Dear Miss Tutor

Dear Miss Tutor
Bab 12. Makan Siang



Siang hari di Mansion mewah seluas itu, biasanya nyaris tak ada kegiatan. Selain karena memang hanya tinggal Zoe penghuninya, Binar memang mengurangi akses ke sana. Tidak akan ada jadwal bersih-bersih kebun, rumah, kolam ikan, atau sekadar perbaikan bangunan.


Penjagaan di pos satpam juga diperketat. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kemungkinan tidak terduga dari berbagai pihak. Mau tidak mau, itu menjadi resiko terlahir di keluarga Darmawangsa.


Lain cerita kalau posisi mereka di luar. Membaur dengan masyarakat. Keuntungannya adalah mereka tampak seperti rakyat biasa. Tak banyak warga Indonesia (secara spesifik) mencari tahu tentang keluarga mereka.


Kalaupun ada yang berniat menyakiti atau melukai, akan tampak lebih jelas. Karena ya memang hanya segelintir orang saja yang mengenali putra kembar Riswan dan Binar. Mereka jarang terpublikasi di media, kecuali jika mereka menyebutkan nama Darmawangsa sekaligus mengumumkan identitas aslinya (seperti yang sering dilakukan Yan).


Seisi sekolah juga langsung tahu berkat partisipasi Riswan. Pria itu secara khusus meminta wali kelas Zoe atau Yan untuk membagikan rincian pembelajaran di sekolah mereka. Ganjarannya sih sederhana, hanya fasilitas. Sekolah negeri kan pencairan dananya juga susah, lama, ujung-ujungnya minta wali murid tiap tahun ajaran baru dibuka.


Oleh karena itu, maka kegiatan Zoe biasanya adalah tidur siang. Ia tak pernah menyimpan pekerjaan rumah. Tugas remeh itu selalu ia selesaikan langsung di sekolah, tepat ketika guru meninggalkan ruangan.


Lagipula, jadwal malam Zoe sangat padat. Demi maju sepluh kali lebih cepat, dia harus menyesuaikan jam kerja di berbagai negara. Namun entah mengapa, siang ini ia tak ingin beristirahat. Bosan. Ingin mencari kegiatan.


Game tidak menarik perhatiannya, buku-buku juga tampak membosankan. Lantas perutnya yang tidak tahu diri itu tiba-tiba lapar, begitu ia mencium aroma bawang yang ditumis dengan mentega. Astagaa... Zoe hampir lupa kalau ada Arisha di rumah.


Awalnya dia ragu mendekat, tapi lama-lama tergoda juga. Siapa peduli soal perdebatan kemarin siang? Bangunan ini juga merupakan rumahnya, buat apa sungkan?


Sampai saat Zoe sampai di belakang tubuh Arisha, dan mencoba mencuri informasi mengenai menu masakannya, perempuan itu belum sadar kalau ada pengintai di sana. Asik saja ia menumis sayur-sayuran lengkap dengan bumbu dasar. Aroma yang lambat lain kian menggoda, memaksa Zoe mengorbankan harga dirinya.


"Masak apa?"


Terperanjat betul Arisha mendengarnya. Kepalanya menoleh ke arah Zoe yang memasang wajah datar. Ia tampak mengutuk dirinya yang lupa pada keberadaan Zoe juga.


"Belum makan?" tanyanya singkat. Arisha memilih kalimat itu alih-alih berdebat.


"Menurut lo?" asal saja Zoe mencomot telur gulung yang telah tertata rapi di piring Arisha. Hanya dalam satu gigitan, sepotong telur gulung raib ditelan.


"Hyaaa!!" teriak Arisha marah. Matanya mendelik hingga memerah, "Gue belom sarapaaan!!"


Arisha memang belum keluar kamar saat mereka memulai sarapan. Alhasil dia ketinggalan. Yangmana itu berarti tidak dapat jatah makan.


Namun siapa peduli soal isi perut Arisha, Zoe mengambil kembali gulungan sebelahnya.


"Zoe!" mulai merasa gemas, Arisha berusaha merebut telur itu meski gagal. Zoe bahkan menyambar piringnya, membuat benda itu melayang tinggi tak tergapai oleh Arisha.


Jangan lupakan soal tinggi badan bocah tujuh belas tahun itu yaaa... dia sudah mencapai 178.


"Zoeee!!!" rengek Arisha kesal. Andai Zoe tahu betapa susahnya ia memasak telur gulung itu. Belum lagi bahannya yang sudah dicampur keju, susu, sosis, dan... "Gue lapar, Zoe!! Balikin!"


