
"Kenapa kamu---" Esia masih terkejut melihat Pang yang ada di hadapannya, Sembari dirinya menunjuk halus ke arah Pang berada.
Terlihat Pang yang memperhatikan Leo dengan tatapan tajam dan kepala yang sedikit miring ke samping. "Siapa kamu?.." Pang bertanya dengan cukup mendadak pada Leo.
Dengan cukup santai, Leo tersenyum pada Pang sekaligus menjawab pertanyaan "Nama ku Leo.. Salam kenal temannya Esia" Balas Leo pada Pang dengan nada suara yang lembut. Leo mengulurkan tangannya pada Pang berniat berkenalan dengannya.
Tetapi terlihat Pang tertawa seketika ketika mendengar Leo mengucapkan teman Esia. Dengan sombong dan angkuhnya, Pang berteriak cukup lantang pada Leo dan Esia. Dirinya mengklaim jika Esia adalah pacarnya. "Dengar yah.. Aku itu pacarnya Esia. Pacar asli dan orang yang paling dicintai oleh Esia!" Ucapnya.
Tanpa lama, Esia membantah perkataan Pang dengan cukup kasar. Dirinya berteriak panik dengan tatapan mata yang melotot ke arah Pang dan Leo.
"Bu-bukan!.." Teriak Esia.
"Kamu udah gila?!, Aku gak pernah sedikitpun mengatakan jika kita itu pacaran. Apa lagi aku mencintaimu, Aku berharap itu cuman haluan gila mu saja!" Sambung Esia pada Pang.
Leo yang mendengarnya dan melihatnya, Hanya terdiam patung sembari menatap mereka berdua.
"Jadi kamu menolak ku?!.." Tanya Pang dengan cukup keras pada Esia.
"Iya, Aku menolak mu Pang, Jadi jangan melakukan hal bodoh yang aku tidak sukai. Aku tau kalau kamu dan yang lainnya yang mendekati ku hanya manfaatin aku dan menguras seluruh harta kekayaan ku. Jadi lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan ganggu aku lagi!"
"Tapi Esia!.." Pang berteriak keras kembali pada Esia. Dirinya mendekati Esia dengan tangan yang menggenggam dan gemetar.
Melihat Pang yang tidak terima, Leo seketika menarik mundur Esia secara perlahan kebalik tubuhnya bersamaan dirinya maju dan berhadapan langsung pada Pang yang terlihat sangat jengkel.
"Apa kamu sudah selesai dengan Esia?.. Soalnya kita mau pergi dan melanjutkan bersenang-senang" Tanya Leo pada Pang yang kali ini berhadapan langsung pada Leo.
"Kurang ajar yah kamu.. Siapa kamu yang sok-sok dekat dengan Esia dan mau melindunginya. Aku itu pacarnya bukan kamu!" Balas Pang dengan lantang sembari dirinya menunjuk kasar pada Leo.
Terlihat Leo yang berusaha bersabar dan menahan amarahnya. Dirinya menghela nafas panjang dan berbicara halus pada Pang. "Aku adalah orang pertama yang membuat Esia nyaman berada di samping seorang pria selain kakaknya. Dan aku juga orang yang tulus menyayangi dia apa adanya tanpa memandang kekurangan apapun darinya. Aku tidak mengejarnya, Tapi takdir yang mempertemukan kami begitu saja di balik nyamannya tiupan angin pantai. Walaupun aku mungkin bukan siapa-siapa di hatinya, Tetapi bagiku.. Esia adalah permata yang memancarkan sinar terang padaku yang aku temukan di pantai. Aku adalah orang yang sangat beruntung, Yang sudah bertemu wanita seperti Esia" Ucap Leo sembari dirinya memandangi Esia diiringi senyumnya yang menyertai.
Mendengar ucapan Leo, Esia seketika mematung dan mengingat semua kenangan buruknya selama berada di bangku SMA hingga berkuliah saat ini. Tidak ada seorangpun yang mengatakan itu padanya selama ini dengan suara hati yang dalam seperti Leo. Dirinya kembali perlahan menatap Leo yang memandanginya. Tanpa tersadar, Matanya mulai berkaca-kaca hingga menetas setetes air mata turun melewati kelopak matanya. Namun tanpa Esia sadari tetesan air matanya itu terjatuh di sebuah telapak tangan yang menahannya. Ternyata telapak tangan itu milim Leo yang sudah berdiri dan siaga menjaga Esia. Leo pun menggenggam tetesan air mata Esia di telapak tangannya.
