
"Kenapa kamu tidak memberi tau mama jika kamu selalu meninggalkan pekerjaan kamu di kantor!" Tarisa berbicara pada Devan yang sedang berada di kamarnya.
Dengan cukup tenang dan dingin, Devan sama sekali tidak melirik ibunya yang sedang bertanya padanya sekarang. Dia hanya sibuk dengan laptopnya dan beberapa berkas di mejanya.
"Devan.. apa kamu mendengar mama. Devan!"
Tarisa mulai sedikit kesal pada anaknya itu. Dengan cukup cepat dirinya berjalan ke arah Devan, bermaksud menyentuhnya. Namun sebelum dia sampai padanya, Devan sudah lebih dulu menghentikan langkahnya.
"Cukup ma.. mama tidak usah khawatir. pekerjaan yang Devan tinggalkan tidak akan berantakan"
Devan membuka mulutnya dan berbicara pada ibunya itu dengan lekukan suara dingin dan lembut.
"Dan mama tidak perlu tau Devan selalu pergi ke mana. karena mama pasti tidak akan mengerti tentang semua yang Devan lakuin"
Devan mulai berdiri sembari menutup laptopnya dan berjalan menuju arah ibunya. Terlihat Tarisa yang masih berdiri dengan ekspresi bingung dan cukup kesal.
"Memang mama tidak akan pernah mengerti tentang dirimu. Kaulah satu-satunya anak mama yang mama sangat susah untuk memahami. Lain kali jangan pernah kau lakukan itu lagi" Ucap Tarisa yang kali ini ekspresi wajahnya berubah normal.
Setelahnya, Devan menatap ibunya dengan tatapan kosong dan ekspresi wajah yang sangat datar. Devan pun keluar dari kamarnya berjalan kearah pintu dan melewatinya. Terlihat Tarisa menghela nafas panjang setelah dirinya ditinggal oleh Devan dengan cuek.
"Kapan anak itu bisa berubah.. dan kapan dia bisa terbuka pada ibunya sendiri" Ucap benak Tarisa.
Setelah itu Tarisa berjalan keluar dan menutup pintu kamar Devan dengan pelan.
Ditempat lain, Terlihat detektif Vio dan dan detektif Ical sedang mendatangi kembali tempat-tempat ditemukannya para korban dari pembunuh bertopeng.
Tempat pertama yang mereka datangi adalah bukit yang berada di sekitar Indomaret. di bukit itu terlihat seperti hutan yang cukup lebat dengan banyaknya pohon mangga dan pohon liar yang tumbuh di mana-mana.
"Tempat pertama dimulainya teror ini. Tempat ditemukannya dua jasad wanita muda yang tergeletak dengan tubuh yang tidak lengkap"
Detektif Vio berjalan perlahan sembari membayangkan setiap kemungkinan kejadian yang terjadi pada saat itu. Mulai dari diseretnya sang korban Ke tempat itu hingga sang pelaku melakukan pembunuhan keji di sana.
"Jika memang pembunuh itu memiliki tujuan tertentu, Pasti ada petunjuk yang akan terselip di setiap korbannya maupun tempat yang menjadi saksi akan terjadinya pembunuhan" Ucap detektif Vio sembari mengelus tanah yang dulunya tergeletak dua jasad di sana.
"Tidak ada cctv yang mengarah tepat di daerah ini. Jadi cukup susah menemukan petunjuk yang mengarah padanya" Balas detektif Ical yang memperhatikan tempat sekitar.
Dengan percaya diri, detektif Vio berdiri dan mengangkat suaranya cukup tinggi dan mengatakan sesuatu pada detektif Ical. "Sebagai seorang detektif maupun orang biasa, jangan pernah bergantung pada suatu hal saja yang belum tentu menyelesaikan segalanya"
Setelahnya, detektif Vio kembali menelusuri tempat itu bersama dengan detektif Ical di sampingnya. Mereka mencari cukup lama di tempat itu, Namun sama sekali tidak ada apapun. mereka tidak menemukan sedikit jejak atau bukti dari pelaku.
