
Terlihat seorang gadis cantik yang berambut pirang sedang berlari menghindari kejaran beberapa orang. dirinya dikejar oleh beberapa pria yang membawa serangkaian bunga dan beberapa hadiah untuknya.
Gadis itu bernama Esia Sava Tarisa. dia dikenal sebagai orang yang cukup jutek di kampusnya. terlebih lagi dirinya mengetahui kalau semua orang mendekatinya hanya menginginkan harta dan makanan gratis darinya.
Memiliki keluarga yang mapan tak membuatnya mendapatkan segalanya. sekarang dia berumur 20 tahun dan melanjutkan kehidupannya di sebuah universitas ragam seni. di mana universitas ini mengajarkan berbagai macam teknik untuk menghasilkan banyak karya seni dari pemuda-pemudi yang berbakat.
"Apa yang kalian inginkan?, berhenti mengejarku!" teriak Esia sembari dirinya berlari menghindari mereka yang semakin lama semakin menggila saja.
"Sayang ayo berhenti, jangan lari" teriak balasan dari salah satu pria yang membawa bungkusan bunga yang paling besar.
Esia mengitari seluruh bagian kampus hanya untuk menghindari Pang dan dua teman gilanya yang selalu menganggu dirinya.
Pang dan dua temannya yang kembar bernama Ar dan Zi terus mengejar Esia sembari berteriak dengan kata-kata manisnya bermaksud meyakinkan Esia. semua orang yang melihat mereka hanya diam saja tak bereaksi apapun.
Semua orang yang ada di kampus itu sudah terbiasa dengan hal itu semua. banyak pria di kampus itu mengutarakan perasaan mereka pada Esia. namun Esia hanya menanggapi mereka sebagai orang penganggu yang selalu menganggu kehidupannya.
Tak jarang banyak juga yang kesal dengan Esia. ada beberapa gadis lain yang memandang dirinya sebagai orang yang sangat egois. mendapatkan kehidupan mewah dan perasaan dari banyak pria tidak membuatnya merasa bersyukur, itulah yang membuat beberapa orang kesal dengannya.
Terlihat Esia berlari kencang dengan wajah yang cukup panik. berlari sembari menengok kebelakang membuatnya bertabrakan dengan seorang dosen yang keluar dari kamar kecil. dosen itu terlihat cukup sangar dan memandangi Esia dengan mata yang cukup tajam.
"Hei.. kenapa kamu berlarian?" tanya dosen itu yang bernama siba, bekerja sebagai dosen yang mengajarkan membuat karya sebuah patung.
"Maafkan saya pak. saya tidak sengaja menabrak bapak" balas Esia yang masih terengah-engah akibat berlarian sepanjang kampus.
"Iya tidak papa. tapi.. kenapa kamu berlarian seperti itu?, apa yang terjadi?" tanya kembali siba yang kali ini sudah berdiri dengan baik.
"Gini pak.. Pang dengan teman-temannya ngejar-ngejar saya terus, mereka sudah kayak orang gila pak, bawa-bawa bunga sambil manggil saya" balas lagi Esia yang dibalas oleh Pang dari belakang dengan teriakan sayang.
Mendengar itu Esia kembali panik dan berusaha berlari kembali untuk menghindari mereka semua. namun sebelum Esia sempat berlari, siba menghentikannya dan menenangkan dirinya.
"Biar bapak yang urus, kamu tenang saja di belakang bapak" ucap siba sembari menarik tangan Esia untuk kebelakang tubuhnya.
Akhirnya Pang, Ar, dan Zi sampai tepat di depan wajah pak siba. dengan wajahnya yang sangar dan tatapan matanya yang melotot tajam membuat Pang, Ar, dan Zi berhenti tertawa aneh dan diam mendadak dengan wajah datar.
"Kenapa bapak menghadang kami?" tanya Pang dengan cukup jutek.
