
Sepulang sekolah. Cia menunggu Zayyan di parkiran. Karena suaminya itu tadi masih di hukum guru entah karena apa. Sekitar 10 menit Cia menunggu, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Zayyan.
"Aish.. itu guru kurang kerjaan banget sih!"
Akhirnya Cia memutuskan untuk pergi ke kelas Zayyan. Kalaupun suaminya memang di hukum dia akan menemaninya sampai selesai. Daripada di parkiran sendiri, dimana keadaan sekitar udah sangat sepi. Karena semua murid sudah pulang dari tadi.
"Sepi banget njir..." gumam Cia sambil melihat ke sekelilingnya.
Koridor yang sepi dan hening. Tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya. Saking sepinya suara hembusan napasnya bisa terdengar. Serius saat ini bulu kuduk Cia benar-benar berdiri.
"Bodo amat lah!" Cia berlari menaiki tangga hingga sampai di lantai tiga.
Tinggal berjarak 3 ruangan lagi Cia sampai di kelas 3-2 yaitu kelas Zayyan. Tapi tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
"Ah!"
Di dalam kelas. Telinga tajam Zayyan dapat mendengar suara tersebut. "Cia..." batin Zayyan. Cowok itu hendak pergi dari sana. Tapi lagi-lagi guru mencegahnya. Dia harus berdiri satu kaki sambil memegang telinganya karena membolos di saat jam pelajaran.
"Jangan berani bergerak! Lima menit lagi hukumanmu selesai!" ucap guru tersebut.
Zayyan tidak bisa melawan, karena guru tersebut mengancam akan melaporkannya kepada mamanya. Zayyan tidak akan bisa untuk membantah mamanya. Cowok itu menajamkan telinganya lagi, berusaha mendengarkan percakapan Cia dan seseorang di luar sana.
"Ngagetin anj!"
"Haha, sorry. Btw kenapa Lo belum pulang?" tanya seorang cowok.
"Oh, gue mau temani Zayyan." jawab Cia.
"Zayyan? Dia tadi ke UKS. Katanya pusing. Bolos mungkin." ujar cowok itu.
"Oh, gitu. Oke. Makasih." Cia segera berlari ke arah UKS. Sejenak cewek itu melupakan apa yang dia dengar dari Vannesa dan Raya ketika di tangga tadi.
Perasaan khawatir mulai menyerang Zayyan. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Ketika Zayyan hendak menurunkan kakinya lagi. Tapi guru yang mengawasinya menunjukkan nomor handphone mamanya.
"Saya gak peduli!" ucap Zayyan. Cowok itu mengabaikan gurunya dan berjalan ke arah pintu. Namun saat mencoba membukanya, ternyata pintu tersebut sudah di kunci dari luar
"Zayyan!" bentak guru tersebut.
"Diamlah sialan! Sekali Lo halangin gue, gue pastiin Lo langsung di berhentikan jadi guru!" ucap Zayyan sambil menatap tajam guru tersebut.
"Sialan.. apa lagi ini?" gumam Zayyan. Cowok itu berusaha membuka pintu tersebut. Tapi karena keamanan pintu kelas yang sangat kuat, membuat Zayyan kesulitan mendobrak pintu tersebut.
Disisi lain, Cia baru teringat dengan perkataan Vannesa dan Raya ketika di tangga. Cewek itu berbalik hendak lari. Ternyata dibelakangnya sudah berdiri cowok yang tadi mengajaknya berbicara.
"Ma-mau ngapain Lo?!"
"Gue? Gue mau ambil Paracetamol. Tubuh gue panas." ucap cowok itu.
"Minggir!" perintah Cia.
Tapi cowok itu tidak bergeming. Cowok itu malah menarik tangan Cia masuk ke dalam UKS.
"LEPASIN GUE BANGSHAT!" teriak Cia.
"Shhtt.. diam cantik. Jangan buang tenaga Lo." ucap cowok tersebut.
"Nggak! Pergi Lo anjg!"
Cia melangkah mundur terus menjauh dari cowok itu. Tapi sial, dirinya sudah mepet tembok. Dia sekarang tidak bisa lari kemana-mana.
"Sekarang Lo harus puasin gue!" ucap cowok tersebut sambil merobek baju Cia.
"NGGAK!!! ZAYYAN!!" teriak Cia ketakutan. Air mata cewek itu sudah berjatuhan.
