
Kini perusahaan Sava Corp telah di tutup untuk beberapa hari oleh polisi, Demi memudahkan penyelidikan kasus pembunuhan dari Luna.
Terlihat seorang ibu yang cukup tua sedang berlari dengan tergesa-gesa menuju ke sebuah ruangan. Ternyata ruangan itu adalah ruangan mayat, Dan ibu yang berlari itu adalah ibu dari Luna korban pembunuhan.
Ibu Luna telah sampai tepat di pintu ruangan itu. Perlahan dirinya membuka dan memasukinya. Ibu Luna berjalan masuk mendekati salah satu mayat yang tertutup oleh kain putih.
Air mata dari ibu Luna tidak bisa Bertahan lagi. Dirinya membuka secara perlahan kain putih yang menutupi wajah anaknya itu. Tangisannya pun pecah setelah melihat jasad itu adalah jasad Luna, Anaknya.
Tubuhnya gemetar, Tangannya mulai meraba wajah anaknya dengan air mata yang terus menetes terjatuh mengenai jasad dari Luna.
Seketika itu, Semua sekujur tubuhnya mulai melemah dan perlahan demi perlahan tertunduk lemas dan jatuh ke lantai. Dirinya berteriak sekencang-kencangnya setelah tubuhnya menyentuh lantai dan melihat semua Kenyataan pahit itu.
"I-ini mimpi kan?... Anak ku tidak mungkin meninggal kan!!... Tidak mungkin. Hiks, hiks, hiks"
"Luna!!!..."
Ibu Luna berteriak dengan sangat keras di dalam ruangan itu. Beberapa petugas yang ada di sana harus datang dan menenangkannya dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Disisi lain terlihat pak Darman beberapa petugas kepolisian, Detektif Vio dan Ical sedang berdiri dan menunggu seseorang di bandara makou. Orang itu adalah pengganti dari detektif Vio dan Ical yang berasal dari jakarta.
Vio merasa sangat penasaran dengan rupa orang yang akan menggantikannya untuk menangani kasus pembunuh bertopeng ini.
Setelah beberapa lama menunggu, Akhirnya seseorang berjalan keluar dengan menggunakan kacamata hitam dan sebuah jiket yang berwarna hitam, Menyeret koper miliknya menuju mereka yang sedang menunggunya.
"Akhirnya dia datang juga" Ucap pak Darman dengan wajah yang bangga.
"Modelan ginian kok mau gantiin detektif Vio" Ucap batin Ical.
"Hello how are you all, Nice to meet you" Ucap lantang pria itu sembari membentangkan kedua lengannya.
"Nama ku Kamran, You can call me with, An" Sambung Kamran pada mereka semua.
Setelah itu dia segera memeluk pak Darman sebagai tanda penghormatan dan pertemanan.
Detektif Vio yang melihatnya tidak berdiam diri. Dirinya berusaha berteman dengan mengulurkan tangannya terlebih dahulu padanya dengan sopan dan penuh ramah.
Namun belum sempat berjabat tangan dengannya, Kamran mulai berbicara padanya yang membuat Vio seketika menurunkan kembali tangannya dan menyimpan niatnya setelah mendengar perkataan Kamran.
"Oh... jadi ini yang memperlambat proses selesainya kasus pembunuhan ini?"
Melihat itu, Ical tidak tinggal diam. Dia berjalan ke arahnya hendak memberinya pelajaran yang pantas. Tetapi dengan cepat Vio menangkap lengannya dan memberikan kode padanya untuk tidak membuat hal konyol.
"Terimakasih" Balas Vio singkat.
Setelah itu mereka pergi dari bandara dan menuju ke kantor polisi makou dan akan langsung bekerja dan mengurus kasus pembunuhan Luna kemudian berlanjut mengurus kasus pembunuh bertopeng.
"Hmm... jadi ini jasad dari pembunuhan itu?, Cukup keji" Ucap kamran pada pak Darman sembari melihat jasad Luna.
"Sambil menunggu hasil dari autopsi mayat ini, Aku akan melihat TKP dan mencari beberapa bukti yang ada di sana"
"Baiklah... pak Irwan akan menemani kamu menuju TKP" Balas pak Darman.
"Thank you" Cetuk Kamran.
Sementara di rumah Tarisa, Terjadi pertengkaran dasyat antara Devan dan ibunya yang di saksikan langsung oleh Esia, Pawang dan beberapa pembantu rumah tangga yang ada di rumah itu.
"Apa kau tidak mengerti!, Kalau Sava Corp akan terancam di tutup karena perbuatan mu. Dari mana saja kamu?, Dari kemarin mama tidak bisa menghubungi kamu"
"Apa hubungan Devan dengan Sava Corp yang akan di tutup. Apa karena Devan tidak pernah bekerja dengan baik!"
"Se-sebenarnya, Sekertaris pribadi kak Devan Telah dibunuh tepat setelah kak Devan pergi dari sana" Timpa Pawang dengan pelan.
"Apa!?"
"Ba-bagimana mungkin ini terjadi!?"
"Sudah lah Devan... Semua petunjuk mengarah padamu. Saat ini kamu adalah tersangka utama dalam kematian Luna" Sela Tarisa.
"Tapi bukan aku yang melakukannya!!!"
"Kami semua tahu kalau itu pasti bukan perbuatan mu!, Tetapi... kalau polisi dan warga aku tidak tahu mereka akan berpikir apa" Timpa kembali Tarisa.
Esia yang mendengarnya merasa amat terkejut setelah mengetahui itu semua. Hati Esia seketika berdegup kencang setelah dirinya mengetahui jika keluarganya akan terlibat dengan yang namanya hukum.
..._end_...