Dear Miss Tutor

Dear Miss Tutor
Bab 07. Layaknya Tuan Putri



"Duduk saja, Arisha. Saya mempekerjakan kamu bukan untuk masak, tapi mengajari Yan," Binar yang mengatur makan malam menegur perempuan itu dengan nada pelan.


"Tapi, Bu... saya cuma mau bantu."


"Sudahlah, santai saja. Saya suka kok mengurus dapur dan memasak," kalimat perintah yang dibuat sangat halus itu sukses mendiamkan Arisha.


Sebelum lanjut bercerita, ada baiknya untuk mengenali tradisi budaya di keluarga Darmawangsa. Dalam satu hari, mereka wajib berkumpul menghadiri makan pagi dan malam, tak terkecuali Riswan. Pria itu boleh kembali ke kator atau lanjut kerja di rumah selepas prosesi makan malam.


Ketetapan itu diatur sendiri oleh Binar. Kurang lebih setelah keguguran yang kedua, Binar sudah tak punya lagi kesempatan memiliki keturunan. Begitulah akhirnya tata aturan di rumah banyak yang berubah.


Menurut Binar, budaya dalam rumah tangga perlu di atur untuk meningkatkan kedekatan antar anggota. Hadir pada saat makan pagi dan malam adalah salah satu upaya. Pada kesempatan itu mereka dipersilahkan bercerita, membicarakan apapun termasuk bisnis keluarga.


Tentu mudah diterka siapa pelaku yang paling banyak bicara, Yan. Dia selalu menguasai seisi ruangan. Ibarat kata, dia sudah seperti narator yang punya segudang ide cerita. Namun lagi-lagi Zoe tidak keberatan, ia sukarela saja menyerahkan 'jatah' bicaranya pada Yan. Hitung-hitung ia punya waktu lebih untuk makan dengan tenang.


Termasuk sekarang. Hadirnya Arisha tak menghambat kelangsungan budaya mereka. Perempuan itu disambut hangat oleh Binar. Mengambil alih tahta yang biasa diduduki oleh Orlin putri si Adrian.


Mau tidak mau, Arisha terpaksa duduk dengan canggung. Riswan yang merasakan aura tak nyaman pada ruangan itu akhirnya meletakkan ponsel dan memilih fokus pada momen tersebut. Wajahnya yang mulai menua langsung menyuguhkan senyum, ramah menyambut Arisha dengan suara lembut.


"Tadi sampai di rumah jam berapa?" andaikan punya putri kandung, Riswan pasti bersikap demikian. Pria itu tak bisa menipu keinginannya memiliki anak perempuan.


"Sekitar jam sembilan, Pak."


Binar masuk ruang makan membawa dua piring di tangan kiri dan kanan, "Tanya Zoe juga, Mas, dia apakan itu Arisha di taman belakang," wanita itu menyela dengan sinisnya.


Mata Riswan langsung mengarah pada Zoe yang menggerutu dalam diam. Serius? Arisha melaporkannya? Zoe melirik Arisha yang tersenyum samar. Sialan, bukankah itu boleh diartikan sebagai bentuk perlawanan?


"Ayah pikir kita sudah bicara dengan jelas dan terbuka sebelumnya," Riswan langsun menggelar sidang, "Apa lagi masalahnya?"


"Jelas dan terbuka saja, Ayah, tidak ada kesimpulan. Itu sih namanya pengumuman, bukan pembicaraan," cetus Yan yang masih asik bertanding dalam ponsel pintar. Syukurlah dia tak seperti lelaki kebanyakan yang tuli saat indra lain bekerja. Yan punya kemampuan mendengar meski tengah sibuk beraktifitas.


"Tolong matikan ponselmu dulu, Yan. Arisha ini tutor barumu loh, minimal beri dia salam," protes Riswan.


Yan setengah berdecak, meletakkan ponselnya. Percayalah, biasanya Yan ini berperan sebagai anak yang paling patuh kepada orang tua. Dia menjadi begini karena tidak setuju dengan keputusan Riswan dan Binar. Situasinya yang seperti itu jauh lebih menyebalkan dibanding Zoe versi normal.


"Merebut ponsel Arisha dan menghapus semua koleksi foto pribadinya," timpal Binar yang kini telah duduk di kursinya, "Padahal Arisha cuma mengambil foto tanaman di taman belakang. Keterlaluan. Memangnya siapa yang mengajarimu demikian?"


