Dear Miss Tutor

Dear Miss Tutor
Bab 02. Pesta Anak Perjaka



Mungkin sebagian orang belum tahu bentuk rumah utama keluarga Darmawangsa. Bangunan di atas tanah puluhan hektar itu merupakan Mansion mewah di pinggir kota yang menyajikan pemandangan indah. Dari gerbang menuju halaman utama, mata pengunjungnnya akan disambut oleh tanaman hias seharga milyaran rupiah.


Jangan lupakan soal air mancurnya. Megah, mewah, dengan puluhan ikan koi mahal yang dikoleksi langsung oleh almarhum Greg Darmawangsa. Tempat yang kini telah disulap oleh Binar menjadi pesta taman.


Dibantu juru masak andalannya, wanita itu sibuk ke sana ke mari mengatur keperluan. Tidak banyak yang datang, tentu saja. Sebab Binar pasti tak selera berdebat dengan putranya. Mengundang lebih banyak orang sama artinya dengan mengundang amarah Zoe Darmawangsa.


"Hei, Zu!" itu suara Yan. Datang dari pintu gerbang dan langsung merangkul pundaknya. Tak banyak drama, lelaki itu langsung sumringah. Tertawa renyah kala matanya mengeja tulisan dari spanduk yang dipasang memanjang.


"Pesta anak perjaka," renyah tawa Yan riang, "Sorry, Dude. Gue suka banget pesta beginian!!"


Bukan hal yang mengherankan. Yan berlari menuju jajaran menu sembari menyambut Orlin yang andil membantu Binar. Perempuan itu akrab betul dengan nyonya besar Darmawangsa. Lebih mirip sebagai kakak tertua Zue dan Yan. Dan secara alamiah, Yan bisa langsung bercanda dengan Orlin tanpa perlu usaha.


Lagi-lagi Zoe hanya membuang napas panjang. Ekor matanya menyapu sekilas keberadaan sang ayah yang menyambut kehadiran kakek dan neneknya. Keluarga kecil Zoe sedikit lain memang. Riswan sang ayah menikahi putri dari sahabat karibnya.


Sulit dinalar, bahkan terkesan tidak masuk akal. Dan sekalipun dideskripsikan, maka menyulitkan narator yang bercerita. Atau singkatnya begini, ayah Zoe dan kakek neneknya merupakan sahabat karib. Hubungan mereka sempat rumit, namun membaik usai Zue dan Yan lahir.


Maka mereka bisa saling berbincang lagi, bertukar cerita serta pemikiran yang tak menarik perhatian Zoe sama sekali. Ia lebih suka melangkah pergi. Mengendap-endap agar jejak kakinya tidak sampai terdengar oleh Binar. Walau sialnya, wanita itu punya indra ke sembilan. Suaranya yang melengking berhasil menahan langkah Zoe sejenak.


"Ganti baju terus keluar, Zoe! Jangan buat bunda marah di tengah pesta!!!"


Peduli amat. Zoe melanjutkan langkah seolah kalimat itu hanyalah angin lewat. Ia masuk menyusuri bangunan yang berisikan lebih dari sepuluh kamar. Berjalan lurus ke sayap kanan, melintasi ruang makan dan ruang belajar milik Binar. Kamar milik Zoe berada pada satu petak setelahnya, terpisah jauh dari milik Yan.


Dulu, bangunan ini dihuni banyak pelayan. Di atur oleh seorang kepala pelayan yang sempat merawat Zue dan Yan juga. Namanya Bu Minah. Wanita itu langsung mengajukan pensiun sesaat setelah Zue dan Yan masuk Sekolah Menengah Pertama. Ia mengaku rindu kampung halaman.


Sekarang, bangunan seluas itu murni hanya ditinggali oleh mereka berempat. Mereka diberi kebebasan menyulap ruangan manapun menjadi tempat bersenang-senang. Kalau Yan menguasai lantai tiga untuk studio musik, foto, lukis, dan gym, maka Zoe hanya membuat perpustakaan di samping kamarnya menghadap ke teras.


Selain itu, Zoe juga mengambil alih rumah kaca. Memperbanyak tanaman obat-obatan sekaligus memelihara kelinci di sana. Lelaki itu mewakili simbol dari hidup tenang. Rendah, merakyat, dan menyatu dengan alam.


