Cute Badboy

Cute Badboy
Posisi Macam Apa Ini?



Ceklek.


Ketika Cia dan Zayyan keluar dari ruang BK. Di depan ruangan itu sudah berkumpul cowok-cowok idola di SMA itu. Cia tercengang melihat Samuel dari dekat. Cowok itu tidak bergerumbul menguping seperti lainnya. Dia bersandar di dinding sambil bermain handphonenya.


"Gila ganteng banget anjr.." batin Cia.


"Heh! Kedip!" ucap Vinna sambil memetikkan jarinya tepat di depan muka Cia.


"Sialan! Ngapain Lo berdua disini? Terus mereka..." Cia tidak melanjutkan kalimatnya. Mata cewek itu menatap satu persatu cowok yang ada disana. Terdapat Diego juga diantara mereka.


"Heh! Duit!" panggil Cia.


"Sialan." desis Diego. Siapa coba yang tidak malu dipanggil seperti itu di depan teman-temannya. Ya, Diego memang yang paling muda di Los Galacticos. Lainnya sudah kelas 3. Hanya Diego yang masih kelas 2. Walaupun begitu mereka tetap akrab.


"Haha! Duit!" Gebi dan Vanno kompak meledek Diego.


"Diam kalian!" semprot Diego dengan kesal.


Zayyan hanya diam menyimak pembicaraan mereka. Memang sih, predikat cowok kutub di SMA Pelita Cahaya itu dipegang oleh Zayyan kemudian Samuel. Mereka sama-sama balok es. Bedanya Samuel good boy sedangkan Zayyan bad boy.


"Udah ah! Ayo pergi!" Cia menarik Diego pergi dari sana. Vinna dan Vanno langsung mengikuti mereka. Btw, Cia nggak tahu kalau Diego satu circle sama Zayyan. Cia cuma tahu Diego masuk anggota OSIS.


Setelah Cia, Diego, Vinna dan Vanno pergi.


"Kita dengar semuanya." ucap Mahen.


"Serius Lo bakal nikah sama dia?" tanya Andra.


Zayyan mengangguk.


"Kita gak di kasih kesempatan sama sekali gitu? Buat buktiin kalau kalian dijebak?" tanya Gebi.


Zayyan menggeleng. "Gak percaya kalau itu settingan." jawab Zayyan singkat.


"Dih, kok gitu?" tanya Gebi dan Mahen bersamaan.


"Mereka hanya mau mendengar apa yang mau mereka dengar. Dan melihat hat apa yang mau mereka lihat." sahut Samuel.


"Jadi, intinya Lo gak ada pilihan lain kecuali nikah sama Cia?" tanya Andra memastikan.


"Hm, bukannya kalian udah nguping tadi?" tanya Zayyan balik dengan ekspresi yang sedatar tembok. Cowok itu terlalu malas membuka mulutnya untuk menjelaskan semuanya. Setelah mengatakan itu Zayyan langsung pergi dari sana.


*


Hari ini Cia dan Zayyan dipulangkan lebih awal dari yang lainnya. Dan hari ini juga mereka berdua di ajak membahas masalah pernikahan mereka di rumah Cia.


"Mom dad. Serius kalian gak percaya sama Cia?" tanya Cia memelas.


"Mommy percaya. Tapi pihak sekolah pasti nggak percaya" jawab Hanna.


"Sekolah sudah memberi keringanan. Kalau orang lain pasti sudah di keluarkan dari sekolah." sambung Richard.


"Lagian Tante sama mommy kamu sudah sahabatan sejak kelas 1 SMA. Gak papa kalau kamu jadi menantu tante." ujar Sella membujuk Cia.


"Emang dia mau gitu?" tanya Cia sambil menunjuk Zayyan menggunakan dagunya.


Seketika semua mata tertuju pada Zayyan. Cowok itu terlihat bodo amat. Bahkan dia dengan santainya bermain handphone tanpa memperhatikan pembicaraan saat ini.


"Zay, kamu setuju kan?" tanya Sella.


"Bilang setuju atau marga Maheswara papa cabut dari nama kamu." bisik Vincent.


Zayyan langsung membelalakkan matanya mendengar hal itu. Benar-benar gila. "Ngebet bener mereka mau nikahin gue sama tuh bocah." batin Zayyan. Mata cowok itu beralih ke mamanya. Sella terlihat tersenyum mengancam dirinya.


