Deep

Deep
The Longest Worship [ENDING]



Pria itu menatapnya sayu dapat dilihat penyesalan di matanya.


"Kau tahu kau baru saja menghancurkan hati seseorang ?"


"Jiwon -iie. " Chanyeol berusaha emraih tangan Jiwon namun gadis itu malah mengangkat tangannya.


"Cukup Chan..." terlihat gadis itu memejamkan matanya Chanyeol dapat melihat satu air mata gadis itu sudah menetes.


Ia berusaha ingin menghapusnya namun reflek si gadis Kim itu memang terlampau bagus sehingga mampu mendahului tangan Chanyeol agar tak sampai menyentuh wajahnya.


"Ji..."


"CUKUP !"


"NOOO!!!" Pekik Chanyeol yang membuat Li Xian menatapnya aneh.


Untung mereka berada didalam private room sehingga tak membuat kegaduhan untuk orang


"Kau gila?" Li Xian melipat kedua tangannya kesal karena reaksi Chanyeol yang tiba-tiba berteriak tak jelas seperti itu.


"Idemu itu yang gila, kau memintaku membuat prank untuk memutuskan hubungan dengan Jiwon yang benar saja kau ingin aku dan dia benar-benar putus?" Omel Chanyeol.


Setelah beberapa saat lalu membayangkan ide yang diusulkan Li Xian untuk membuat acara engagement kejutan dengan cara Chanyeol harus memutuskan Jiwon terlebih dahulu.


"Dia tak mungkin menolak karena dia pasti akan menyesal setelah kau memutuskannya dia pasti akan merasa kehilanganmu dan saat kau melamarnya dia pasti akan langsung menerimanya tak ada wanita yang tak suka dengan kejutan bukan ?"


"Anie... sampai kapanpun entah sungguh-sungguh atau tidak aku tidak akan pernah memutuskan Jiwon. Jadi, simpan saja ide gilamu yang itu." Kali ini Chanyeol gantian yang melipat tangannya di dada.


"Kau bilang tadi akan menurutiku?"


"Itu sebelum kau membuat ide gila itu, sampai kapanpun aku aku tak akan melakukannya."


Li Xian merotasikan bola matanya melihat penolakan Chanyeol.


"Kau pasti sudah berekpektasi terlalu tinggi."


"Hem, dan aku tak mau ditolak di depan banyak orang, kau ingin membuatku malu Li Xian -ssi."


"Jiwon tak mungkin melakukannya kau tenang saja, lagian bukannya kau bilang dia mencintaimu."


"Tentu saja dia mencintaimu, kenapa kau masih meragukannya?"


"Bukannya malah kau yang meragukannya?"


"Yakk, kau ingin kuhajar?"


Li Xian terkikih melihat ekspresi Chanyeol yang sudah tak enak dilihat itu. Tak menyangka mereka akan bisa berbincang sesantai ini setelah sebelumnya mereka hanya berbicara seperlunya.


"Park Chanyeol." Panggilnya membuat Chanyeol menatapnya datar.


"Datang ke apartemenku malam ini, dan ajak Jiwon."


"Shirreo, aku tak ingin mempertemukan Jiwon denganmu lagi."


"Hey, ingatlah aku ini sudah akan menikah kau masih berfikiran aku ingin merebutnya darimu?"


Pria Park itu mendengus, entahlah ia hanya tak suka Jiwon bertemu terlalu sering dengan laki-laki lain bukan hanya dengan Li Xian tapi hampir beberapa lelaki yang kenal dengannya.


Ia akui ia terlalu cemburu melihat gadis itu bersama pria lain entah karena status mereka sekarang atau apa, tapi bahkan dari dulu ia memang sudah tak menyukai itu hanya saja ia dulu lebih bisa menahannya karena sadar posisinya.


Tapi sekarang, She is mine.


Will soon.


"Berhentilah memikirkan banyak hal negatif, bahkan Jiwon benar-benar tak menyukai sifatmu yang satu ini."


"Darimana kau tahu? Apa dia yang memberi tahumu?"


"Jangan banyak tanya, ikuti saja kemauanku, datang ke apartemenku bersama Jiwon jam 7 malam dan tak ada jam karet, arra?"


"Kalau aku tak mau?"


"Kau benar-benar ingin putus dengannya ?"


"Yakk."


"Datang saja tak usah membantah, dan aku harus pergi sekarang" kata Li Xian lalu berlalu dari Chanyeol yang masih bersungut-sungut itu.


Apa yang direncanakan brengsek itu?


...***...


"Ji." Panggil eomma Kim pada Jiwon yang sedang sibuk dengan rangkaian bunganya di ruang tengah.


