
"Swin Zoe."
Tak perlu repot-repot menyebut nama keluarganya, seisi sekolah sudah tahu identitas Darmawangsa berkat ulah Yan. Sepasang kembar identik keturunan konglomerat kenamaan. Mereka berhasil menjadi bahan pembicaraan tak kurang dari dua puluh empat jam.
Sejak memulai sekolah formal pertamanya, Zoe sudah menolak gagasan berada satu sekolah dengan sang adik kembar. Bukan, bukan karena malu memiliki saudara dengan karakter bertolak belakang. Apalagi tak nyaman dengan rupa mereka, sama sekali bukan. Zoe lebih terganggu dengan cara Yan menikmati popularitas.
Yan adalah tipe manusia yang tak pernah ragu melambaikan tangan saat perempuan-perempuan centil berteriak kepadanya. Tak heran, membawa latar belakang keluarga selalu menjadi ulah Yan tiap kali memulai tahun ajaran baru di sekolah. Baginya, itu adalah hak istimewa yang haram disia-siakan.
Prinsip ini jauh berbeda dengan Zoe. Ia lebih suka hidup tenang, tanpa embel-embel nama Darmawangsa dalam menjalani kehidupan. Dia lebih suka menjadi sederhana, dipandang normal sebagaimana manusia pada umumnya.
Namun belum sempat ia duduk di kursi usai perkenalan, seluruh penjuru sekolah telah gempar. Bahkan di kelas ini pun Zoe tak bisa menghindar. Mata penuh penilaian, penghakiman, pujaan, juga kebencinan. Mereka tidak pernah benar-benar ingin mengenal. Satu-satunya hasrat mereka adalah rasa penasaran.
Zoe tidak pernah tertarik menjadi pusat perhatian.
Kabar buruk yang harus Zoe terima adalah ketika Binar sang ibunda memaksakan kehendak untuk menyekolahkan mereka di sekolah biasa. Dengan petuahnya yang tidak dilandasi penelitian ilmiah, wanita itu menegaskan bahwa momen menjadi pelajar jauh lebih penting dibanding mengenyam pendidikan. Logika Zoe tidak lagi berguna kalau sudah berhadapan dengan Binar.
Wanita itu bahkan sering memborong jajanan di depan sekolah hanya untuk dibagi-bagikan. Kelakuannya persis sama dengan Yan yang ikut masak di rombong pedagang. Bagaimana bisa ibu dan anak menjadi pasangan yang begitu sempurna?
Masih banyak alasan-alasan lain yang membuat Zoe benci dengan kehidupan sekolah. Yang tak kalah penting dengan dua sebelumnya adalah kisah percintaan seorang Yan. Iya, Swin Yan Darmawangsa. Jumlah mantan pacar lelaki itu tak bisa lagi dihitung dengan tolak ukur angka.
Usia kencan terlama versi Yan hanyalah satu bulan. Rekor itu patut dicetak sebagai muri terbaik sepanjang masa. Meski konyolnya, ia tak keberatan menceritakan hal bodoh tersebut pada semua orang. Apalagi kalau tahun ajaran baru seperti ini, Yan menjadi lebih intensif mencari target untuk dikencani.
Yah, kurang lebih bagitulah asal usul istilah Zoe si kulkas 1000 pintu tercipta. Lelaki itu minim bicara, hampir tidak pernah tertawa, dan nyaris tanpa air muka. Datar. Satu-satunya pembeda yang mampu dikenali ketika Binar atau Riswan kesulitan mengenali mereka.
Sesi perkenalan berlalu begitu saja, bukan hal yang penting bagi Zoe. Termasuk pelajaran berikutnya, lalu berikut dan berikutnya. Dia sudah tamat mempelajari seisi buku berkat bantuan tutor asal Amerika yang dipilih langsung oleh Riswan sang ayah.
Tutor bule itu adalah bentuk negosiasi antara Zoe dan Riswan. Demi mengabulkan semua aturan Binar tentang pendidikan Zoe dan Yan, Riswan menawarkan fasilitas khusus sesuai minat yang mereka inginkan. Tak butuh waktu lama bagi Zoe untuk langsung sepakat.
