
"Mulai hari ini, Arisha tinggal di sini."
Binar menyempatkan diri membuka suara sambil mondar-mandir menyiapkan menu sarapan pagi. Riswan yang ikut membantu tidak mengambil topik. Ia membiarkan Binar menguasai situasi.
"Kenapa harus tinggal?" Yan lebih dulu berkomentar. Lelaki itu sudah berakting layaknya Zoe sejak insiden kemarin siang. Yah, meski belum secara resmi bertukar, ia harus membangun nuansa seolah memang beginal Yan yang sesungguhnya.
"Pertama, dia tinggal di luar kota," sambil menyusun estetika kerapian menu sarapan, wanita itu menjawab.
"Kedua, rumah ini punya banyak ruangan jadi mustahil kalau aku menyuruhnya cari kontrakan. Ketiga, Mansion kita terpelosok dari akses angkutan. Dan yang terakhir, keempat, dia bisa membantu Yan kalau susah ngerjain tugas. Jelas?"
Cara itu selalu berhasil. Binar bahkan tak menyadari kalau yang barusan bicara adalah Yan si tengil. Zoe yakin kalau kembarannya itu bersorak dalam hati. Merasa menang atas sandiwaranya kali ini.
"Yakin dia bisa dipercaya?" kali ini Zoe yang bertanya. Suaranya tidak dibuat-buat, dingin dan datar.
Mendengar pertanyaan itu seketika Binar menjeda aktifitas. Ia mendengus sebal seraya menoleh pada Zoe yang masih menatapnya. Atau mungkin lebih tepatnya menatap ke posisi Zoe yang tak pernah berubah. Mereka sudah saling sepakat jika haram hukumnya bertukar kursi makan.
Hal ini dilakukan karena Zoe dan Yan masing-masing memiliki alergi makanan yang berbeda. Jadi mata Binar bisa langsung menuju ke arah yang tepat tanpa perlu memperhitungkan wajah. Ia mengira kalau sejak tadi bicara dengan Zoe seorang.
"Dia anak didik binaan Grup Wangsa. Ayahmu sendiri yang datang survei ke rumahnya sebelum menyepakati beasiswa. Jadi jangan cari gara-gara," omel Binar panjang lebar.
"Terus Bunda gaji dia empat kali lipat?" Tetapi Zoe tak lantas bungkam. Ia bukan penurut, pesis sama seperti Yan. Pada dasarnya Zoe juga bisa berontak, apalagi kalau sudah berurusan dengan logika Binar. Ia nyaris tak pernah sepakat, mereka gemar berdebat.
Binar yang mulai kesal pun memutar bola mata, "Itu setimpal, kan? Satu kali dua puluh empat jam! Kapanpun Yan butuh, Arisha siap sedia. Sudahlah, apa artinya uang segitu buat pendidikan Yan?"
"Tunggu dulu," Yan menyela. "Bukannya itu berlebihan ya? Maksudku, dia sudah dapat beasiswa, gaji empat kali lipat, serta tinggal di sini cuma-cuma. Lagipula aku bukan anak bodoh yang tidak bisa menghitung satu tambah satu sama dengan dua, Bunda. Apanya yang setimpal?"
Sejauh ini, Yan masih mahir mengendalikan nada bicaranya agar terdengar mirip dengan Zoe. Meski sesungguhnya mustahil juga Zoe bisa protes sepanjang itu pada Binar. Lelaki itu irit sekali soal urusan kata-kata. Zoe lebih mencintai kalimat singkat, padat, dan menusuk hati pendengar.
Akan tetapi kalau boleh sedikit difokuskan, Zoe tahu alasan Yan protes bukan berlandaskan kecurigaan yang sama. Yan mementingkan diri di atas segalanya, dia pasti enggan tertekan dengan kehadiran tutor yang memantau pendidikannya 24/7 tanpa jeda. Oleh karena itu rajuknya makin jelas, Yan menolak gagasan Binar mentah-mentah.
"Dia punya spesifikasi khusus di bidang IT, Zoe, Yan," Riswan menyela. Tanda kalau dia sudah tidak tahan mendengar istrinya diserang. "Ayah mau kalian belajar darinya, terkhusus Yan. Potensimu mungkin bisa dikembangkan ke sana, sementara Zoe ke bidang Management Bisnis dan Ekonomi perusahaan."
"Tapi nggak perlu sampai menginap segala, kan? Aku bukan balita!" tukas Yan mulai meninggikan suara.
Riswan memandang dua putranya bergantian, "Dengar, Zoe punya banyak tutor, guru, sampai dosen via daring dari manca negara. Kamu cukup satu, Yan, jadi tolong bantu kami mengembangkan bisnis ini dengan kemampuan yang kamu punya."
"Kalau aku menolak?" Yan bersikeras mengajukan perdebatan.
