Dear Miss Tutor

Dear Miss Tutor
Bab 10. Bertukar Posisi



Zoe tak pernah tertarik pada kehidupan sekolah. Maka tak perlu dikonfirmasi ulang mengapa kehidupan remaja itu hanya berkisar soal Arisha. Beberapa hari belakangan, perempuan itu mencuri perhatiannya.


Jika Zoe biasa berkutat pada buku, tanaman, main ke perusahaan, juga kursus-kurusus lainnya, maka kini tentang Arisha. Tidak akan menarik juga kalau Zoe mengulang-ulang cerita tentang empat perkara di atas. Selain membosankan, mungkin Zoe pribadi juga enggan. Ia bisa kehilangan pesona di mata pembaca.


"Gue nggak banyak ngomong pas kelas bareng Arisha," jelas Yan sebelum pulang sekolah. Lelaki itu hendak menghadiri pertunjukkan bola di gedung olahraga provinsi selagi Zoe menggantikan dirinya.


"Pelajarannya cuma ini?" Zoe menimpali sambil membaca catatan Yan. Dalam kasus ini, Zoe juga meniru gaya berpikir Yan, pengetahuan dia, serta tingkat kebodohannya. Jadi analisis singkat perlu dilakukan.


"Ya. Mungkin buat dia gue setolol itu," acuh tak acuh Yan menyodorkan seragam pada Zoe, "Gausah banyak tanya, gue kemari totally diem doang."


"Tumben."


Yan memutar bola mata sinis, "Nggak tertarik. Lagian mencurigakan darimananya sih? Yang banyak telpon kemarin juga paling pacar dia yang posesif atau orang tua mungkin."


"Buat apa pacar posesif itu tau rinci lokasi? Tambahkan soal dia yang memotret rumah tanpa ijin. Gue juga ada pertimbangan sebelum cari informasi."


Pada akhirnya, Yan mendengus kecil. Percuma juga bicara dengan Zoe kalau dia sudah ingin mencari tahu sesuatu dengan kesadarannya sendiri. Ia hanya berbisik lirih, melayangkan komentar usil, "Kalo suka ya suka aja sih." Lantas berlari meninggalkan lelaki itu sambil tertawa tengil.


Zoe pribadi tidak ambil pusing. Kelakuan aneh Yan bukan sesuatu yang penting. Selepas dari sekolah, ia punya kesempatan berhadapan langsung dengan Arisha. Jadi semoga... semoga saja ia menemukan setitik jawaban.


***


Yan benar. Entah sudah kali berapa ponsel milik perempuan itu bergetar. Namun seakan bukan masalah, Arisha terus melanjutkan pembelajaran. Abai pada getar yang sangat mengusik ruangan.


Tentu mulanya Zoe menyimak materi yang disampaikan Arisha, tapi sepertinya Yan juga benar soal yang ke-dua. Mungkin ia sungguh berpikir Yan tak bisa apa-apa. Ini hanya pembelajaran matematika anak Sekolah Menengah Pertama. Buat apa mengulang pelajaran yang sudah lewat?


Kalau boleh sedikit sombong, Yan hanya malas. Zoe sendiri mengakui bahwa sebetulnya potensi mereka seimbang. Meski ketertarikan akhirnya memisahkan mereka, tapi tak ada yang benar-benar sebodoh itu di keluarga Darmawangsa.


"Sampai sini ada pertanyaan?" Arisha menoleh pada Zoe, sementara lelaki itu buru-buru menyeret matanya dari ponsel yang menggugah perhatian sejak tadi.


Ia hanya mengangguk kecil, gelagat yang entah mengapa malah membuat Arisha mendekatkan diri.


Matanya menyipit, mungkin juga sedikit memincing. Tangan yang disendekapkan pada dada menegaskan gelagat yang sulit Zoe prediksi. Arisha fokus mengamati.


"Kenapa diam saja dari kemarin?" pertanyaan itu terlontar tanpa mengalihkan pandang sama sekali.


Zoe menatapnya balik, santai saja ia berlagak seperti Yan yang friendly, "Masih gampang. Kalo gue bingung ya tinggal nanya aja sih. Kenapa musti beralasan spesifik?"


Tak langsung berkomentar, perempuan itu mengangguk-anggukan kepala. Sorot matanya tak sedikitpun beranjak, konsisten beradu dengan Zoe Darmawangsa.


"Mau yang lebih susah?" ia bertanya.


Kalimat tanya dari Arisha sempat membuat Zoe dilema. Andai itu untuknya, maka tentu 'iya' adalah jawaban akurat. Tapi kelas ini dibuat untuk Yan, ia tidak boleh menjawab sembarangan.


