
Ide Zoe memang lumayan gila. Menjerumuskan dirinya sendiri pada petaka. Bermodalkan kecurigaan untuk mengetahui motif terselubung Arisha, Zoe rela melakukannya cuma-cuma. Dalam waktu sepersekian menit, ia telah mengambil kesimpulan.
"Persyaratan gue tetep sama, lo masuk sepuluh besar," Zoe menegaskan kalau urusan itu tak ada sangkut pautnya dengan perubahan rencana, "Tapi lo nggak perlu jadi gue setiap saat."
Mendengar hal itu Yan menyeringai heran. Lelaki itu sudah terlanjur tersinggung dengan keputusan Binar dan Riswan, "Please, Dude! Gue nggak ngerti maksud lo apaan."
Zoe mendengus sebentar, memutar otak. Memilih narasi sederhana yang bisa Yan pahami tanpa satupun kesalahpahaman. Ia kembali menarik napas, mengebusnya perlahan-lahan sambil memberi penjelasan.
"Sehari jadi diri masing-masing, besoknya kita tukeran posisi. Lo nggak perlu ikut event atau kursus punya gue. Jadwal kegiatan itu bisa lo isi dengan kegitan kesukaan lo pribadi," yah, begitulah kurang lebih.
Intinya, selang-seling setiap hari, mereka bertukar karakteristik. Zoe menjadi Yan seutuhnya, dan Yan melakukan sebaliknya. Aturan yang sederhana. Zoe hanya perlu meningkatkan intesitas pertemuan dengan Arisha jika ingin menemukan jawaban atas rasa curiga.
Namun Yan malah tersenyum kecut memahami gagasan barusan, "Elo jadi gue?" kekehnya, "Nggak waras. Emang lo mampu jadi gue satu kali dua puluh empat jam? Dikerubungi cewek-cewek sekolah, olahraga, organisasi, lomba, yakin lo bisa?"
"Nggak masalah," tukas Zoe sembarangan, "Mungkin minus urusan olahraga dan lomba. Kita bisa tuker peran lagi kalau memang mengharuskan kegiatan itu di sekolah."
Yan mengibaskan tangan di udara, "Sinting lo lama-lama."
"Mustahil gue nekat tanpa alasan. Mau nggak?"
Masih dengan tingkat ketidakpercayaan yang belum berkurang, Yan memandangi Zoe tanpa jeda. Ada yang aneh dari tingkah laku kembarannya. Zoe jarang menunjukkan obsesi yang melibatkan seseorang. Umumnya, ia hanya memiliki ambisi perkara ilmu pengetahuan. Tidak dengan urusan remeh seperti sekarang.
"Jangan bilang lo naksir dia," skeptis jawaban Yan membuat Zoe melotot sebal.
"****!" protes Zoe sinis, "Mau nggak?"
"Mulai kapan?"
"Besok. Hari ini gue cuma butuh jadwal kegiatan lo sehari-hari, dan satu lagi... pastikan lo lapor setiap gerak-gerik Arisha yang mencurigakan. Gue ngerasa ada yang nggak beres sama tuh orang."
Siapapun bisa melihat kilat semangat menyala-nyala di mata Zoe Darmawangsa. Ekspresi itu adalah pesonanya. Ia selalu tampak bersinar tiap kali memiliki misi dan tujuan. Akan tetapi Yan yang meragukan ide cemerlang Zoe masih mencium keanehan. Buat apa kembarannya ini tertarik memecahkan masalah begituan?
"Seriusan nih?"
Jawaban Zoe hanya mengangkat bahu tipis. Memangnya siapa yang bercanda sampai menyusun strategi? Walau hanya mengandalkan asumsi dengan waktu keputusan yang relatif minim, Zoe serius saat menyampaikan gagasan ini.
***
Sekolah berakhir. Cepat saja bagi Zoe yang tak pernah tertarik menikmati sistem eduksi di sekolah. Ia hanya perlu menghabiskan waktu kosong di perpustakaan, kebiasaan yang sudah dijalani Zoe sejak Sekolah Menengah Pertama.
Begitu sampai rumah, biasanya Zoe langsung menuju rumah kaca. Menyapa tiga kelincinya, menyiram tanaman, memberi pupuk, juga mengurus daun-daun kering yang berserakan. Beranjak sedikit siang, ia punya sederet jadwal kelas sampai petang.
Waktu luang itu ia manfaatkan untuk jalan-jalan berkeliling mansion. Suasana sore di tempat itu selalu berhasil menyenangkan matanya. Jauh dari keramaian, terasa begitu alami dan natural sebagaimana alam bekerja.
Bagi Yan, rutinitas seperti ini tentu membosankan. Saudara kembarnya itu baru pulang ke rumah sekitar waktu petang. Dengan seragam yang sudah lusuh karena main-main seharian. Lengkap dengan rambut kumal dan badan bau. Dan dalam kondisi seperti itu, Yan akan menghampiri Zoe untuk menceritakan kegiatannya sepanjang waktu.