Gadis Kim itu menoleh, "Eomma memanggil Jiwon?"


Wanita paruh baya itu tersenyum dan menarik kursi disamping Jiwon lalu mendudukinya.


"Cantik sekali, bakat merangkai bungamu masih belum hilang ternyata." Eomma Kim terlihat menatap vas bunga yang sudah selesai dirangkai Jiwon.


"Eomma yang menurunkan bakat ini padaku." Jawab Jiwon sambil mengambil tangkai bunga yang tadi sempat di abaikannya.


"Tentang kau dan Chanyeol, kalian benar-benar akan menikah bulan depan?"


Jiwon tersenyum dan memasukkan tangkai bunga itu ke dalam vas, "Jiwon belum memikirkan waktunya eomma."


"Bukannya dia sudah melamarmu?"


Jiwon hanya tersenyum dan kembali sibuk dengan tangkai-tangkai bunganya.


"Ji, tidak baik menunda-nunda hal baik. Kau harus mengambil keputusan jangan membuatnya menunggu terlalu lama, eomma tak bermaksud ikut campur apapun keputusan kamu eomma pasti akan mendukungnya." Wanita itu menutup ucapannya dengan membelai rambut putrinya lalu pergi meninggalkan Jiwon untuk berfikir.


Sampai bel rumahnya berbunyi mengalihkan atensinya ia meletakkan tangkai bunganya lalu berjalan menuju pintu utama.


"Chan,?" Serunya saat tahu siapa tamu itu.


Chanyeol tersenyum, "Kau sibuk?" Tanyanya lalu masuk ke dalam rumah itu diikuti Jiwon.


"Ani, tapi aku bosan kau tahu tiga hari di rumah tanpa kesibukan benar-benar bisa membuatku stress."


"Baguslah."


Jiwon mendesah jengah, "Ini maumu? Kau senang jika aku stress ?"


Chanyeol tersenyum dan mengacak rambut Jiwon.


"Ahh, eommanim." Seru Chanyeol saat eomma Kim berjalan ke arahnya.


"Kau semakin sering kesini, apa kau bukan orang sibuk lagi ?"


Chanyeol tertawa diikuti eomma Kim.


"Eomma, boleh aku mengajak Jiwon keluar sebentar aku tak bisa membiarkannya stress karena bosan di rumah arhh" Izin Chanyeol yang langsung mendapat cubitan keras dari Jiwon.


"Kau menyakitiku chagi."


Jiwon hanya memutar bola matanya sebal.


Dia ini pengadu sekali.


"Bawa saja, eomma rasa kalian juga butuh qtime."


Chanyeol langsung memeluk eomma Kim, "Gomawo, ibu mertua." Eomma Kim hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Chanyeol.


Sementara pria itu beralih menatap Jiwon.


"Segeralah bersiap nona Kim Jiwon jangan terlalu lama kau tahu aku sudah terlalu lama menunggumu. "


"Yakk..." Jiwon menahan ucapannya saat Chanyeol sedikit mengibarkan tangannya sambil berkedip mengisyaratakannya untuk segera pergi.


Gadis Kim itupun berlalu begitu saja, percuma saja ia berdebat dengan Chanyeol yang tak bisa dibantah itu.


Sementara eomma Kim hanya tersenyum menanggapi sikap Chanyeol itu ia memang sudah terbiasa dengan gurauan pemuda itu.


...***...


Chanyeol menghentikan mobilnya di basemant apartemen milik Li Xian.


"Aku masih penasaran kenapa tiba-tiba kau ingin menemuinya?" Tanya Jiwon yang kini sudah melepas seatbeltnya.


"Aku pikir dia merindukanmu?" Jawab pria itu sambil membuka pintu mobilnya.


Jiwon hanya memutar bola matanya tak bisakah pria itu serius untuk menjawab pertanyaannya.


"Chan."


"Emm?" Pria itu masih sibuk dengan ponselnya setelah beberapa saat lalu membukakan pintu mobil untuk Jiwon.


"Kau merencanakan sesuatu?" Tanya gadis itu penuh selidik.


Chanyeol hanya tersenyum misterius lalu merangkul pundak gadis itu dengan sebelah tangannya agar gadis itu segera berjalan.


"Ani, dia mengundang kita untuk makN malam, kajja." Pria itu segera menuju lift untuk menuju apartemen Li Xian.


Chanyeol memencet bel apartemen Li Xian dan tak butuh waktu lama pintupun sudah dibuka.


Terlihat seorang wanita cantik dengan senyum manisnya menyambut keduanya dibelakangnya Li Xian datang menyambuat mereka.


Dapat diketahui setelah beberapa saat mereka dipersilahkan masuk bahwa wanita itu bernama Airene Hwang calon istri Li Xian.


