Dear Miss Tutor

Dear Miss Tutor
Bab 08. Tengah Malam



Zoe tak bermaksud menghampirinya, namun secara alamiah, ia melihat perempuan itu bertelpon dengan seseorang. Ayolah, ini sudah larut malam. Zoe baru saja menyelesaikan kelas bersama salah satu dosen Amerika, yang artinya sudah menunjukkan lebih dari jam dua belas.


Untuk apa bertelpon malam-malam? Terlebih lagi ia sampai harus mengasingkan diri di halaman depan. Percakapan penting apa yang mengharuskannya menghindar? Tidakkah kamar di sayap kiri lantai dua sudah cukup besar untuk tidak saling mendengar suara antar ruangan?


Jangan pikir Zoe bermaksud menghapirinya. Lelaki itu dengan gayanya yang tenang justru duduk di ruang tengah sambil menikmati secangkir cokelat hangat. Ia mengisi perut selagi menunggu jadwal kelas berikutnya, mungkin sekitar pukul dua dini hari Zoe baru bisa istirahat.


Lima menit, sepuluh menit, perempuan itu tak kunjung ke dalam. Rasa penasaran mulai menggelitik relung jiwa. Zoe tergerak menuntaskan minuman dan menuju ke sana.


Akan tetapi sekembalinya meletakkan cangkir di kotoran, Arisha sudah berjalan masuk menuju pintu utama. Perempuan itu menunduk begitu dalam, membuat wajahnya sempurna diselubungi kegelapan. Sembari memeluk dirinya, Arisha menyusuri taman. Membuka pintu dan sedikit terkejut mendapati sosok Zoe di ambang ruang makan.


"Ngapain di luar malam-malam?" itu adalah kalimat tanya yang bisa Zoe pikirkan. Sebab ia lumayan peka terhadap air muka seseorang, dan bekas air mata masih melekat di pelupuknya sekarang.


"Privasi," singkat saja Arisha menimpali.


Zoe mendengus tipis. Ia paling tidak tega kalau melihat perempuan menangis. Kalau sudah begini, rasa curiga yang dipupuk selama beberapa jam terakhir tak lagi berarti. Bagaimanapun ia masih punya hati nurani.


"Mau kopi? Teh, atau minuman hangat yang lain?" ia juga tidak mengerti kenapa mendadak mengajukan pertanyaan sentimentil begini? Zoe mencaci maki dirinya dalam hening.


Arisha menyeret ekor matanya untuk berani menatap Zoe di antara kegelapan yang mengakuisisi. Dia belum mahir membedakan Zoe atau Yan, tetapi dari pakaian yang belum berubah, kemungkinan besar lelaki itu adalah Zoe.


Sesuai dengan penjelasan Binar tempo hari, Zoe adalah pengguna lantai satu yang dingin setengah mati. Atas seijin Binar juga, Arisha boleh melihat-lihat lingkungan kesukaan Zoe. Hal ini bertujuan agar Arisha mudah membedakan mereka. Menilai karakteristik lewat hobi dan ketertarikan.


Jadi Arisha tidak mungkin salah. Sosok yang menghapus isi galerinya, sekaligus menawari minuman hangat barusan adalah orang yang sama.


"Kalo nggak mau yaudah sih," Zoe membuang muka seraya menggosok-gosok tengkuknya dengan telapak tangan. Canggung benar suasana mereka.


"Kopi."


"Oh. Oke. Pakai susu atau krim?"


"Gula sedikit."


Tanpa banyak bertanya lagi, Zoe sigap menuju dapur guna meracik kopi.


Bicara soal kopi, belakangan Zoe juga aktif mengeksplorasi aneka menu minuman ini. Dia juga ada rencana belajar lebih banyak lagi. Kemudian mendirikan kedai kopi sebagai bisnis pertamanya setelah lulus nanti.


Arisha bersandar pada salah satu sisi meja dapur ketika Zoe sibuk meracik. Tiada satupun di antara mereka yang tertarik membangun percakapan. Arisha hanyut dalam renung, sementara Zoe dengan kegiatannya. Mereka kompak mendiamkan semesta.


"Nggak tidur? Kenapa minum kopi?" Zoe mengajukan pertanyaan lagi. Dia bahkan kagum pada kemambuan dirinya yang bisa menjadi begitu berisik.


