Death Slice

Death Slice
Bab 6. Pertemuan secara langsung



Terdengar ketukan sepatu yang melangkah sedikit demi sedikit menuju ke seorang wanita paru baya yang sedang menunggu di samping sebuah lorong. "Tak.. Tak.. Tak.."


Wanita itu menengoh ke samping melihat seseorang yang mendekati dirinya berpakaian serba hitam dan memakai sebuah topeng kelinci. "Ada ap.." bhaakh, wanita itu pingsan ketika terkena pukulan keras dari samping lehernya.


Dengan pelan pria itu menyeret wanita yang pingsan tadi kedalam sebuah lorong yang gelap tanpa seperca cahaya sedikitpun. setelahnya, tak ada suara apapun dari sana bahkan suara nafas pun tak terdengar lagi.


*******


Di rumah, Esia dan keluarga kecilnya terlihat sedang makan malam bersama si sebuah meja makan yang cukup mewah. terlihat ada Esia, Pawang saudara kedua dari Esia, Devan saudara tertua dari Esia, dan ibunya yang bernama Tarisa.


Mereka hanyalah keluarga kecil dengan harta yang melimpah. memiliki perusahaan keluarga sendiri membuat keluarga kecil itu memiliki segalanya. namun sayang, Ayah dari Esia telah meninggal dunia sebelum Esia terlahir ke dunia ini.


Jadi selama ini perusahaan mereka yang bernama Sava Corp di urus oleh sang ibu bersama anak tertua dari keluarga itu yaitu Devan. setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya Sava Corp bisa sukses dan menjadi salah satu perusahaan ternama di makou (nama daerah tempat tinggal Esia).


Setelah mereka selesai makan malam, terlihat Esia yang sedang meminta izin pada ibunya untuk keluar ke sebuah tokoh. namun sebelum ibunya memberi jawaban, Pawang terlebih dulu angkat suara yang melarang Esia berkeluyuran malam.


"Iiihh, apasih.."


"Orang bicara sama mama juga.."


"Tidak peduli.. pokoknya kamu tidak boleh keluar, titik."


"Kalau Esia mau kenapa!?"


"Kamu berani membantah perkataan kakak kamu yah, wow."


"Bodoh amat.. tidak peduli"


Seketika itu juga, kucing dan anjing itu kembali bertengkar hanya dengan sebuah perbedaan pendapat saja.


"Pawang.. sudah jangan ganggu Esia. mending kamu bantu aku. ada file yang harus aku kerjakan dan aku butuh bantuan" celetuk mendadak Devan dengan nada suara yang datar.


Dengan helaan nafas tipis, akhirnya Pawang mengikuti Devan menaiki tangga menuju kamar. melihat Pawang pergi Esia seketika bersorak girang di depan ibunya.


Dengan senyum tawa tipis, Tarisa berdiri dan mendekati anaknya itu. "pergilah.. tapi harus sama pak Han. nanti mama tanya pak Han biar jagain kamu" ucap Tarisa dengan lekukan suaranya yang lembut.


Mendengar itu, Esia tersenyum dan segera pergi bersiap dan menemui supirnya yaitu pak Han.


********


"*Akhirnya kalian bisa kembali lagi ke sini dengan fisik yang sudah kembali sehat"


"Iya.. selamat datang kembali detektif Vio, detektif Ical. selamat bertugas kembali*"


Para anggota polisi menyambut kembali mereka dengan sorakan bahagia dan hati yang bersyukur. detektif Vio dan Ical hanya tertawa bahagia dan bangga pada rekan-rekan polisi mereka.


Dengan ucapan terimakasih dan saling tos, mereka semua meluangkan waktu mereka hanya untuk penyambutan kembali detektif Vio dan Ical. "ayo kita rayakan.. kalian semua bersiaplah berangkat untuk makan makan, aku yang teraktir"


Ketika mendengar kata makan, sontak semuanya sangat heboh. terlebih detektif Ical yang sangat bahagia ketika mendengarnya. dengan segera semuanya berangkat mengikuti salah satu polisi yang ingin mentraktir mereka.


Sedangkan di sisi lain, Esia terlihat sedang turun dari mobil dan memasuki sebuah tokoh barang antik. di sana dirinya sedang terpanah dengan begitu banyak barang antik yang unik dan berbagai macam.


"Wah!.. kenapa aku tidak ke sini sejak lama. tempatnya keren sekali, begitu banyak daya tarik di dalamnya"


Esia melanjutkan melihat barang yang tersisa di bagian pojok ruangan itu. dan setelah lama melihat dan memilih, akhirnya dirinya menemukan sebuah patung kayu berukuran kecil yang berbentuk burung hantu yang berwajah ceria.


