Dear Miss Tutor

Dear Miss Tutor
Bab 18. Pernyataan Cinta



Pulang paling larut, Zoe mendapat sambutan tak mengenakkan di ruang tengah. Riswan yang seharusnya sudah ada di luar kota, malah duduk di samping Binar yang tengah bersindekap dada. Sementara Arisha duduk di kursi tunggal sambil menundukkan kepala, Yan memilih kursi panjang sebagai kudeta tunggal. Apakah ada jadwal yang Zoe lewatkan?


"Duduk," satu kata itu lolos dari bibir Riswan.


Zoe mengambil posisi di samping Yan, natural saja lelaki itu berbisik pada sang kembaran, "Ada apa?" akan tetapi Yan memberi isyarat agar Zoe diam. Mereka bukan dalam situasi boleh bergosip sekarang.


"Tadi waktu di kantor kenapa nggak langsung balik?"


Zoe melirik kanan-kiri, pertanyaan itu jelas mengarah padanya saat ini. Memangnya apa yang sedang terjadi? Ia tak melakukan hal buruk kecuali...


"Cuma bantu Arisha, salahnya dimana?" sahut Zoe paham kemana percakapan ini mengarah.


Dilihat dari raut wajah Arisha, tentu perkara ini merugikannya juga. Sidang dadakan menjelang tengah malam. Riswan memang senang menggelar acara begini ketika sedang terjadi masalah keluarga.


Tak langsung menjawab, Riswan menyodorkan tablet pintar yang menampilkan headline berita. Disertai pula dengan fotonya yang menggamit pinggul Arisha di lobi perusahaan. Seketika itu Zoe tidak kuasa berkata-kata, ia tak mengira hal seperti ini bisa terjadi padanya.


"Imbasnya? Saham anjlok parah. Acara luar kota cancel, bunda sama Yan gagal ikut pesta makan malam, dan pengeluaran tambahan untuk menyumpal media," Riswan menjelaskan dengan nada dan raut datar.


"Lagian buat apa Arisha ke kantor segala?" kini Riswan beralih pada Arisha, "Ada perlu apa sampai bawa laki-laki nggak jelas ke sana? Kamu tahu, dia juga sempat buat keributan!"


Suara Riswan yang sedikit meninggi ditenangkan oleh sentuhan tangan Binar. Suasana tegang menyelimuti mereka semua. "Dan kamu tahu apa yang lebih buruk dari itu semua?" Riswan menambahkan, "Nama Yan ikut kebawa-bawa. Kita semua tahu siapa yang paling playboy di antara kalian berdua!"


Zoe melirik Yan yang langsung mengangkat bahunya, "Mereka pikir itu gue," bisik lelaki itu amat pelan.


"Maafkan saya, Pak," Arisha menyeletuk lirih, ia bahkan tak mengangkat wajahnya sama sekali. "Saya tidak bermak..."


"Bukan salah Arisha," Zoe memotong kalimat perempuan itu begitu saja, membuat seluruh pandang kembali jatuh padanya (termasuk Arisha). Toh, dimana salahnya? Arisha bahkan tak tahu kalau Zoe ada di kantor sang ayah.


Belum sampai Zoe melanjutkan kalimat, ia membaca gelagat Arisha yang memohon agar tak membocorkan perkara Roland kepada Riswan dan Binar. Entah seberapa besar perasaan cinta perempuan itu pada sang belahan jiwa. Membuat Zoe terpaksa mendengus sambil memutar bola mata.


"Terus salah siapa?" Binar yang sudah tidak sabar ikut membuka suara.


Sekali lagi Zoe membuang napas, "Cuma salah paham, Bunda."


"Ya, kenapa pakai acara rangkul-rangkul segala?" tukas Binar mulai kesal menghadapi anak lelakinya yang super irit kata-kata.


"Ya karena suka!" Sepatah kalimat dari Zoe sukses mendiamkan seisi ruangan. Tentu itu jawaban yang tidak terduga bagi semua orang, si kulkas 1000 pintu sedang bicara soal perasaannya? Yang benar saja!


"Tunggu dulu..." Riswan memijat pelipisnya guna meminimalisir rasa terkejut, "Terus unsur membantunya dimana, Zoe? Salah pahamnya apa? Terus apa hubungannya sama suka? Bicara yang jelas."


