
Zoe paham kalau Arisha sudah sepatutnya tidak lagi dicurigai. Namun, malam ketika perempuan itu memutuskan untuk pergi, Zoe merasa ada sesuatu yang salah dengan situasi ini. Bagaimana jika ia ingkar dan tidak kembali?
Tentu bukan perkara yang sulit. Tak ada ruginya melanggar sumpah sendiri kalau ada uang lebih besar yang menjamin. Lagipula, itu tujuan Arisha, kan? Menghasilkan uang sebanyak mungkin.
Atau... bagaimana jika Arisha hendak meluruskan masalah dengan lelaki kemarin? Tokoh misterius yang membuatnya menangis? Ah, penat kepala Zoe memikirkan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Sebetulnya apa yang Arisha sembunyikan dari orang tuanya sampai senekat ini?
Masalahnya, iya kalau lelaki itu memang baik, kalau tidak? Mengingat perangai yang nekat datang ke kediaman Darmawangsa saja sudah bisa menunjukkan garis besar kepribadiannya. Lelaki (yang entah siapa) itu berpotensi melukai hati Arisha lagi, kan?
Namun, Zoe yang cukup tahu diri itu akhirnya hanya menatap kepergian Arisha dari kejauhan. Tak berusaha menyapa atau cari gara-gara. Perempuan itu pergi tanpa suatu kendala.
Yah, Yan juga tak terlalu mengusik Arisha secara personal. Dia lumayan profesional terhadap tutor tunggalnya. Lebih-lebih, Yan juga pasti enggan mempertaruhkan aktivitas favoritenya hanya karena tidak menyukai Arisha. Berada di bawah aturan Zoe sudah membuat Yan 99% aman.
Sembari menjinjing tas yang memuat benda-benda darurat untuk satu malam, Arisha menyusuri halaman dengan langkah tenang. Zoe tentu memperhatikan CCTV dengan saksama. Matanya kian menyipit begitu Arisha sampai di halaman depan. Perempuan itu rupanya menyewa taksi yang baru sampai beberapa menit kemudian. Lantas lenyap di telan kegelapan.
Detik itu juga Zoe membuang napas panjang. Sejujurnya ia sangat ingin menguntit kepergian Arisha. Akan tetapi niat hati itu terpaksa ditahan, demi untuk menjaga citra dirinya kepada Arisha.
Iya, citranya sebagai putra Darmawangsa. Usai ketahuan menggeledah kamar Arisha, bagaimana mungkin ia ketahuan menguntit juga? Tidak. Dengan segala pertimbangan, Zoe memilih diam di tempat tanpa melakukan apa-apa.
Meski sialnya, ia tak bisa mendustai isi kepala. Bahkan sampai pagi menjelang, pikiran Zoe masih dihantui perihal keberadaan Arisha. Apakah semua baik-baik saja? Kenapa Riswan dan Binar tampak normal seakan kepergian Arisha bukan masalah besar?
"Zoe nanti bisa ke kantor nggak? Pulang sekolah mampir sebentar," Riswan yang baru sempat menyentuh makanan paginya pasca menatap gadget itu berbicara.
Sementara Zoe yang sejak tadi merisaukan Arisha sontak terperanjat, "Eh? Ah... kantor?"
"Bantu-bantu sebentar, besok ayah ada urusan luar kota. Adrian sudah berangkat duluan. Bisa kan?"
Zoe melirik ke arah Binar dan Riswan bergantian. Dan belum sampai Zoe malayangkan protesnya, sang ibunda yang maha paham itu menampiknya. "Yan ikut bunda, ada undangan makan malam di acara bisnis Alvero."
Fakta itu tentu saja langsung menggugah emosi Yan, sebab secara teknis kepergian Arisha adalah waktu istirahatnya dari kelas pembelajaran. "Harusnya aku bisa main lho, Bunda," tolaknya. Akan tetapi keputusan tersebut telah bulat, pembagian sudah clear dengan satu titah.
Sejak pernikahan antara Riswan dan Binar terpaksa di gelar, tiada satupun bisnis keluarga dikawinkan. Mereka hanya menjalin aliansi di beberapa kesempatan, atau sekadar menjadi penanam saham. Darmawangsa yang diwarisi Riswan, dan Alvero yang diwarisi Binar berjalan tanpa mengikat satu sama lainnya.
Kadang kala, sekali waktu Zoe yang menghadiri acara-acara resmi keluarga Alvero, begitu pula sebaliknya. Riswan dan Binar tidak pernah benar-benar menyatakan secara gamblang perusahaan ini untuk siapa dan yang ini untuk siapa. Mereka hanya membiasakan si kembar akrab dengan acara formal perihal bisnis keluarga.
Hal itu juga bertujuan agar wajah mereka di kenali oleh para kolega. Bagaimanapun juga, bergeraknya suatu bisnis adalah efek dari aliansi jaringan yang luas. Riswan dan Binar ingin menyombongkan dua putranya agar mewarisi hak istimewa yang berguna di masa depan.
