Death Slice

Death Slice
Bab 4. Setelah kejadian itu



Terlihat di rumah sakit begitu banyak wartawan dan beberapa anggota kepolisian lain mengerumuni tempat itu. paska kejadian mengerikan itu banyak anggota polisi yang kehilangan nyawa mereka.


Untung saja detektif Vio dan detektif Ical belum kehilangan nyawa mereka. namun mereka masih belum sadar akibat efek ledakan itu. terlihat para wartawan berusaha menerobos masuk untuk mendapatkan informasi yang lebih.


Semua saluran televisi menayangkan hal yang sama, kejadian ledakan bom di universitas ragam seni yang menewaskan banyak nyawa. semua orang terus membicarakan dan memikirkannya. semua takut jika penjahat yang melakukan itu akan mendatangi mereka.


"Pembunuh bertopeng.. jadi itu sebutan orang orang padanya, kok aku kayak pernah melihatnya.. tapi di mana yah?" ucap Esia sembari menonton berita yang sama.


"Kamu tidak ada pekerjaan lain?, pembunuh.. pembunuh.. pembunuh. hanya itu yang ada di pikiranmu?" ucap tiba-tiba kakak laki-laki kedua Esia.


Dia bernama Pawang Sava Tarisa. memiliki tubuh yang cukup tinggi dan kulit yang putih kekuningan membuat dirinya selalu disebut seorang pangeran komik. Pawang selalu mengganggu adiknya dan bercanda bersamanya.


Pawang berjalan kearah Esia yang sedang duduk di atas sofa sembari menatap layar tv yang sangat lebar. dirinya mengambil remote tv dan segera mematikannya. Pawang tidak mau jika Esia selalu penasaran dengan pembunuh berantai itu, yang akhir-akhir ini lagi banyak dibicarakan.


Setelah tv itu mati Esia bangkit dari duduknya dan berteriak cukup lantang pada Pawang. dirinya kesal melihat kakaknya itu selalu sensitif padanya. bahkan memikirkan pembunuh itu saja Pawang selalu muncul dan mengganggunya.


"Kenapa Kakak selalu ganggu Esia?, ini cuman nonton tv.. pembunuh itu tidak akan keluar dari tv dan menyerang Esia kak.." ucap Esia menaruh tangannya di atas pinggang.


Melihat adiknya sangat kesal padanya, Pawang berencana membawanya ke sebuah pantai yang indah dan bersenang-senang bersama.


Mendengar kata pantai, wajah Esia seketika berubah, yang tadinya sangat kesal kini menjadi kegirangan hingga dirinya pergi dari ruang keluarga menuju ke dalam kamarnya menyiapkan dirinya.


Melihat tingkah adiknya yang konyol dan random membuat Pawang tak kuasa menahan tawanya hingga dia meloncat kecil di atas sofa dan tertawa terbahak-bahak.


Setelah beberapa menit Esia bersiap, akhirnya merekapun berangkat menggunakan mobil pribadi Pawang yang tentunya di kendarai langsung olehnya.


Di dalam mobil terlihat Esia yang tertidur sembari mendengar musik dari hpnya. dirinya tidak sadar kalau mereka telah tiba di tempat tujuan.


Pawang berusaha membangunkan adiknya yang molor dengan sangat tenang. Esia yang mendapatkan guncangan kecil dari kakaknya sayup-sayup terbangun sembari menggosok pelan kedua kelopak matanya.


"Kita sudah sampai?" tanya Esia sembari menguap.


"iya.. ayok turun" balas Pawang.


Setelahnya mereka berjalan ke arah peristirahatan dan bersikap untuk turun ke pantai. tak lupa mereka juga harus menggunakan sebuah gelang penanda.


Akhirnya Esia dan Pawang bisa masuk ke area pantai dan bersenang-senang. Esia sangat nyaman dengan angin kecil yang bertiup dan pasir halus yang ada di pantai itu. dirinya memejamkan matanya dan merasakan aura pantai yang sangat menyegarkan.


Pawang menarik Esia ke arah air dan menyipratkan air itu pada wajahnya. betapa bahagianya Pawang melihat wajah Esia dipenuhi air dengan ekspresi kesal.