Awalnya dia berniat menyampaikan perihal lelaki itu pada Binar dan Riswan agar Arisha tak memiliki akses bertemu. Namun melihat Arisha memohon seperti itu, ia mana sanggup? Sekarang alasan yang ia buat semakin tidak masuk akal kalau dirangkai menjadi satu. Hal yang membuatnya lagi-lagi mendengus, berdebat dengan isi kepalanya yang terlanjur merasa malu.


"Mas Zoe kira itu pacar saya, Pak. Jadi Mas Zoe ngajak saya pergi dengan cara seperti itu, tujuannya supaya dia cemburu. Maaf, Pak... Bu... teman saya itu memang kalau bicara agak kasar, jadi wajar kalau Mas Zoe salah paham."


"Giliran tanya Zoe, Arisha yang jawab. Tadi tanya Arisha Zoe yang jawab. Sejak kapan kalian akrab?" Riswan kini lebih tertarik pada hubungan mereka alih-alih isu yang beredar. Ada yang tidak beres rupanya, mengapa Yan yang menjadi murid private Arisha malah tidak tampak dekat?


"Terus maksudnya suka?" Binar masih mencari jawaban dari poin yang terlewat dari alibi mereka berdua.


Zoe yang didesak pertanyaan itu mengedarkan pandang sejenak, menatap Arisha, Riswan, Binar, dan berakhir pada Yan yang sudah tersenyum usil mengejeknya. Sial, sial, tentu dalam percakapan ini yang perlu dikhawatirkan adalah Yan. Lelaki itu pasti sudah siap menjahilinya sampai tutup usia.


"Ya karena aku suka Arisha. Emang ada ya cowok yang diem aja kalau perempuannya didekati lelaki sembarangan?"


Sontak Binar ikut memijat pelipisnya. Kejadian itu tak masuk dalam list dugaan Binar. Ia malah berpikir kalau Zoe akan membuat Arisha tidak betah tinggal di sana. Bukan malah suka, apalagi jatuh cinta! Bisa lebih bahaya kalau tinggal satu rumah.


Semantara Yan sudah terkekeh puas tanpa suara, Riswan memandang Zoe dan Arisha bergantian. "Kalian nggak pernah berhubungan bad... maksudku tidur bersama, kan?"


Pipi Arisha memerah. Begitu pula Zoe yang wajahnya sudah memanas. Mereka kopak berteriak, "Tidak!" membuat Riswan bisa bernapas sedikit lebih lega sekarang.


"Kalau begitu kalian istirahat sana, nanti biar ayah dan bunda yang mikirin soal memperbaiki nama baik Yan. Astagaa.. kalian nggak boleh tidur bareng sebelum Zoe lulus SMA!" omel Riswan panjang lebar.


Arisha hanya pamit sekilas, dan langsung berlarian menuju kamar. Alasan Zoe sungguh membuatnya malu bukan kepalang. Dia berulang kali mengatakan sialan, bagaimana perempuan itu bisa membawa harga dirinya di hadapan Riswan dan Binar sekarang?


Di sisi lain, Zoe berusaha terlihat biasa saja. Meski telinganya sudah berisik oleh suara 'cie-cie' dari Yan. Lelaki yang super usil itu bahkan mengekori Zoe sampai di depan pintu kamar. "Stop, Yan!" komentarnya singkat dengan wajah yang dibuat amat datar.


Namun Yan bukan orang yang peduli masalah begituan, ia tetap ngeyel dengan ambisinya mengejek Zoe Darmawangsa. "Aku suka Arisha. Cielaah.. gentle juga lo, Zu!"


"Nggak gitu ceritanya," sahut Zoe ketus.


"Tapi perasaan lo emang gitu, kan?" goda Yan masih dengan nada suara yang menyebalkan. Membuat Zoe untuk kesekian kalinya memutar bola mata.


"Tapi emang lo belum pernah tidur sama dia?"


Kali ini kesebaran Zoe telah sampai pada batasnya. Ia hendak melayangkan satu hantaman ke pipi Yan kalau saja lelaki itu tidak dengan gesit melarikan diri ke kamar. Jangankan tidur, menggandeng tangan perempuan saja Zoe tidak pernah! Satu-satunya yang berhasil Zoe lakukan hanyalah menggamit pinggul Arisha.


Dan sialnya, satu adegan itu justru mendatangkan malapetaka!