Tak langsung menjawab, Arisha malah menangkup cangkir itu dengan kedua tangan. Mendekatkan bibir cangkir pada hidungnya, lantas menghirup aroma kopi lekat-lekat. Entah sejak kapan mata Zoe tergiur mangamati itu semua, ia tenggelam dalam diri Arisha.


Perempuan itu menoleh padanya, "Nggak bisa tidur juga." Seulas senyum yang ditinggalkan bersama jawaban itu ditimpa cahaya rembulan dari luar jendela. Menyempurnakan parasnya. Mempercantik postur wajah khas oriental milik Arisha.


Detik itu entah mangapa dunia Zoe tersa melambat. Ia bisa melihat bagaimana lesung pipi itu dibentuk sang empunya. Juga bagian yang paling dia suka dari keseluruhan wajah Arisha. Bibir, astagaa... sejak kapan dia menjadi suka?


Kenapa pula dia mendadak punya bagian favorite pada paduan wajah Arisha? Ini gila. Zoe segera mengalihkan pandang menjauh dari sana. Mungkin karena ia terlalu lelah berkutat dengan pelajaran. Ya, hal seperti itu bisa saja terjadi, kan?


"Anyway, thank's kopinya," Arisha bangkit dari sandaran. Perempuan itu kini berhadap-hadapan dengan Zoe secara sempurna. "Aku sungguh minta maaf kalau mungkin keberadaanku membuat kalian nggak nyaman. Tapi mohon kerjasamanya, aku butuh pekerjaan ini untuk menata masa depan."


"Aku bukan Yan," Zoe menegaskan. Sebab pada dasarnya, memang bukan dia yang menjalin kerjasama dengan Arisha. Perempuan itu boleh jadi tak tahu sedang bicara dengan siapa sekarang.


"Aku tau, tapi bu Binar bilang, cuma kamu yang bisa membujuk Yan dalam situasi sekrisis apapun. Tolong beri dia pemahaman, sulit sekali mencari waktu senggang bicara dengannya."


Sekali lagi Arisha melengkungkan senyuman, menepuk pundak Zoe singkat sebelum beranjak. "Sekali lagi terima kasih, Zoe. Mungkin aku lanjut minum kopi di kamar aja. Dah."


"Tunggu," kesadaran Zoe kembali sebelum terhipnotis lagi oleh pesonanya. Membuat langkah perempuan itu tertahan. Arisha dengan cangkir kopi yang telah sampai pada ambang pintu dapur langsung melingak.


Giliran Zoe yang mendekat. Tinggi Arisha yang hanya sepundak saja itu memaksanya sedikit mendongak. Jarak mereka tersisa dua jengkal. Mata tajam Zoe yang persis seperti milik Riswan itu mengunci Arisha.


"Apa maksudnya lapor ke bunda? Aku bahkan nggak menghapus setengahnya."


Sepersekian detik saja sisa tangis yang membasahi pelupuk Arisha raib. Perempuan itu meringis kecil, "Aku memang bekerja untuk uang, Zoe Darmawangsa," suara Arisha berubah menjadi dingin dan datar. Ia tak ragu mendekatkan wajah pada Zoe hingga tinggal sejengkal. "Tapi bukan berarti harga diriku ikut terjual juga."


Malam itu Zoe melihat dua sisi mata uang milik Arisha. Perempuan yang bisa membuatnya terpesona dan begidik ngeri disaat yang sama. Ia semakin yakin jika ada yang tidak beres pada dirinya. Menguatkan alasan Zoe untuk mengungkap tabiat yang masih tersirat.


Perempuan itu menarik diri sambil menyuguhkan senyum ramah seperti sebelumnya, seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka. "Terima kasih, Zoe. Kuharap kita tidak saling mengganggu privasi selama satu semester ke depan."


Zoe masih terdiam di sana sampai beberapa menit kemudian. Berusaha keras mencerna situasi yang baru saja dihadapinya. Jadi sebetulnya siapa Arisha? Apa tujuannya? Dan mengapa pula perempuan itu seperti sengaja mengincar Yan dibanding dirinya?


Entahlah, entah. Mendadak kepala Zoe menjadi pening memikirkan kemungkinan. Ada sekian variabel yang mengandung 'bagaimana jika' dan bisa dipastikan dia tak akan tidur sepanjang malam.