
Terlihat Esia yang berada di dalam kamarnya sedang melihat informasi di dalam hp nya. Informasi mengenai universitas ragam seni yang masih dalam pemulihan. Jadi dia kembali libur untuk beberapa waktu lagi banyak hingga universitas ragam seni kembali seperti semula.
Setelah Esia membaca semua informasinya, Dia memutuskan keluar dari kamarnya untuk menemui semua orang karena dirinya merasa cukup bosan di rumahnya.
Esia pun berjalan pelan keluar dari kamarnya sembari mengikat rambutnya dengan karet yang ada di tangannya. Sesampainya Esia di lantai bawah, Dia merasa cukup heran ketika tidak ada seorang pun yang ada di sana. Bahkan Pawang dan pembantu rumah tangganya pun tidak kelihatan.
"Ke mana semua orang?"
Esia berteriak cukup lantang untuk memanggil semua orang yang ada di rumah itu. Namun teriakan Esia sama sekali tidak menerima balasan apapun dari siapapun di rumah itu.
Ketika Esia bolak-balik sibuk mencari orang di rumahnya, Tiba-tiba dia terkejut ketika melihat Devan berdiri tepat di hadapannya sedang bersiap pergi dengan pakaian serba hitam dan memakai sebuah topi.
"Astaga!, Kak Devan bikin Esia kaget aja"
"Kakak mau kemana dengan pakaian serba hitam seperti itu?" Tanya Esia dengan tatapan penasaran pada kakaknya itu.
Tapi dengan juteknya Devan tidak menanggapi semua perkataan Esia. Dia hanya fokus menghadap pintu keluar rumah. Tanpa lama Devan berjalan menuju pintu hendak meninggalkan Esia yang masih menunggu jawaban dari kakaknya.
Ketika Devan memegang gagang pintu, Tiba-tiba Esia kembali berbicara padanya sebelum dia pergi dari sana.
"Ada apa dengan kak Devan?, Kenapa akhir-akhir ini kakak bersifat seperti itu. Bahkan kak Devan pernah membentak mama hanya karena mama bertanya sama kak Devan soal hal ini. Kemana sebenarnya kak Devan pergi?, Dan apa yang kak Devan lakuin di belakang Esia dan mama!" Ucapnya sembari menumpahkan sedikit rasa kesalnya pada Devan.
Devan yang mendengarnya, Hanya menutup matanya dan menelan ludahnya. "Kau tidak usah tau kakak pergi ke mana dan apa yang kakak lakuin. Karena ini tidak begitu penting bagimu Esia" Setelahnya dia pergi dari sana dengan menggunakan mobilnya.
Esia cukup kesal setelah mendengar perkataan kakaknya itu, Dengan kesal dia kembali naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Disisi lain Devan yang sedang berada di dalam mobilnya merasa cukup cemas karena Esia sudah curiga padanya. Dan kapanpun pasti dia akan mencari tau semua gerak-gerik dirinya. Devan sangat tau sifat adiknya itu yang sulit untuk di tebak.
Devan terus memikirkan Esia dan semakin cemas hingga dia tak sadar menginjak gas mobilnya dengan sangat kencang, Yang membuat mobil itu melaju dengan sangat cepat seketika itu juga.
Hingga Devan hampir menabrak sebuah sepeda motor dengan penumpang di belakangnya. Tapi untung saja Devan berhasil menghentikan mobilnya dengan aman. Dengan cepat Devan membuka kaca mobilnya dan mengeluarkan separuh tubuhnya dari mobil untuk berteriak meminta maaf, Setelahnya dia kembali pergi dari sana.
"Kak Devan?"
Ternyata penumpang dari motor itu adalah Leo yang sedang menuju kembali ke rumahnya.
"Kenapa kak Devan terlihat cemas dan buru-buru pergi seperti itu?" Ucap batin Leo.
"Pak, Ikuti mobil itu dan jangan sampai lolos"
Walaupun sudah cukup jauh, Tapi mereka masih bisa memburunya. Leo meminta untuk motornya jangan terlalu dekat dengan mobil Devan, Takutnya Devan akan tahu jika dia sedang diikuti.
