Death Slice

Death Slice
Bab 5. Pertemuan kembali Esia



Terlihat Esia berdiri tegak di luar gerbang menatap universitas ragam seni yang terlihat sangat hancur dan berantakan. begitu banyak peringatan dilarang masuk dan petugas polisi yang berkumpul dan beberapa tukang bangunan berniat merenovasi kampus itu.


Esia begitu terkejut melihat kampusnya begitu hancur. dirinya datang ketempat itu berniat melihat keadaan kampus malang itu. Esia berpikir dalam dirinya sebelum tiba di universitas ragam seni. dalam benaknya mengatakan bahwa semuanya tidak akan begitu hancur hanya akan ada beberapa kerusakan saja di beberapa gedung.


Namun dirinya sangat salah, saat melihat kampus itu secara langsung di depan matanya seketika itu juga hatinya bergetar hebat dan sangat marah pada pelaku itu. bagaimana tidak, tak ada satupun gedung di kampus itu yang selamat. semuanya hancur dan berantakan.


"Astaga.. ini bukan ragam seni yang kukenal. semuanya hancur menyatu dengan tanah" Refleks Esia setelah melihat semuanya secara langsung.


Setelah melihat dari luar, Esia memutuskan melangkahkan kakinya kedalam universitas ragam seni. namun belum beberapa langkah dirinya maju, sudah ada dua petugas polisi yang menghadangnya untuk masuk.


"Maaf dek.. apa tujuan adek datang di tempat ini?" tanya salah satu petugas polisi yang menghadangnya dengan lekukan suara yang cukup tegas.


Melihat dirinya berhadapan langsung dengan polisi, membuat Esia sedikit gugup dan takut. bagaimana tidak, dirinya sama sekali belum bertemu langsung dengan seorang polisi dan tak pernah sedikitpun terlihat dengan yang namanya hukum.


Dengan sangat sopan Esia menundukkan kepalanya dan segera menjawab pertanyaan polisi itu. "Saya hanya ingin melihat keadaan kampus saya pak. yang saya lihat di berita kampus saya habis kena ledakan bom" jawab Esia.


"Ooh seperti itu.. ternyata kamu mahasiswa di kampus ini. tapi maaf.. kamu tidak boleh masuk ketempat kejadian penyerangan pembunuh bertopeng. hanya orang yang memiliki akses hukum seperti polisi yang dapat masuk" ucap kembali polisi itu.


"Tapi pak.. ini kan kampus saya, jadi saya berhak dong buat masuk!" balas Esia yang kali ini menentang petugas kepolisian itu.


"Tapi itu sudah menjadi peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun. jadi kamu tidak diperbolehkan untuk masuk kedalam walaupun kamu memaksa" ucap tegas petuga kepolisian itu.


"Tapi pak.."


Sebelum Esia menyelesaikan ucapannya, seseorang datang dan berdiri tepat di belakang Esia yang membuat kedua polisi itu melihat kearahnya.


"Ada apa pak?.." tanya seorang pria.


Esia seketika terkejut setelah mendengar suara itu. dirinya seketika mengingat pria ia lihat ndi pantai saat itu. dengan gugup Esia berbalik secara perlahan ke belakang, betapa terkejutnya dia setelah melihat pria yang ada di pantai itu sekarang berada di hadapannya dan sedang menatap dirinya.


Seketika itu juga tubuh Esia kembali menjadi patung di hadapan pria itu. "Gadis ini memaksa untuk masuk kedalam kampus ini yang sudah jelas-jelas ada tanda larangan di sini" jawab salah satu polisi itu.


Setelahnya kedua polisi itu kembali masuk kedalam untuk melanjutkan tugas mereka. "Hai.." ucap pria itu lembut pada Esia yang masih mematung.


Melihat Esia diam tak bergerak, pria itu mengayunkan tangannya di hadapan Esia berharap Esia tersadar dan segera berbicara padanya.


"Apa kamu tidak papa?.. hei. kok dia diam saja sih?" ucap pria itu sembari menengok wajah Esia lebih dekat.


Ketika pria itu semakin mendekat, Esia seketika tersadar dan menggelengkan sedikit kepalanya. "Ah.. iya, iya?" celetuk tiba-tiba Esia.


Pria itu terkejut dan tersenyum setelah kesekian kalinya. "Akhirnya aku bisa juga mendengar suara mu itu" ucap pria itu tersenyum pada Esia. dirinya berjalan perlahan mendekati Esia.


" Kita pernah bertemu di pantai.. dan aku melihatmu selalu menatap ku dengan senyum. tapi.. kenapa kamu selalu menghindari ku? kenapa tidak pernah menyapa ku sekalipun?" tanya pria itu dengan wajah yang penuh harapan.


"Bu-bukan seperti itu.. aku hanya sedikit malu pada saat itu. oh iya.. nama kamu siapa" ucap Esia.


"Aku senang bisa mendengar jawaban dan pertanyaan mu itu. nama ku Leo Cel Senio, kamu boleh panggil aku Leo" ucap Leo pada Esia lembut.


