Death Slice

Death Slice
Bab 12. Sedikit lagi



Terlihat detektif Vio dan Ical sudah sampai di tempat terakhir pembunuh bertopeng melakukan pembunuhan. Detektif Vio memperlambat mobilnya hingga berhenti dan mencarinya. Mereka berjalan kearah gudang tua untuk memeriksa keadaan.


Setelah mereka memeriksanya, Mereka kembali berjalan keluar mencari seseorang untuk ditanyai. "Kita sudah melihat isi dari cctv di seberang jalan itu. Hanya terlihat pembunuh itu yang menyeret sebuah jasad menjauh dari sini" Ucap detektif Vio sembari memegang pinggangnya dan melihat sekeliling.


"Sampai sekarang jasad itu belum ditemukan. Bukan hanya itu, Bahkan semua jasad korban dari pembunuh bertopeng sampai saat ini belum bisa ditemukan seutuhnya. Sepertinya jasad-jasad itu telah dibuang ke suatu tempat yang sangat jauh" Timpa detektif Ical.


"Coba kita cari warga di sekitar sini, Siapa tau mereka melihat atau mengingat sesuatu" Balas singkat detektif Vio.


Setelahnya mereka berjalan keluar dari wilayah gudang tua itu. Mereka menuju di pinggir jalan dan pekarangan sekitar rumah warga. Di situ terlihat cukup banyak warga yang melakukan aktivitas mereka seperti biasa.


Tanpa lama, Mereka mendekati salah satu warga seorang ibu tua yang sedang berjalan pelan. Mereka bertanya seputar kejadian di gudang tua itu dan saksi atau bukti sekecil apapun. Namun ibu itu sama sekali tidak mengetahui apapun.


Belum selesai dengan itu, Mereka kembali mendekati beberapa warga di sekitar. Namun warga yang mereka temui sama sekali tidak mengetahui informasi apapun tentang kejadian mengerikan itu.


Mereka tak putus asa. Mereka kembali berjalan mencari beberapa orang yang siap untuk diajak berbicara. Hingga mereka berhenti ketika ada seorang kakek tua yang memanggil mereka secara diam-diam dengan gerakan ayunan tangan melambai ke arah mereka.


Walaupun detektif Ical tidak yakin dengan kakek tua itu, Tapi mereka harus memenuhi panggilan itu. Mereka berjalan ke arah rumah kakek tua itu yang memanggil mereka. Kakek tua itu terlihat ketakutan dan segera masuk ke dalam rumahnya sembari dirinya memanggil detektif Vio dan Ical.


Sesampainya mereka di rumah kakek itu, Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dan terlihat kakek itu mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya. "Si-silahkan masuk..." Ucap terbata-bata kakek tua itu.


Dengan tenang detektif Vio dan Ical melangkah masuk ke dalam rumah kakek tua itu. Walaupun mereka belum cukup percaya padanya.


Kakek tua itu mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi kayu yang terlihat laput dan tua.


"Apakah kalian mencari informasi tentang kejadian pembunuhan di gudang tua itu?" Tanya kakek itu.


Detektif Vio dan Ical cukup heran setelah mendengar ucapan kakek itu, Di mana mereka sama sekali belum mengatakan apapun padanya tetapi dia sudah mengetahui tujuan mereka datang ke tempat ini.


"Benar kakek... Kami seorang polisi yang menangani kasus pembunuh bertopeng, Kami sedang mencari informasi tentang pembunuhan di gudang tua itu" Timpa detektif Ical menyela detektif Vio yang hendak menjawab.


Detektif Vio menatap detektif Ical dengan raut wajah yang cukup jengkel padanya.


"Le-lebih baik kalian hentikan pencarian ini. Jangan mencari dan menemukan pembunuh itu. Biarkan semuanya berjalan sesuai takdir jika kalian tidak menginginkan lebih banyak orang yang kehilangan nyawa mereka" Ucap kakek tua itu mendadak pada mereka.


Detektif Vio dan Ical kembali terkejut dan merasa kebingungan dengan semua perkataan yang dikatakan oleh kakek itu.


"I-ini baru permulaan... Semuanya belum di mulai. Ada banyak rahasia dan orang-orang yang sangat mengerikan ada didalamnya. Berhenti mencari sebelum pembunuh itu kembali dan menghabisi kalian semua!" Sambung kembali kekek itu. Dirinya kembali meringik ketakutan setelah mengatakan semaunya.


Mendengar itu, Detektif Vio dan Ical sontak merasa semakin terkejut setelah kakek itu memohon pada mereka dengan wajah yang memperlihatkan rasa takut yang sangat dalam.