Setelah beberapa saat mereka mengikuti Devan, Akhirnya mobilnya berhenti di sebuah tempat pembuangan barang-barang lama yang berada di pinggir hutan belantara.
Dengan cepat Leo turun dari motor itu dan membayarnya. Leo mencoba mendekati mobil Devan yang terparkir di dekat gerbang tempat itu. Dengan cukup hati-hati Leo mencoba mengintip ke dalam mobil itu, Namun Devan tidak ada di dalamnya.
"Kak Devan pasti sudah masuk ke dalam. lagian apa yang dilakukan kak Devan di tempat seperti ini?" Leo seketika bertanya-tanya setelah mengintip ke dalam mobil.
Tanpa lama, Leo berlari masuk ke dalam tempat pembuangan barang lama itu. Dia berjalan menelusuri tempat sembari mencari keberadaan Devan tanpa ketahuan olehnya.
Sudah cukup lama Leo mencari Devan, Tapi dia sama sekali tidak menemukannya. Tempat ini sangat luas dan dipenuhi oleh barang dan besi yang sangat banyak cukup menganggu untuk melihat di mana Devan berada.
Leo memutuskan untuk berhenti mencari Devan dan segera keluar dari tempat itu. Ketika Leo keluar, Betapa terkejut dan herannya dia ketika mobil yang di pakai Devan sudah tidak ada di sana, Yang berarti Devan telah pulang dan meninggalkan tempat itu.
Singkat cerita, Leo memutuskan menemui Esia untuk memberitahukan semua yang telah ia lihat. Namun ketika dia sudah sampai dan masuk ke dalam rumah Esia, Dia kembali terkejut ketika melihat Devan yang sudah ada di sana sedang memotong sayuran dengan sebuah pisau baru.
Esia yang melihat sikap Leo yang cukup mencurigakan memutuskan membawanya ke dalam kamarnya untuk berbicara padanya. "Ada apa Leo?, Kenapa kamu sangat terkejut ketika melihat kak Devan?" Tanya Esia singkat pada Leo.
"Aku merasa tidak enak untuk mengatakannya padamu, Tapi ini sangat aneh bagiku" Jawab Leo pada Esia dengan suara pelan.
"A-ada apa?"
"Tadi aku melihat kak Devan sedang buru-buru menuju ke suatu tempat. Aku cukup penasaran setelah melihat gerak-geriknya. Aku mengikutinya dengan naik sebuah motor, Dan ketika aku sampai ternyata dia pergi ke sebuah tempat pembuangan barang yang tak terpakai. Aku melihat mobilnya dan segera masuk mencari keberadaannya di tempat itu. Dan anehnya aku sama sekali tidak menemukannya walaupun aku sudah mencari di tempat itu selama kurang lebih sejam. Ketika aku keluar dari sana ternyata mobilnya sudah tidak ada di sana. Dan malah dia ada di rumah ini"
Leo berbicara sangat panjang pada Esia, Menceritakan semua yang di lihat padanya dengan suara lembut dan berbisik agar tidak ketahuan.
Esia sontak merasa aneh dan cukup terkejut setelah mendengarnya. Dia segera menghentikan obrolan itu ketika dirinya mendengar suara Devan yang sedang berjalan ke arah mereka sembari memanggil-manggil dirinya.
Leo yang mendengarnya cukup panik karena dia tidak mau di tuduh aneh-aneh karena masuk ke dalam kamar wanita dan berduaan dengannya.
Namun Esia menenangkan Leo dan menyuruhnya segera sembunyi di bawah tempat tidurnya. Leo pun berlari menuju bawah tempat tidur Esia.
Devan masuk ke dalam kamar Esia dan bertanya padanya. "Pisau barumu sudah aku bersihkan dan aku simpan kembali di dalam kotaknya. Kalau kamu mencarinya aku simpan di dalam lemari" Ucap Devan pada Esia.
Dengan cepat Esia mengatakan jika pisau itu bukan miliknya, Tetapi temannya yang memaksa memberikannya padanya sebagai sebuah hadiah untuk ibunya. Walaupun Esia cukup kesal pada temannya itu tetapi dia harus menerimanya.
..._end_...