
"Keluar."
Singkat, padat, dan datar. Reaksi yang Arisha tunjukkan membuat Zoe malah terdiam. Dalam situasi terjepit seperti ini, apa yang harus dia lakukan? Memberi penjelasan, berlutut meminta ampunan, atau pergi begitu saja?
Iris tajam Arisha lurus menatap Zoe yang masih merenungkan tindakan. Perempuan itu kemudian masuk tanpa menutup pintunya. Membuat Zoe bisa melihat lebih jelas matanya yang sedikit sembab.
Jarak mereka sisa sejengkal, Arisha mendongak, "Aku bilang keluar."
Kini suaranya menjadi lebih pelan. Terdengar seperti gumam namun menyusup gendang telinga Zoe secara sempurna. Rahang bawah perempuan itu mengeras, membahasakan amarah yang tercekat di kerongkongan.
"Gu-gue..."
"Keluar," tukas Arisha menyela tanpa mengubah tempo nada, "Aku nggak selera."
Dengan perasaan campur aduk, Zoe terpaksa menyeret kakinya meninggalkan ruangan. Selain rasa bersalah, ia juga tak mau membangunkan seisi rumah. Riswan, Binar, apalagi Yan bisa salah paham. Situasi itu bukan hanya rumit untuk Zoe, tetapi juga Arisha.
Ia menoleh sekali lagi begitu sampai di ambang pintu kamar. Perempuan itu masih berdiri di tempat yang sama. Jangankan melingak, bahkan sekadar mengangkat kepala saja... Arisha seperti tidak kuasa.
Benarkah kecurigaan Zoe salah? Kalau ternyata Arisha tak melakukan misi apa-apa, dan hanya sungguh bekerja di sana... tidakkah Zoe masuk kategori kurang ajar?
Bahkan sejauh ini, Zoe belum memegang bukti nyata. Selain asumsi-asumsi, tak ada hal yang layak untuk diperdebatkan. Zoe jelas kalah telak, apalagi pasca melihat Arisha berlinang air mata.
Ada apa gerangan?
Sembari beranjak, semua gulana itu Zoe telan bulat-bulat. Dia tak punya alasan untuk tetap di sana. Sementara tanpa sepengatahuan Zoe yang sudah lenyap, Arisha terduduk tanpa suara. Ia telah patah.
***
Satpam yang bertugas menjalankan titah Zoe menyampaikan bahwa, kemungkinan besar lelaki itu adalah pacar Arisha. Mereka sempat berdebat, adu mulut, dan saling mengumpat. Sampai akhirnya Arisha masuk ke mansion meninggalkannya.
Pesan tersebut diketik singkat, tanpa pendukung suara atau video gambar. Zoe gelisah, mencari alternatif kemungkinan tentang apa yang terjadi pada Arisha? Gelagatnya saja sudah aneh, bukan?
Oke, anggaplah Zoe mencabut segala rasa curiga. Tetapi tidakkah hubungan romansa Arisha terlalu janggal? Menghubungi setiap saat, posesif, ingin tahu secara rinci dan detail tempat kerja Arisha. Bahkan sampai nekat datang! Banyangkan...
Lelaki itu seolah ingin membuktikan sendiri pengakuan pacarnya. Mengunjungi mansion mewah keluarga Darmawangsa walau sudah larut malam. Mencari kebenaran, membuktikan bahwa Arisha tidaklah berdusta.
Kalau sampai benar begitu skenario kehidupan Arisha, maka kacau sudah harga diri Zoe dihadapannya. Arisha pasti memandang Zoe sangat kekanakan. Lelaki tujuh belas tahun yang implusif dan mengandalkan ambisi mengacu pada perasaan dalam mengambil tindakan.
Bagaimana Zoe bisa menghadapi Arisha? Apalagi hari ini adalah gilirannya memerankan Yan di kelas Arisha, kan? Zoe tidak sanggup membayangkan kecanggungan yang harus dihadapinya.
Meski dia bukan tipe orang yang suka kabur dari masalah, tapi kasus ini berbeda. Konflik yang Zoe hadapi adalah kesalahpahaman. Urusannya bukan soal solusi atapun jalan kelar, melainkan meluruskan perasaan orang lain dengan simpati dan empati sesama manusia.
Bagi Zoe, perkara ini tidak mudah. Lebih-lebih, Arisha adalah orang asing yang tidak bisa ia prediksi karakter dan tingkah lakunya. Zoe dalam kegalauan panjang, sampai ia menemui Yan untuk membicarakan soal pertukaran posisi mereka.
