
"Paman bilang dia cantik," bermodalkan satu kalimat, Zoe nekat masuk ke studio musik milik Yan.
Lelaki itu memukul durm elektrik sembarangan. Tak mempedulikan nada, suara sumbang, juga alunan musiknya yang memekakkan telinga. Dalam situasi seperti ini, yang diharapkan dari Zoe bukan kesabaran. Melainkan rasa tidak tahu diri untuk tetap diabaikan.
"Emangnya lo nggak pengen ya mewarisi Wangsa pake kemampuan sendiri?"
Cibiran yang diucap tanpa berteriak itu malah berhasil mendiamkan Yan. Ia termenung sejenak. Mengolala kata-kata yang diucapkan Zoe dengan saksama. Jika sudah begini, maka Zoe boleh bernapas lega. Karena menit selanjutnya, Yan akan mengajaknya duduk bercengkrama.
"Harus ya kita jadi pewaris Wangsa?" gumam Yan pelan, dia tidak bertenaga. "Entah kenapa gue lebih bangga jadi anaknya doang. Punya bapak begitu kan keren kalo diceritain ke banyak orang."
Zoe dan Yan nyaris nihil membahas percakapan barusan. Mereka secara natural menghindari soal harta warisan. Seolah menjadi aturan tidak tertulis, mereka enggan membahas soal alih kepemimpinan.
Namun mau dikata apa? Itu sudah menjadi garis hidup mereka. Mau tidak mau, suka tidak suka, hanya masalah waktu saja mereka dihadapkan perkara demikian.
"Terus lo mau apa? Jadi musisi? Atau pelukis aja? Lo bahkan nolak tawaran jadi atlet di sekolah. Terus maunya apa?"
"Kita masih kelas satu SMA, Zu!"
"Percepatan waktu kita nggak sama, Yan!" tukas Zoe dengan tatapannya yang menajam, "Dari awal start hidup kita udah ada di angka 95, dan target kita bukan lagi angka 100 seperti orang kebanyakan!"
"Terus maksud lo, gue musti belajar ilmu yang nggak gue suka sementara lo nggak perlu melakukan sebaliknya? Kenapa gue harus dan lo nggak?!"
Mereka nyaris tidak pernah berdebat. Karakter Zoe yang tenang tak pernah terpancing oleh arogansi Yan. Namun terus terang, kalimat itu menyinggung perasaannya.
"Karena sejak awal tujuan kita memang ke sana, Yan."
Senyum kecut Yan mengembang. Tentu ia sudah hapal di luar kepala kalau itu jawabannya. Tetapi bukan itu konflik yang ingin ia sampaikan. Yan belum menemukan tujuan hidupnya, dan ia tidak mau mendapat tekanan tanggung jawab sebesar itu sebelum bersiap.
"Lo aja yang ambil alih Wangsa. Gue ogah."
"Gue butuh lo!"
Singkat saja Zoe menggunakan jurus itu untuk mencuri harga diri Yan. Lelaki dengan tipe gila wanita yang suka tebar pesona dan mencintai popularitas seperti Yan ini mudah ditebak. Tak ada yang lebih penting dari harga dirinya.
"Dan lo berharap gue luluh?"
Zoe semakin yakin dengan arah pembicaraan itu, "Lo berharap gue ngapain sih?"
Seringai usil Yan muncul dalam hitungan detik, "Gantiin gue pas lagi pengen main."
Bukan hal yang sulit diterka, bertukar posisi selalu menjadi ide cemerlang bagi Yan kala menghadapi masalah. Terakhir kali mereka melakukannya saat kelas delapan. Saat Yan menelan remidial hampir di semua mata pelajaran. Gagasan gila itu akhirnya disepakati Zoe dengan harga mahal. Yan dipaksa bersikap layaknya Zoe selama satu semester di sekolah.
Lumayan menguntungkan. Akibatnya, Yan selalu pulang larut malam untuk melepaskan diri di luar sekolah. Kala itu Binar sangat kerepotan. Mengganggu kinerja Riswan yang sedang mengalami krisis perusahaan.
"Gue siap kok berperan jadi lo di rumah, atau mau di sekolah lagi? Nggak masalah," Yan mulai aktif bernegosiasi. "Gue nggak nuntut lo belajar musik, lukis, atau olahraga, cuma gantiin gue di beberapa kesempatan."
Pada dasarnya bukan masalah, selama Yan bisa bersikap layaknya Zoe selama proses pembelajaran. Tapi pada akhirnya buat apa? Tujuan utama kursus ini adalah agar Yan siap menghadapi problem perusahaan. Zoe jadi berpikir dua kali sebelum sepakat.