"Lanjutin sesuai kurikulum lo aja. Gue nggak mau ribet, apalagi diaduin ke bunda. Bisa masalah," sahut Zoe selues mungkin, diikuti bahu yang bersamaan dengan senyum tipis.


Lagi-lagi perempuan itu memberi respon anggukan mengerti. Semua terasa mudah bagi Zoe, sampai ketika Arisha sedikit membungkukkan badan. Condong di depannya hingga wajah mereka berjajar, ia baru tahu kalau ada yang tidak beres sekarang.


Satu kalimat itu sukses membekukan wajah Zoe. Untuk ukuran orang yang baru beberapa kali menjalin interaksi, bagaimana bisa ia membedakan Zoe dan Yan? Mereka kembar identik dan Zoe telah berakting sangat baik.


Bahkan orang tua mereka saja masih sering salah mengenali. Bagaimana perempuan ini bisa menilai secara akurat hanya dalam hitungan menit?


Zoe menelan saliva susah payah. Mencoba mengendalikan air muka yang entah sudah tampak seperti apa di mata Arisha. Ia mengais ingatan perihal respon Yan jika dihadapkan pertanyaan demikian. Namun perempuan itu lebih dulu bersuara.


"Gue nggak peduli alasan kalian bertukar posisi, tapi gue butuh Yan untuk memenuhi standard kompetensi."


Binar memang selalu menetapkan standard kompetensi. Hal ini bertujuan untuk menilai impact dari kehadiran tutor yang dia pilih. Salah satu output-nya adalah nilai Yan membaik. Yangmana itu berarti, akan sangat rugi jika Zoe mengambil alih kelas ini.


Zoe berpikir cerdik, untungnya ponsel perempuan itu bergetar lagi. Dalam situasi seperti sekarang, pembelaan diri tidaklah penting. Pembenaran hanya dianggap alibi. Oleh karena itu Zoe tersenyum dan ikut mendekatkan diri. Jarak mereka sisa lima jemari.


"Bicara soal kompetensi, bukannya lo udah gagal kualifikasi?"


Zoe bangkit. Ia menyambar ponsel yang sudah membuat tangannya gatal sejak tadi. Sekilas saja ia membaca nama kontak yang tertulis. 'Love, Babe' tertera di layar kunci.


"Menurut lo ini layak diampuni?" cibir Zoe sinis.


Posisi mereka berbalik. Atau jika diibaratkan pertandingan maka boleh dibilang seri. Kini giliran Arisha yang memasang wajah emosi. Ia menyambar ponsel pribadinya dari genggaman Zoe.


"Pacaran di tengah sesi pembelajaran. Gitu kan cara lo laporan?" giliran Zoe yang bersindekap dada, menyandarkan tulang ekor pada nakas sambil mengamati Arisha yang kelabakan mencari jawaban. "Gue penasaran reaksi bunda," imbuhnya.


Kelemahan Arisha adalah uang. Maka ada dua kemungkinan yang mengharuskan perempuan itu tetap berada di rumah ini untuk waktu yang lama. Yang pertama yaitu pekerjaan dari bunda (menjadi tutor Yan) yang menghasilkan gaji empat kali lipat.


Dia butuh uang itu entah untuk apa. Jumlah nominal yang menggiurkan tentu saja. Oleh sebab itu maka, alasan berikutnya adalah pekerjaan lain dari kompetitor Grup Wangsa. Menjadi mata-mata, mencari titik lemah guna menghancurkan Darmawangsa.


Ada peluang gaji yang lebih besar di sana. Lagipula musuh mereka juga bukan satu dua. Mudah saja bagi mereka untuk patungan menyewa Arisha sebagai pion umpan sebelum menyerang.


Jadi dalam konteks ini, Arisha kalah.


Ia terpaksa diam seribu bahasa. Mendiamkan Zoe serta ponselnya yang terus bergetar.


"Kenapa diem? Nggak diangkat?" Zoe mengejeknya.


Sekalipun Arisha menjawab pertanyaan itu lewat tatapan tajam, Zoe paham betul jika ada ketidakberdayaan terlukis di sana. Penilaian Zoe tepat. Arisha membutuhkan pekerjaan ini dengan alasan yang akurat.


Sementara itu, Arisha berusaha menahan geram lewat rahang bawah yang mengeras. Perempuan itu kesal setengah mati dengan tingkah laku bocah di hadapannya. Namun sayang seribu sayang, ia terpaksa mengeluarkan kalimat keramat yang selalu melukai harga dirinya sebagai manusia.


"Mau lo apa?" Arisha menyerah.


Mendengar pertanyaan itu, Zoe semringah. Ia persis meniru gaya Arisha. Badannya membungkuk sedikit ke depan, intens mengunci pandangan.


"Arisha Danita, lo siapa?"