Dear Miss Tutor

Dear Miss Tutor
Bab 11. Debat Sengit



"Diam-diam memotret isi rumah. Membocorkan informasi keluarga Darmawangsa. Bohong soal kejadian di taman belakang. Gue nggak yakin lo cuma tutor biasa."


Zoe sengaja mengungkapkan itu guna menekan psikologi lawan. Minimal dia harus menyanggah, dan dengan begitu akan terlihat respon lain yang berguna untuk penyelidikan. Mudahnya, Zoe memancing Arisha supaya mau banyak bicara.


"Dan telpon itu," Zoe menunjuk ponsel Arisha lewat gerakan bola mata, "Kalo emang pacar, kenapa nggak diangkat? Harusnya dia juga paham sih kalo lo kerja."


Arisha membuang pandang. Mengacak rambut singkat, lantas mendengus kasar. "Dengar," katanya sebagai intro pembuka. "Gue yakin ini cuma salah paham."


Zoe tak menjawab. Ia memang menanti penjelasan Arisha. Sambil membenahi posisi berdirinya kembali seperti semula. Zoe lamat mengamati Arisha.


"Astaga, lo mikir gue apa?" keluhnya, "Gue nggak perlu jelasin soal pacar gue, kan? Dan ya, gue emang pure tutor Yan. Gaji di sini lumayan, nggak munafik gue jadi orang," ia sebisa mungkin tampak meyakinkan.


Sebetulnya meski Arisha berkata benar, Zoe juga tidak percaya. Di mata lelaki itu, semua yang ada pada diri Arisha selalu mencurigakan. Mengundang tanda tanya yang sulit dijelaskan.


Semua ekspresi itu juga tampak jelas bagi Arisha. Membuat ia frustasi berat. Bagaimana ia bisa menghindari bocah ini selagi dia butuh uang? Ia berharap Yan lekas muncul dan menyeret paksa kembarannya!


"Oke. Soal foto, gue minta maaf. Gue bohong juga supaya lo nggak semena-mena. Sekalipun gue miskin melarat, lo nggak berhak dong ambil paksa hp orang!" papar Arisha menyala-nyala.


Barangkali Arisha juga terlalu emosi hingga lupa sedang bicara dengan siapa. Tata aturan bahasa, sopan santun dan hormat telah ia tinggalkan. Berdebat dengan bocah yang tujuh tahun lebih muda darinya ini dengan panggilan 'lo' dan 'gue' tanpa memikirkan konsekuensi mendatang.


"Yakin?" sesingkat itu respon Zoe terhadap Arisha. Menurutnya, semakin sedikit ia bicara, makin banyak informasi yang bisa didapat.


"Gue harus gimana biar lo percaya?" sejurus kalimat yang sama lagi-lagi terpaksa keluar. Arisha butuh pekerjaan ini lebih dari harga dirinya.


"Biarin gue ikut kelas," syarat utama dari yang paling utama, "Lo nggak perlu ngadu perkara ini ke bunda. Ini urusan gue sama Yan."


"What?" spontan saja Arisha berkomentar.


"Selebihnya biar gue sendiri yang nilai lo berpihak ke siapa."


Tak perlu menunggu jawaban, persetujuan atau kesepakatan Arisha. Tekad Zoe bulat. Ia akan menjalankan kegiatan tukar posisi dengan Yan sesuai rencana. Sampai ia berhasil memecahkan teka-teki dari seorang Arisha, tak ada yang bisa menghalanginya.


Dan di tempat yang sama, Arisha menggeram. Kaki meja yang tak bersalah menjadi pelampiasan amarah. Detik berikutnya ia menekan tombol angkat pada panggilan. Amarahnya membeludak.


"Apa lagi sih sekarang?!" bentaknya. "Di sini cuma ada dua bocah! Jadi berhentilah menelponku saat sedang bekerja!"


***


"Lo ketauan?" membola mata Yan begitu Zoe menceritakan kronologi kejadian.


"Dia langsung tau."


Tidak banyak drama, Zoe bersikap seolah perkara itu bukan masalah. Toh faktanya memang tak ada yang perlu di pusingkan, kan? Hanya saja Yan yang mendengar jawaban tersebut kesal bukan kepalang. Apa sih maksudnya? Jelas Yan berpikir kalau itu adalah malapetaka.


Respon yang langsung diberikan Yan yakni mengacak rambut sembarangan. Lelaki itu menggerutu sebal pada saudara kembarnya. Baru saja satu hari dan Zoe sudah mengacaukan semua rencana, sialan!


"Lo ngomong apa?" desaknya. Yan berdiri di hadapan Zoe yang sejak tadi duduk di tepian kasurnya, "Gue bilang kan diem aja, Zuu!!! Kenapa pake acara ngobrol segala?!! Kenapa lo jawab? Lagian jangankan ngobrol, mandang dia aja gue nggak!"