"Hahh... hm." akhirnya Zayyan tidak punya pilihan lain selain mengangguk menyetujui hal itu.


"Gak ada pilihan lain." batin Zayyan sambil menatap malas Cia.


Dua orang tersebut seolah berkomunikasi lewat tatapan mata mereka. Sampai-sampai orang tua mereka berdua bingung melihat Cia dan Zayyan yang saling memelototi.


"Baiklah, Daddy putuskan pernikahan kalian berlangsung besok." ucap Richard.


Cia dan Zayyan langsung menoleh ke arah Richard. Shock? Tentu saja. Bisa-bisanya secepat itu. Kan bisa lusa. Kenapa harus besok? Itu yang ada di pikiran mereka berdua. Ketika Cia dan Zayyan hendak mengucapkan sesuatu.


"Gak usah protes!" ucap Hanna dan Sella bersamaan.


Cia dan Zayyan langsung kicep.


"Cia, ajak Zayyan ke kamar kamu!" ucap Richard.


"Iya dad." Cia memelototi Zayyan sambil tersenyum. Kemudian menarik tas cowok itu agar mengikuti dirinya. Sedangkan Zayyan, cowok itu hanya pasrah.


"Han, nanti malam Cia biar nginap di rumah aku aja." ucap Sella.


"Kenapa? Biar bercocok tanam duluan gitu?" tanya Hanna dengan spontan.


"Sialan. Otakmu! Dari dulu belum pernah dicuci kayaknya."


Hanna langsung tertawa ngakak. Mengingat ketika masih SMA memang otaknya sekotor itu. "Iya dah, terserah." jawab Hanna.


Jangan kaget, Hanna dan Sella waktu masih duduk di bangku SMA hobi mengoleksi link haram. Bahkan sampai di panggil ke ruang BK gara-gara hal itu. Para suami hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.


Di sisi lain Cia tidak mengajak Zayyan ke kamarnya. Cewek itu mengajak Zayyan ke perpustakaan rumah. Tempat dimana Cia biasa bersantai setelah pulang sekolah. Bukan untuk membaca buku, tetapi untuk tidur.


"Jangan harap Lo, gue izinin masuk ke kamar gue!" ucap Cia sambil menunjuk Zayyan.


Zayyan memutar bola matanya malas. Kemudian duduk di kursi yang ada di dekat jendela. Disusul Cia yang ikut duduk di sampingnya.


"Ingat ya! Kalau Lo nikah sama gue kamar nya harus pisah!" ujar Cia.


"Hm."


"Satu lagi! Harus nurut! Kalau nggak gue cincang Lo!"


"Hm."


"Lo dari tadi ham hem melulu. Bisa bilang yang lain nggak sih?" protes Cia. Cewek itu cukup kesal. Dirinya ngomong panjang kali lebar kali tinggi. Dan Zayyan hanya menanggapinya dengan kata "hm" ralat. Itu bukan kata.


"Hm." jawab Zayyan lagi.


Cia menghela napasnya. "Sumpah, kalau gue gak malu punya calon suami kuchisake-onna udah gue robek mulut Lo sampai kuping biar bisa bilang selain hm." ucap Cia dengan kesal.


Zayyan menghela napas. Kemudian mengatakan. "Kalau Lo tahu sesuatu tentang gue, jangan kasih tahu siapa-siapa." ujar Zayyan. Sebenarnya cowok itu sejak tadi diam bukan karena malas mengatakan sesuatu. Dia diam memikirkan bagaimana jika Cia mengetahui kebiasaannya di rumah.


"Hah? Sesuatu tentang Lo? Apaan?" tanya Cia penasaran.


"Ntar kalau jadi nikah Lo juga tahu sesuatu yang gue maksud itu." jawab Zayyan.


Cia makin penasaran dibuatnya. "Yaudah, gue tanya Tante Sella aja." Cia beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan!" Grep! Zayyan langsung menarik tangan Cia hingga cewek itu terduduk di pangkuannya. "Jangan tanya mama." ucap Zayyan berbisik tepat di telinga Cia.


"Posisi macam apa ini?" batin Cia. Jantungnya berdegup lebih kencang. Cewek itu bisa merasakan hembusan napas Zayyan ditelinganya ketika cowok itu berbisik.


...***...


...Bersambung......