
Bicara soal Riswan sang ayah. Entah sejak kapan pria itu sudah menjadi pengabdi setia istrinya. Pemuja, budak, pengikut, penganut, atau mungkin hamba yang sangat meninggikan Binar.
Apapun yang wanita itu kehendaki, pasti diwujudkan. Dari sudut pandang Zoe, ibarat kata negara maka Zoe dan Yan sama sekali belum merdeka. Urusan mereka sepenuhnya diatur Binar, dan Riswan merupakan pejabat yang menyuap mereka agar tutup mulut patuh tanpa banyak komentar.
Namun prinsip tersebut agaknya tak selaras juga dengan Yan. Saudara kembarnya itu jauh lebih sukarela dijajah sang bunda. Malah cenderung menikmatinya. Ia berpartisipasi pada aturan-aturan aneh nyeleneh khas Binar dengan segenap jiwa. Menjadikan mereka cocok satu sama lainnya.
Dalam situasi seperti ini, tentu Zoe menjadi pihak yang paling dirugikan. Sebab Riswan akan berpihak pada Binar guna mewujudkan pesta meriah. Pria itu bertindak menjadi garda paling depan yang mengancam Zoe andai kata berulah.
Belum lagi Yan. Dia sigap sedia (tanpa perintah) dengan senang hati menyeret Zoe kalau mulai bertingkah. Perpaduan yang sempurna. Menghasilkan Zoe yang akhirnya memutuskan patuh duduk bersama Yan di hadapan tamu undangan.
Dihadiri oleh Ned dan Tria, kakek dan neneknya. Tak lupa juga Adiran, sang istri, lengkap dengan dua anaknya. Oh iya, Orlin punya adik lelaki yang masih sekolah dasar. Onish namanya. Dari sekian banyak manusia, bocah sepuluh tahun itu paling mirip dengan Zoe. Tak banyak bicara, asing dengan pesta, dan suka bermain online seharian.
Oleh karena itu Adrian merupakan tokoh yang paling paham, betapa buruknya suasana hati Zoe sekarang.
"Aku akan merangkap pesta ini sekaligus perayaan tujuh belas tahun umur mereka. Aku sangat terharu menyaksikan mereka tumbuh begitu cepat. Terima kasih buat mama dan papa yang selalu mendukung aku mengasuh dan merawat Zue Yan. Juga suami yang paling kucinta Mas Riswan. I love you, Mas," Binar bertutur syahdu tanpa pengeras suara.
Yan terenyuh. Sisi sentimentalnya yang kental membuat lelaki itu menunduk. Sementara Zoe di sampingnya mendengus lesu. Ia berharap hari lekas berlalu.
"Gue nggak minta banyak, minimal lo senyum kalau difoto bunda," bisik Yan penuh tekanan. Lelaki itu jelas mengancam.
Namun belum sampai Zue berkomentar, sosok itu menunjukkan jati dirinya. Perempuan dari ruang makan. Calon pegawai yang direkrut oleh Binar dengan gaji empat kali lipat. Ia ikut bergabung dalam pesta. Duduk di barisan tamu, membaur bersama Orlin yang sejak tadi heboh memberikan sorak sorai pada sambutan Binar.
"Jadi aku harap, mereka tumbuh dewasa menjadi pribadi yang lebih baik. Aku sangat mencintai kalian, Nak, Zoe dan Yan," Binar menamatkan kalimat.
Tepuk tangan menyambut kemudian, termasuk Yan. Ia tanpa ragu berdiri dan memberi Binar pelukan. Itulah pesona Yan, dan Zoe tidak keberatan jika segala sikap manis manusia diwarisi oleh kembarannya. Itu menguntungkan bagi Zoe, kan? Dia tak perlu repot-repot lagi bersikap ramah.
"Ah, hampir lupa!" seru Binar menarik diri dari pelukan Zoe yang erat, "Sekalian aku perkenalkan tutor baru untukmu Yan. Kemarilah, Arisha. Dia sedang dalam proses tesis di Oxford University jurusan Mathematics and Computer Science. Aku senang dia mau meluangkan waktu untuk mengajar Yan beberapa bulan ke depan."
Seketika saja senyum Yan memudar. Tak perlu banyak isyarat untuk memahaminya, Zoe tahu betapa kesal perasaan Yan sekarang. Sebagai saudara kembar, mereka memang punya ikatan spesial. Dan tak satupun di antara mereka yang berniat menyanggah.
Wajah Yan lebih dulu mengeras sebelum perempuan bernama Arisha itu sampai ke depan.
"Aku nggak pernah tertarik belajar matematika. Aku pikir kita sepakat mengurus ketertarikan masing-masing soal pendidikan," protes Yan datar. Binar hanya mengelus pundaknya agar sudi tersenyum di hadapan semua orang.
Kalau sudah begini, Zoe tidak bisa duduk diam memperhatian. Ia harus melakukan sesuatu sebelum tabiat buruk Yan muncul ke permukaan. Jangankan Binar, Riswan saja tak mampu mendisiplikan Yan kalau sudah berontak.
"Masih lama ya? Mau sampai kapan basa-basinya, aku lapar," begitulah akhirya Zoe menghampiri mereka tepat ketika Arisha ikut bergabung juga. "Sorry, tapi kalau nggak keberatan, bisa kita lewatkan sesi perkenalan ini?" Zoe bersitatap langsung dengan perempuan itu untuk pertama kalinya.