"Itu aturan dasar," sahut Zoe tegas.
"Terus?" transaksi jual beli kesepakatan masih berjalan. Yan mulai terbawa, rasa penasarannya membulat sempurna.
"Gila! Sama aja dong?"
"Atau lo lebih suka menang juara lomba bidang IT?"
"Damn! It was pretty crazy!"
"It's your decision, Dude!"
Zoe hanya memberi opsi, bukan masalah juga kalau Yan tidak menyetujui. Permainan ini mungkin akan lebih menarik selagi Zoe menyelidiki tujuan utama Arisha bekerja di sini. Urusannya menjadi sedikit lebih praktis. Bebas dari Yan yang berisik, sekaligus dapat ilmu dan informasi. Kerugian pada dirinya nyaris nihil.
"Kalau gue gagal semester ini?" Yan mulai berpikir sedikit lebih kritis. Ia enggan terjebak oleh permainan Zoe yang selangkah lebih ahli.
"Kita berangkat ke luar negeri."
Yan mendelik, "Buat apa keluar negeri?"
"Sekolah. Belajar bisnis. Gue nggak mau mimpin perusahaan seabrek itu sendiri."
Lagi-lagi Yan berdecak kecil. Ia masih menyiasati keuntungan yang bisa diambil. Walau tak sebaik Zoe, Yan bisa juga belajar untuk mencapai peringkat, masalah kecil. Yang menjadi dilematik di sini adalah waktu Yan yang jadi termakan habis. Dia butuh kesempatan bersenang-senang lebih banyak lagi.
"Minimal 10 besar, deal?" begitulah perhitungan Yan mencapai titik solutif. "Dan lo wajib bantuin tiap kali gue butuh peran pengganti."
Tidak apa, toh waktu Zoe lebih banyak dihabiskan di rumah. Asalkan Yan mau memperhatikan sedikit soal akademisnya, ia sepakat. Zoe menjulurkan tangan, menandatangani kontrak tidak tertulis yang hanya bisa dilakukan oleh mereka. Yan tersenyum lebar, sementara Zoe merayakan kemenangan.
Satu semester tanpa gangguan Yan adalah surga.
***
Di tempat lain yang hanya memuat Binar dan Riswan, wanita itu memijat pelipisnya. Pesta memang berjalan lancar meski tidak sesuai harapan. Ia pusing memikirkan cara untuk membujuk Yan yang merajuk pasca pengumuman mendadak.
"Aku nggak ada maksud menyinggung dia, Mas. Respon begitu juga di luar ekspektasiku loh, untung Zoe bantuin ngomong. Aku jadi nggak enak sama si Arisha," keluh Binar semakin gigih memijat tengkuk.
"Lagian mereka itu mewarisi gen siapa, sih? Tempramennya nggak ada ampun. Yang satu datar, satunya lagi jelek banget kalau marah. Susah ya menghadapi remaja!" monolog itu lebih tepat jika hanya didengar. Jangan sampai Riswan salah memberi komentar.
"Kamu lihat sendiri kan tadi, Mas. Yan seperti punya kepribadian ganda! Ngeri lihatnya."
Riswan yang sejak tadi khusyuk pada diamnya hanya mengelus lembut punggung Binar. Mendengar dengan saksama seolah purna memahami amarah Binar. Sesekali ia juga menyisir rambut Binar dengan jemari tangan, menenangkan wanita itu lewat sentuhan.
"Kalau dia berontak lagi seperti kelas delapan kemarin gimana, Mas?" Binar bertanya, menoleh pada sang suami dengan mata sedikit berkaca, "Aku khawatir kalau dia jarang pulang."
Dengan seulas senyum teduh, Riswan mengecup punggung tangan Binar. Menyalurkan ketenangan lewat manik mata yang beradu. Riswan sangat mencintai wanita itu.
"Aku percaya pada Zoe dan Yan, Binar. Bisa nggak kalau kamu percaya juga?" sahut Riswan dengan nada rendah, terdengar dalam dan syahdu di telinga. Pria itu kemudian menyibak helai-helai rambut Binar, mengunci iris sang istri yang sejak tadi gelisah.
"Mereka adalah putra Darmawangsa, Binar. Aku yakin mereka pasti menemukan jalan hidupnya. Tugas kita hanya mengarahkan, menuntun, membimbing dan menyediakan pilihan. Lepas dari itu, percayakan saja pada mereka."
Malam itu gulana Binar mereda, dan malah jatuh ke pelukan sang belahan jiwa. Dalam kehidupan ini, Binar tak pernah menyesali keputusan menikahi Riswan. Pria itu bukan hanya kehidupan, melainkan juga tempat pulang dari peliknya dunia.