
Terlihat Esia yang telah siap berangkat dan kembali lagi ke universitas ragam seni. "Pak Chan ayo berangkat, Esia pusing di rumah." Esia berjalan keluar rumah dan naik ke dalam mobilnya di susul dengan pak Chan di belakangnya.
Setelah cukup lama perjalanan, akhirnya Esia tiba di depan gerbang universitas. Dirinya kemudian turun dari mobil dan memberi salam pada pak Chan sebelum dia pergi.
Esia sangat kagum melihat universitas ragam seni yang kembali seperti semula dan di tambah dengan beberapa perubahan yang terlihat semakin indah dipandang.
Sebelum Esia kembali berjalan masuk, dirinya terkejut setelah pundaknya di tepuk oleh seseorang dari belakang tubuhnya. Ketika dia berbalik, ternyata itu adalah Pang yang bahagia melihat dirinya.
Pang langsung menyapa Esia dengan girang sembari berjalan semakin dekat dengannya.
"Akhirnya yah... kita kembali lagi ke sini, setelah kejadian mengerikan itu." ucap Pang.
"Yah... ketemu sama orang-orang munafik lagi nih." jawab Esia.
Pang berbalik ke arah Esia dan menatapnya penasaran. "Aku munafik?"
"Pikiran aja sendiri!" balas Esia.
Setelah itu dia pergi dari sana meninggalkan Pang yang masih berdiri menunggu jawaban Esia.
"Eh... tunggu dong, kita bareng aja masuknya!" Teriak Pang. Dirinya menyusul Esia.
Setelah beberapa waktu, Akhirnya Esia berjalan ke arah kantin berniat membeli sebotol air minum di sana. Namun terlihat Tasya sedang berjalan ke arahnya dengan wajah yang kesal.
"Woi anak manja!..." teriak Tasya.
"Wo... santai dong." respon Esia.
Tasya terlihat mendekati Esia dengan ekspresi kesal. Dirinya membentak Esia dengan kalimat yang cukup kasar.
"Apaan sih?"
Esia tidak menerima perlakuan itu. Dirinya kembali berbicara dan menyela perkataan Tasya. "Kenapa lagi kamu?... mau nambahin masalah ku lagi?, yang jelas bicaranya."
"Buat apa aku nambahin masalah hidup kamu!, justru kamu yang membuat pikiranku menjadi kacau saat ini." ucap Tasya.
Mendengar itu, Esia semakin bingung dan merasa aneh pada Tasya. Dirinya mengangkat lengannya dan menepuk pundak Tasya.
"Kamu tidak gila kan." tanya Esia.
Tasya langsung menepis tangan Esia dan membantah langsung perkataannya. Tasya mengangkat tangannya dan mengguncangkan tubuh Esia dengan cukup keras.
"Aku pernah melihat mu bersama Leo di taman. Kalian sangat mesra bagaikan seorang pasangan yang saling mencintai." keluh Tasya kesal pada Esia.
"hmm... mungkin saja kami berpasangan dan saling mencintai." balas Esia.
"Lagian yah, kalau aku pacaran sama Leo, apa hubungannya dengan mu. Apa kamu ibunya Leo, yang berhak menghalangi ku bersama dengannya?, bukan kan." sambung kembali Esia.
"Ta-tapi kan!..."
"Sudahlah, aku banyak urusan sekarang."
Esia berjalan menjauh dari Tasya yang mensentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. Terlihat Esia yang berbalik padanya setelah sedikit jauh dengan wajah dan senyum yang mengejek.
Di Sava Corp, terlihat banyak wartawan dan polisi yang berkumpul untuk mengawasi dan meliput semua yang ada di sana. Terlihat Kamran yang sudah berjalan memasuki Sava Corp dan menuju ke tempat TKP.
"Baiklah... karena aku tidak butuh bantuan, jadi kalian semua tunggu di luar biar aku yang mengurus semuanya." ucap Kamran.
"Tapi kami harus ikut membantu, detektif An." balas salah satu polisi yang ada di sana.
Dengan pelan dan lembut, Kamran berbalik dan tersenyum manis pada polisi itu. "Aku bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan apapun."
Polisi itu tertunduk dan menerima keputusan langsung dari Kamran. Dirinya berbalik dan keluar dari ruangan Devan.
Setelah beberapa saat, pintu itu terbuka kembali dengan Kamran yang terlihat menyeringai senang setelah mendapat jawaban dari kematian Luna.
"Aku sudah tau siapa pelakunya." Kamran berjalan keluar dan bergegas meminta alamat dari pemilik perusahaan itu.
Beberapa dari mereka mengikuti Kamran yang sedang menuju alamat rumah Tarisa. "Apa ini keputusan yang benar, dengan berpikir pemilik dari perusahaan itu sebagai pelakunya?" tanya seorang polisi yang mengendarai mobil bersama Kamran.
"Tentu saja. Jangan menjadi polisi yang lemah jika ingin bekerja bersama ku. Fokus saja untuk mengikuti alurnya tanpa perlu merubah apapun." jawab Kamran sinis padanya.
Polisi itu terdiam dan kembali fokus berkendara menuju rumah Tarisa. Sementara itu Kamran terlihat menghubungi Vio dengan ponselnya.
Teet.
"Apa yang ingin kau katakan?" [Vio]
"Santai lah...aku hanya ingin memberi mu kabar yang mengembirakan" [Kamran]
"Aku tidak mau mendengar omong kosong dari mu. jika itu tidak penting, aku akan menutupnya." [Vio]
"Aku sudah menemukan pelakunya." [Kamran]
"Apa?, bicara apa kau." [Vio]
"Pelaku dari pembunuhan Luna." [Kamran]
"Apa kau yakin dengan jawaban mu?" [Vio]
"Tentu saja aku yakin. Dan aku memberi tau mu, agar kau merasa rendah dari ku." [Kamran]
"Aku tidak ak-" [Vio]
Teet, teet, teet.
"Ha, ha, ha... dasar rendahan. Sekarang aku tinggal fokus menangkap pelakunya dan segera menyingkirkan Vio selamanya dari kepolisian." ucap Kamran dalam hatinya, sembari menyeringai kegirangan.
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup jauh, mereka semua sampai tepat di depan gerbang rumah besar itu. Mobil wartawan dan polisi lainnya juga telah tiba di sana.
Terlihat warga dan tetangga dari Tarisa keluar rumah ketika melihat banyak mobil polisi dan wartawan yang mengerumuni rumah besar itu.
Mereka semua sangat geger dan heboh ketika para polisi memaksa masuk ke dalam rumah Tarisa, yang dipimpin langsung oleh Kamran.
Satpam penjaga rumah itu tidak berdaya dan membuka pagar rumah Tarisa bersamaan dengan keluarnya Devan, Pawang, dan Tarisa dari rumah ketika mendengar kehebohan yang terjadi di luar rumah.
"Apa yang!?"
..._end_...