"Pak Han!?.. bapak di mana!? Esia sudah selesai belanja nih" teriak Esia memanggil-manggil pak Han sembari berjalan dan mencarinya.


"Pak Han pergi kemana yah?.."


"Ah. sudahlah, tunggu di sini aja"


Setelah itu Esia memutuskan menunggu di tepi warung sembari bermain ponsel. walaupun dia butuh perjuangan melawan nyamuk-nyamuk yang menyerangnya. seandai mobilnya tidak terkunci mungkin ceritanya akan berbeda.


Ketika Esia sedang menunggu, tiba-tiba dia mendengar suara ******* kecil yang berada di sekitar tokoh itu. Esia yang mendengarnya sontak terkejut. tapi dia berusaha tidak memperdulikannya. karena dia tahu pasti itu suara seorang cewek bersama cowok yang sedang bermesraan.


"Hah.. kenapa aku malam ini sial sekali sih!. ditinggal pak Han, sudah di gigit nyamuk, dan sekarang.. harus mendengar suara orang yang melakukan itu" keluh Esia.


Dirinya kembali beralih fokus ke ponselnya dan menutup satu telinganya dengan satu tangan sembari memberontak-rontak melawan nyamuk.


"Kok suaranya semakin keras sih!.. kan bisa lakuin tanpa ada suara, emang sesusah itu yah menikmatinya tanpa suara?" keluh kesal kedua kalinya Esia.


"Heaaah.. to-tolong!"


Mendengar kata tolong, sontak Esia berhenti dan fokus mendengar suara itu. "loh.. kenapa jadi ada suara minta tolong?"


"To-tolong saya.."


Sontak Esia panik dan mencari asal dari suara itu. segera dia meletakkan belanjaannya dan menelusuri area tokoh. dirinya berjalan perlahan demi perlahan mengikuti suara minta tolong itu yang semakin lama semakin melemah dan menghilang.


Panik karena tidak mendengarnya lagi, Esia memutuskan berteriak berusaha berkomunikasi dengan orang itu. "Kamu ada di mana!?" teriak kembali dirinya sembari memeriksa sekelilingnya.


"A-aku di sini.. di-didalam lorong"


Dengan segera Esia mencari lorong yang dimaksud orang itu. dirinya kembali berlari panik dengan mata yang mencari tempat keberadaan orang itu. Esia berlari ke arah kanan dan menemukan sebuah lorong kecil yang tak cukup jauh dari tokoh.


Esia berjalan memasuki lorong gelap itu sembari menyalakan lampu senter dari ponselnya. dirinya mulai mencari dan memanggil-manggil pelan orang yang meminta tolong tadi. namun sama sekali tidak ada seorangpun di dalam lorong itu.


Ketika Esia sudah memastikan kalau itu bukan lorong yang dimaksud, tiba-tiba seorang wanita paru bayah yang terluka parah melompat meraba kaki Esia. melihat itu Esia sontak terkejut dan berteriak gila melihat wanita itu penuh dengan darah, apalagi mata wanita itu seperti telah ditusuk sesuatu.


"To-tolong saya.. sa-sakit.. tolong!"


Esia berteriak setelah kakinya disentuh oleh tangan wanita itu yang penuh dengan darah. dengan refleks, Esia berlari kencang meninggalkan wanita itu.


Dengan wajah yang sangat terkejut dan nafas yang tak beraturan, Esia kembali berhenti dan memikirkan wanita itu.


Esia mundur perlahan sembari bersiap lari dari sana. "To-tolong saya.." ucap lemah wanita itu sembari mengangkat tangannya entah kearah mana.


Terlihat samar-samar seorang pria memakai topeng berjalan perlahan dari belakang wanita itu sembari dirinya mengeluarkan sebuah pisau dari jubahnya. dengan kecepatan tinggi, pria itu menikam wanita yang lemah itu dengan sangat brutal. pisau yang ia pegang terus menusuk kesekujur tubuh wanita itu.


Suara pisau yang menembus kulit dan daging wanita itu menggelegar di lorong itu dan suara dari wanita itu semakin lama semakin menghilang dan akhirnya mati.


"A-aaaaaa!!!" Esia lari sekencang-kencangnya dari sana, dirinya sudah tidak memikirkan hal lain lagi. dia hanya mau pergi dari sana dengan selamat. Esia terus berlari dengan air mata dan keringat menyertai jantungnya yang tak karuan karena merasa ketakutan dan sangat panik.


"Pe-pembunuh bertopeng!!!.."


..._end_...