
Hening. Mereka mendiamkan satu sama lain.
Arisha dengan kesibukannya menyusun materi kurikulum belajar Yan untuk disetor pada Binar dan Riswan. Sementara Zoe dengan kesibukannya membolak-balikkan buku yang sama. Entah sudah kali ke berapa buku itu tamat, ia bahkan mampu kalau diminta membacakan ulang tanpa teks pegangan.
Masalahnya, Binar sedang di rumah. Wanita itu mengundang petugas kebersihan mingguan. Alhasil, Zoe dan Arisha terjebak di sana. Ruangan pengap yang lebih akrab di sebut ruang belajar.
Sampai pada titik ketika Zoe merasa muak dengan situasi yang mereka hadapi. Ia menutup buku seraya menyeret tatapan dingin. Arisha menjadi objek utamanya kali ini, Zoe tidak tahan lagi.
"Maaf soal kemarin," tegas suara Zoe mengambil alih gelombang suara.
Arisha sendiri belum beranjak dari layar laptopnya. Meski jari-jarinya terjeda sejenak, ia tak langsung berkomentar. Sengaja menantikan kalimat yang hendak Zoe lontarkan.
"Gue keterlaluan. Maaf."
Dengus napas Arisha terdengar. Perempuan itu kemudian menutup laptopnya. Membuat pandangan mereka bersitemu bebas tanpa hambatan.
"Lebih sopan bisa, nggak?"
Zoe berdecak kecil, "Maaf. Aku minta maaf."
"Mulai sekarang jangan lo-gue sembarangan. Gimanapun aku tetep tutor Yan, kan? Jadi tolong jangan salah paham. Kita bukan sedekat itu kalau disebut teman."
"Tap--"
"Nggak tapi-tapian, Zoe. Selama kamu menggantikan Yan, maka aturannya berlaku sama. Aku mau kamu juga ikut kelas, kalau memang cerdas ya sampaikan juga sekalian isi materinya ke Yan."
"No! Yang bener aja!"
"Dengar, aku tutor dan kamu bisa panggil Miss seperti Yan. Ini adalah bentuk toleransiku atas insiden semalam, atau kamu lebih suka aku lapor ke bu Binar?"
Zoe terdiam. Memutar otak sejenak. Membangun pertimbangan serta potensi dari konsekuensi yang akan dihadapinya. Menuruti Arisha dan terus menyamar sebagai Yan, atau mengakui perbuatan dan menerima hukuman Binar? Pilihan yang berat, kan?
Ia mengulas kembali ingatannya. Mencari alasan kuat yang membuatnya melangkah sebegini jauhnya. Pandangan Zoe jatuh kepada Arisha. Sebelunya mengapa ia begitu ingin memilih opsi pertama?
Di benaknya, masih ada sesuatu yang mengganjal tentang Arisha. Seolah belum terselesaikan. Perasaan yang menuntut jawaban lebih banyak dari sekadar asumsi semata. Zoe menarik napas dalam, lantas mengembuskannya perlahan-lahan.
"Aku minta maaf, Miss Arisha," tukasnya tajam, disertai geram yang tertahan.
Entahlah, Zoe mengikuti kata hatinya saja. Bukan karena ia begitu menyayangi Yan hingga sukarela menukar posisi mereka. Bukan juga karena ia suka pada Arisha. Zoe hanya ingin mengulik perempuan itu lebih lamat, menguras habis keingin tahuan hingga tiada celah tersisa.
"Good boy!"
Kursus pribadi antara Arisha dan Zoe hari itu, sempurna menjadi kelas sungguhan.
***
Esoknya, Arisha muncul di acara sarapan rutin keluarga Darmawangsa. Riswan yang masih setengah sadar akibat begadang sepanjang malam tampak sibuk mondar-mandir membantu Binar. Sementara wanita itu tengah bising beradu dengan spatula dan wajan.
Momen menghadap meja makan artinya untuk makan, bukan membawa aktifitas lain ke atas meja. Namun Yan tidak terdampak atas prinsip Zoe, mereka saling menghormati terhadap selera dan urusan masing-masing. Sementara itu, Arisha tampak canggung dalam bergeming, mungkin suasana ini yang membuatnya benci ikut sarapan.
Bagaimana tidak? Binar tidak suka diganggu saat memasak. Tak suka pula jika ada orang lain yang berupaya andil dalam prosesi penyajian hidangan, kecuali Riswan. Semua adegan itu ingin Binar selesaikan dengan sempurna, tuntas tanpa suatu hal yang tertinggal.