"kalian sudah puas mengejar orang yang tidak menginginkan kalian?, sekarang berhenti mengejarnya dan pergi ke ruangan kalian sekarang!!" teriak tegas siba yang membuat Esia, Pang, Ar, dan Zi merasa terkejut mendengarnya.
"Baik pak" jawab Pang, Ar, dan Zi dengan serentak. setelahnya mereka berputar kembali ke arah ruangan mereka sembari membawa hadiah dan serangkaian bunga yang mereka pegang.
******
Terlihat banyak mobil polisi dan beberapa orang yang merengumuni sebuah gudang kecil dekat persawahan. di dalam terlihat beberapa polisi yang memeriksa ruangan tersebut dan seorang pria yang mencatat sesuatu di buku kecilnya.
Ternyata tempat itu adalah ruangan kecil yang digunakan oleh seseorang untuk membunuh dan menyekap orang lain. bisa terlihat dari cctv seberang jalan yang memperlihatkan seorang pria memakai jas hujan berwarna hitam dan bertopeng kelinci membawa seorang wanita dalam gudang itu.
Dan terlihat kembali pria itu keluar menyeret wanita itu yang sudah tak bernyawa.
"Sepertinya ini bukan sekedar pembunuhan biasa.. terlihat dari gerak sang pelaku dia seperti memiliki sebuah rencana" ucap pria yang menulis di ruangan gudang tadi.
"Jadi apa yang harus kita lakukan detektif Vio?, apakah kita harus melanjutkan penyelidikan di tempat ini?, atau kita kembali dan menunggu gerak selanjutnya dari sang pelaku, Karena mayat dari wanita itu juga tidak berada disini" balas salah satu petugas polisi yang berada di sana.
"Kita akan menunggu dan melihat pelaku itu, karena sepertinya akan ada pembunuhan malam ini" ucap detektif Vio sembari memegang pinggangnya dan menatap langit.
******
"Yang ikut kelas tambahan untuk melukis apa sudah ada izin dari orang tua kalian?, karena kelas tambahan kali ini akan berakhir pukul 07.00 malam" tanya seorang dosen yang ada di sana.
Dengan serentak semuanya menjawab sudah mendapatkan izin dari orang tua mereka, termasuk juga dengan Esia yang menjawab jutek dan kembali mencoba melukis dengan indah.
Dengan berakhirnya beberapa kegiatan, semua mahasiswa kembali pulang kecuali yang mengikuti kelas tambahan melukis yang akan kembali pukul 07.00 malam.
Singkatnya mahasiswa yang mengikuti kelas tambahan sedang melukis dengan tenang dalam ruangan tanpa ada suara sedikitpun yang terdengar dari mereka.
Dan kini jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. yang berarti kelas tambahan melukis telah berakhir. Esia dan temannya bergegas kembali pulang, dengan Esia yang dijemput oleh supir rumahnya dengan mobil hitam yang mewah.
Saat mobil Esia berbelok untuk menuju ke arah rumahnya, tiba-tiba secara mendadak muncul seseorang dengan jas hujan hitam dan memakai topeng. membuat supir Esia terkejut dan refleks menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Kenapa orang itu?" ucap supi mobil yang masih terkejut.
"Kayaknya itu orang gila deh pak.. bagaimana mungkin ada orang waras yang melompat ke depan mobil dan menggunakan sebuah jas hujan dan topeng saat-saat begini" balas Esia yang kesal melihat orang tersebut.
"Mungkin non" balas supir mobil Esia.
Setelahnya mobil Esia kembali berjalan mengindari orang itu yang berdiri sembari melihat ke dalam mobil Esia. dengan berani Esia menurunkan kaca mobilnya dan berteriak kasar memakai-maki orang itu, setelahnya mobil Esia melewatinya dan pergi dari sana. terlihat pria itu hanya menatap Esia dan tersenyum tipis di balik topengnya.
...-end-...