"A-apa yang sebenarnya terjadi?, Rahasia apa lagi ini!" Celetuk tipis detektif Ical.


Dengan segera mereka berdiri dan menghampiri kakek itu hendak membantunya berdiri dari posisinya yang merengek pada detektif Vio dan Ical.


"Jangan!..." Teriak kakek itu.


"Aku bilang jangan mencarinya lagi. Dia sangat berbahaya dan sangat licik, Di pikirannya hanya ada rasa kebencian dan keinginan untuk membunuh seseorang. Dia tidak akan segan-segan membunuh kalian yang tak berdosa dan tidak memiliki kesalahan apapun" Kakek itu mulai menangis di depan detektif Vio dan Ical sembari memegang dadanya yang berdetak semakin kencang seiring dirinya merasa sedih.


Refleks detektif Vio dan Ical mengelus pundak kakek tua itu. Mereka berusaha menenangkan kakek itu yang semakin lama semakin aneh dan mulai agresif.


Dengan segera detektif Vio memerintahkan Ical untuk menelfon dokter agar segera mengirimkan beberapa petugas ke daerah itu untuk membantu kakek itu.


Namun sebelum detektif Ical mengambil hpnya, Kakek itu berteriak padanya dan mengatakan pada mereka untuk tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Dia akan selamat dan baik-baik saja.


"Kakek hanya ingin mengatakan pada kalian, Jika ingin mendapatkan kebenaran dan lolos dari marabahaya ini, Kalian harus mencari seseorang yang lebih mengetahui semua kejadian ini dari kakek. Kalian juga harus mencari sebuah panti asuhan yang memiliki pagar dengan lambang garuda di pintu pagarnya" Ucap pelan kakek tua itu.


"Apa maksud dari perkataan kakek?..." Ucap detektif Vio.


"Dan seseorang siapa yang kakek maksud?..." Timpa detektif Ical.


"Kalian harus mencari orang yang bernama Tarisa. Dia pasti masih tinggal di kota ini. Jika kalian ingin menemukan Tarisa lebih cepat, Lebih baik cari informasi tentang panti asuhan dan keluarganya yang kakek sebutkan tadi. Karena semua itu berhubungan langsung dengan pembunuh itu" Ucap kembali kakek tua itu. Setelah dirinya mengusir detektif Vio dan Ical dari rumahnya sebelum mereka bertanya lebih lanjut padanya.


Detektif Vio dan Ical merasa terkejut dan cukup panik dengan situasi itu. Mereka kembali berjalan ke arah gudang dan kembali naik ke dalam mobil mereka.


"Gak perlu terlalu dipikirin. Sepertinya kakek iti sudah sakit jiwa" Ucap tiba-tiba detektif Ical.


Namun dengan tenang detektif Vio menyangkal perkataan dari rekannya itu. Dirinya terus berpikir kenapa kakek itu seperti lebih mengenal sosok pembunuh bertopeng.


"Sepertinya tidak... Ada baiknya jika kita mencari informasi tentang panti asuhan yang kakek itu maksud" Balas detektif Vio sembari dirinya menghidupkan mobilnya dan segera pergi dari sana.


Tetapi tanpa mereka sadari, Kakek tua itu melihat mereka dari kejauhan dengan tatapan kosong yang cukup mengerikan.


Di sisi lain terlihat Pang yang sedang berdiri di pekarangan rumahnya menikmati suasana sore hari. Sembari dirinya membayangkan Esia berada di sampingnya menyandarkan kepala imutnya ke bahu Pang. Namun seketika mimpi indah Pang terhenti ketika dirinya mendengar suara sepatu yang berjalan mendekat ke arahnya. Pang yang mendengarnya sontak berbalik memastikannya.


Ketika dia berbalik, Betapa terkejutnya dia ketika seorang pria yang memakai pakaian serba hitam dan sebuah topeng kelinci berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan yang kosong.


Pang sontak mundur dengan nafasnya yang terengah-engah akibat merasa terkejut melihat pria aneh itu.


"Si-siapa kau!?..." Tanya Pang lantang padanya.


"Apa yang kau inginkan?, Dan kenapa kau memakai sebuah topeng?" Sambung kembali Pang dengan ekspresi yang masih terkejut diiringi dengan posisi tubuhnya yang memasang kuda-kuda.


"Apa kau ingin bekerja sama dengan ku?" Ucap pria itu sembari dirinya tersenyum dibalik topengnya.


..._end_...