Dugaan Zoe boleh jadi seratus persen benar, Arisha memang masih muda. Perempuan yang memiliki mata tidak sipit namun juga tidak lebar itu memandang Zoe dan Binar bergantian. Ia tersenyum canggung kala Binar tersenyum hambar.
"Ah, tentu saja."
"Baiklah... kalau begitu, kita mulai sesi makan-makannya. Hari ini juru masakku menyiapkan hidangan spesial yang setara dengan hotel berbintang. Menu baru untuk restoranku juga. Jadi selamat mencoba dan beri reviewnyaaa... selamat siaaang!"
Tidak penting lagi membahas kepergian Yan di tengah acara. Ia memang mahir menegur saja. Padahal kalau suasana hatinya buruk, ia menghilang dari jangkauan manusia. Paling juga di ruang melukisnya, atau olahraga, Yan cenderung meluapkan amarah lewat sesuatu yang ia suka.
Sementara itu, pada momen makan-makan di halaman rumah, Zoe tak lepas mengamati Arisha. Perempuan itu mahasiswi di Oxford University jurusan Mathematics and Computer Science? Bagaimana mungkin?
Untuk ukuran manusia yang memusingkan uang, gaji dan penghasilan, bagaimana bisa ia menjadi mahasiswa pasca sarjana di Universitas Inggris ternama? Ia bahkan berdebat dengan seseorang soal tabungan dan menemui orang tua, bagaimana mungkin ia mengenyam pendidikan di sana?
Walau mengandalkan beasiswa, sekalipun mengambil kelas daring semata, mustahil, kan?
Oke, katakanlah dia menjalani perkuliahan dari rumah dan butuh biaya tambahan untuk menyelesaikan tesis di Inggris sana. Lalu kenapa pembicaraannya di telpon malah mengarah pada pernikahan. Bagaimana kalau Bundanya yang (kadang-kadang) terlalu polos itu terkena tipu muslihat? Zoe tidak bisa mengabaikan masalah ini begitu saja.
"Cantik, ya?" Adrian yang mencuri bangku Yan berbisik tepat di telinga. Zoe sontak terkesiap, menoleh dengan ekspresi muka datar yang sukses membuat Adrian tergerlak. "Sampai lupa berkedip, pasti cantik, kan?" imbuhnya.
"Bunda kenal dimana? Paman yang bantu?" Zoe mengabaikan lelucon itu.
"Bukan aku, mungkin ayahmu. Kau nggak pernah kan mengambil kursus atau kelas yang diajar perempuan cantik begitu. Aku yakin itu bagian dari strategi Binar supaya Yan mau belajar lebih giat dari tahun lalu."
Kalau boleh dibilang, perempuan itu memang lumayan. Tidak bisa dibilang cantik juga, ia hanya memiliki proporsi wajah yang pas. Enak dipandang. Pipinya chubby tapi tak kegemukan. Lengkap dengan lesung pipi yang mengiasi kiri dan kanan. Alisnya tebal, sempurna melengkapi lentik bulu mata. Dan bibirnya...
"Mungkin Yan mau setuju kalau kau bujuk. Ceritakan baiknya saja, sebagai lelaki normal dia pasti suka."
Zoe menoleh pada Adrian. Ia berusaha mengalihkan fokus pada bibir berbentuk hati yang ranum berwarna merah muda. Astaga, apa yang sedang dia pikirkan? Tujan utama Zoe adalah menggali kecurigaan.
"Paman yakin dia mahasiswi pasca sarjana?"
Adrian mengangkat kedua bahunya asal, "Hanya karena dia masih muda bukan berarti mustahil, kan? Aku malah lebih suka kalau Orlin terispirasi olehnya. Andai kau sedikit lebih tua, mungkin sudah kuseret mengajari Orlin yang pemalas."
Menurut pandangan Zoe, Orlin bukan pemalas. Ia hanya terlalu dimanja. Selain itu, ia punya harga diri yang ketinggian. Jadi sekalipun Zoe lebih pintar berkali-kali lipat, Orlin tak pernah mau belajar darinya.
"Lupakan soal Orlin. Aku tidak tahu apa yang mendasari asumsimu, Tuan Muda Swin, tapi aku percaya kalau Bundamu berusaha melakukan yang terbaik. Riswan juga sepakat. Kami ingin mempersiapkan Yan masuk ke dunia teknologi guna membantumu menjalankan bisnis Alvero dan Wangsa suatu hari kelak."
Dalam beberapa kasus, hal-hal seperti inilah yang sulit dihindari. Sejauh apapun berlari, mereka tetaplah pewaris. Nama Darmawangsa tak bisa dialih tangankan pada garis keturunan lain. Mereka bahkan tak punya kesempatan untuk memilih. Karena mereka terlahir sebagai pengganti.
Sekali lagi Zoe memandang Arisha yang asik bercengkrama dengan Tria. Perempuan yang sangat mencurigakan itu tampak bisa dipercaya dalam waktu yang bersamaan. Namun apakah tidak masalah membiarkannya mengajari Yan? Atau lebih tepatnya, apakah tidak masalah membiarkan perempuan itu masuk ke kehidupan keluarga Darmawangsa?
Bagaimana kalau ternyata ia adalah mata-mata? Orang suruhan dari keluarga lain yang masih menyimpan dendam. Zoe tak bisa menutup kemungkinan buruk seperti itu, kan? Ada banyak kemungkinan. Variabel-variabel tak pasti yang harus diambil oleh seorang Zoe Darmawangsa.
Akankah dia membiarkan Arisha begitu saja?