Itu memang karakter asli Yan saat merasa kebebasan dirinya terancam. Bukan hal yang mengejutkan, dan Zoe tak berniat juga melerai perdebatan mereka. Lelaki itu sibuk mengaitkan isi telpon perempuan itu dengan pengetahuan orang tuanya.
Sebagai pacar, apa untungnya mengetahui seluk beluk keluarga Darmawangsa? Itu tidak masuk akal. Kecuali jika dari awal mereka sudah menyusun sebuah rencana kejahatan. Oh, ayolah, Zoe tak bisa menutup kemungkinan seperti itu, kan? Peluangnya ada, konteksnya jelas, dan uang menjadi pemicu utama.
"Sejak kapan dia ambil beasiswa?" Zoe memotong pertanyaan Yan pada sang Ayah yang masih menggantung di udara.
Sungguh, Zoe tidak peduli dengan situasi yang ia hadapi sekarang. Dia butuh jawaban itu untuk memenuhi kepingan puzzle di kepala. Kecurigaannya juga lebih penting dibanding transaksi kesepakatan Yan yang ingin berkelit.
Riswan membuang napas pendek, "Ayah tahu keputusan ini amat mencurigakan. Apalagi kalian sudah biasa dengar soal sejarah panjang keluarga kita, tapi..."
"Sejak kapan? Aku hanya butuh jawaban itu, Ayah," Zoe yang tak punya tata krama itu lagi-lagi menyela tanpa perasaan berdosa. Ia memasang wajah datar seolah bukan masalah bersikap demikian.
Tentu Binar hendak ikut menjawab, namun Riswan menahannya. Percakapan akan semakin sulit jika Binar manggunakan sisi emosionalnya pada dua remaja ini. Bukannya solusi, bisa-bisa mereka sekeluarga menggelar perang dingin.
Sekali lagi Binar memandang Zoe dan Yan bergantiannya. Kini manik matanya lebih tajam. Lekat mengunci mereka pada satu titik yang sama. "Yang perlu kalian ingat adalah selama masih berada di rumah ini, kalian mengikuti aturan ayah dan bunda," begitulah Riswan membuka kalimatnya.
"Sejak kalian lahir hingga tumbuh sebesar sekarang, kalian sudah menjadi urusan Grup Wangsa. Ketertarikan, minat, kecenderungan, bakat, potensi ke depan, analisis remeh seperti itu lengkap ada di tangan Adrian. Jadi untuk pertanyaan Yan, dalam konteks ini kamu tidak berhak menolak."
Riswan sudah hafal betul kalau tujuan Yan adalah mengajukan tawar - menawar, meminta kelonggaran. Tapi kali ini ia bersikap tegas. Mengambil langkah ekstrem untuk mendisiplinkan remaja itu ke jalur akademik agar lebih berkembang.
Pandangannya beralih pada Zoe yang menunggu jawaban juga. Pada dasarnya, Riswan juga memaklumi pertanyaan barusan, itu adalah karakter dasar Zoe sejak belia. Dibanding Yan yang spontan, mengalir, dan cenderung tak berpikiran panjan. Zoe memang lebih waspada, hati-hati, dan berpikiran jauh ke depan.
Dan sebagai ayah, Riswan memilih mengalah dan menanggapi pertanyaan Zoe sekadarnya. "Mulai saat Sekolah Menengah Atas, tepatnya saat dia lolos lomba karya ilmiah yang disponsori Grup Wangsa. Apakah sudah jelas, Zoe Darmawangsa?"
"Sampai kapan dia tinggal?" tak seperti Yan yang sudah bungkam seribu bahasa, Zoe masih sudi mengajukan pertanyaan.
"Satu semester kedepan," Riswan juga tak punya alasan untu tidak menjawab.
Namun jawaban itu membuat mata Yan membola, rasa kesal di dadanya menggunung dengan keputusan kedua orang tua mereka. Tanpa banyak bicara, lelaki itu menyambar tas sekolah. Meninggalkan ruang makan tanpa ingin mendengar penjelasan imbuhan.
Yan sudah mencapai satu kesimpulan, bahwasannya konflik ini tak menemukan titik terang. Bagaimana dengan rencana tukar posisi saat hendak kursus privat? Lambat laun perempuan itu akan menyadari perbedaan karakter di antara mereka. Lagipula, Yan bisa gila kalau harus memerankan karakter Zoe tanpa jeda sampai enam bulan.
Membaca gelagat itu, Zoe buru-buru mengejar saudara kembarnya. Sembari memikirkan titik tengah yang mungkin bisa mereka sepakati ulang. Pada konteks ini seharusnya mereka saling membutuhkan. Zoe harus menemukan jawaban atas kecurigaannya, sementara Yan butuh kebebasan.
Mereka harus bekerjasama. Membangun aliansi kuat sebagai sepasang saudara kembar.
"Yan, gue ada ide cemerlang," kalimat itu sukses menghentikan langkah kaki Yan.