"Masalahnya, aku butuh pekerjaan ini, Babe!"


Zoe yang telah sampai di depan pintu kamar terdiam. Suara seorang perempuan menggema di ruang makan. Dengus frustasi menyusul kemudian, "Mana ada sih aku selingkuh? Kurang-kurangi deh pikiran negatif kamu!"


Rasa penasaran Zoe tergugah. Siapa gerangan? Orlin tidak punya pacar dan itu sudah diklarifikasi langsung oleh Adrian yang posesif pada putrinya. Yan juga tak mungkin membawa perempuan asing ke rumah. Dan kalau dia bicara tentang pekerjaan, maka hanya Binar sang ibu yang paling potensial menjadi pelaku utama.


Tapi buat apa? Mereka bahkan tak butuh tukang masak atau petugas bersih-bersih rumah selama Binar masih hidup dan bernapas.


Sekalipun setengah berbisik, kalimat itu dengan jelas sampai ke telinga Zoe. Itu mencurigakan, tentu saja. Meski hampir seluruh penjuru sekolah tahu informasi soal keluarga Darmawangsa, tak banyak masyarakat awam yang secara spesifik mencari tahu tentang mereka. Mustahil kalau Binar menceritakan itu pada calon pegawainya. Wanita itu lebih sering memperkenalkan diri sebagai putri keluarga Alvero alih-alih Darmawangsa.


Perempuan itu masih khusyuk menyimak panggilan ketika Zoe (akhirnya) mengintip di perbatasan dapur dengan ruang makan. Kehadiran Zoe di sana tentu luput dari perhitungannya. Ia bahkan memunggungi keberadaan Zoe yang telah memulai penyelidikan.


Sosok berambut panjang itu menyibak helai-helai yang jatuh di keningnya, berdecak sebal seraya menantikan giliran bicara. "Sudah dulu, ya?" ia menyela, "Aku kabari lagi kalau bisa pulang."


Kalau bisa pulang? Apa maksudnya?


Kalimat terakhir dari percakaan perempuan itu tentu mencurigakan. Zoe bahkan tidak berani memprediksi ulah Binar sang ibunda. Apa lagi rencananya? Setelah membuat pesta dadakan, apakah wanita itu akan menyewa pengasuh baru untuk mereka? Yang benar saja!


Perempuan itu bahkan terlalu muda untuk bisa dijadikan pengasuh anak SMA!


Perawakannya masih sangat belia. Andai boleh menduga sedikit lebih cepat, Zoe memperkirakan usianya ada di angka 25 sampai 27-an. Lagipula untuk apa memperkejakan pengasuh dengan gaji sampai empat kali lipat?!


"Zuuu!!!" Yan berteriak. Ia pasti mendapat titah dari sang ibu untuk menyeret kembarannya.


Dalam hitungan detik perempuan itu beringsut menyembunyikan dirinya. Entah apa yang membuatnya panik menyelipkan badan. Zoe yang acuh tak acuh langsung menyambut Yan tanpa menimbulkan kecurigaan.


"Belom ganti baju?" komentar lelaki itu sambil mengamati Zoe dari atas ke bawah. "Jangan kabur, ya! Gue males diomelin ayah."


Zoe melirik perempuan itu sekilas, "Lo nggak ngundang cewek, kan?"


"Gila lo, nggak lah. Buruan! Sepuluh menit lagi makanannya udah siap."


"Anak sekolah juga nggak, kan?"


"Yaelah, Zu! Ribet banget sih jadi orang? Nggak. Gue juga baru tahu tadi pulang sekolah. Lagian Orlin aja udah lebih dari cukup buat ngeramein acara. So, please, buruan keluar."


Kalau Yan sudah menunjukkan ekspresi malas sambil memutar bola mata, artinya ia berkata benar. Yangmana sekaligus membawa fakta bahwa perempuan itu memang bagian dari ide Binar. Yan berlalu usai menuntaskan kata, membuat sosok yang bersembunyi bisa bernapas lega.


Perempuan itu kemudian perlahan-lahan meninggalkan ruangan. Sebisa mungkin tak meninggalkan suara. Untuk sementara, Zoe mungkin gagal menerka motif utamanya bekerja di kediaman Darmawangsa selain uang. Tapi kecurigaan itu tak memudar, Zoe pasti menyelidikinya.