Death Slice

Death Slice
Bab 7. Apa yang akan terjadi



"Kenapa non Esia panik seperti itu, apa yang terjadi?" tanya pak Han sembari dirinya menyetir mobil menjauh dari tokoh.


Esia terlihat masih syok berat atas apa yang ia lihat di depan matanya. dapat terlihat jelas di wajahnya yang pucat dengan tatapan mata yang cukup kosong. Esia juga terus menggenggam tangannya terus-menerus semenjak kejadian tadi.


Pak Han tak hentinya menanyakan hal yang sama pada Esia. namun Esia sama sekali tidak menanggapi pertanyaan supirnya itu. dirinya hanya termenung diam dan masih merasa gemetar.


********


Terlihat dikantor polisi makou, detektif Vio sedang menyusun dan mengatur beberapa berkas penting yang berkaitan dengan kasus pembunuh bertopeng. dirinya ditemani oleh rekan yang mengurus kasus ini juga yaitu detektif Ical.


"Sebelum kita melanjutkan mengurus kasus kematian yang baru, kita harus kembali ke korban yang lalu dan menemukan bukti yang membawa kita ke pembunuh bertopeng itu" detektif Vio menyusun berkas sembari berbicara pada detektif Ical.


"Aku juga berpikir seperti itu. karena pembunuh bertopeng ini lebih pintar dari dugaan ku. dia sangat cerdik dan lihay dalam setiap langkahnya"


Detektif Ical berjalan menuju arah jendela kaca dan memperhatikan pemandangan yang ada diluar sana, dengan ekspresi wajah yang sudah mulai serius, dirinya memberi banyak saran pada detektif Vio.


Terlihat detektif Vio masih sibuk dengan berkas korban pembunuh bertopeng yang dirinya mencari petunjuk sekecil apapun dan menyusunnya.


"Sebelum kita melakukan itu, bisakah aku mendapatkan sedikit bantuan?, banyak bicara dan tidak bertindak itu sama halnya dengan pemalas tak bertujuan"


Ekspresi detektif Ical seketika berubah setelah mendengar itu. yang tadinya serius berubah menjadi ekspresi lawak dan tertekan. "oke.. sesuai perintah bos"


Setelahnya, detektif Ical dan Vio mempercepat pekerjaan mereka dan segera kembali mengurus kasus kriminal pembunuh bertopeng.


Disisi lain, terlihat Esia yang sedang melamun di dalam kamarnya. dirinya masih sangat terbayang-bayang kejadian mengerikan yang ia lihat kemarin malam.


"Esia.. kenapa tidak keluar nak?.. emang kamu tidak ke kampus?" Tarisa terlihat sedang mengetuk pelan pintu kamar Esia sembari memanggil namanya dengan lembut dan pelan.


"Tidak ma.. kampus Esia kena ledakan bom yang cukup parah, jadi harus di renovasi dulu. sepertinya akan cukup lama perbaikannya" terdengar suara balasan dari dalam kamar dengan lekukan suara yang lemas.


"oh.. jadi seperti itu. yaudah, kalau begitu mama pergi dulu. kamu hati-hati di rumah" sesudah mengucapkan itu semua, Tarisa berjalan berbalik meninggalkan kamar Esia berjalan ke arah tangga dan menuruninya.


"Mama gak boleh tau kalau aku ketemu secara langsung dengan seorang pembunuh. aku juga harus diam agar aku bisa tetap aman" Esia beranjak turun dari kasurnya dan membuka pintu kamarnya secara perlahan.


Ketika Esia beranjak turun menuju dapur, tiba-tiba terdengar suara bel rumah yang sedang ditekan oleh seseorang dari luar pintu. mendengar itu, Esia sontak terkejut dan refleks berlari kembali menaiki tangga.


Sembari dia bersembunyi dibalik tiang rumah, Esia menengok cemas kearah pintu rumahnya. suara bel rumah itu semakin berbunyi tanpa henti. membuat Esia semakin cemas dan khawatir siapa dibalik pintu itu.


"Apa yang harus kulakukan?, aku sendiri lagi di rumah"


Esia mencoba untuk memberanikan dirinya dan segera turun secara perlahan menuju pintu rumah. tangannya mulai bergerak perlahan hingga akhirnya menyentuh gagang pintu dan segera menarik secara perlahan dengan tubuh gemetar.