Ya, pria itu benar-benar akan menikah.


"Li Xian oppa, kenapa tiba-tiba mengundang kami ke apartemenmu apa kau sedang mengadakan pesta?" Tanya Jiwon setelah mereka menyelesaikan makan malam.


Keduanya diajak menuju balkon apartemen Li Xian.


"Ani, aku hanya ingin menyatukan dua orang yang begitu susah sekali." Jawab Li Xian yang membuat Jiwon mengerutkan kening.


"Nuguya?" Tanyanya.


Namun pria itu tak menjawab dan merangkul Chanyeol agar pria itu mengikutinya.


"Lakukan.!" Bisik pria itu lalu membukakan piano yang memang sudah disiapkannya sejak tadi


Airene Hwang duduk disamping Jiwon yang kini tengah bingung karena wanita itu hanya tsrsenyum.


Sampai denting piano Chanyeol mengalihkan agensinya.


What would I do without your smart mouth?


Drawin' me in, and you kickin' me out


You've got my head spinnin', no kiddin'


I can't pin you down


I'm on your magical mystery ride


And I'm so dizzy, don't know what hit me


But I'll be alright


My head's under water


But I'm breathing fine


You're crazy and I'm out of my mind


'Cause all of me loves all of you


Love your curves and all your edges


All your perfect imperfections


Give your all to me, I'll give my all to you


You're my end and my beginnin'


Even when I lose, I'm winnin'


'Cause I give you all of me


And you give me all of you, oh-oh


How many times do I have to tell you


Even when you're crying, you're beautiful too?


The world is beating you down


I'm around through every mood


You're my downfall, you're my muse


My worst distraction, my rhythm and blues


I can't stop singing, it's ringing in my head for you


My head's under water


But I'm breathing fine


You're crazy, and I'm out of my mind


'Cause all of me loves all of you


Love your curves and all your edges


All your perfect imperfections


Give your all to me, I'll give my all to you


You're my end and my beginnin'


Even when I lose, I'm winnin'


'Cause I give you all of me


And you give me all of you, oh-oh


Give me all of you


Cards on the table, we're both showing hearts


Risking it all, though it's hard


'Cause all of me loves all of you


Love your curves and all your edges


All your perfect imperfections


Give your all to me, I'll give my all to you


You're my end and my beginnin'


Even when I lose, I'm winnin'


'Cause I give you all of me


And you give me all of you


I give you all of me


And you give me all of you, oh-oh


(John Legend _ All of me


Jiwon masih terbawa oleh lagu yang dibawakan Chanyeol. Matanya mengerjab dua kali saat pria itu berdiri dan menghampirinya.


Netra itu bertemu, kenapa jantungnya terasa ingin melompat begitu saja.


Saat sampai didepan gadis itu Chanyeol berlutut. Gadis itu sempat kaget dengan sikao Chanyeol yang tiba-tiba seperti itu pria itu tak pernah mau melakukan hal-hal seperti ini sebelumnya. Apa ini yang dimaksud Li Xian dengan menyatukan dua orang yang begitu susah itu.


Jiwon menatap Li Xian dan Airene yang sedang menatap mereka dengan senyuman misterius.


"Aku tak ingin menjanjikanmu banyak hal, aku hanya ingin kau tahu aku selalu ada disini"


Tunggu sepertinya ia mendengar kata-kata itu.


"Kau tak ingat kata-kata itu?" Tanya Chanyeol.


Jiwon mengerutkan keningnya, "Yakk, apa maksudmu?"


Chanyeol merotasikan bola matanya dan melirik kearah Li Xian yang terkikik.


"Bukannya kau dulu pernah dilamar seperti itu?"


"Yakk, aku belum pernah dilamar, dan kau tahu kau selalu melamarku dengan cara yang sama sekali tak romantis."


Ketiganya tertawa mendengar protes Jiwon membuat gadis itu jadi sebal.


Apanya yang lucu, bukannya memang benar.


Pria caplang ini bahkan tak pernah memasangkan cincin padanya dan hanya menunjukkan sebuah kota cincin kalian tahu kotaknya saja, dan ia sendiripun tak tahu apa benar-benar ada isinya atau tidak.


Saat tawa mereka mereda Chanyeol kembali mengeluarkan kotak kecil yang beberapa waktu lalu sempat ia berikan pada Jiwon.


"Sekarang aku benar-benar akan melamarmu dan aku tak ingin ada penolakan." Kata Chanyeol lalu membuka kotak cincin itu.


"Yakk, apa tak ada kalimat manis yang bisa kau ucapkan kalimatmu itu sudah seperti diktator saja."


