Dear Miss Tutor

Dear Miss Tutor
Bab 13. Kelabu Samar



"Kalian mau tuker-tuker identitas gini sampai kapan?"


Arisha duduk di kursi pengajar, sementara Zoe berdiri membuang tatapan ke jendela. Perempuan itu langsung tahu begitu Zoe masuk ke ruangan. Gaya Yan dan Zoe amat mudah dikenali olehnya, bahkan meski mereka berusaha tampak serupa.


"Gue harus gimana kalau bu Binar tanya progres pembelajarannya Yan?" keluh Arisha kembali bersuara. Walau ia tahu Zoe mengabaikan, gagasan soal ide ini harus diperjelas, "Gue nggak ikut campur yaa..."


Sementara itu, Zoe yang setia memandang hamparan tanaman di luar sana menarik napas panjang. Matanya kini beredar di angkasa. Menyaksikan mentari yang berusaha menyingsing di tengah gempuran awan gelap.


"Pacaran udah lama?" dibanding menanggapi kalimat Arisha, Zoe lebih suka mengajukan pertanyaan menyimpang. Lagipula tak bisa disebut 'menyimpang' juga, sebab perkara itu sangat mengganggunya.


Bukan, tolong jangan salah paham. Pertanyaan itu diajukan bukan karena Zoe tertarik kepada Arisha sebagai 'wanita' melainkan pancingan. Dia perlu mengetahui sejauh apa perempuan itu mau membagikan kehidupan pribadinya. Dengan begitu, ia bisa menyusun langkah lanjutan untuk mencari pembuktian.


Catat baik-baik, mustahil Zoe menaruh rasa pada Arisha. Itu tidak masuk akal. Dia hanya tutor mencurigakan yang entah darimana datangnya. Sebatas itu saja, Zoe hanya penasaran.


Sepersekian detik, Arisha bergumam, "Uhmmm..." sedikit panjang, ia seperti mengulur waktu mengelola jawaban, "Penting dijawab ya? Gue kira lo sepakat waktu pak Riswan bilang kita harus menjaga privasi masing-masing pihak."


Sudah Zoe duga, perempuan itu berkesempatan memutar-balikkan pertanyaan. Seraya mengelola ucapan lanjutan, Zoe memutar badan menghadap Arisha. Rupanya ia telah menambatkan padang pada Zoe duluan, membuat mereka kini saling bertatap.


"Tapi lo tetep curiga, kan? Jadi mau nggak mau, gue harus tetep jawab," ujarnya.


Zoe tak berkomentar. Respon wajahnya yang datar membuat Arisha mendengus berat. Perempuan itu tidak tahu lagi bagaimana cara memutar balikkan reputasi buruknya di mata putra Darmawangsa. Ia hanya tak sanggup menghadapi situasi seperti ini lebih lama.


Namun, "Nggak masalah," Zoe malah mencegah Arisha bicara, "Kalau itu privasi, gue bisa apa?" acuh tak acuh ia mengangkat bahunya.


Rasa penasaran Zoe sama besarnya dengan gengsi yang terpendam dalam jiwa. Ia ingin mendengar jawaban, sekaligus enggan tampak agresif menunjukkan keingintahuan. Dia harus mengendalikan diri supaya terlibat biasa saja, tidak mencolok namun menyusun rencana.


"Oke. Gue asumsikan nggak perlu cerita. Jadi balik ke pertanyaan awal, sampai kapan lo sama Yan bakal tukeran tempat?" Arisha bersindekap dada, menyandarkan badan pada punggung kursi, bersikap sedikit lebih santai sekarang.


"Sampai lo pergi, yang jelas."


"Ooh... dia nggak suka sistem pembelajaran gue ya? Atau nggak suka belajar? Menurut pendapat gue, dia pasti bisa jadi expert dalam waktu singkat kalau mau serius sama yang dia suka," natural saja Arisha membangun perbincangan.


"Kenapa lo mau jadi tutornya Yan?"


Sambil berpikir, Arisha membenahi posisi duduknya, "Realistisnya sih gaji, lepas dari itu, gue hutang banyak sama bokap lo, pak Riswan. Jadi gue pikir cuma ini jalan terbaik buat balas budi."


Penjelasan itu langsung membuat Zoe meringis, "Balas budi?" cibirnya sinis, "Yakin?"


Arisha tersenyum tipis, "Bukan tugas gue meyakinkan lo, Zoe. Gue nggak ngerti kenapa lo menaruh banyak curiga. Yang jelas, it's me. Nggak ada drama di hidup gue."