Betapa terkejut dan legahnya Esia ketika yang berdiri dihadapannya sekarang adalah Leo yang sedang menunggu dirinya membuka pintu itu. "le-leo?.."


"Kenapa kamu lama membuka pintunya?" Leo seketika bertanya pada Esia yang terlihat masih cukup terkejut dan heran melihat Leo yang ada di depan rumahnya sekarang.


"Aku yang seharusnya bertanya sama kamu. apa yang kamu lakuin disini?" Esia berbicara dengan nafas yang masih terbata-bata.


"Astaga Leo.. kita baru bertemu beberapa hari. bahkan belum sampai seminggu kita ketemu dan kamu sudah.."


"Ah!, sudah la itu gak penting. kamu mau masuk*?" tawar Esia pada Leo yang sederitadi terus menatap dirinya dengan tatapan yang aneh dan senyum yang tipis.


"Tidak usah.. aku juga sudah mau pulang kok, makasih tawarannya" balas kembali Leo pada Esia.


"*Kamu kan baru sampai kok sudah mau pulang sih?, ayo masuk dulu aja biar aku jamu sekalian"


"Aku sudah puas dan tenang ketika melihatmu. hanya itu tujuanku ke sini dan menemuimu. hanya kamu yang ingin aku lihat tidak ada hal yang lain. jadi aku akan segera pulang dan sampai ketemu lagi besok"


A-apa?, ja-jangan gombal aku nanti aku baper lagi*" balas Esia dengan pipi yang sudah mulai memerah pada Leo.


Setelahnya Leo berpamitan pada Esia dan beranjak pergi dari sana. terlihat Esia yang tersenyum bahagia melihat kepergian Leo dari rumahnya. Esia kembali masuk kedalam rumah dan mengunci pintunya.


"Astaga Esia.. kenapa aku lupa tentang hadiah buat Leo. besok aja deh kalau aku ketemu sama dia lagi"


*******


Terlihat di Sava Corp, Devan meminta sekertarisnya untuk mengurus semua sisa pekerjaannya hari ini. Devan berjalan keluar dari ruangannya menuju lift untuk kelantai bawah dan mengambil mobilnya.


"Ada masalah apa pak Devan?, kenapa bapak pergi lagi" tanya sekertarisnya yang bermama Luna.


Tapi tanpa sepatah katapun Devan berangkat dari sana diiringi dengan tatapan dingin dimatanya, membuat Luna merasa sedikit tidak nyaman pada bosnya itu.


"Akhir-akhir ini pak Devan selalu keluar kantor tanpa alasan yang jelas" gumam Luna di benaknya. setelahnya dia kembali fokus bekerja dan masuk ke ruangan Devan.


Terlihat di tempat parkir mobil, Devan membuka jasnya dan berpakaian biasa yang berwarna gelap. mobil itupun berjalan dengan laju yang cukup cepat melewati beberapa mobil di parkiran.


"Permisi Luna.. apa Devan ada di dalam?" terlihat Terisa yang berdiri tepat di depan ruangan Devan dan di sambut langsung oleh Luna.


"Maaf Bu.. pak Devan tidak ada di dalam sekarang. dia sedang pergi entah kemana" jawab singkat Luna pada Tarisa.


"Apa?.. kenapa dia keluar?, dan ada urusan penting apa yang dia urus sampai-sampai harus meninggalkan pekerjaannya di kantor"


"*Saya juga kurang tau Bu"


"Kenapa kamu tidak tau bos mu pergi kemana. kamu kan sekertarisnya*" Tarisa sudah mulai sedikit angkat urat pada Luna. dia cukup kesal melihat perilaku Devan yang ia percayai bisa melakukan itu.


"Maaf Bu.. saya benar-benar tidak mengetahui dimana tujuan pak Devan dan apa yang dia lakukan. memang akhir-akhir ini pak Devan selalu pergi tanpa memberitahu arah tujuannya kesiapapun" ucap Luna dengan sopan pada Terisa.


Dengan helaan nafas panjang dan palingan wajah, Tarisa pergi dari sana dengan suasana hati yang masih cukup jengkel pada anaknya itu.


Sementara itu Luna sangat lega dan tegang habis berhadapan langsung dengan bos besar di kantor itu. dirinya kembali beranjak masuk dan melanjutkan pekerjaannya di dalam.


..._end_...