Death Slice

Death Slice
Bab 19. Pergi



"Kami ingin menangkap pak Devan atas pembunuhan Luna." ucap Kamran tegas.


Dirinya mengeluarkan sebuah borgol dari kantong jiketnya.


Tanpa menunggu lama, Kamran berjalan ke arah Devan dan memborgol kedua tangannya di depan Tarisa dan yang lainnya. Devan terlihat terdiam dan mematung tak memiliki sepatah kata pun.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Tarisa kesal setelah melihat anaknya di borgol di depan matanya.


"Lepaskan borgol itu sekarang juga!, walaupun kau seorang polisi, aku sama sekali tidak takut padamu." sambung Tarisa kembali.


Pawang mencoba menenangkan ibunya dengan merangkul pundaknya sembari dirinya bernafas pelan mencoba meredam perasaannya.


Terlihat warga yang ada di lingkungan itu berbondong-bondong menuju pekarangan rumah Tarisa yang sudah terlihat sangat menegangkan.


"Lepas sendiri kalau bisa." jawab Kamran, tersenyum lebar.


"Saya tidak peduli kalau anda takut atau tidak dengan saya. Tetapi anak anda harus di tahan karena kesalahannya sendiri. Hukum tetaplah hukum." sambung Kamran tegas.


"Ta-tapi!"


"Bawa dia" ucap Kamran memerintahkan dua anggota polisi.


Semuanya menjadi sangat kacau dan ricuh. Tarisa, Pawang, dan orang-orang yang mengenal Devan mulai merasa panik dan takut.


Air mata Tarisa sudah tak tertahankan. Dirinya berteriak histeris diiringi tangisan pilu ketika melihat anaknya di bawah oleh polisi dengan borgol di kedua tangannya.


"Devan!!" teriak lantang Tarisa di baluti air mata yang terus menetes, ketika melihat Devan berjalan mengikuti Kamran, dan di kawal dua orang polisi.


"Sudah ma.. Mama jangan seperti ini. Tenanglah dan pikirkan bagaimana caranya keluar dari masalah ini." ucap Pawang menenangkan Tarisa.


Semua orang yang ada di sana mulai membuka mulut mereka dan berteriak kasar pada Devan.


"Dasar pembunuh!" teriak salah satu warga yang ada di sana.


"Dasar pembunuh!" sambung yang lainnya.


"Hukum seberat-beratnya monster itu!" sambung yang lainnya kembali.


Dan masih banyak lagi teriakan kasar yang terlontar pada Devan yang berjalan keluar menuju mobil polisi.


Devan berjalan mengikuti perintah Kamran karena dirinya tidak mau jika masalah ini akan semakin membesar. perusahaan dan keluarganya pasti akan terkena dampaknya.


Kamran berjalan mendekati Devan dan membisikan sesuatu kepadanya. "Ternyata kau tidak lebih pintar dari ku. Kau begitu bodoh dan ceroboh telah meninggalkan jejak yang mengarah padamu. Jangan anggap aku seperti Vio, aku lebih pintar dan cerdik darinya." bisik Kamran diiringi suara merendahkan pada Devan.


"Walaupun aku bukan pelakunya, aku akan tetap ikut denganmu. Mari kita lihat seberapa pintar dan liciknya dirimu." balas Devan menantang.


Sebelum mereka masuk ke dalam mobil, terdengar suara teriakan lantang yang mengarah pada mereka. Ternyata itu adalah Esia bersama Leo yang berdiri tepat di depan mobil Kamran.


Esia terlihat kebingungan dengan situasi itu. Dirinya berjalan ke arah Kamran diikuti oleh Leo di belakangnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Esia.


Tanpa ragu Kamran menjawab Esia dengan dingin. "Kami menangkap pak Devan atas kejahatan yang dia lakukan."


"Apa maksudmu?, kejahatan apa yang kakak ku lakukan!" balas Esia.


"Dia telah membunuh sekertarisnya sendiri dengan sangat kejam." ucap Kamran.


Deegggh


Esia sangat kaget mendengar semua itu. Tangannya bergetar dan mulai lemas tak berdaya.


"Tidak!, jangan percaya sama dia Esia. Percaya sama kakak, kakak sama sekali tidak membunuh siapapun. Bukan kakak pelakunya." potong Devan dengan cukup panik.


"Terserah kau mau percaya sama aku atau tidak. Yang penting kamu sudah melihat semuanya sekarang." timpa Kamran, sembari dirinya merangkul pundak kiri Esia.


Tarisa, Pawang, dan yang lainnya bergegas berlari menghampiri posisi mereka saat ini. Dengan segera Pawang menarik Esia menuju padanya, hingga lengan Kamran terlepas dari pundak Esia.


"Mama, Pawang, Esia.. kalian tidak usah menghawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja di kantor polisi, percaya sama aku." ucap Devan dengan segera.


Setelah itu, kedua polisi tadi menuntun Devan berjalan ke arah mobil polisi. Setelahnya mobil itu pergi dari sana meninggalkan Kamran dan mobilnya yang masih terparkir.


"Kak Devan.." ucap batin Esia.


"Esia, kamu sabar yah. Aku akan selalu ada di samping mu. Kamu jangan bersedih." ucap Leo pada Esia. Setelahnya dia memeluknya dengan pelan dan lembut sembari mengelus rambut mulusnya.


Esia tak sanggup menahan rasa sedihnya. Dirinya menangis sedu dengan air mata yang mengalir deras membasahi bagian baju milik Leo. "Kenapa ini terjadi Leo, kenapa!, hiks, hiks." Esia langsung memeluk erat Leo sembari dirinya menangis dengan sedu.


"Esia.." ucap Leo dan yang lainnya ikut merasa sedih.


"Haaah" suara hembusan nafas.


"Drama yang mengharukan. Tapi sayang aku harus memotongnya di tengah-tengah." ucap Kamran dengan ekspresi menirukan mereka.


"Aku harus pamit. Aku harus mengurus Devan tercinta kalian di sana. Selamat merayakan kesedihan kalian, sampai jumpa." ucap kembali Kamran dengan senyumnya.


Setelah itu dia pergi dari sana, bersamaan dengan para warga yang berkumpul di sana. Esia dan yang lainnya hanya pasrah menerima kenyataan dan kembali masuk kedalam rumah dan memikirkan cara untuk membebaskan Devan dari cengkeraman Kamran.


..._end_...