Deep

Deep
BEBERAPA HAL (OH SEHUN SIDE)



Aku merenungi permintaan Chanyeol hyung untuk menemui Jiwon. Aku tak enak jika harus menolaknya, lagian aku juga ingin bertemu gadis itu sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya.


Jujur aku tak mengerti hubungan Chanyeol hyung dan Jiwon sekarang seperti apa. Yang pasti yang aku dengar dari Chanyeol hyung mereka sudah saling mengungkapkan perasaan mereka. Sepertinya mitos tak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan yang pernah aku dengar itu benar-benar mereka alami. Lagian siapa yang bisa menolak pesona seorang Park Chanyeol kuakui hyungku yang satu itu memang selalu bisa mencairkan suasana. Selain karena tampan dan mapan, meski masih tampan aku Hhhh..


Dia itu happy virus dimanapun ada dia pasti suasana akan menyenangkan, dia juga sosok lelaki yang gentle, bahkan di beberapa hal ia termasuk pria yang cukup  romantis jika aku melihatnya begitu perhatian pada Jiwon.


Tadinya aku pikir aku hanya kagum dengan gadis itu tapi kenapa melihat mereka selalu bersama bahkan saat aku tahu gadis itu juga menyukai Chanyeol kenapa hatiku seperti tak menyukainya.


Meski aku sudah mengikhlaskan semuanya tapi tetap saja.


Itu tak mudah.


Aku memeriksa ponselku sudah lebih dari lima jam yang lalu sejak aku tiba di Korea. Aku mengiriminya pesan tapi sama sekali tak ada balasan. Bahkan pesanpun tertunda, nomornya tak aktif aku yakin Jiwon pasti sengaja tak ingin dihubungi siapapun. Bagaimanapun gadis itu layak curiga dan marah. Bisa kupastikan wanita yang mengambil ponsel itu sudah mengatakan hal yang tidak-tidak tentang Chanyeol hyung.


Akupun memutuskan menjalankan mobilku menuju apartemennya selain karena aku tak tahu harus mencari Jiwon kemana coba sajalah aku mencarinya kesana. Sampai di lobby kulihat Jiwon dari kejauhan, pucuk di cita ulampun tiba, beruntungnya aku tak perlu mencari gadis itu kemana-mana. Terlihat ia berjalan ke arahku dia masih tersenyum meski aku tahu itu hanya senyum yang dipaksakan.


Aku bisa melihat gurat kesedihannya.


"Oh Sehun, apa kabar?" Tanyanya saat sampai di depanku.


"Baik, kau sendiri ?"


"Aku juga baik, ngomong-ngomong kenapa kau ada disini?"


Aku tersenyum, "Ingin mengajakmu ke luar, bisa? Ada hal penting yang harus aku bicarakan "


Kulihat ia berfikir sebentar lalu mengangguk dan akupun mengajaknya memasuki mobilku.


Diperjalanan Jiwon banyak diam tak sperti biasanya, ia lebih sering melihat jalanan yang macet dari kaca jendela mobilku dan hanya menanggapi pertanyaanku seadanya.


Ini jarang sekali mengingat Jiwon bukanlah tipikal orang yang bicara seperlunya. Sejenak aku merasa ia seperti menahan sesuatu.


Sampai kami tiba di cafe tujuan. Aku sengaja mengajaknya ke cafe langgananku dan Chanyeol hyung tempat ini santai dan cocok untuk berbincang.


"Kau ingin pesan apa biar aku yang traktir" tawarku padanya.


"Jinja"


Akupun mengangguk menanggapinya.


"Bolehkah..."


"Katakan saja" potongku karena ia tampak ragu-ragu.


"Bolehkah aku minta soju" ini di luar dugaanku aku yakin Jiwon benar-benar sedang tak baik-baik saja sekarang.


"Kenapa diam katanya kau ingin mentraktirku? Apa ditempat ini tak ada soju?" Tanyanya lagi yang berhasil membuatku mengangguk lalu berdiri dan memesan satu botol soju berukuran sedang untuknya.


Kulihat ia tersenyum saat aku datang lalu menuangkan minuman itu pada gelasnya. Kenapa dia harus tersenyum seperti itu. Aishh...


Diapun mengambil gelasnya lalu hendak bersulang namun kutahan.


