Death Slice

Death Slice
Bab 3. Kejadian mengenaskan



"Kirim beberapa petugas ke setiap universitas terkenal yang ada di daerah ini"ucap detektif Vio sembari memperhatikan beberapa barang bukti yang ia temukan.


Terlihat detektif Vio sedang berpikir dan merencanakan sesuatu yang mungkin mengarah ke sang pelaku.


"Apa yang sedang kamu rencanakan petugas Vio?" balas rekan Vio yang bernama Ical dengan tubuhnya yang cukup gemuk.


"Kita sepertinya akan bertemu secara langsung dengan pembunuh itu?" balas kembali Vio, dirinya memperlihatkan beberapa foto korban dari sang pembunuh pada Ical.


Dengan cukup serius, Ical memperhatikan tiga foto itu yang terlihat jasad-jasad korban yang sudah kehilangan beberapa bagian tubuh mereka.


Di foto pertama dan kedua terlihat mayat wanita yang masing-masing kehilangan sebelah mata mereka. sedangkan di foto ketiga terlihat mayat seorang pria remaja yang kehilangan satu lengannya.


"Apa kau lihat di setiap korban memiliki bagian tubuh yang menghilang, dan bisa dilihat kalau setiap korban berumur remaja. kira-kira 19 atau 20 tahun umur mereka, yang berarti pembunuh itu mengincar para remaja" ucap detektif Vio dengan tenang sembari menunjukkannya pada Ical.


"Pembunuh itu juga cukup pintar dan lihay menghilangkan jejaknya dan menyembunyikan korbannya. kita hanya menemukan tiga korbannya saja. korban keempat belum di temukan. kali ini jangan biarkan dia membunuh lagi" sambung kembali detektif Vio.


"Dan berarti.. malam ini akan ada mahasiswa yang akan dia bunuh!?" teriak kecil detektif Ical dengan mata melotot.


"Yah.. mahasiswa yang pulang malam" ucap kembali detektif Vio.


"Bagaimana kita bisa menemukan pembunuh itu di universitas yang sangat banyak di daerah ini?"


Dengan cukup percaya diri, detektif Vio tersenyum dan sangat lantang mengucapkan sesuatu pada Ical. Ical yang mendengarnya cukup terkejut dan penasaran dengan ide gila lain dari detektif Vio.


"Aku sudah cukup tau gerak-gerik dari berandal itu. aku memperlihatkan foto mayat itu padamu agar kau sadar apa yang sedang aku pikirkan" ucap detektif Vio menatap wajah detektif Ical sembari menyeringai.


"Apa maksudmu?" tanya detektif Ical.


"Coba kau perhatikan baju yang di pakai setiap korban, apa ada persamaan diantaranya?" balas detektif Vio.


Dengan cepat detektif Ical kembali memperhatikan foto itu kembali. dirinya terkejut saat menemukan apa yang dimaksud dengan detektif Vio. dia melihat setiap baju yang dipakai korban sang pembunuh itu memiliki lambang universitas. universitas itu adalah ragam seni.


Setelah menyadarinya detektif Vio dan Ical bergerak ke arah universitas itu dengan segera, membawa peralatan sederhana dan secukupnya.


********


"le-lepaskan aku.. lepaskan!!"


Pria itu kembali menangkap seseorang dan mengikatnya. kali ini dirinya menangkap seorang wanita yang cukup tua, sepertinya wanita itu seorang pengajar.


"Kenapa kau berteriak begitu lantang?, tenanglah.. ada aku yang akan menemanimu sampai Bom itu meledak di tubuhmu" ucap pria itu dengan lekukan suara yang lembut nan pelan


"Aku tidak mau mati.. aku tidak mau. lepaskan aku!!, kenapa kamu melakukan itu padaku!?" kenapa!!" teriak keras wanita itu dengan nada suara yang bergemetar.


"Kamu tidak akan mati.. kamu akan selamat dan kembali pada pencipta mu. apa kamu tidak senang?, karena aku sangat baha.."


Sebelum pria itu melanjutkan perkataannya, detektif Vio dengan cepat menodongkan pistolnya pada Pria itu. saat itu juga semuanya terasa hening, dengan detektif Vio yang berjalan perlahan ke arah pria itu yang sedang berdiri dengan tangan di atas.


Pria itu menuruti perkataan detektif Vio dan segera mengangkat tangannya secara perlahan melewati kepalanya.