Disaat cowok tersebut hendak menyentuh tubuh Cia. Pyarr!!! Pintu UKS yang terbuat dari kaca pecah karena dipukul oleh seseorang.
"Zayyan... Bunga..." gumam Cia.
Disaat Zayyan menghajar cowok tersebut, Bunga menghampiri Cia yang menangis ketakutan sambil memeluk tubuhnya.
"Lo gapapa?" tanya Bunga.
Cia menggelengkan kepalanya.
"Berani banget tangan kotor Lo nyentuh istri gue?!" bentak Zayyan. Zayyan menendang tepat di kepala cowok itu hingga cowok itu jatuh tersungkur. Ketika lawannya sudah tumbang dan sudah tidak berdaya, Zayyan masih terus memukuli cowok itu karena emosinya.
"Ampun! Gue cuma disuruh!" ucap cowok itu dengan lemah.
"Persetan!" Zayyan masih memukuli cowok itu.
"STOP! Dia bisa mati Zayyan!" teriak Bunga.
Zayyan tidak menggubris ucapan Bunga. Cowok itu tidak terima apa yang menjadi miliknya di sentuh orang lain. Cia miliknya, hanya dia yang boleh menyentuh dan melihat tubuhnya.
"Zayyan.." panggil Cia pelan.
Mendengar panggilan lembut dari Cia, Zayyan langsung berhenti memukuli cowok itu. Zayyan berbalik dan menghampiri Cia yang gemetar sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Disaat Zayyan terlena, Bunga langsung membawa cowok itu pergi dari sana. Karena jika tidak mungkin cowok itu akan mati di pukuli Zayyan lagi.
Melihat keadaan Cia yang seperti itu, Zayyan langsung memeluk istrinya untuk menenangkannya.
"Gue takut..." cicit Cia.
"Gue disini. Jangan takut." ucap Zayyan sambil mengelus lembut kepala Cia.
Setelah Cia tenang barulah Zayyan melepaskan pelukannya. Cowok itu menatap Cia dari atas hingga bawah. Roknya masih rapi. Hanya saja baju Cia robek tepat di bagian dada. Zayyan melepaskan jas almamaternya dan memakaikannya kepada Cia.
"Dimana jas almamater Lo?" tanya Zayyan.
Cia tidak menjawab. Cewek itu malah meraih tangan kanan Zayyan yang berdarah karena memukul pintu kaca sangat keras hingga pecah.
"Sakit?" tanya Cia.
"Nggak, lebih sakit lihat Lo diperlakukan kayak tadi." jawab Zayyan sambil menatap teduh Cia.
"Jangan bohong! Gue tahu ini sakit banget." ucap Cia. Cewek itu menarik Zayyan agar duduk di ranjang UKS. Dengan telaten Cia membersihkan serpihan kaca yang menempel di luka Zayyan, lalu segera mengobati lukanya.
"Lain kali kalau pulang dan gue belum ada tunggu di depan kelas gue." ujar Zayyan.
Cia hanya mengangguk patuh. "Maaf, kayaknya setelah nikah sama gue Lo jadi sering luka?" tanya Cia.
Zayyan diam sebentar. Sedetik kemudian cowok itu langsung tertawa. "Lo yakin?" tanya Zayyan balik sambil menahan senyumnya.
Cia mengerutkan alisnya kebingungan.
Cowok itu melepaskan baju bagian atasnya hingga dia bertelanjang dada.
"Yak! Lo ngapain anjr?!" Cia langsung menutup matanya.
"Buka mata Lo! Lihat seberapa banyak luka gue!" perintah Zayyan.
Cia membuka matanya perlahan. Dia begitu terkejut melihat banyaknya bekas luka yang ada di dada dan punggung Zayyan. Dia tidak menyangka suaminya mempunyai bekas luka sebanyak ini, karena biasanya dia hanya membantu Zayyan memakai seragam sekolah ketika cowok itu sudah memakai kaos sebelumnya. Jadi dia tidak pernah melihat tubuh Zayyan secara langsung. Untuk yang di hutan waktu itu, tidak terlalu jelas karena gelap.
"Kenapa bisa sebanyak ini?" tanya Cia.
"Gue udah biasa terluka. Jatuh saat balapan, berkelahi, tawuran. Jadi bukan karena Lo gue luka. Ini luka kecil. Bukan apa-apa." ucap Zayyan.
...***...
...Bersambung......