"Kau pernah minum sebelumnya?" Tanyaku tak yakin.


Kulihat ia menampilkan smirknya lalu menyenggolkan gelasnya pada gelasku lalu meneguk minuman itu. Ini kali pertamaku melihat gadis itu minum apa ia sering melakukannya, kenapa ia semakin menggemaskan. Akupun menegak minumanku setengah hanya untuk berjaga-jaga kalau nanti kita pulang tak mungkin kan kita berdua mabuk, siapa yang akan menyetir nanti.


"Oh Sehun, kau bilang tadi ingin bicara penting?"


Aku mengangguk mengiyakan, "Ini tentang Chanyeol hyung"


Kulihat ia meneguk minumannya lagi saat aku menyebutkan itu.


"Emm, Oh Sehun apa selama ini kau tahu?" Tanyanya tiba-tiba kulihat pipinya agak memerah karena pengaruh soju.


"Tentang ?"


Kulihat memejamkan matanya kuat sambil menunduk, "Kau tahu Chanyeol memiliki kekasih lain? Dia bilang dia menyukaiku tapi kenyataannya dia... "


Dia tersenyum kecut lalu melanjutkan ucapannya "kau tahu itu?"


"Kau salah faham" tungkasku.


Kulihat ia kembali tersenyum lalu mengisi gelasnya lagi dengan minuman itu lalu meneguknya kembali.


"Jiwon -iie dia tak mungkin menghianatimu, itu sungguh tidak mungkin bahkan ia tak pernah sedikitpun mencoba mendekati wanita lain, kau tahu?"


"Omong kosong!"


"Dia akan menjelaskannya saat sampai di Korea, kau jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu tentangnya aku tak ingin menceritakan apa yang terjadi di Jepang karena dia yang akan menjelaskannya sendiri padamu, kau hanya perlu percaya padanya"


Kali ini jiwon memegang kepalanya dan memutari ujung gelasnya dengan jari tangannya melihat seolah minuman itu begitu berharga untuknya.


"Berhenti membelanya, bahkan.. aishh ini membuatku gila" kembali Jiwon meneguk minumannya hingga tandas.


Saat ia hendak ingin menuangnya lagi aku menahannya karena kulihat ia sudah semakin mabuk. Untung saja ia masih menurut saat aku mengambil botol itu.


Kali ini tatapannya kosong menatap gelas minuman yang tadi kutahan.


Kenapa ia terlihat begitu kacau hari ini.


Dia membenamkan kepalanya pada meja dan kudengar sesenggukan darinya aku yakin dia sedang menangis sekarang. Ayolah bagaimana aku bisa melihat wanita ini menangis. Airmatanya terlalu berharga.


Aku meraih kedua bahunya agar ia kembali duduk.


"Ayo kita pulang kau bukan peminum yang handal" ucapku padanya namun sama sekali ia tetap pada posisinya itu.


"Jiwon -iie, kajja" ajakku lagi sambil menarik tangannya namun tiba-tiba ia malah menghempaskan genggamanku.


Aku menatapnya tak percaya.


Ia benar-benar sudah mabuk.


"Pergi ! Aku tak ingin bertemu denganmu." Desisnya padaku


Sabar Sehun -ahh makhluk cantik hanya sedang mabuk kau tak boleh kesal karenanya.


"Tapi..."


"Sudah ku katakan pergi dari sini." Ia kembali memotong ucapanku aku yakin ia pasti sedang berhalusinasi kalau aku adalah Chanyeol hyung.


Aishh...


"DENGARKAN AKU !" Kali ini aku meninggikan suaraku aku tak bisa melihatnya seperti itu.


"PERGI !" Bentaknya.


Aku cukup kaget dengannya seperti bukan Jiwon yang kukenal apa orang mabuk memang terlihat seperti bukan aslinya.


Aku menghembuskan nafas aku tak boleh terpancing sekarang. Aku memegang kedua bahunya agar dia duduk dan menatapku biar ia sadar kalau aku ini bukan orang yang ada dipikirannya.


"Ji aku bukan dia." Lirihku ia masih menunduk meski sekarang posisinya sudah dudu


Kudengar ia terkekeh "Kau bicara apa?"


"Sudah kukatakan aku bukan dia, lihat aku !" Aku mengguncang bahunya agar dia menatapku.


