Death Slice

Death Slice
Bab 1. Prolog



Malam hari saat itu terlihat seorang wanita yang berjalan sendiri menelusuri lorong kecil yang cukup gelap. bagaimana tidak, lorong itu hanya dilengkapi satu lampu jalan secara keseluruhan.


Wanita itu berjalan sembari menatap ponselnya dengan cukup serius, diiringi dengan langkahnya yang semakin cepat melintasi lorong.


Saat dirinya hendak melewati lorong, dirinya mendengar suara sesuatu yang ada di belakangnya. saat itu juga dirinya merasakan yang namanya ketakutan. sembari menelan ludahnya, dirinya mencoba memastikan asal suara tersebut. menengok dan bertanya sembari menahan rasa takut.


"Ada orang di sana?!"


Setelah teriakan wanita itu, suara yang tadinya cukup keras berbunyi di belakang seketika menghilang begitu saja. mengetahui tidak ada seseorang selain dia di sana hati wanita itu merasa sangat lega dan kembali berjalan.


Namun tiba-tiba uraian tangan dengan kaus tangan hitam menutup mulut dan hidungnya dengan sangat keras, membuat wanita itu kesulitan untuk bernafas. begitu banyak tenaga yang dikeluarkan wanita itu untuk meloloskan diri dari cengkeraman orang misterius.


Namun usahanya sangat sia-sia. orang misterius itu dengan mudah membuatnya pingsan di tempat.


Sayup-sayup terlihat ruangan kecil dengan kipas yang cukup tua di penuhi debu memutar secara perlahan. ternyata wanita itu sedang berada di sebuah ruangan dengan dirinya terikat di kursi dan mulut yang di tutup.


Merasakan dirinya terancam, dia memberontak berusaha meloloskan diri dari tali yang mengikatnya. namun tenaganya tak cukup kuat untuk melepasnya, dia berusaha berteriak sekuat tenaga walaupun mulutnya tertutup dengan cukup keras.


Saat itu dirinya merasa sangat ketakutan dan sangat terancam. air mata dan nafas yang terengah-engah di rasakan wanita itu. apa lagi ketika dirinya mendengar ketukan suara sepatu menuju ke ruangan itu yang semakin dekat.


Dengan tenaga yang masih lemah, wanita itu berusaha memberontak kembali sebagai usaha terakhirnya. namun dirinya seketika berhenti dan menatap seorang pria yang memakai jas hujan hitam yang sedang berdiri di depan pintu yang sudah terbuka sembari menatap dirinya.


Dengan perlahan pria itu berjalan masuk ke arah wanita yang ia sekap, sembari menjentikkan jarinya yang membuat wanita itu merasa semakin ketakutan. wanita itu tak kuasa menahan dirinya. dengan keras dia berteriak dan menangis tersedu-sedu sebelum pria itu semakin dekat dengannya.


"Takut?" celetuk mulut pria itu sembari dia tersenyum walau terhalang dengan topeng. dirinya kembali berdiri yang tadi jongkok untuk mengelus wajah wanita itu.


"Oh iya.. mulut mu kan tertutup, pasti kamu tidak bisa menjawab pertanyaan ku" dengan segera pria itu membuka penutup mulutnya dan segera duduk di lantai dengan santai sembari melihat dan mendengar semua keluhan dari wanita itu.


Terlihat wajah pria itu sangat kegirangan melihat rasa takut yang sangat besar dalam diri wanita itu. dengan lantangnya dia mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu terdiam dan berpikir.


"Baiklah.. aku akan memberimu hadia yang sebanding dengan rasa takutmu" ucap pria itu.


Dirinya berdiri dan mengeluarkan sebuah helai pisau dapur yang masih baru dan mengkilap. melihat itu semua, wanita itu semakin memberontak dan berteriak ketakutan.


"A-aku mohon lepaskan aku.. jangan bunuh aku!" teriak wanita itu.


Namun dengan gesit, pria itu menusuk bagian kanan pipi wanita itu. belum puas dengan satu tusukan, dirinya menekan kuat pisau itu hingga menembus ke sebelah kiri pipi wanita itu.


Seketika itu juga wanita itu kehilangan nyawanya dengan darah merah yang sangat banyak mengalir dari bagian pipi memenuhi hampir seluruh tubuhnya. pisau itu menancap dengan sangat rapih layaknya karya seni.


Melihat wanita itu sudah tak bernyawa, membuat pria itu merasa sangat puas dan bahagia bisa terlihat di wajahnya. namun seketika dia kembali merasa bosan dan cemberut melihat mayat wanita itu.


"Ini belum cukup. aku masih mau bersenang-senang" ucap pria itu dengan senyumnya, sembari dia berjalan keluar ruangan dengan mayat wanita itu yang ia seret bersamanya hendak ia bakar.


...-end-...