Sarapan pagi belum digelar, Zoe buru-buru naik ke lantai tiga selagi Binar dan Riswan sibuk memasak hidangan. Sementara batang hidung Arisha belum terlihat. Kemungkinan besar ia ijin lagi tidak mengikuti prosesi sarapan.
"Yan," Zoe tak perlu mengetuk pintu untuk menyerobot masuk ke kamar Yan. Seisi lantai tiga hanya dikuasai olehnya, buat apa Yan mengunci kamar? Kehadiran Zoe membuat lelaki yang baru selesai mandi itu terkesiap.
"Apa sih, Zuu?!! Lo banyak tingkah deh beberapa hari belakangan. Heran."
Peduli amat. Komentara Yan tak mengurungkan niat Zoe yang sudah bulat. Ia mendekat, lantas menangkup pundak Yan tegas dengan kedua tangan. "Hari ini gue nggak mau tukeran!" tandasnya tegas.
Spontan saja Yan menepis dua tangan Zoe dari sisi kanan dan kirinya, "Nggak!!" tolak Yan mantap, "Gue ada jadwal latihan. Kalau ijin bunda bakal kena ceramah, dan situasi ini sudah jadi kesepakatan kita. So, nggak! Kecuali lo yang ikutan futsal."
"Gila!"
"Yaudah sih, kenapa pake acara nggak mau tukeran segala?!"
Zoe terdiam.
"Gara-gara Arisha? Ada apa lagi sekarang?" selidik Yan.
Akan tetapi, dengan segala jurus Zoe memilih bungkam. Ia memutar otak untuk menyusun strategi agar tidak berduaan dengan Arisha. Walau hari ini dia menjadi Yan, pasti ada cara untuk menghindair kelas, kan?
"Lo yang aneh, Zu, bukan Arisha. Nggak ada yang salah sama dia. Sepanjang gue ikut kelas, dia nggak pernah tuh bersikap mencurigakan. Lagian soal telpon itu, bisa jadi memang pacar atau keluarganya. Lo harus tau, Zu, mencintai seseorang itu sama artinya dengan ingin tau tentang hari-hari orang tersebut," jelas Yan seraya bersiap, mondar-mandir dari satu sisi ke sisi lain kamarnya sementara Zoe diam di tempat yang sama.
"Mungkin bagimu berlebihan, tapi bagi orang yang menjalani hubungan hal itu wajar. Sebagai orang yang udah tamat pacaran sama berbagai jenis perempuan, harus gue akui kalau hal-hal kecil seperti itu selalu berhasil membuat mereka merasa diperhatikan, berharga. So, jangan ambil pusing, Zu. Santai aja, hidup ini nggak semenyeramkan yang lo pikirkan."
Yan yang kini telah berseragam rapi menjeda kegiatan, berhadapan dengan Zoe yang hanya memandangnya dalam bungkam. "Lo suka kan sama Arisha?" tanya lelaki itu kemudian.
Detik itu juga tiba-tiba Zoe lupa dengan cara menelan saliva. Ia tersedak. Batuk-batuk melurusan lajur antara pernapasan dan pencernaan. Sementara itu, Yan santai saja. Lelaki itu malah bersindekap dada dengan wajah datar.
"Lo bukan curiga, Zu, tapi penasaran. Bantah deh kalo gue salah," katanya.
Namun bukannya menjawab, batuk Zoe semakin parah. Membuat pipi dan matanya memancarkan rona kemerahan. Yan sih santai saja, sebab pada dasarnya, pada momen-momen tertentu membaca gelagat Zoe amatlah mudah.
"It's oke kalo lo masih malu ngaku. But, please... dibanding Arisha, coba deh curigai diri lo dulu. Kenapa harus seambis itu? Padahal bunda dan ayah aja nggak ragu, kenapa lo yang sibuk cari tau?" Yan menutup kalimat dengan seulas senyum.
Dan sambil menepuk-nepuk singkat lengan kanan Zoe, Yan berbisik usil, "Sampai ketemu nanti siang, Yan. Selamat bersenang-senang..."
Zoe mendengus berat. Mengutuk dirinya yang tak mampu membantah satupun kata yang Yan sampaikan. Lelaki itu pasti merasa menang, dan sukses menghakimi perasaan seorang Swin Zoe Darmawangsa. Sial! Bagaimana mungkin Zoe menyukai Arisha?!