Setenang air mukanya, Zoe hanya pendek berkomentar, "Sesuai rencana."


Hal yang membuat Yan meringis kesal, senyum kecutnya mengembang. "Dan tuh cewek bakal diem aja gitu? Jangan bercanda, Zuu! Dia aja ngelaporin lo soal insiden rumah kaca."


"No. Kali ini nggak."


"Oh, ya? Yakin darimana lo?"


Dalam konteks ini, tentu Zoe tidak seceroboh itu untuk menceritakan secara rinci interaksinya dengan Arisha. Selain karena informasi tersebut tidak penting bagi Yan. Zoe juga tidak mau saudara kembarnya semakin usil menafsirkan perasaan Zoe pada Arisha.


Terus terang, itu sangat merepotkan. Ia memilih jalan pintas dengan memberi jawab sekenanya. Masih dengan gaya santai, acuh tak acuh khas Zoe Darmawangsa. "Take your time, Dude. Asal lo serius dapet sepuluh besar."


Tapi dari sudut pandang Yan, Take your time, apanya?! Dia malah menyipitkan mata menaruh curiga, "Lo sebenernya ngincer luar negeri, kan? Niat nyeret gue sekolah di sana, kan? Lo sengaja ya ngatur strategi ini supaya gue mau berangkat?"


Entah darimana datangnya sifat skeptis mereka. Yah, walau kadarnya lebih banyak diwarisi oleh Zoe Darmawangsa, tapi bibit itu juga menempel pada Yan. Dan sebagai langkah usil Zoe, ia mendiamkan kecurigaan Yan begitu saja.


Lagipula percuma menanggapi Yan. Dia akan tetap berisik kalau tidak mendapat penjelasan akurat. Sementara seluruh dunia sudah paham, betapa malasnya Zoe membuka mulut untuk menjelaskan. Pilihan paling mudah adalah mendiamkannya, pergi meninggalkan lelaki yang masih teriak histeris meratapi kepergiannya.


"Sialan, Zuuu!! Jawaaabb!!!" raungan itu bahkan terdengar sampai lantai dasar.


***


Sekilas tentang Arisha.


Tak banyak yang tahu soal perempuan itu kecuali Binar dan Riswan, bahkan Adrian. Sepasang suami istri itu mengutusnya langsung untuk mendampingi proses belajar Yan. Sekalipun sebetulnya itu juga bagian dari alasan.


Beberapa waktu lalu, Arisha mengajukan pengunduran diri terkait beasiswanya. Alasan klise, keluarga. Di kampungnya yang sudah lama ia tinggalkan, jauh di luar pulau jawa sana, keluarga Arisha mulai renta. Kebutuhan mereka bukan cuma soal uang, tapi tenaga, kehadiran Arisha langsung di antara mereka.


Pendidikan Arisha dianggap cukup sebagai bekal pulang ke kampung halaman. Kerja di sana gaji UMR sudah lumayan. Syukur-syukur bisa sedikit diatasnya. Toh, Arisha kuliah di Universitas bergengsi di Jawa.


Berita duka itu ditolak mentah-mentah oleh Riswan. Hanya tinggal menghitung bulan saja perempuan itu lulus Strata dua. Solusi terbaik yang bisa Riswan tawarkan adalah mengurus keluarga Arisha di kampung sana, dengan imbalan Arisha mengurus Yan.


Anggap saja itu win-win solution bagi Riswan. Tapi Arisha merasa berhutang budi terlalu banyak. Sehingga untuk menolak tawaran itupun ia tak berkuasa.


Apa alasan lain yang membuat Riswan dan Binar sepakat begitu gigihnya atas Arisha? Gampang! Investasi otak. Arisha punya kecerdasan lebih dari rata-rata. Usia 24 sudah hampir lulus S2 bergengsi di Oxford University. Memangnya apalagi yang lebih menjanjikan? Mereka tak mau biaya pendidikan yang dikeluarkan menjadi sia-sia.


Kuncinya ya memaksa putra mereka, Yan, untuk mewarisi ilmu Arisha. Tidak mungkin Zoe mau diajari anak ingusan versi dia. Pembimbing bocah itu rata-rata sudah S3.


Namun, sayangnya, Arisha punya kehidupan pribadi yang ditutup rapat-rapat. Binar dan Riswan hanya punya kekuasaan mengakses kehidupan keluarga perempuan itu saja. Jauh di dalam dirinya, Arisha menyimpan banyak rahasia.


Salah satunya adalah orang yang paling dicurigai oleh Zoe Darmawangsa. Sang penelpon, sosok yang disebut-sebut sebagai 'My Love' baginya. Siapa gerangan? Memangnya apa yang membuat Arisha begitu gusar?


Entahlah. Barangkali Zoe lebih ahli menyusun puzzle yang hilang.