
"Aku tidak akan terlalu lama di sini. Aku hanya ingin bertanya sama kamu" Terlihat detektif Vio sedang bertanya pada pemilik Bar itu.
Sedangkan terlihat detektif Ical menyiapkan buku dan pensil bersiap menulis semua keterangan dari pemilik Bar itu.
"Apa yang anda ingin tau dari saya?.. Saya hanya orang biasa yang mencari nafkah dengan cara saya seperti ini" Balas pemilik Bar malam itu yang bernama Pak Tang.
"Pak Tang.. Aku hanya ingin tau apa bapak pernah melihat orang mencurigakan masuk di tempat bapak akhir-akhir ini?" Tanya detektif Vio padanya.
Dengan ekspresi wajah yang cukup takut dan ludah yang tertelan, Pak Tang segera menjawab pertanyaan detektif Vio "Ti-tidak" Ucapnya dengan lantang.
"Oh.. oke" Balas detektif Vio singkat.
Pak Tang berjalan mundur secara perlahan menjauhi detektif Vio dan Ical selagi mereka saling berbicara.
Setelah cukup jauh dari detektif Vio dan Ical, Pak Tang segera berlari kecil menuju arah pintu belakang yang mengarah langsung keluar Bar.
Namun belum sempat ia berlari cukup jauh, Detektif Vio sudah ada di belakangnya dengan pistol yang mengarah pada kepalanya. Dengan santai detektif Vio menyuruhnya untuk kembali berlari dan meninggalkan tempat itu.
Dan dengan polosnya Pak Tang bergerak dan melangkah satu langkah ke depan. Tanpa diduga-duga pistol yang mengarah padanya menembakkan peluru secara mendadak.
Seketika Pak Tang terdiam mematung dengan mata melotot dan keringat yang bertabur di sekujur tubuhnya. Detektif Ical yang melihatnya hanya terdiam sambil menelan ludahnya melihat tindakan rekannya itu.
"Untung aku tidak membidik pas di kepalamu. Jika aku melakukannya mungkin aku sudah muak dengan drama kucing dan tikus ini. Aku ingin kau jujur.. Apa benar tidak ada orang mencurigakan datang di Bar ini?" Detektif Vio kembali bertanya padanya yang kali ini dengan nada yang cukup tinggi dan tegas.
"Saya sudah bilang sama kalian, Saya tidak tau apapun. Benar-benar tidak tau!" Pak Tang membalas pertanyaan detektif Vio dengan cepat disertai perasaan takut di hatinya.
Mendengar itu, Detektif Vio menurunkan pistolnya secara perlahan sembari berjalan mendekati Pak Tang yang membelakanginya. Dengan wajah yang sudah mulai kesal, Detektif Vio meraih tubuh Pak Tang dan memutarnya berhadapan langsung padanya.
Detektif Vio memajukan wajahnya pada Pak Tang yang terlihat sangat ketakutan dan gemetar. Detektif Vio menatap matanya secara dingin dan mulai berbicara lembut pada pada Pak Tang.
"Tidak usah berbohong.. Aku sudah tau kau berbohong padaku sejak pertama aku bertanya padamu. Alangkah baiknya kau jujur pada seorang polisi dan tidak menghalangi pekerjaan kami. Kau tau kan apa dampaknya jika menghalangi penyelidikan kasus seperti ini. Kau akan mendapat---"
"Ba-baiklah!.. Baik. Saya akan mengatakan semua yang saya ketahui pada kalian. Se-sebenarnya.. Sebelum terjadi banyak pembunuhan, Ada seorang pria tampan yang berumur 20 tahunan yang datang ke Bar ini untuk sekedar bersenang-senang. Namun tak lama dia datang, Ada seseorang lagi yang datang tetapi dengan penampilan yang sangat aneh"
"Seperti apa ciri-ciri orang itu?" Tanya detektif Vio.
Detektif Ical terlihat sudah mulai menulis semua yang Pak Tang katakan pada mereka.
"Pria itu memakai sebuah jas hujan berwarna hitam dan memakai sebuah topeng kelinci yang cukup menyeramkan"
Setelahnya, Pak Tang kembali melanjutkan ceritanya setelah tubuhnya sudah tidak gemetar dan merasakan takut lagi.
