
Setelah keberadaan mereka tak lagi berada dalam jangkauan lelaki di belakang sana, Arisha menepis tangan Zoe dari pinggangnya. Perempuan itu melirik tajam. Namun itu tak cukup membuatnya puas. Arisha menghentikan langkah, menatap Zoe dengan segenap amarah.
"Ngapain ikut campur sih?" protesnya.
Zoe yang semula mengabaikan Arisha pun terpaksa ikut menjeda langkah. Ia berbalik menoleh ke sumber suara. Mengabaikan posisi mereka yang masih berada di trotoar tak jauh dari perusahaan Darmawangsa.
"Lo lebih suka ditampar?" pendek saja Zoe berkomentar.
Arisha memincingkan senyum kecutnya, "Puas? Lo seneng bisa pake kelemahan gue seenak jidat?!"
Zoe mendengus berat, "Ngobrolnya nanti aja, percuma kalo ending point-nya salah paham juga."
"Lo pasti merasa superior kan bisa nyelametin gue dari sana? Ngeliat langsung cewek yang lo pikir 'mata-mata' ternyata cuma bucin ke cowok gila. Yang... yang diem aja pas mau ditampar... lo pasti mikir gue..."
"Bilang makasih aja bisa nggak sih?" tukas Zoe mulai emosi.
Zoe bukan dalam situasi berhak menghakimi Arisha. Bahkan ia berhutang maaf karena telah menaruh curiga berlebihan. Perempuan itu mengalami masalah yang besar, meski Zoe tak berani membayangkan persis alur ceritanya.
"Gue nggak denger apa-apa. Jadi please jangan judge pikiran gue sepihak," imbuh Zoe kemudian.
Arisha yang terdiam menatap Zoe dengan genang air mata. Rahang bawah perempuan itu mengeras. Bahkan meski air matanya berjatuhan pun sang empunya masih susah payah menahannya.
Wajah cantik Arisha memerah. Mata yang digenangi butir-butir bening itu berpedar tertimpa cahaya senja. Zoe terenyak. Ia tak bisa memikirkan kata-kata lain kecuali menarik lembut pergelangan tangan Arisha.
Sore itu, mereka berjalan tanpa arah. Melepaskan kecamuk dada yang membelenggu Arisha. Ajaibnya, sepanjang perjalanan, Zoe tak menoleh sedikitpun meski Arisha sudah meraungkan isak.
***
Mereka mengambil jeda di halaman mini market sambari meneguk soda. Tak ada perbincangan. Hari menjadi gelap dan Zoe telah memberi kabar keberadaan mereka pada Binar maupun Riswan. Ia belum tahu apa yang menantinya di rumah, jadi kondisi ini bukan masalah bagi Zoe Darmawangsa.
Sejak tadi, Arisha membuang pandang pada lalu-lalang. Alibi itu ia gunakan untuk menghindari tatapan Zoe pada matanya yang sembab. Di hadapan Zoe, Arisha memang tampak seperti perempuan yang mempertahankan harga dirinya. Seolah hanya dengan begitu ia bisa dianggap sebagai seorang manusia.
Zoe yang menyerah itu akhirnya menyandarkan badan. Sambil membuang napas, ia memulai perbincangan, "Boleh aku tanya?" katanya.
"Lo gue aja, aneh aku kamuan."
Tukas ketus dari Arisha sukses membuat Zoe memutar bola mata, "Kenapa kejadian malam itu cuma lo anggep sambil lalu aja? Gimana kalau gue niat jelek? Atau misalkan ada orang lain yang ngelakuin hal sama, masa iya sih lo biarin gitu doang?" entah mengapa, panjang betul kalimat Zoe terucap.
Arisha membuang napas sejenak sebelum menyeret mata ke arah Zoe seutuhnya, "Pertama, gue percaya bu Binar. Beliau bilang kalau anak-anaknya baik walau kadang suka bikin masalah. Kedua," ia menggantungkan kalimatnya sejenak, "Gue tau alasan lo bertindak sampai segitunya. Kalau ada di posisi lo, mungkin gue juga melakukan hal yang sama."
"Ketiga?" Zoe mengangkat sebelah alisnya.
"Gue lebih suka lo curigai dibanding ketahuan punya hidup sengsara."
"Suka?"
