Dear Miss Tutor

Dear Miss Tutor
Bab 09. Investigasi Penyidik



"Kau nggak sekolah?" respon natural khas bapak-bapak itu terlontar dari mulut Adrian.


Pria itu heran. Masalahnya, sosok yang dia lihat adalah Swin Zoe Darmawangsa. Anak patuh yang tidak banyak tingkah itu, buat apa datang ke kantornya jam sepuluh siang?


"Aku di sini dari jam delapan," jawaban Zoe menegaskan betapa pertanyaan Adrian adalah, Iya.


Dia memang tidak datang ke sekolah. Selain karena bosan dengan sistem pendidikan, Zoe lebih tertarik memecahkan masalah Arisha. Ia butuh data akurat tentang perempuan itu lewat Adrian. Sebab google dan sosial media tak memberinya akses menemukan jawaban.


"Ada apa? Ayahmu tahu nggak?" setengah mengeluh, Adrian mempersilahkan putra kembar tertua Riswan itu duduk di sofa.


"Aku nggak mungkin di sini kalau pakai ijin ayah."


Itu benar. Adrian juga tahu kalau Riswan sangat patuh dan disiplin terhadap tata tertib sekolah. Menjadi kaya raya tak lantas membuat Riswan menyepelehkan pendidikan dasar, malah bisa dibilang Riswan cenderung tegas pada si kembar.


"Terus ada perlu apa sampai nekat ke sini segala? Ini tadi kau bilang bagaimana ke resepsionis?"


Tentu seisi gedung sudah akrab dengan wajah Zoe maupun Yan. Apalagi Zoe punya intensitas lebih tinggi datang ke perusahaan. Hanya masalah waktu saja Riswan mendengar kabar itu dari para bawahan.


"Ada janji temu dengan paman, sudah ijin ayah. Mereka mengantarkanku masuk begitu saja," jelas Zoe singkat dan padat. Setengah acuh tak acuh dengan sedikit menyepelehkan. Toh, itu memang bukan masalah besar. Pegawai yang menjaga juga tidak mungkin menanyakan alasan rincinya.


Namun dari sudut pandang Adrian, alasan apapun tetap saja berpotensi menimbulkan perkara. Riswan punya akses informasi dari banyak mulut dan telinga. Apalagi ini soal putranya, laporan pihak sekolah juga bukan hal yang bisa diremehkan.


"Kalau pihak sekolah?" selidik Adrian berusaha menilai kadar konflik yang akan disambutnya.


"Itu urusan Yan."


Adrian mendengus amat berat dan panjang. Pria itu seolah tak butuh udara di paru-parunya. Sembari memijat pelipis singkat, ia kembali menatap Zoe di hadapannya. "Sekarang coba jelaskan. Tumben sekali sih kau yang bikin masalah."


Umumnya, Zoe hanya ahli berontak. Mengajukan gagasan yang tidak ia setujui secara kasar, frontal dan tanpa belas kasihan. Sebatas itu saja. Mengambil langkah ekstrem yang menyimpang adalah tugas Yan seorang. Jadi sebetulnya ada apa? Urusan sepenting apa yang menharuskan Zoe datang? Adrian penasaran.


Sementara itu, Zoe dengan wajah seriusnya yang tak pernah berubah itu mencondongkan badan sedikit ke depan. Ia menyampaikan tujuan secara lugas, "Aku butuh data Arisha. Mulai dari latar keluarga, hingga pendidikan."


Sepersekian detik itu, Adrian membelalakkan mata. Heran. Telinganya tidak salah dengar, kan? Seorang Swin Zoe mencari tahu tentang Arisha? Buat apa? Semua ini terasa seperti komplikasi aneh yang mustahil dilakukan oleh lelaki di hadapannya.


"Kau bolos cuma buat itu?" tanya Adrian tidak percaya. "Maksudku, Arisha tutor baru itu, kan? Apa pentingnya?"


Reaksi itu sebetulnya sudah masuk dalam ekspektasi Zoe. Adrian boleh jadi tidak memiliki tingkat kepentingan yang sama. Jadi ia sudah menyiapkan jawaban yang berpotensi mampu membujuk Adrian.