"Nama ku Esia Sava Tarisa.. panggil aja Esia*"


Setelah mereka saling memperkenalkan diri, seorang polisi tiba-tiba menyuruh mereka untuk pergi dari sana. terlihat polisi itu berteriak gak jelas pada mereka.


Esia dan Leo cukup terkejut dengan itu. mereka berdua saling menatap diam dengan ekspresi wajah yang aneh.


Melihat polisi itu semakin menjadi-jadi, Esia dan Leo memutuskan sedikit menjauh dari universitas ragam seni. mereka berjalan ke arah sebuah bangku istirahat yang ada di sekitar tempat itu.


Disisi lain terlihat detektif Vio yang memaksa bangun dari tempat tidur. dirinya merasa bosan dan sangat cemas dengan kejadian yang menimpah dirinya pada saat itu. dia berpikir jika pembunuh itu sebenarnya tidak mengincar wanita yang ia selamatkan, tetapi yang sebenarnya adalah pembunuh itu telah mengincar dirinya sejak awal.


Dengan segala paksa, akhirnya detektif Vio berhasil membuat suster yang menjaganya membawa sebuah kursi roda dan segera menuntun dirinya pada kursi roda itu. dengan cukup santai, detektif Vio meminta pada suster itu untuk membawanya keluar menghirup udara segara.


Setelah dirinya sampai tepat di taman parkiran rumah sakit itu, dirinya mengusir suster itu dengan ekspresi yang tenang walaupun sebenarnya ia tak boleh sendirian. "Aku ingin sendiri.. jadi kumohon pergi dari sini" ucap detektif Vio pada suster yang menjaganya dengan raut wajah yang cukup meresahkan untuk di pandang.


"Ta-tapi.. saya diminta untuk menjaga anda pak.. saya tidak akan pergi dari sini" balas suster itu sembari menggenggam kursi roda itu.


"Saya itu seorang polisi.. saya bisa menjaga diri saya dari masalah apapun. jadi untuk kedua kalinya kumohon pergi dari sini dan jangan membuatku harus mengusir mu yang ketiga kalinya" timpa detektif Vio dengan ekspresi dan lekukan suaranya yang semakin sensitif.


Mendengar itu, suster yang menjaga detektif Vio sontak menelan ludah dan segera pergi dari sana dengan tubuh yang terbata-bata. "Ba-baik kalau gitu.. hubungi saya jika anda butuh sesuatu" ucap suster itu sebelum dirinya pergi meninggalkan tempat detektif Vio.


Setelahnya, terlihat detektif Vio yang sedang menatap langit dengan serius. diiringi dengan kedua tangannya yang menggenggam jari-jemarinya dengan sangat kuat. "Aku bersumpah pada diri ku sendiri, aku akan menangkap mu dengan tangan ku dan memberikan hukuman yang pantas untukmu!" celetuk mulut detektif Vio dengan nada yang kesal.


*******


"Kalau boleh tau, kenapa kamu ke sini? dan ada urusan apa di tempat ini?" tanya Esia pada Leo, kini mereka sedang duduk bersama di kursi istirahat yang ada di tempat itu.


Leo berputar melihat tepat wajah Esia dan tersenyum ringan. "Aku datang ke sini hanya ingin melihat keadaan kampus ku saja" balasnya pada Esia.


Mendengar itu Esia seketika terkejut dan berdiri dari duduknya. dengan cepat diri dirinya melontarkan banyak pertanyaan pada Leo, membuat Leo kembali tertawa kecil melihat tingkah konyol Esia.


"Tenanglah.. aku akan menjawab pertanyaan mu itu. iya.. aku mahasiswa di sini, dan aku mengambil teknik seni patung untuk ku pelajari. dan kenapa kamu tidak pernah melihat ku di kampus karena aku tidak pernah memunculkan diri dibanyak kerumungan, jadi kamu tidak pernah melihat ku" ucap Leo panjang lebar.


Mendengar itu Esia hanya menganggukkan kepalanya saja dengan raut wajah yang seolah-olah paham. setelahnya dirinya kembali duduk di samping Leo sembari melanjutkan pembicaraan mereka.


********


Terlihat suster sedang mendorong kursi roda detektif Vio ke arah sebuah kamar. itu adalah kamar dari detektif Ical. Vio ingin melihat keadaan sahabatnya itu.


Dengan ekspresi yang cukup khawatir, detektif Vio memasuki ruangan detektif Ical. dan betapa terkejutnya dirinya setelah melihat detektif Ical yang sedang memakan sekantong besar cemilan kerupuk.


Detektif Ical terus melahapnya walaupun dirinya telah dilarang oleh suster dan dokter yang ada di sana. "Haaah.. seharusnya aku tidak perlu khawatir padamu" celetuk detektif Vio setelah menghela nafas.


"Tinggalkan kami berdua.. kami ingin berbicara sebentar" celetuk kembali detektif Vio pada suster-suster itu. dengan segera suster itu keluar dari ruangan setelah mendengar permintaan detektif Vio.


..._end_...