Kembali pada kegiatan rutin Zoe yang tidak pernah berubah sejak masuk usia remaja. Menjadi anak SMA tak lantas membuatnya berubah. Ia hanya perlu berganti pakaian sebelum menuju ke rumah kaca.
Siang hari begini, tidak ada makan siang. Bundanya sibuk membantu kakek Ned dan nenek Tria mengurus perusahaan. Ayahnya sama sibuk juga. Wangsa Group bukan perusahaan yang bisa ditinggal untuk sekadar berlibur sehari saja.
Atau mungkin lebih tepatnya Riswan tak akan rela melepas perusahaan itu tanpa persiapan. Pria itu cenderung gelisah kalau sampai ada orang selain Adrian yang ikut campur urusannya. Sekalipun orang itu adalah kepercayaan Adrian, Riswan punya isu krisis kepercayaan yang berlebihan.
Itu wajar, Zoe pribadi menyadari jika ia mewarisi karakter tersebut secara spesifik dari Riswan. Mungkin karena sejak kecil ia cenderung pendiam, dan sang ibunda sudah dibuat capek mengurusi Yan saja. Jadi Zoe lebih banyak menyadur sifat-sifat Riswan.
Zoe menuju ke taman belakang, menyusuri aneka macam tumbuhan yang tiga kali seminggu diurus oleh petugas kebun panggilan. Konon, kakek Riswan yakni Greg Darmawangsa sangat mencintai tanaman. Dia juga yang membuat rumah kaca ini sebagai tempat kerja. Zoe memenangkan hak atas tempat ini karena Yan tak tertarik bercocok tanam.
Andai boleh diulas sedikit, urusan Zoe dan Yan nyaris tak pernah rumit. Secara naluri, mereka terlahir bertolak belakang satu sama lain. Keuntungannya mereka tidak perlu saling mencemburui. Berebut mainan, atau makanan bukanlah konflik yang mereka hadapi. Kekurangannya ya persis seperti yang diceritakan awal cerita novel ini. Yan dengan kehidupan sosialitanya yang tiada akhir.
Namun, dua meter dari rumah kaca, Zoe terpaksa menahan langkah. Perempuan itu ada di sana. Ya, Arisha. Siapa lagi yang boleh berada di sini pada pukul segini selain dia? Ia tampak asik mengambil beberapa gambar di sekitar sana dengan ponsel pintar.
Apa yang dia lakukan? Apa rencananya? Zoe menyipitkan mata.
Sesaat kemudian perempuan itu hanyut pada layar. Jemarinya menari di atas layar sentuh guna bertukar pesan. Sembari mondar-mandir dengan wajah gelisah, ia tak sempat menyadari keberadaan Zoe di sana.
Tentu kali ini Zoe tidak hanya tinggal diam. Mangsa ada di depan mata. Tujuan utama yang menggiringnya mengambil langkah ekstrem tengah berada dalam jangkauan. Tanpa menimbulkan suara, ia mendekat. Menyisakan beberapa jengkal saja.
"Ngapain?" satu kata itu sukses membuat perempuan itu terperangah.
Bahasa tubuh yang mudah Zoe baca adalah tangannya yang menggaruk tengkuk belakang. Arisha meringis hambar. Bola matanya berlarian menghindari tatapan Zoe yang luput dari dugaan.
"Ah, eh... Bu Binar kasih ijin saya buat jalan-jalan, jadi..."
"Ngapain ambil foto segala?"
Perempuan itu kikuk seketika. Selain canggung, mendadak ia pun tergagap. Ini adalah kali kedua ia berhadapan langsung dengan si kembar. Yang mana artinya, dia tak bisa memprediksi siapa sosok yang berhadapan dengan dirinya.
Dengan tatapan intens penuh penyelidikan Zoe mendekat. Ia menyambar ponsel dalam genggaman Arisha tanpa banyak bicara.
"Hei!" pekik perempuan itu tertahan.
Tetapi siapa yang peduli dengannya? Zoe menekan galeri dan menandai semua gambar yang menunjukkan rumah kaca. Menghapusnya di ruang sementara, serta sampah permanen dan google galeri tanpa menyisakan jejak. Semua itu dilakukan secara lugas, bahkan jauh sebelum Arisha sempat menyadari ulahnya.
"Privasi," dingin suara Zoe seraya mengembalikan ponsel itu pada si pemilik, "Tempat ini bukan wahana rekreasi."
Arisha masih terdiam ketika Zoe meninggalkan dirinya. Lelaki itu sudah memasuki rumah kaca. Sukses meninggalkan kesan biadap pada tutor baru yang mencurigakan. Lihat saja, perempuan itu harus tahu berhadapan dengan siapa.
Swin Zoe Darmawangsa bukanlah lawan yang setimpal.