Ia sedikit mendekat. Gaya yang biasa digunakan Riswan ketika hendak meyakinkan rekan bisnisnya. "Ini bukan tentang 'cuma buat', Paman. Dari sudut pandangku, perempuan itu sangat mencurigakan. Dia tinggal di rumah Darmawangsa, bekerja di sana, dan untuk apa menceritakannya secara rinci pada seseorang?"


Sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas perekrutan Arisha sekaligus mengurus pembiayaan beasiswa, Adrian memang tak menaruh curiga. Tetapi intuisi Zoe layak dipertimbangkan. Barangkali rasa percaya Adrian salah, dan justru Zoe yang benar. Berlaku juga sebaliknya.


Dan dengan analisis singkat, serta pertimbangan seadanya, Adrian mengambil keputusan. "Kau cari sendiri, pakai komputerku. Sepuluh menit cukup?"


"Tentu saja."


"Jangan ada bukti fisik, apalagi sampai ketahuan ayahmu."


Tidak akan. Zoe juga tahu kalau Adrian menanggung resiko yang lebih besar andai Riswan dengar soal pembocoran informasi tersebut. Lebih-lebih ini soal Arisha. Tingkat kesalahpahaman bisa jadi tiga atau empat kali lebih meningkat.


Jadi, selagi ia masih memerankan dirinya sendiri, dia akan mencari sebanyak mungkin informasi. Besok ketika dia memerankan Yan dan menghadiri kursus Arisha, penyelidikan bisa segera dimulai. Ya, lihat saja nanti. Siapa yang tersingkir dari permainan ini.


***


Nama lengkap Arisha Danita. Sekolah di SMA Negeri biasa, dengan prestasi yang sangat mengagumkan. Di luar nalar. Sertifikatnya berderet, mengikuti banyak lomba dan aktif berorganisasi.


Ekonominya, sulit. Sekilas saja Zoe tahu betapa perempuan ini berjuang setengah mati untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi. Bermodalkan beasiswa dari Wangsa Group yang mau membiayai sekolah di berbagai Universitas. Perempuan itu menembus Universitas Negeri bergengsi di ibu kota.


Zoe yakin kalau pilihan perempuan itu melanjutkan Strata dua di UK juga bagian dari rekomendasi keluarga Darmawangsa. Begitu pula jurusannya. Perempuan itu secara intens di arahkan ke sana sejak mendapat beasiswa pertamanya.


Anggaplah Arisha sebagai strategi sang ayah dan bunda. Maka implikasinya adalah sejak kapan ia berkhianat? Keluarganya tinggal di luar pulau sana, dan mustahil Arisha menuliskan nama kekasihnya di profil perusahaan. Kalau Riswan sudah melakukan pengecekan langsung di kediaman Arisha, itu artinya pihak paling mencurigakan adalah sang pacar.


Sosok yang dipanggilnya dengan sebutan 'Babe' ini memiliki banyak makna. Bagaimana jika seseorang di balik panggilan sayang itu merupakan keluarga lain yang mengincar Darmawangsa?


Dalam renungannya, Zoe manatap rangkuman tangan yang ia buat secara rinci dan akurat. Sekarang tinggal menunggu laporan dari Yan usai menyelesaikan kelasnya bersama Arisha. Zoe percaya diri dengan rencananya, tampak sempurna.


"Zu," panggil Yan seraya mendorong pintu kamar Zoe tanpa ijin sang empunya. Tanda kalau kelasnya sudah lewat, kini saatnya mereka bertukar peran, "Dia pro banget, Zu, gue nggak yakin lo bisa ngulik informasi pribadinya."


"Terus lo dapet info apa?" alih-alih bertanya soal kelangsungan prosesi ajar-mengajar, Zoe lebih tertarik pada informasi tambahan yang dibawa oleh Yan.


Sialnya lelaki itu hanya memberi gelengan singkat. Matanya yang sudah letih akibat pembelajaran itu memandang Zoe lemas. "Nggak ada. Dia ngeselin parah."


"Sama sekali?" Zoe mendesak. Mustahil tak ada apapun yang mencurigakan. Mereka berada dalam ruangan yang sama selama tiga jam. Mana mungkin hanya menyebalkan?


Benar saja, seketika wajah Yan berubah menjadi antusias. Ia menemukan ingatan yang paling mencolok dan janggal. Matanya riang menatap Zoe penuh kegembiraan. "Ada, Zu!" serunya, "Dia dapet telpon terus."


Bagus! Zoe sudah siap membuktikan kecurigaan itu.