"Aku tak bisa mengatakan hal-hal manis seperti pria di luar sana, aku mungkin juga tak bisa memberikan momen lamaran yang romantis seperti yang kau inginkan tapi, setelah ini aku akan selalu mengusahakan kebahagiaan untukmu, melindungimu, menjadi orang yang menempatkanmu prioritas utama dihidupku, menjadikanmu satu-satunya sentral kehidupanku, memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan dengan sekuat tenagaku, Jiwon -iie mari kita menikah."


Jiwon meneteskan air matanya, entah apa yang berhasil menyentuh hatinya sampai ia meneteskan air matanya saat menatap pria itu berucap seolah memberikan sebuah keinginan besar untuk kehidupan mereka selanjutnya, menjadikannya wanita yang begitu diinginkan dan dicintai.


Ah, darimana Chanyeol belajar mengatakan hal-hal yang menyentuh seperti itu.


Pria itu terlihat meraih tangan Jiwon dan memasangkan cincin yang begitu pas di jari manis gadis.


Darimana pria itu tahu ukuran jarinya hingga cincinpun seolah merestui lamaran pria itu.


"Aku belum menjawab aku mau menikah denganmu." Protes gadis itu membuat Chanyeol kembali mendongak.


"Memangnya kau mau menolakku? Kau tak merasa kasihan denganku yang harus berlutut sampai kakiku kesemutan seperti ini."


Chanyeol tersenyum diikuti dengan gadis itu yang menariknya agar berdiri kembali.


Ia baru sadar pria itu sudah berlutut terlalu lama.


Pria itu menghapus airmata gadis itu dengan ibu jarinya.


"Saranghae." Lirih Chanyeol tanpa mengalihkan atensinya dari dewi cintanya malam itu.


"Nado" gadis itu tersenyum malu sampai Chanyeol mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir manis itu.


Namun Chanyeol menahannya karena ingat mereka tak hanya berdua disana ia melirik ke arah Li Xian dan Airene yang kini berpura-pura seolah tak melihat keduanya.


"Lanjutkan saja, anggap kami tak ada." Seru Airene sambil tersenyum jahil.


"Aishh, seharusnya aku memang tak melamarmu disini." UcapamChanyeol.


"Yakk kau harus ingat ini ide siapa, Park !" Seru Li Xian yang hanya dihadiahi cebikan bibir oleh Chanyeol.


"Jadi kau yang memiliki ide ini oppa?" Tanya Jiwon.


"Yakk yakk, jangan mempercayai pria kurang ajar itu." Chanyeol menahan lengan Jiwon.


"Pada dasarnya kau memang tak romantis Park Chanyeol."


"Tapi aku calon suamimu Ms. Park."


"Jangan mengubah namaku seenaknya."


"Bukankah kau akan segera menjadi Park Jiwon."


"Yakk..."


...***...


..."In the presence of God, Imam, parents, witnesses, I am Park Chanyeol, with pure and sincere intentions choosing you Kim Jiwon to be my wife. I promise to be faithful to you in good and bad, in joy and in sorrow, in health and in sickness, with all your weaknesses and strengths. I will always love and respect you all my life." ...


" In the presence of God, Imam, parents, witnesses, I am Kim Jiwon, with pure and sincere intenitions choosing you Park Chanyeol to be my husband. I promise to be faithful to you in good and bad, in joy and in sorrow, in health and in sickness, with all your weaknesses and strengths. I will always love and respect you all my life."


Setelah mengucapkan janji suci keduanya dipersilahkan untuk saling tukar cincin dan berciuman.


Chanyeol menatap Jiwon yang kini telah sah menjadi istrinya. Perasaan bahagia, haru, dan lega bercampur menjadi satu. Ia seperti memimpikan sesuatu yang hari ini menjadi kenyataan, perasaan yang awalnya hanya sebatas ia simpan dalam hati akhirnya kini seperti terealisasi.


"Saranghae... Saranghae Kim Jiwon."


Gadis itu tersenyum, "Nado, Nado Saranghae."


Pria itu membalas senyuman itu dan mendekatkan wajahnya sambil meraih lembut tengkuk gadis itu dan menyatukan bibirnya. Ciuman yang lembut dan lama kelamaan semakin dalam dan menuntut mewakili perasaan bahagia yang begitu membuncah. Riuh tepuk tangan menggema di dalam gedung pemberkatan pernikahan mereka.


Setelah semua yang dilalui akhirnya hari ini Park Chanyeol dan Kim Jiwon telah resmi menjadi sepasang suami istri.


Terimakasih pada semesta yang telah mendukung dan merestui.


Semoga ini akan menjadi ibadah terlama di kehidupan dalam bentuk pernikahan yang sebenarnya.