Kemudian perlahan-lahan ia menarik napas, dan mengembuskannya dengan amat cepat, "Gue sama mas Roland udah tuangan, Zoe, dari sebelum berankat ke Jawa." Penjelasan itu kembali membawa Arisha kepada Zoe yang tercekat. Lelaki itu diam seribu bahasa.
Rupanya, lelaki itu bernama Roland. Lelaki perawakan tinggi tegap dengan rambut-rambut halus yang memadati janggutnya. Sekilas tadi Zoe tahu kalau lelaki itu lumayan tampan. Ia juga tampak dewasa dan matang jika disebut sebagai pria. Dan ia adalah tunangan Arisha? Masuk akal.
"Bisa dibilang dua keluarga sudah tau, sama-sama kenal dan akrab juga di kampung sana. So, thanks banget pertolongan lo tadi, cuma menurut gue pribadi... mendingan lo nggak usah ikut campur urusan kami," sambung Arisha dengan nada yang lebih terkendali.
"Keluarga lo tau kalo kelakuan dia begitu tadi?"
"Menurut gue itu bukan urusan yang perlu dimasalahin ke keluarga besar sih. Lagian gue juga paham alasan mas Roland sampe segitunya, dia mungkin banyak pikiran."
Ringis tawa Zoe mengembang, "Banyak pikiran? Cuma masalah begitu dia mau nampar?"
"Mas Roland nggak pernah mukul gue kok, Zoe. Itu cuma gertakan dia. So, nggak masalah. Gue harap lo nggak ngadu ke bu Binar atau pak Riswan soal masalah ini."
Tentu pola pikir Arisha tak selaras dengan Zoe. Lelaki itu tidak habis pikir bagaimana mungkin ada perempuan galak yang tampak tangguh, cerdas, dan tak tertandingi bisa memiliki toleransi yang begitu tinggi? Lagipula ini bukan perkara yang boleh dianggap remeh. Hubungan sepasang kekasih yang saling menyakiti, apanya yang nggak masalah dan layak dimaklumi?
"Belum, bukan nggak," sahut Zoe dingin. Entah sejak kapan ia sudah bangkit dari sandaran kursi dan duduk serius menanggapi cerita Arisha yang mengalir.
"Nggak akan Zoe. Kita tunangan tiga tahun lebih, jadi lo nggak usah khawatir."
"Malam itu lo nangis."
Arisha membuang pandangannya lagi, "Gue cuma kaget. Nggak seharusnya bu Binar dan pak Riswan tau masalah ini, dan mas Roland tiba-tiba muncul di rumah utama tanpa kasih kabar. Gue takut dipecat. Gimanapun gue masih butuh uang buat melanjutkan hidup di kampung halaman."
"Sedih banget ya? Lo masa ngerti yang beginian," sambung Arisha diiringi dengus berat.
Zoe memang tidak pernah merasakan kemiskinan, tak juga terhadap kekurangan. Ia tidak pernah tahu soal perjuangan seseorang untuk menghasilkan uang. Binar dan Riswan kompak mendidik mereka sebagai pengelola uang. Bukan pencari yang terus kehausan dan mendedikasikan hidup untuk mendapatkannya.
Jadi, ia tak bisa membantah pernyataan Arisha.
Namun, meski begitu, seharusnya ia masih boleh membantah perkara Roland. Sebesar apapun komitmen dan cinta yang ditanam keduanya, tindakan Rolan sudah keterlaluan. Memanipulasi, membentak, bahkan sampai meneror, apakah layak diartikan sebagai cinta?
"Emang nggak bisa putus ya?"
"Selain malu sama keluarga besar, gue juga cinta mas Roland, Zoe. Badai pasti berlalu, mas Roland pasti bisa balik lagi kayak dulu. Semua cuma masalah waktu."
"Dan lo milih terima dikatai j*l*ng gitu?"
Arisha bangkit dari duduk, menatap Zoe tajam tanpa ampun, "Mulai darimana lo nguping percakapan gue sama mas Roland?"
"Mulai darimananya nggak penting, Arisha. Nggak waras namanya kalo lo memaklumi kelakuan bejat si Roland."
Tatapan sendu Arisha menjadi dingin, lurus menyoroti Zoe yang menancapkan belati. "Urusan kita sampai sini, Zoe. Jangan coba-coba ikut campur hubungan pertunangan gue lagi!" Detik itu juga Arisha pergi, meninggalkan Zoe yang jutaan kali memaki dirinya sendiri.