Namun tak selang lama Pria itu tertawa terbahak-bahak, dirinya tidak merasa terkejut ataupun takut dengan munculnya detektif Vio secara mendadak di depannya.


Dirinya kembali menurunkan tangannya dan maju ke arah detektif Vio. "Ada apa detektif Vio?, kenapa kamu terlihat lebih terkejut dari ku?" ucap Pria itu sembari dia berjalan.


"Aku bilang diam di tempat!" teriak tegas detektif Vio, dengan wajah yang mulai kesal dirinya menembakkan pistol yang ada di tangannya ke arah samping kaki Pria itu secara mendadak.


Namun dengan santainya Pria itu berdiri tanpa takut peluru itu mengenai kakinya. dia kembali berjalan secara perlahan dan akhirnya dirinya tiba tepat di depan detektif Vio.


Dengan mata yang melotot tajam dan raut wajah mengerikan detektif Vio menempelkan pistolnya tepat di dahi Pria itu.


"Kau pikir aku takut melukai mu?.. jangan salah, aku lebih kejam darimu. lebih baik kau menyerahkan saja dirimu ke polisi dan jangan melakukan apapun yang merepotkan ku" ucap detektif Vio berusaha menahan tumpukan amarahnya.


Namun sebelum dirinya menembakkan kembali pistolnya ke arah Pria itu, suara teriakan dari wanita itu menghentikan gerakannya. terlihat wanita itu terikat dengan tali di tiang basket yang ada di lapangan universitas ragam seni.


Pria itu kembali tertawa setelah menatap tajam detektif Vio dari balik topengnya. setelahnya, dirinya kembali mundur perlahan sembari memberikan jempolnya ke arah bawah.


"Malam ini.. dan detik ini juga, kau akan mengakhiri


teror ku dengan membayarnya. membayar dengan nyawamu. yah.. kita akan mati bersama dengan Bom yang akan meledak ditubuh wanita itu sebentar lagi" ucap perlahan Pria itu.


"Dasar brengsek!.. ternyata kau sudah mengatur segalanya dengan cukup matang. bermaksud untuk mati dan membawa ku juga?, kau tidak akan pernah berhasil dengan pikiran bejat mu itu!" balas detektif Vio.


"Sudahlah.. pasrah saja dan akui kekalahan mu detektif Vio, mati saja bersamaku hahahaha" ucap kembali Pria itu.


Detektif Vio berusaha tenang dan mencari cara untuk membebaskan wanita itu. dengan perlahan dirinya memberikan kode pada Ical dan beberapa pasukan polisi yang mengintai dalam kegelapan. dalam beberapa detik, Ical dan 15 pasukan polisi keluar dan mengepung Pria itu sembari menodongkan pistol padanya.


Pria itu sedikit terkejut dan tak menduga begitu banyak polisi mengepung dirinya. "wah.. aku sungguh terkejut" ucap mendadak pria itu.


Sembari Ical dan pasukan polisi lainnya mengepung, detektif Vio berlari ke arah wanita itu berusaha menyelamatkannya, dirinya melepaskan Bom yang terikat di bagian pinggang wanita itu. dan segera mengamankan Bomnya sebelum meledak.


Disisi lain Pria itu tidak terima dan berusaha melarikan diri dari kepungan itu. namun usahanya gagal karena begitu banyak orang yang mengepungnya.


Detektif Vio menidurkan wanita itu di bawah pohon besar yang terlihat begitu lemas dan masih merasa trauma. setelah memenangkan wanita itu,. detektif Vio kembali berlari ke arah Pria itu hendak menyelesaikan segalanya.


Sebelum detektif Vio sampai tepat dihadapannya, Pria itu mengeluarkan sesuatu dari jas hujannya dan segera menekannya setelah itu dia berlari menjauh dari kerumunan polisi itu.


Seketika itu juga suara ledakan Bom yang cukup besar terdengar dan menghancurkan separuh kampus itu. lapangan dan sekitarnya seketika hancur tak tersisa. pasukan polisi tumbang secara brutal, Ical dan detektif Vio terkapar dengan wajah dan tubuh yang penuh darah dan sedikit hangus.


Para polisi lain terluka sangat mengenaskan dengan tubuh yang hangus dan darah yang begitu banyak. sedangkan terlihat pria itu berjalan lemah dan pincang ke arah pintu keluar dengan tubuh yang dilumuri cukup banyak darah.


..._end_...