Ia terperangah saat membuka matanya dan menatapku seperti tak percaya


"Mwo ?"


"Oh sehun?"


Akhirnya dia masih mengenaliku.


Kulihat ia berulangkali mengerjapkan matanya. Dan...


"Kim Jiwon." panggilku saat tubuhnya melemas dan pingsan di depanku untung saja ia tak sampai jatuh karena masih sempat kutahan.


Akupun langsung membawanya keluar dari cafe menuju mobilku. Bisa mati aku jika Chanyeol tahu aku yang membuat gadis itu mabuk. Aishh... kenapa aku tak memikirkan itu tadi, kenapa juga aku harus mentraktirnya soju.


Sepanjang jalan aku begitu cemas melihatnya yang terdiam disampingku aku takut ia kenapa-kenapa. Salahku juga kenapa menyetujuinya untuk membelikan soju. Lagi-lagi aku merutuki kebodohanku. Sesekali aku agak menempelkan jariku ke hidungnya, aku benar-benar panik sekarang.


Aku tak punya tujuan lain selain membawanya ke apartemen pribadiku karena malam sudah mulai larut. Tak mungkin aku membawanya ke apartemennya yang aku bahkan tak tahu apa passwordnya. Jiwon mungkin saja membawa kartu masuk apartemennya tapi saat itu aku benar-benar tak berfikir sampai kesana.


Aku menidurkan Jiwon di ranjangku, kulihat wajahnya begitu damai.


Kenapa ia harus secantik ini.


Jidat yang pas untuk ukuran jidat wanita, alis yang sempurna tanpa tambahan pensil alis, hidung yang tidak begitu runcing tapi juga tak pendek namun cukup menggemaskan, dan terakhir siapa yang bisa menolak bibir tipisnya yang cukup sensual itu. Beberapa saat aku menatap ciptaan Tuhan itu sampai kulihat satu airmata menetes dari mata yang tertutup itu.


Dia menangis.


Apa ia sedang bermimpi buruk sekarang?


Ini adalah hari pertama aku melihat airmatanya itu, selain di drama tentunya. Kenapa seolah aku ikut merasakan kesedihannya. Chanyeol hyung benar-benar beruntung memiliki gadis yang aku yakin dia begitu mencintainya.


Tanpa sadar tanganku terulur untuk menyampirkan beberapa rambut yang menutupi wajahnya.


Sepertinya aku telah melanggar batasku aku tak ingin, tapi saat itu aku sadar tentang beberapa hal....


Gadis itu berhasil mengambil hatiku.


Aku memejamkan mataku kuat dan tersadar saat ponselku bergetar aku segera  menyelimuti Jiwon dan keluar dari kamar mku untuk mengetahui siapa yang menelpon.


Nomor baru tampak dilayar ponselku aku berfikir sejenak lalu menekan tombol accept.


"..."


"nuguya?"


"..."


"Eoh"


"..."  Kudengar suara Chanyeol hyung aku memang sengaja tak menyimpan nomor para member aku hanya tak sempat menyimpannya dan beberapa alasan yang lain.


"Oh"


"..."


"Dia bersamaku, tapi..." Aku melirik kearah kamar yang ditempati Jiwon.


Aku tak mungkin mengatakan kalau Jiwon mabuk sekarang bisa-bisa dia langsung pulang ke Korea dan menjadikanku makan malamnya jika dia tahu.


"..."


"Dia tak ingin bicara denganmu" dustaku.


"..."


"Tenanglah aku akan mengurusnya, sekarang tidurlah bukannya besok pagi-pagi kau akan pulang ?"


"..."


"Hem" pungkasku setelah itu aku menutup panggilannya.


Dua bucin ini benar-benar.


Apa kehidupan percintaan memang harus serumit ini. Jika iya aku tak ingin jatuh cinta saja. Hhhh


Sepertinya aku harus mengistirahatkan diriku juga sekarang. Karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam akupun memilih merebahkan tubuhku di sofa ruang tengah. Karena memang tak ada kamar lain yang bisa kupakai selain kamar yang dipakai Jiwon. Aku hanya memiliki satu kamar tidur karena aku hanya ke sini saat aku libur dikarenakan tempat ini memang yang paling dekat dengan dorm.


Jaljayo.