Zoe tidak boleh percaya.


"Berhubung Yan nggak ada dan lo nggak mungkin gue ajarin juga. Gue mau istirahat deh. Lo pasti juga ada kegiatan lain, kan? So, bye-bye," Arisha bangkit dan langsung pergi meninggalkan Zoe. Sementara Zoe belum berkutik, hanyut dalam pikirannya sendiri.


***


Zoe merenung seharian. Apakah boleh kecurigaannya berakhir sampai sini saja? Rasa-rasanya tiap cerita yang terlontar dari Arisha amatlah nyata. Dia tampak seperti anak biasa-biasa yang kebetuluan punya otak gemilang.


Tujuan hidup Arisha memang hanya uang. Jadi mau digiring kemanapun, ia akan menjawab pertanyaan yang sama. Maka yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah orang yang terus menerus melepon Arisha.


Kalau memang pacar, mengapa telponnya selalu berdering seperti teror? Masalahnya, bagaimana kalau bukan 'pacar' sungguhan? Seperti orang yang bermaksud jahat misalnya. Oknum yang mengetahui latar belakang Arisha dan memanfaatkan perempuan itu guna memperkuat pertahanan melawan keluarga Darmawangsa.


Ada sekian juta kemungkinan yang wajib Zoe pertimbangkan.


Malam itu, di tengah kelabu pikirannya, Zoe yang tengah menyesap kopi pada sesi istirahat malah mendapati sosok Arisha buru-buru turun dari tangga. Langkahnya dibuat teratur dengan minim suara sampai pintu utama. Lantas berlarian ditelan kegelapan.


Zoe tidak mengejarnya, tidak akan. Otak Zoe bukan tercipta untuk membodohi sang empunya. Lelaki itu menuju ruang CCTV yang hanya bisa diakses mereka sekeluarga. Menyoroti kemana langkah perempuan itu berjejak.


Jarak bangunan utama menuju pagar kurang lebih sekitar 500 meter melewati hamparan pepohonan. Yang sepertinya tidak menjadi halangan bagi Arisha. Perempuan itu mencurahkan seluruh tenaga agar lekas mencapai tujuan.


Mata Zoe setia mengikutinya, sampai ketika Arisha berinteraksi dengan empat satpam yang berjaga. Perempuan itu berhasil lolos untuk menemui sosok yang tidak begitu jelas di kamera. Zoe memperbesar gambar, menunjukkan lelaki berpakaian hitam tanpa melepaskan pelindung kepala.


Arisha terlihat serius bertukar pesan. Tiada sentuhan atau pelukan sayang, yang boleh diterjemahkan kalau lelaki itu bukan pacar Arisha. Mereka bercakap-cakap lumayan lama, Zoe mengirim pesan pada salah satu satpam agar sedikit mendekat dan menguping pembicaraan mereka.


Pada momen ini, percuma kalau Zoe hanya mengamati CCTV yang menampilkan Arisha. Dia perlu melakukan investigasi langsung ke kamar perempuan itu selagi ia keluar. Zoe bergerak cepat dan waspada, khawatir kalau-kalau Binar, Riswan, atau Yan masih berkeliaran.


Untungnya, Zoe berhasil masuk tanpa halangan. Ia sempat terpaku saat menyadari ruangan itu telah disulap layaknya kamar anak perempuan. Ternyata Binar memang telah mempersiapkan kehadiran Arisha. Perbaikan intens beberapa waktu lalu fokus memperbaiki kamar.


Oke, lupakan.


Selidik mata Zoe berkilat. Ia menuju nakas, memeriksa laci-lacinya yang mungkin saja menyisakan sebuah pertanda. Surat mungkin, pesan, atau foto usang yang berpotensi menjadi barang bukti pendukung asumsinya. Sebisa mungkin Zoe tak melewatkan celah-celah, bahkan sampai pada bawah ranjang.


Sialnya tidak ada, membuat Zoe berdecak kesal. Ternyata lihai sekali perempuan itu bermain belakang. Membuat usahanya pada titik ini terasa sia-sia.


Dan tepat ketika seutas pesan dari satpam yang dihubungi Zoe datang, pintu ruangan terbuka tanpa pertanda. Zoe yang berdiri di tengah-tengah pun tertangkap basah. Sementara perempuan dengan linang air mata yang masih bercucur itu terkesiap.


"Apalagi sekarang?" getar suaranya terdengar amat kecewa. Saat itu juga Zoe sadar bahwa dirinya sudah keterlaluan.