"Buat lagi aja. Yang ini gue makan."


Wajah mungil perempuan itu bersemu merah. Amarahnya bukan bercanda, ia amat sangat kesal. Tambahkan juga rambut panjangnya yang menari mengikuti sang tuan yang berlompatan merebut piring genggaman Zoe Darmawangsa. Perpaduan yang menggemaskan, astaga, apa sih yang Zoe pikiran?


Sepersekian detik ia sadar kalau tingkahnya tidak masuk akal. Mengusili Arisha? Yang benar saja! Zoe meletakkan piring itu ke tempat semula. Menatap Arisha yang langsung mengambil alih kepemilikan.


"Pelit," ejeknya seraya beranjak. Ia harus segera pergi jika tak mau berlama-lama dengan Arisha.


Akan tetapi langkah Zoe malah tertahan ketika suara Arisha menggema. Memantul-mantul bagai bola di seisi Mansion yang hanya dihuni mereka berdua. Zoe diam sejenak.


"Mau makan bareng nggak?" kata Arisha sedikit menggantungkan kalimatnya di udara, "Gue sih masak nasi banyak, tapi lauknya ya jangan dihabisin duluan. Itu juga gue beli sendiri, kalo kurang ya pakai bahan punya lo lah."


Tidak menjawab, ataupun bergerak. Zoe bungkam di perbatasan antara dapur dan ruang makan. Dia harus jawab apa? 'Iya' karena rasa lapar, atau 'iya' karena Arisha? Dan apa pula alasan akurat bagi dia menolak?


"Nggak mau yaudah."


"Mau," tukas Zoe cepat.


Buru-buru ia menyambar piring kosong dan mengambil nasi yang baru matang. Membopong masakan Arisha sekalian. Membuat makanan itu tersusun rapi di meja. Semua gerakan spontan itu Zoe lakukan begitu saja, berjalan tanpa peritah dari otak.


Tahu-tahu menit berikutnya, ia sudah duduk bersampingan dengan Arisha. Perempuan itu menarik rambutnya menjadi satu ikat ke belakang, mempertontonkan ceruk lehernya. Sejenak, Zoe tertawan. Hanyut mengamati sisi kiri Arisha yang mengagumkan.


Bagaimana bisa perempuan itu disebut manusia? Zoe bahkan mencium wangi bunga dari tubuhnya. Tapi, tunggu! Zoe bukan dalam situasi boleh mengagumi Arisha. Perempuan itu masih mencurigakan. Ada misi yang wajib Zoe selesaikan.


Ia menyeret pandang mengindari Arisha. Melampiaskan diri pada menu makanan sederhana yang dimasak sang perempuan. Sebetulnya apa yang terjadi pada Zoe Darmawangsa? Kenapa ia bisa merasa tertarik dan benci pada orang yang sama?


"Asin nggak?" Arisha yang sudah melahap beberapa suap membuka percakapan, "Menurutku sih pas yaa... tapi bumbu yang paling sempurna ya telur gulungnya."


Sepertinya perempuan itu juga tak butuh respon Zoe atas percakapan barusan. Dibanding dua arah, kalimat itu lebih seperti monolog miliknya. Arisha kemudian menoleh pada Zoe yang khusyuk menelan makanan. Membuat ekor mata Zoe tergoda melirik ke sana.


"Enak nggak sih?" semringah senyumnya, "Sori, gue emang agak pelit kalo soal makanan. Saudara gue banyak, gue yang jadi bahan kalah-kalahan kalo kita lagi makan," kekeh Arisha sebelum melanjutkan adegan makan.


"Beda banget deh pokoknya sama elo dan Yan. Jadi tolong jangan tersinggung soal telur barusan," ia melanjutkan.


Zoe pribadi tak paham mengapa tiba-tiba Arisha menunjukkan jati dirinya. Apakah kisah sedih itu juga bagian dari strateginya mencari 'kelemahan' keluarga Darmawangsa? Atau hanya basa-basi mengisi keheningan?


Entahlah, detik itu Zoe kehilangan selera makan. Ia lebih suka mengamati Arisha yang menikmati hidangan. Baginya, melihat perempuan itu kenyang saja sudah cukup mengenyangkan.


Getar ponsel perempuan itu menyala beberapa detik kemudian. Menarik segala akses bagi Zoe memandangi Arisha. Perempuan itu tersenyum singkat, meminta ijin mengangkat telpon sebelum menghilang.


"Iya, Babe... Ini lagi makan..." suaranya yang manja nan mesra menjadi peninggalan terakhir yang menggema berulang kali di kepala Zoe Darmawangsa.