"Jangan menangis.." Ucap Leo menyemangati dirinya.
Melihat pemandangan itu, Pang seketika kembali emosi pada mereka berdua. Dengan lantang Pang berteriak pada Leo, Bahwa bagaimanapun Leo berusaha mendekati Esia dirinya lah yang akan tetap berada di hati Esia untuk selamanya.
Setelah mengatakan itu, Pang kembali berlari dan pergi melewati mereka berdua yang tidak menanggapi perkataan Pang sedikit pun. Setelahnya Esia dan Leo berjalan lurus ke depan dan duduk di kursi taman yang berada di sana.
"Tidak perlu minta maaf Esia.. Aku juga mengatakan yang sebenarnya sesuai yang ada di dalam hati ku. Lain kali jangan menangis seperti itu lagi" Balas Leo pada Esia sembari dirinya membantu menghapus sisa air mata dari Esia.
********
Terlihat mobil putih sedang melaju cukup kencang ke suatu tempat, yang di dalam mobil itu ternyata adalah detektif Vio dan Ical yang sedang terburu-buru menuju tempat pembunuhan korban ketiga dari pembunuh bertopeng.
Ketika mobil mereka melaju cukup kencang, Tiba-tiba ada sebuah mobil hitam yang berlawanan arah menuju mereka dengan kecepatan yang cukup tinggi. Detektif Vio dan Ical yang melihatnya sontak terkejut dan panik ketika mobil itu semakin melaju ke arah mereka tanpa henti.
Refleks detektif Vio menginjak rem mobilnya dengan cepat dan cukup keras sembari membunyikan klakson mobilnya bermaksud memberi kode pada pengendara mobil hitam itu.
Pengendara mobil hitam itu sontak terkejut dan menginjak rem mobilnya bersamaan dirinya yang tersadar dari melamunnya. Mobil detektif Vio dan pengendara mobil itu hampir saja bertabrakan dengan keras sebelum mereka merem mobil mereka masing-masing.
Ketika semuanya kembali aman dan terkendali, Detektif Vio dan Ical turun dari mobilnya dan mendekati mobil hitam itu. Detektif Vio mengetuk kaca mobil itu sembari dia melihat ke dalam mobil, Yang terlihat samar-samar seorang pria yang terdiam mematung.
"Permisi.. Apa kita bisa berbicara sebentar?" Ucap detektif Vio pada orang itu.
"Kami seorang polisi, Jika anda tidak keluar secepatnya terpaksa kami melakukan tindakan yang pasti anda tidak menginginkannya!" Sambung detektif Ical yang berdiri tak jauh dari detektif Vio.
Setelah mendengarnya, Orang itu menurunkan kaca mobilnya secara perlahan sembari menatap detektif Vio yang berdiri langsung di depan pintu mobilnya.
Detektif Vio yang melihatnya, Langsung menunduk melihat orang yang ada di dalam mobil. "Maaf atas kelalaian saya mengendarai mobil ini. Lain kali saya tidak akan mengulanginya" Ucap orang itu singkat. Setelahnya dia kembali menaikkan kaca mobilnya dan pergi dari sana meninggalkan detektif Vio dan Ical yang masih belum sempat berbicara langsung padanya.
"Hei!, Jangan kabur!.." Teriak detektif Ical sembari mengejar kecil mobil itu dan menunjuk ke arahnya.
Namun tak lama, Dirinya dihentikan oleh detektif Vio. "Jangan dikejar, Ada urusan yang lebih penting dari ini" Ucap detektif Vio, Dirinya kembali naik ke dalam mobilnya diikuti juga oleh detektif Ical di belakangnya. Setelah itu mereka pergi dari sana.
********
Terlihat Devan yang sudah sampai ke rumahnya dengan mobil hitam mewahnya sembari dirinya membuka kacamata yang ia kenakan.
"Haaah.." Hela nafas Devan setelah turun dari mobilnya. Setelah itu dia berjalan masuk kembali ke dalam rumahnya.
..._end_...