"Kalau bisa jangan telat, Zoe. Minimal bisa selesai sebelum sore," kalimat itu disampaikan seraya Riswan meninggalkan ruangan. Zoe dan Yan masih kompak mendiamkan kedua orang tua mereka.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima belas. Sesibuk apapun Zoe Darmawangsa mengurus keperluan Riswan, pikirannya berkutat pada perkara yang sama. Harusnya Arisha sudah kembali ke Mansion mereka, kan?
"Apa yang ingin kamu tanyakan, Zoe?" celetuk Riswan yang nampaknya sudah risih melihat gelagat aneh sang putra.
Bagaimanapun juga mereka berada di ruangan yang sama. Mustahil kalau Riswan tak membaca kegusaran dari raut Swin Zoe Darmawangsa. Lelaki itu bahkan menunjukkan ekspresi yang minim itu secara gamblang.
"Eh? Ah, nggak kok, bukan apa-apa," dan lagi-lagi Zoe tergagap.
Ia mungkin terlihat bodoh sekarang. Banyak melamunnya, sering terkejut saat seseorang tiba-tiba bicara. Tidak biasa, ia seharusnya dingin dan ahli mengandalkan air muka.
"Oke. Kalau sudah selesai kamu pulang aja, terima kasih bantuannya."
Beruntungnya, Riswan tak banyak tanya. Kesibukan berhasil menahan pria itu untuk menumbuhkan rasa penasaran. Zoe bisa bernapas lega.
Ia meninggalkan ruangan Riswan satu jam kemudian. Terbilang lama mengingat Zoe memiliki karakter efektif dan terstruktur ketika menyelesaikan sebuah tugas. Namun bukan masalah, toh selama itu Riswan tak mengungkit pembicaraan yang tidak berguna.
Zoe buru-buru keluar sebelum menginjak jam pulang kerja. Ia enggan menerima hormat, sambutan ramah serta godaan-godaan usil dari karyawan yang sebagian besar mengnalinya. Apalagi kalau harus menjawab pertanyaan klise seperti, "Ini Zoe atau Yan?" astaga... ia capek.
Baru menginjakkan kaki di lobi utama, mata Zoe tertawan pada sosok yang berdiri di antara pilar-pilar. Dia tidak salah. Itu adalah Arisha dengan lelaki yang kemungkinan besar adalah tokoh malam itu juga.
Mereka tampak berdebat hebat. Arisha berulangkali mengacak rambutnya, sementara sang lelaki terus menunjuk-nunjuk wajah Arisha. Zoe yang penasaran pun lambat laun mendekat, apa sih yang mereka bicarakan?
"Kalau kamu cinta aku, undur diri sekarang juga!" bentak sang lelaki sayup-sayup sampai ke telinga Zoe.
Suara Arisha yang lebih lirih terdengar memekik, "Aku nggak selingkuh loh, Babe! Kita nikah setelah uang dari pekerjaan ini kekumpul. Kamu nggak bisa nyeret aku ke situasi ini tanpa mikir dulu!"
Seiring dengan mendekatnya langkah Zoe, lelaki itu kian mendekati Arisha. Sejoli itu bertatapan amat dekat, meski geram sang lelaki masih terdengar jelas, "Ngaku deh, lo jadi simpenan CEO perusahaan ini, kan?"
Dari jarak yang tersisa satu meter itu, Zoe bisa melihat bibir Arisha bergetar. Zoe pribadi juga terenyuh mendengar kalimat itu terlontar dari belahan jiwa Arisha. Bagaimana bisa seseorang memiliki pikiran negatif segitunya?
"Jawab," geram lelaki itu kesal, "JAWAB! DASAR J*L*NG!!" tinggal satu hentakan saja sebuah tamparan melayang ke pipi Arisha. Perempuan itu bahkan sudah menutup matanya pasrah, sementara si lelaki menoleh heran begitu mendapati tangan ditahan seseorang.
Zoe tersenyum menyambutnya, "Bukan simpenan CEO perusahaan sih," ia berbisik mendekati telinga lelaki itu dengan santainya, "tapi simpenan anak SMA."
Arisha yang ikut mendengar suara itu lantas membuka mata, ia dihampiri Zoe yang langsung melingkarkan tangan di pinggulnya. "Makasih udah diantar, terus terang aku kangen berat. Udah kan urusannya?"
Pandangan Zoe bolak-balik antara Arisha dan lelaki itu yang masih tercekat. Dan begitu menyadari tak akan dapat jawaban, Zoe pun menepuk pundak lelaki itu sambil menunjukkan senyum ramah. "Kalau begitu kita permisi dulu ya... lain kali tangannya dijaga. Aku nggak mau cantikku luka. Dadah..."
Zoe menyeret Arisha dengan gaya yang paling natural. Menampakkan kemesraan mereka sampai ke halaman depan. Yah, sayangnya Zoe melupakan gagasan bahwa adegan itu telah menjadi tontonan dramatis di jam pulang kerja.