Tak ingin tinggal diam, Esia kembali menyerang Pawang dengan air dan mendorongnya ke arah depan yang membuat Pawang seketika tercebur dan basah kuyup.


Sedangkan Pawang kembali bersenang-senang dengan menyelam dan mencoba beberapa permainan pantai lainnya. yang tentu saja dirinya selalu melirik ke Esia untuk mengawasinya.


Terlihat Esia duduk santai di pinggir pantai sembari menatap kakaknya dan merasakan sejuknya angin pantai. dirinya kembali menutup matanya dengan pelan tapi tak selang lama, dia kembali membuka matanya setelah mendengar seseorang bernyanyi lagu favoritnya dengan suara yang merdu.


Dengan raut wajah yang penasaran, Esia menengok kiri kanan mencari sumber suara itu. dirinya seketika terdiam dan terpanah melihat seorang pria tampan yang seusia dengannya sedang bernyanyi di pondok kayu. pria yang memiliki kulit yang cukup putih dan menggunakan kaca mata terus melantungkan nada demi nada lagu itu. membuat Esia semakin penasaran dengan dirinya.


Tapi sebelum dia berdiri dan menuju ke orang itu, Pawang keburu datang dan mengajak Esia pulang karena memiliki urusan yang mendadak. dengan berat hati Esia harus berpaling darinya dan mengacaukannya.


Akhirnya Esia dan Pawang berada di tempat peristirahatan dan bersiap-siap untuk kembali. ketika Esia hendak berjalan keluar tiba-tiba pria tadi muncul dan hampir bertabrakan dengannya.


Melihat dirinya sangat dekat dengan pria itu membuat tubuh Esia kaku tak bergerak. terlihat Esia semakin terpanah olehnya dengan ketampanan wajahnya yang terlihat dari dekat semakin bersinar.


Setelah membayar, Pawang dengan segera menarik Esia keluar menuju mobil. dengan tubuh yang masih diam Esia mengikuti kakaknya dengan kepala yang menunduk kebawah.


Pria tadi hanya tersenyum tipis setelah melihat tingkah Esia yang cukup aneh. setelahnya dia juga membayar dan bergegas pergi dari sana.


Sesampainya kembali ke rumah, Pawang bersiap-siap dan segera pergi kembali menuju ke suatu tempat dengan tergesa-gesa. sedangkan Esia masih memikirkan pria itu sembari dirinya berbaring di atas kasur dan bermain hp.


********


Di tempat kejadian yaitu universitas ragam seni terlihat begitu banyak warga yang mengepung dan wartawan yang selalu memantau kampus itu. polisi sedang mengekspor tempat itu dan melihat tempat ledakan itu berusaha mendapatkan sedikit bukti apapun dari sang pelaku.


Sedangkan di rumah sakit terlihat detektif Vio telah kembali siuman dengan kondisi yang masih sangat lemah. dokter berusaha mengecek keadaannya dan memberikan yang terbaik padanya.


Walaupun yang lain belum siuman dan banyak yang kehilangan nyawa, kepala kepolisian tetap berusaha tabah dan bersyukur karena detektif Vio telah siuman kembali walaupun dirinya masih sangat lemah.


Terlihat detektif Vio yang berusaha untuk bangun bermaksud untuk kembali ke universitas ragam seni. "A-aku harus pergi.. ada orang yang membutuhkanku di sana" ucap lemas detektif Vio pada kepala kepolisian dan dokter yang ada di sampingnya.


"Maaf detektif Vio.. kamu harus tetap di sini untuk sementara waktu. luka mu cukup parah untuk saat ini, jadi kumohon kamu jangan kemana-mana" ucap dokter itu menenangkan detektif Vio.


"Ta-tapi.."


"Betul detektif Vio.. kamu tenang saja, wanita itu telah kami amankan. dia sedang di rawat di rumah sakit ini juga. detektif Ical dan yang lainnya juga masih di rawat" ucap kepala kepolisian.


Mendengar itu detektif Vio kembali cukup tenang dan kembali beristirahat di tempat tidurnya. setelah itu dokter dan kepala kepolisian keluar dari kamar detektif Vio.


..._end_...