"Tidak ada yang fokus dengannya selain aku yang memperhatikan semua gerak-geriknya. Pertama dia meraba meja dan memegang beberapa minuman dan gelas yang ada disini. Namun setelah beberapa lama, Orang aneh itu melihat pria tampan itu yang sedang minum dan duduk di kursi dekat pojokan. Tanpa berlama-lama, Orang aneh itu mendatanginya dan berbicara sebentar dengannya. Setelah itu aku melihat dia mengajaknya ke area WC Bar. Saat itu aku ingin segera mengikutinya, Tetapi ada seseorang yang bertanya dan berbicara cukup lama padaku. Setelah aku berbicara pada orang yang bertanya padaku, Dengan segera aku kembali mengejar mereka ke area WC Bar. Ketika aku masuk, Di situlah aku melihat hal yang sangat mengerikan dalam hidupku. Pria itu sudah tewas di lantai WC Bar dengan darah yang berceceran dan satu lengan yang sudah menghilang darinya"
Setelah menjelaskan semuanya, Pak Tang seketika menunduk dan memohon ampun pada detektif Vio dan Ical yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.
"Maafkan saya jika berusaha menghalangi penyelidikan kalian. Warga di sini tidak mau jika pihak polisi tau lebih banyak tentang kejadian ini. Mereka tertutup jika menyangkut hal-hal semacam ini. Warga yang memberitauh polisi hanya mengatakan itu sebuah kecelakaan biasa yang biasa terjadi. Walaupun polisi tidak percaya tapi mereka harus mempertimbangkan kesaksian warga yang ada di sini. Mereka juga mengancam saya untuk menutup mulut dan melupakan semuanya. Itu sebabnya saya berusaha menghindari kalian" Sambung Pak Tang dengan nada suara yang cukup lemas.
Detektif Vio meraih pundak Pak Tang dan tersenyum padanya "Bapak tidak perlu khawatir. Warga tidak akan tau jika bapak sudah mengatakannya pada kami. Dan jangan pernah takut untuk mengatakan yang sebenarnya jika memang itulah kenyataannya" Ucap detektif Vio sembari menepuk-nepuk pundak Pak Tang.
"Dan bapak tidak usah merasa takut. Polisi itu tugasnya untuk membela kebenaran dan melindungi rakyat, Bukan untuk menindas dan menghukum rakyat" Sambung detektif Ical diiringi dengan senyuman.
Pak Tang merasa legah dan kembali tegap membalas senyum detektif Vio dan Ical bersamaan dengan tangannya terangkat naik memberi hormat pada mereka. Setelah itu detektif Vio dan Ical pergi dari sana setelah mendapatkan banyak informasi penting dari Pak Tang.
********
"Sebenarnya ada barang yang mau aku berikan sama kamu. Maaf kalau barangnya kurang bagus" Ucap Esia pada Leo sembari dirinya meraba-raba kantong celananya yang cukup besar.
Leo seketika menghentikan langkahnya dan mendekati Esia yang sedang mengambil barang yang ia maksud. Leo menatap Esia dengan tatapan kasih diiringi senyumnya yang sangat manis.
"Ini sebuah patung kayu berbentuk burung hantu yang aku beli beberapa hari sebelum kau datang kerumah. Se-sebenarnya aku mau beli yang lebih mahal dan mewah sih tapi---"
"Gak papa ini juga bagus kok" Ucap Leo sembari dirinya mengambil patung burung hantu itu dari tangan Esia.
Esia seketika terkejut tipis setelah Leo mengambil pemberiannya itu secara mendadak darinya. Dengan perasaan yang bahagia, Esia tersenyum dan memandangi Leo yang melihat dan mengagumi patung itu.
"Patungnya sangat keren, Aku akan menyimpannya dengan baik di rumah. Sebab ini adalah pemberian darimu" Ucap Leo, Setelahnya dia memasukkannya kedalam kantongnya. Esia dan Leo kembali berjalan santai di taman dengan perasaan bahagia masing-masing.
Tak lama mereka berjalan, Terlihat sepasang kaki yang memakai sepatu putih yang menghadang mereka berdua. Ketika Esia melihatnya, Betapa terkejutnya dia dengan mata melotot setelah melihat pria yang ada di depannya adalah Pang teman kampusnya yang selalu mengejar dirinya.
"Pa-pang!.."
"Lama yah kita tidak bertemu setelah universitas ragam seni hancur, Esia" Ucap Pang dengan ekspresi yang cukup menjengkelkan.
Leo seketika bingung melihat Esia yang terkejut ketika melihat orang yang ia tidak kenali. "Sepertinya Esia mengenal orang ini?" Ucap batin Leo sembari memperhatikan Esia dan Pang.
..._end_...