiwon-iie" lirih pria itu.


Jiwon mencoba bersikap biasa ia menarik sudut bibirnya.


"Anyeong oppa, apa kabar?"


Park seojoon pria itu mengangguk "Baik, Kau sendiri,?"


"Aku baik, jauh lebih baik"


"Aku tak menyangka kita akan bertemu disini, kau bersama siapa?"


"Ahh, aku dengan temanku dan sepertinya dia sudah lama menungguku, aku pamit oppa" kata Jiwon lalu membungkuk kearah Seo joon dan wanita itu dan pergi begitu saja.


Dapat ia dengar Seo joon memanggil namanya namun ia berusaha menulikan indera pendengarannya.


Siapa lagi wanita itu.?


Apa dia kekasih barunya?


Ah, kenapa juga aku harus memikirkannya?


"Chanyeol -ahh, ayo kita pulang" ajak Jiwon saat ia sampai disamping Chanyeol.


Pemuda itu sedikit kaget dengan kedatangan Jiwon yang tiba-tiba itu.


"Wae, apa terjadi sesuatu?" Tanyanya lalu berdiri menghadap gadis itu yang masih saja menatap ke belakang.


"Aniya, aku hanya takut ada paparazzi kau bahkan tak memakai maskermu" dusta Jiwon.


"Kau tenang saja"


"Tapi aku ingin pulang"


"Sunsetnya saja belum mulai"


"Aku tak mau ya pagi-pagi harus repot jika benar ada paparazzi yang menguntit kita"


"Jiwon -ahh ada managerku yang mengurus itu tenanglah, lagian tempat ini tak terlalu banyak dikunjungi kau lihat pengunjungnya hanya beberapa "


"Terserah kalau kau tak mau aku akan pulang sendiri" kata Jiwon sambil menyerahkan minuman Chanyeol dan berlalu darinya.


Chanyeol hanya menghembuskan nafasnya, terkadang ia tak mengerti dengan mood wanita yang selaku berubah-ubah itu.


Iapun segera berlari mengejar Jiwon agar gadis itu tak sampai marah beneran. Bisa panjang urusannya jika gadis itu marah saat mereka liburan.


Sabar Chanyeol, untung saja sabarmu melimpah ruah Park ChChanyl.