
Terlihat Universitas ragam seni telah selesai di renovasi. Letak bangunan dan suasananya sama persis seperti dulu. Semuanya akan kembali ke kampus itu keesokan harinya, Yang telah di informasikan.
Sementara itu, Di kantor polisi makou terlihat detektif Vio dan Ical tengah bersiap menuju ke rumah Tarisa dengan segudang pertanyaan yang ada di benak mereka.
Mereka telah mendapatkan alamat rumah dari Tarisa setelah membaca berita mengerikan itu.
"Aku sangat yakin ini berhubungan satu sama lain" Vio memasuki mobilnya dan segera berangkat menuju alamat rumah Tarisa.
"Semoga kita bisa mendapatkan jawaban dari semua ini" Ucap Ical serius pada Vio.
Detektif Vio hanya mengerutkan dahinya sebagai tanggapan dari ucapan detektif Ical. Vio kembali fokus menginjak gas mobilnya, sembari dirinya meminta arahan pada Ical agar menuntunnya ke arah alamat yang tertera di layar hp.
********
"Mama ke kantor dulu untuk memantau semuanya. Kamu di rumah saja dan jangan kemana-mana, Yah" Tarisa meraih kepala Esia dan mengelusnya sembari senyum pada anaknya itu.
"Siap ma..."
Setelahnya Tarisa berjalan keluar dari rumahnya meninggalkan Esia yang melambai padanya dari dalam rumah.
Setelah itu Esia menutup pintu rumahnya dan memutuskan naik ke kamarnya untuk beristirahat.
"Apa kita sudah dekat?" Tanya Vio pada Ical yang mengarahkan jalan.
"Kita hampir sampai, Di depan ada belokan ke arah kiri setelah itu akan terlihat rumah yang cukup mewah dan besar" Balas Ical sembari menunjuk ke arah depan.
Setelah beberapa saat, Akhirnya mereka telah sampai di depan rumah yang mewah dengan pagar besar berwarna hitam, Di baluti warna emas yang mengkilap.
"Wah!!" Detektif Ical tercengang melihat rumah sebesar itu di hadapannya. Dirinya menelan ludahnya sembari menatap kemewahan rumah itu.
"Ayo kita masuk" Vio berjalan ke arah gerbang rumah Esia setelah memarkirkan mobilnya.
"Maaf pak... Kalian tidak bisa masuk jika tidak memiliki keperluan" Cegah satpam yang menjaga di sana.
Vio menghela nafas dan bersabar menahan rasa penasarannya pada panti asuhan itu, Dirinya mulai berbicara pada satpam yang menjaga.
"Kami dari anggota kepolisian yang memiliki urusan penting pada bos mu, Ibu Tarisa" Detektif Vio semakin dekat dengan gerbang itu hingga dia memegangnya.
"Jadi Tarisa itu cewek?... ku kira cowok!" Ucap benak detektif Ical ketawa menyeringai dengan kebodohannya.
"Tapi nyonya Tarisa sedang berada di luar dan akan pulang malam" Satpam itu mengatakannya dengan sopan pada mereka.
"Kira-kira ibu Tarisa pulang jam berapa?" Tanya detektif Vio.
"Sekitar jam 10 malam"
Setelah mereka bertanya, Mereka kembali berjalan menjauh dari gerbang rumah Esia. "10 malam!..." Celetuk detektif Vio.
"Namanya juga ibu-ibu gaul. Biasa..." Balas Ical menenangkan rekannya dengan merangkul bahunya dan tersenyum.
Mereka memutuskan untuk kembali dulu ke kantor dan akan kembali lagi ke rumah itu pada saat jam 10 malam tiba.
Disisi lain, Terlihat Tarisa yang berada di kantor sedang sibuk bekerja bersama pekerjaan di sana dan Devan. Terlihat Devan sedang mengetik di dalam ruangannya.
Setelah beberapa saat mengetik, Akhirnya dirinya terhenti ketika melihat jam yang sudah menunjukkan waktu makan siang.
Terlihat Luna sekertaris Devan sedang menelfon.
"Jika seseorang datang ingin menemukan pak Devan suruh saja dia langsung masuk. Kami menunggunya di dalam" Ucap Luna kepada penjaga yang ada di luar gedung.
Sepertinya dia tengah menunggu seseorang yang penting untuk membicarakan pekerjaan kantor.
Devan dengan segera bergegas keluar dan meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai. Luna yang melihatnya hendak menghentikan Devan lagi.
"Maaf pak... Pekerjaan ini harus selesai hari ini juga" Ucap Luna sekertaris Devan.
Devan seketika berhenti melangkah setelah mendengarnya. Dia kembali berputar dan berjalan ke arah Luna berdiri. Dengan pelan dan lembut, Devan berbicara padanya.
"Aku punya urusan... Bisa kau selesaikan semuanya?" Ucap Devan.
"Ta-tapi..."
"Apa kau takut dengan ibu Tarisa?... Jangan khawatir, Dia tidak akan mengetahuinya Jika tidak ada yang mengadu"
"Maaf pak... Tapi ini bukan soal takut, Tetapi ini semua perintah dari ibu Tarisa untuk jangan membiarkan pak Devan pergi dan meninggalkan pekerjaan" Balas Luna dengan hati yang sudah mulai memanas.
Mendengar itu, Devan sedikit terkejut karena ucapan sekertarisnya itu.
"Jadi... Kamu selama ini yang memberitahukan semuanya!?"
"Kau itu sekertaris pribadi ku, Tugas mu membantu dan membimbing semua pekerjaan di kantor yang aku tangani. Aku tidak pernah berharap kalau sekertaris ku melakukan hal bodoh pada padaku!" Devan membentak Luna dengan cukup keras.
Dirinya berjalan mendekati Luna dengan amarah yang cukup meluap di dalam hatinya. Dirinya menggenggam tangannya berbentuk kepal dengan urat yang tertarik keras bersiap memukul.
"Ma-maaf pak... Saya tidak bermaksud..."
"Pak!"
"Pak!"
..._end_...