"Maaf lama," seru Binar memecahkan keheningan. Wanita itu menyusun piring-piring berisi lauk dan hidangan utama, "Makan yang banyak Arisha, biar ngga usah masak mi instan lagi siang-siang," celetuknya sambil menyodorkan semangkuk lauk spesial.
Arisha pun sontak langsung malu-malu, "Ah, terima kasih, Bu Binar," kekehnya.
"Santai saja. Aku tahu kalau Zoe maupun Yan merepotkanmu kadang-kadang. Tolong maklumi mereka," Binar menjawab sambil lalu seraya mengambil posisi duduknya.
Zoe mencoba mengabaikan perbincangan antara Arisha dengan orang tuanya. Sama halnya dengan Yan yang fokus mengunyah tanpa komentar, Zoe juga diam seribu bahasa. Tawa renyah ketiga orang itu bersahut-sahutan. Basa-basi yang diselipkan canda tawa.
Sampai pada satu titik ketika Arisha berdegem singkat. Perempuan itu meneguk mineral dan tak lagi menggenggam alat makan. Zoe terpaksa penasaran, menyeret ekor mata melirik ke arah Arisha yang mulai buka suara.
"Pak, Bu, malam ini saya ijin menginap di luar. Baru bisa balik sekitar besok sorean," ujar Arisha dalam satu tarikan napas.
Sejenak Riswan dan Binar beradu pandang. Keheranan tampak jelas menyelimuti wajahnya. Bahkan Yan yang sejak tadi menunduk pun mengangkat kepala. Ikut serta menantikan percakapan selanjutnya.
"Ada apa? Urusan kuliah?" Riswan menjawab dengan nada sedikit cemas, ada ketidaksetujuan dari getar suaranya.
"Gini, Arisha. Bukan kami bermaksud terlalu mengatur atau mengekang, tapi membiarkanmu tinggal di rumah ini juga bagian dari tanggung jawab kami berdua. Apalagi kami sudah berjanji pada orang tuamu di sana. Jadi, kami harap kamu tidak keberatan untuk lebih terbuka," Binar mengambil jalur aman. Memanfaatkan naluri keibuannya dengan berusaha menyentuh hati Arisha.
"Kalau penting banget ya bisa aku minta Adrian untuk cari asisten pendamping sementara. Kamu atur lagi jadwalnya, biar Adrian urus sebentar," timpal Riswan masih berusaha menawarkan solusi terbaiknya.
Akan tetapi Arisha tersenyum sopan. Bahasa tubuhnya menunjukkan rasa hormat yang teramat dalam. "Terima kasih," sahutnya hati-hati, "tapi ini masalah pribadi. Saya berjanji akan mengirimkan kabar tiap satu jam sekali sampai kembali ke tempat ini."
Tampak belum memberi ijin, Riswan dan Binar saling memandang sekali lagi. Mereka membuang napas kecil. Riswan yang sudah tidak berselera meletakkan alat makannya sementara Binar membolak-balik nasi.
"Kamu sudah kami anggap putri sendiri," gumam Binar serius berpikir.
Terus terang, baik Binar maupun Riswan tak pernah tampak seposesif ini terhadap Zoe dan Yan. Yangmana masalah sederhana ini amat penting bagi mereka. Menjaga putri orang lain tanpa pengawasan membuat mereka khawatir berlebihan.
Entahlah, mungkin karena menyangkut kisah masa lalu mereka? Zoe dan Yan khusyuk menyimak dalam bungkam.
"Terima kasih banyak, Bu Binar... tapi sungguh... saya perlu menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin. Mohon pemaklumannya, saya bersumpah tidak akan mengkhinati kepercayaan ibu dan bapak kepada saya sampai saat ini."
Mendengar hal itu, sejenak Zoe terkesiap. Perempuan itu sampai berani bersumpah hanya untuk ijin satu malam. Sebetulnya seberharga apa urusan pribadi yang dia maksudkan? Ada apa gerangan?
Usai berlarian ke halaman depan tengah malam. Kemudian kembali ke kamar dengan derai air mata. Apa yang membuatnya bersikeras ingin menginap di luar?
Bagaikan mantra, Riswan dan Binar melunak mendengar sumpah yang diikrarkan Arisha. Mereka mengambil keputusan berat. Lewat diskusi mata bersama sang belahan jiwa, Riswan akhirnya menandatangani perjanjian.
"Baiklah. Besok sore paling lambat pukul lima, terlambat semenit saja, kita sama sama tahu konsekuensinya."
Arisha tersenyum lega. Ia mengucapkan terima kasih sepanjang adegan makan siang. Namun terlepas dari itu semua, ada sosok Zoe yang diam-diam menganalisis keadaan. Dia juga telah menyusun rencana lanjutan.