Terlihat tempat itu berada di sebuah bar malam yang sedang beristirahat. Detektif Vio dengan berani berjalan maju ke tempat itu walaupun di hadang oleh dua orang penjaga yang memiliki tubuh yang tinggi dan besar.
Detektif Ical sedikit merasa takut pada kedua penjaga itu. Dia sempat menghentikan detektif Vio agar tidak berurusan dengan orang-orang seperti mereka. Namun detektif Vio malah menyuruhnya untuk menunggu dan menonton saja.
"Mau apa kau kesini?.. bar ini hanya buka di malam hari. tidak ada yang boleh masuk selain orang yang berkepentingan" Ucap tegas salah satu penjaga bar itu.
Namun dengan dingin detektif Vio tidak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan padanya. dengan cepat detektif Vio mengeluarkan kartu yang memperlihatkan bahwa dia adalah seorang polisi.
Dengan remehnya dan tatapan mata yang sama sekali tidak merasa takut, Salah satu penjaga bar itu yang memakai baju berwarna merah mengejek dan menertawai detektif Vio sembari dirinya menepuk-nepuk pundak rekannya yang satu.
"Kenapa kau harus tertawa di depannya. Aku tidak mau kedua kalinya melihat detektif Vio marah" Ucap benak detektif Ical sembari dirinya memperhatikan dari jauh.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya detektif Vio sembari dirinya menurunkan kartun identitasnya memasukkannya kembali ke dalam kantongnya.
Dengan suara yang sangat lantang, Kedua penjaga itu serentak berteriak pada detektif Vio. Mereka mengatakan jika kartu identitas milik detektif Vio itu palsu dan detektif Vio hanya berpura-pura menjadi seorang polisi agar bisa masuk ke dalam bar itu sebelum waktu buka.
Mendengar itu semua, Detektif Vio sangat kesal dan maju lebih dekat ke penjaga itu. Dengan cepat penjaga itu melontarkan satu tinju pukulan dari tangannya yang langsung menuju ke arah wajah detektif Vio.
Refleks detektif Vio menahan tinjauan itu yang sangat dekat dari wajahnya. Semakin lama tangan detektif Vio semakin meremas dan menindis tinjuan penjaga itu hingga penjaga itu menarik kembali tangannya.
"Kalian sudah melanggar hukum. Pertama, Mendirikan sebuah bar ilegal di daerah ini. Menarik dan membuat orang-orang dari berbagai kalangan datang dan membuat berbagai macam hal masalah. Kedua, Kalian berani menentang dan menertawai seorang polisi tanpa menunjukkan adanya tanda rasa hormat sedikit pun. Dan yang terakhir, Kalian berani memukul seorang polisi yang sudah jelas-jelas bukan orang yang pantas mendapatkan hal semacam itu"
"Kalian pantas mendapatkan hukuman!" Sambung kembali detektif Vio.
Setelah itu, Detektif Vio menendang salah satu kaki dari penjaga itu, Hingga tubuhnya perlahan mulai terjatuh. Belum cukup dengan itu, Detektif Vio menarik tangannya sebelum tubuhnya terjatuh. Menarik ke arahnya dan memberikan pukulan kuat tepat di wajahnya mengenai mulut dan hidungnya. Setelah itu dia kembali melontarkan tendangan yang cukup kuat pada penjaga itu benar-benar terjatuh dan merasakan rasanya tergeletak di lantai.
"A-apa!" Teriak panik penjaga yang satunya lagi.
Setelah detektif Vio menghajarnya, Detektif Vio kembali tenang dan melirik tajam pada penjaga yang satunya lagi. "Masih mau tertawa?" Ucap singkatnya dengan dingin pada salah satu penjaga bar itu.
"Ti-tidak. ma-maafkan saya, maaf, maaf!" Teriak penjaga itu padanya. Setelah itu dia kabur terbiri-birit dari sana di susul oleh rekannya yang hidungnya sudah dilumuri darah dan berlari dengan pincang meninggalkan detektif Vio.
"Manusia yang tidak memiliki kegunaan lebih baik ditindas. Bukan menindas" Ucap tenang detektif Vio.
"Apakan yang aku bilang, mampus kalian" Detektif Ical berjalan tenang kearah detektif Vio berada.
..._end_...