Yan yang juga heran menoleh pada Zoe, sementara kembarannya itu menatap Arisha yang memasang wajah puas. Perempuan itu jelas-jelas mendeklarasikan kemenangannya lewat gurat wajah. Respon yang membuat Zoe membuang senyum masam, diikuti dengus sebal.


"Zoe..." tegur Riswan.


"Sekalipun nggak terus tujuannya buat apa? Kamu ngambil handphone dia aja udah salah. Bunda nggak bisa loh mengawasimu dua puluh empat jam di rumah. Kalau sampai kalian berdua bikin ulah dan Arisha nggak betah, kalian yang bunda suruh keluar!"


"Maaf, tapi..." Arisha berusaha angkat bicara dengan nada memelas namun Binar langsung mencegah.


"Tolong nak Arisha tidak perlu ikut campur. Kalau sampai Zoe atau Yan berulah, jangan segan juga laporkan kepada saya."


Gara-gara perkara Arisha, prosesi makan bersama keluarga hari ini menjadi kacau berantakan. Mereka purna menghadapi perdebatan-perdebatan penting yang biasanya hanya diisi oleh cerita seru Yan. Zoe memilih tidak berkomentar, sementara Yan memandangi kebarannya alih-alih menyantap hidangan.


"Terus kalo kita yang keluar, mbak Arisha mau ngajar siapa?" Yan asal saja mencomot jawaban. Mungkin misi dia berganti menjadi mengusir Arisha. Perempuan itu telah menjadi ancaman bagi mereka, "Kenapa kita jadi tanggung jawab atas ketidak-betah-annya di rumah?"


"Yan..." Riswan menyebut nama itu dengan nada yang persis sama seperti sebelumnya, "Kalau sulit bersikap baik dan sopan, minimal hormati batasan masing-masing. Arisha bisa kan tidak mengambil gambar sembarang lagi di rumah ini?" Riswan beralih.


Arisha mengangguk kecil.


"Kamar Arisha ada di sayap kiri lantai dua, dan hanya boleh di sekitar sana. Akses lain yang boleh Arisha kunjungi hanya ruang belajar, ruang makan, dapur, dan halaman depan," jelas Riswan menengahi. " Ada yang keberatan?"


Pria itu membiasakan diri bicara pada Zoe dan Yan secara diplomatis. Hal ini mungkin sangat berguna ketika mereka terjun ke dunia bisnis. Dan sedikit banyak, mereka telah terbiasa menyampakan asumsi, gagasan, solusi, juga keputusan dengan baik berkat kebiaaan ini.


"Gimana ayah bisa yakin dia nggak lancang ke sayap kanan?" Zoe bertanya diikuti ekor mata yang melirik Arisha. Perempuan itu mungkin tampak tenang, namun rahang bawah yang mengeras mengikrarkan geram yang tertahan.


Mereka seperti adu pengaduan, yang lebih dulu disadari oleh Yan.


"Ada CCTV, Zoe, itu bukan pertanyaan cerdas," tukas Riswan mudah saja menjawab pertanyaan Zoe, "Yan? Ada yang masih perlu diperdebatkan?"


Ia mengangkat bahu menerima pertanyaan, "Selama bukan lantai tiga, nggak masalah." Yan memanfaatkan kesempatan menjawab itu untuk beranjak dari Zoe yang masih perang tatap dengan Arisha. Mereka cocok menjadi lawan main dalam film romansa remaja.


"Oke, kita clear. Ayah nggak mau denger laporan nyeleneh lagi."


Akan tetapi, clear versi Riswan tentu tidak sama dengan pengertian Zoe dan Arisha. Kedunya masih berdebat dalam keheningan. Baik perempuan itu maupun Zoe sama-sama tersinggung dengan konten percakapan mereka. Khususnya Zoe.


Ia tidak terima dengan perlakuan Binar dan Riswan yang membuatnya jadi seorang putri. Perempuan ini hanya orang asing (yang berpotensi merencanakan hal buruk pada keluarga ini). Buat apa menjunjungnya terlalu tinggi?


Tidakkah cukup fasilitas mewah yang mereka sediakan untuk Arisha? Kenapa pula sampai menghakimi tindakan dirinya di acara makan malam keluarga? Menyebalkan! Selera makan Zoe hilang dibuatnya.