Ia mengambil seperangkat kursus cepat, kelas musim panas, pelatihan, seminar, segala hal yang bisa memenuhi pengetahuannya di bidang ilmu pengetahuan. Riswan juga sering mengajaknya andil dalam urusan bisnis perusahaan. Bagaimanapun, Wangsa Group butuh generasi penerus yang kompeten dan berpengalaman.
Sementara Yan, ah... apakah perlu membahas bocah itu di cerita milik Zoe? Dia jelas tidak tertarik dengan yang begitu. Kalau boleh dideskripsikan dengan cara yang paling sederhana, kelebihan Yan ada tiga: musik, seni, dan olahraga.
Sama seperti Zoe dengan kemampuannya memahami ilmu pengetahuan, Yan bisa melakukan tiga kelebihan itu secara natural. Segala jenis musik bisa ia mainkan. Olahraga model apapun telah ia jajal, bahkan iseng-iseng bertanding pun dia bisa menang.
Sepertinya sudah cukup bicara soal Yan. Kembali pada Zoe yang sedang menunggu angkutan.
Keuntungan dari sekolah umum biasa alias negeri adalah pulang cepat. Zoe punya waktu lebih untuk memperdalam ilmu-ilmu lain di rumah. Rutinitas yang bagi sebagian orang mungkin menjemukan itu merupakan surga bagi Zoe Darmawangsa.
Memangnya ada ya yang lebih seru dari membaca atau diskusi dengan orang cerdas?
Paling tidak sampai klakson panjang dari mobil Brio milik sang ayah membunyikan klakson panjang. Zoe memutar bola mata, ia selalu tahu pelakunya. Tokoh yang sempat muncul juga pada novel sebelumnya. Pemegang peran penting sebagai penasihat Riswan Darmawangsa (Novel Menikahi Putri Kecil Bestie).
"Pulang denganku atau angkutan?" Adrian sedikit berteriak, diikuti longok-an usil dari kursi penumpang.
"Dia lebih suka angkutan, Dad. Biar saja," perwmpuan di sampingnya tertawa.
Baiklah, mari diulas sedikit mundur ke belakang. Dia adalah putri sulung Adrian, hanya beda satu tahun dengan si kembar Zoe dan Yan. Adrian sendiri merupakan orang kepercayaan Riswan, tangan kanan pemangku kekuasaan tertinggi di struktural bisnis Grup Wangsa.
"Jangan dengarkan Orlin, Zoe, naiklah! Tidak akan ada angkutan, sekarang sudah jamannya pakai taksi online kemana-mana."
Sejujurnya, Zoe juga punya cukup alasan untuk menolak. Utama di antaranya adalah Orlin si berisik banyak tanya. Perempuan itu masuk dalam daftar hitam karakter orang yang tidak Zoe suka. Bergabung bersama Yan dan ibunda mungilnya, Binar.
"Buruan, Zu! Naik ya naik, kenapa masih mikir segala sih? Aunty Binar sudah nungguin dari tadi!" pekik Orlin mulai emosi. "Awas aja kalo nggak jadi!"
Orlin merupakan tipe orang yang selalu punya cara untuk membuat Zoe kesal. Entah dari tingkah lakunya, tutur kata, sampai sekadar cara dia bernapas. Di mata Zoe, semua tampak menyebalkan. Lebih lagi kalau Yan sudah ikut mengambil peran. Tamat sudah kehidupan Zoe Darmawangsa.
"Ada perlu apa?" singkat saja Zoe membuka suara setelah duduk di kursi belakang.
Adrian terkekeh ringan, melirik Zoe dari kaca spion atas, "Seperti biasa. Persis seperti yang sudah kau duga."
Sekalipun jawaban Adrian terdengar sopan, serta dibumbui kekeh ringan di akhir kalimat, Zoe tahu kalau jawaban itu merupakan petaka. Zoe mendengus kasar, menyeret matanya beralih pada lalu-lalang. Lupakan soal surga, buku, atau ilmu pengetahuan.
Sebab hari ini, Binar menggelar pesta hari pertama masuk SMA!