Death Slice

Death Slice
Bab 16. Apakah ini akhir dari semuanya?



Terlihat beberapa anggota polisi sedang bertugas memeriksa TKP yang ada di lantai dua Sava Corp. Di dalam ruangan Devan terdapat jasad yang terbaring.


Jasad tersebut adalah jasad Luna sekertaris pribadi dari Devan. Terlihat kondisi mayat dari Luna yang cukup mengenaskan. Di mana terdapat bekas cekikan di bagian lehernya, Dan terdapat beberapa luka memar di bagian paha dan wajahnya.


Orang-orang yang di sana merasa sangat syok atas kejadian itu. Mereka tidak menyangka ada pembunuhan di kantor tersebut yang menewaskan Luna.


Beberapa saat kemudian, Jasad dari Luna telah di amankan dan akan segera di bawah untuk di lakukan autopsi jasad. Terlihat Tarisa dan Pawang datang dengan tergesa-gesa setelah mendengar berita menggemparkan tersebut.


Sementara di kantor polisi makou, Berita ini telah sampai ke telinga detektif Vio dan Ical. Mereka lebih terkejut karena pembunuhan terjadi tepat di tempat Tarisa berada. Mereka juga belum sempat bertemu dengannya akibat Tarisa yang tidak ingin bertemu dengan mereka berdua.


Berita kematian Luna telah tersebar dengan sangat cepat melalui mulut dan internet. Siaran televisi menayangkan berita tersebut dan membahasnya. Berita ini bahkan telah sampai di telinga orang-orang yang ada di luar kota makou.


Kematian Luna membuat semua geger, Karena semua masyarakat kota makou telah bersyukur pembunuhan berantai tidak lagi terjadi setelah korban terakhirnya.


Tetapi mereka semua kembali merasa takut setelah mendengar kematian Luna sekertaris dari Devan anak dari pemilik perusahaan ternama yang cukup terkenal dan sukses di kota ini.


********


Tarisa meminta Pawang untuk menghubungi Devan yang sejak kemarin susah untuk di hubungi. Dengan segera Pawang menghubungi Kakaknya itu hingga beberapa kali. Namun Devan sama sekali tidak menjawab panggilan dari Pawang.


Tarisa terlihat sudah semakin cemas dan takut akan terjadi hal yang tidak ia inginkan. Dirinya menggenggam tangannya dan menghentakkan kakinya ke lantai sebagai pelampiasan amarah dan kesalnya.


"Ma... Devan tidak mengangkat telfonnya"


"Ke mana anak itu!?, Sekarang terjadi pembunuhan di sini tapi dia malah keluyuran tidak jelas" Tarisa memegang pinggangnya dan menghela nafas.


Tak lama mereka berdua di datangi oleh beberapa wartawan dengan membawa kamera dan peralatan lainnya. Wartawan itu melontarkan banyak pertanyaan seputar kejadian dan kematian Luna pada mereka berdua.


Namun Tarisa dengan sengaja menghindari wartawan itu. Dirinya meminta Pawang untuk mengusir wartawan itu dengan segera.


Pawang pun melakukan perintah ibunya, Dia meminta dengan sangat pada mereka untuk tidak menyebar luaskan berita tersebut.


Terlihat detektif Vio dan Ical menghadap langsung pada kepala kepolisian. Mereka meminta untuk terlibat langsung dengan kasus pembunuhan Luna. Karena mereka menduga kuat jika pelaku yang membunuh Luna adalah pembunuh bertopeng.


Detektif Vio menjelaskan, "Mungkin saja ini adalah salah satu permainan keji pembunuh bertopeng itu pak" Ucapnya dengan sangat pada pak Darman.


Tetapi bagaimana pun, Detektif Vio menjelaskan segalanya pada pak Darman semuanya akan tetap sama.


"Saya tidak bisa mempercayakan kasus ini pada kalian berdua. Dan satu lagi, Sebenarnya... Saya sudah memutuskan ini dan hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk mengatakannya pada kalian. Mengenai kasus pembunuh bertopeng... Saya rasa kalian sudah tidak sanggup melaksanakannya" Pak Darman berjalan pelan ke arah mereka berdua dan berbalik ke belakang.


Detektif Vio dan Ical seketika merasa cemas mendengar ucapan dari kepala kepolisian itu. Mereka menutup mata dan bersiap mendengar segala sesuatu yang keluar dari mulut pak Darman.


"Lebih baik kalian berhenti dalam kasus ini. Dan jangan pernah menangani kasus besar lagi. Sebelum kalian mengoceh dan protes, Saya akan mengatakan semua kesalahan ketidak becusan kalian berdua. Vio... Kamu itu adalah seorang polisi dan detektif yang sangat pintar dan profesional, Dan saya sangat percaya sama kamu. Tapi... Atas keleletan kamu dalam menjalankan tugas yang tidak selesai dalam waktu yang sudah di tentukan, Maka kepercayaan saya seketika menghilang dari mu dengan sekejap"


Detektif Vio yang mendengarnya, Hanya menunduk dan menutup matanya sembari menggenggam tangannya menguatkan mental dan tubuhnya.


"Dan kamu... Ical. Kamu itu seorang polisi. Seorang polisi harus pintar dalam segala hal apapun, Bukan hanya pintar dalam hal makan saja. Dan seorang polisi... itu tidak penakut seperti mu yang hanya menjadi beban dalam kasus apapun itu yang kamu tangani. Jadi aku sama sekali tidak mengharapkan hal apapun darimu"


Ical hanya pasrah dan menelan ludah setelah mendengar kenyataan pahit itu. Detektif Vio berbalik padanya dan memberi kode gelengan kepala diiringi dengan senyum, yang berarti kalau semua yang ia dengar, Itu semua salah. Menurut Vio, Ical sama sekali tidak beban. Dia adalah rekan kerja yang paling bisa di andalkan dan setia menemani bagaimana pun keadaannya. Detektif Ical hanya bisa terharu mendengar semua itu.


Setelah pak Darman berbicara pada mereka, Detektif Vio berbalik dan berjalan ke arahnya. Dirinya meminta maaf pada pak Darman atas kesalahan yang mereka berdua lakukan selama menjalankan tugas.


Detektif Vio meminta dan memohon agar mereka tidak diberhentikan dalam kasus pembunuh bertopeng. Ical berarti kecil dan mengangkat tangannya memohon pada pak Darman demi rekannya itu yang sudah berjanji ingin menangkap pelakunya dengan tangannya sendiri.


Namun keputusan pak Darman sudah bulat dan akan tetap memperhatikan mereka berdua. Pak Darman menjelaskan jika pengganti mereka akan tiba besok di kota makou.


"Dia akan menggantikan kalian yang tidak becus. Polisi dari jakarta yang akan sampai besok di bandara kota makou. Kalau kalian ingin menyambutnya, Silahkan... Aku sangat mengizinkannya"


Setelah itu pak Darman pergi dari ruangannya meninggalkan mereka berdua yang masih tidak percaya hal seperti ini menimpa mereka, Terlebih bagi detektif Vio.


Kesunyian ruangan pak Darman sangat terasa ketika Vio dan Ical berdiri terdiam di dalam ruangan itu dengan genggaman tangan mereka yang berusaha menahan malu dan kesedihan.


..._end_...