Cute Badboy

Cute Badboy
Jangan Bergerak!



Keesokan harinya. Cia dan Zayyan sudah siap berangkat ke sekolah. Dari tempat berkumpul anggota Los Galacticos mereka berangkat bersama-sama ke sekolah. Seolah-olah mereka itu geng motor, padahal bukan. Hanya Zayyan, Andra, Gebi, dan Diego yang merupakan geng motor.


"Baby Ayy." panggil Cia.


"Hng?"


"Lihat deh mereka." ucap Cia sambil menunjuk Vinna yang di bonceng Gebi.


Zayyan melihat ke arah Gebi yang berkendara tepat di belakangnya melalui spion motor.


"Kenapa dengan mereka?" tanya Zayyan.


"Kayak ada yang aneh aja gitu." jawab Cia.


Vinna memang di bonceng oleh Gebi. Cewek itu berpegangan dengan memeluk pinggang Gebi. Tapi ada yang kurang sempurna. Baik wajah Vinna ataupun Gebi terlihat murung. Tidak seperti orang yang baru saja jadian.


Sesampainya di sekolah Cia langsung mendapatkan pandangan yang tidak mengenakan dari siswa-siswi yang ada di sekolah. Tidak sedikit yang menggosipkan Cia secara terang-terangan di depan Cia langsung.


"Ckckck. Kalau gue jadi dia malu sih masuk sekolah." ucap salah seorang siswi.


"Hm, murahan banget." sahut siswi lainnya.


"Jaga mulut kalian!" bentak Zayyan.


Setelah d bentak oleh Zayyan, siswi-siswi yang bergosip tersebut langsung kabur dari tempat itu karena takut kepada Zayyan.


Zayyan mengalihkan pandangannya kepada Cia yang ada di sampingnya. Terlihat jelas mata cewek itu memerah menahan air mata. Sadar akan hal itu, Zayyan menggandeng Cia dan mengajaknya ke perpustakaan tempat paling ujung yang menjadi tempat favorit anak Los Galacticos.


"Gue sekotor itu ya?" tanya Cia dengan suara parau.


"Gue di jebak sampai harus nikah muda. Di jebak lagi hampir di lecehkan. Besok apa lagi?" Air mata Cia sekarang tidak bisa dibendung lagi. Cewek itu menangis di hadapan Zayyan.


"Mereka ngomong seolah tahu semuanya. Padahal yang mereka omongin belum tentu benar." ucap Cia dengan sesenggukan.


Zayyan hanya diam, dia tidak membalas kalimat yang Cia ucapkan. Karena dia tahu, saat ini Cia hanya ingin di dengarkan. Kalau dia salah bicara, bisa-bisa Cia malah semakin sedih atau malah bisa marah.


Zayyan menarik Cia ke dalam pelukannya kemudian mengelus lembut kepala cewek itu menggunakan tangan kirinya. "Keluarin semuanya." ucap Zayyan lirih.


Bukannya mengeluarkan semua unek-unek yang terpendam di hatinya. Cia malah semakin menangis menjadi-jadi di dalam pelukan Zayyan.


"Lo nggak kotor, mereka yang kotor." ujar Zayyan. Tangan kanan Zayyan merogoh saku celananya dan mengambil handphonenya. Lalu dikirimkannya pesan singkat di grup Los Galacticos agar menjalankan rencana yang mereka bicarakan semalam.


Setelah beberapa menit, Cia berhenti menangis. Cewek itu melepaskan pelukan Zayyan. Dilihatnya jas almamater Zayyan yang basah terkena air matanya.


"Sorry..." gumam Cia.


Zayyan tersenyum tipis. Cowok itu mensejajarkan tingginya dengan Cia hingga wajahnya kini tepat di depan wajah Cia. "Minta maafnya senyum. Kalau nggak, gak gue maafin." kata Zayyan dengan senyumnya yang berubah menjadi senyum manis.


Akhirnya Cia bisa tersenyum kembali.


"Apasih?" Cia memalingkan wajahnya yang memerah.


Zayyan tertawa kecil, lalu menarik pelan tangan Cia agar duduk di kursi yang ada di dekat jendela. Tapi hanya ada satu kursi yang ada di dekat jendela sehingga Cia harus duduk di pangkuan Zayyan.


"Gue berdiri aja..." ucap Cia dengan gelagapan.


"Gapapa. Lihat keluar!" kata Zayyan sambil menunjuk keluar jendela.


Cia mengikuti apa yang ditunjuk Zayyan. Taman bunga yang indah dengan banyak kupu-kupu disana. Indah sekali. Taman bunga ini jarang dikunjungi siswa dan siswi makanya tanamannya tetap terawat dan tanahnya juga ditumbuhi rumput-rumput hijau. Tentunya bukan rumput yang tinggi-tinggi.


"Lo itu kayak bunga di taman itu indah, bersih, dan terawat." ucap Zayyan dengan tangan yang melingkar memeluk perut Cia.


Cia tersenyum mendengar hal itu. Sejak semalam mereka saling jujur dengan perasaan masing-masing, Zayyan menjadi romantis. Bahkan semalam sebelum tidur Zayyan menyanyikan Cia sebuah lagu. Eits, sebelum itu Cia sudah membuatkan susu untuk Zayyan ya.


"Kalau Lo kayak itu.." ujar Cia sambil menunjuk anak tukang kebun sekolah yang sedang memakan es krim.


"Kayak anak kecil?" tanya Zayyan.


Cia menggelengkan kepalanya. "Kayak anak kecil iya. Kayak es krimnya juga iya." jawab Cia sambil tertawa.


Cia bergerak hendak memutar tubuhnya agar menghadap ke Zayyan.


"Ashh! Jangan bergerak!" perintah Zayyan.


"Hah? Kenapa?" tanya Cia kebingungan.


"Pokoknya jangan bergerak!"


Cia diam tidak bergerak. Cewek itu masih memikirkan apa alasan Zayyan menyuruhnya untuk tidak bergerak sama sekali. Disaat Cia bingung dengan pikirannya, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang keras dan juga panas di bawahnya.


"Astaga... apa ini?" batin Cia. Sekarang cewek itu benar-benar tidak berani bergerak sama sekali. Pipinya sangat merah. "Kok bisa panas gitu di bagian sana?" batin Cia bertanya-tanya. Cewek itu bisa merasakan napas Zayyan yang panas menerpa leher bagian belakangnya.


"Baby Ay?" panggil Cia.


"Hm."


"Lo ga pa-pa?" tanya Cia.


Zayyan diam sejenak. "Gak.. ga pa-pa." jawab Zayyan.


Cia diam. Cewek itu beranjak dari pangkuan Zayyan dan berbalik menghadap Zayyan. Dilihatnya wajah suaminya itu yang memerah hingga ke telinga.


"Ihhh kiyowok!" batin Cia. Di dalam hatinya cewek itu berteriak karena keimutan seorang Zayyan. Tapi dia tidak bisa menunjukkannya di dalam situasi yang seperti ini. Apalagi ekspresi wajah Zayyan yang menurut pandangan Cia seperti kesakitan.


"Sa-sakit kah?" tanya Cia.


Zayyan menatap Cia. Kemudian cowok itu menggeleng kecil.


"Kalau kayak gitu lama kah?" tanya Cia lagi.


"Kenapa memang? Mau bantu?" Zayyan malah bertanya balik disertai senyum nakalnya.


Cia membulatkan matanya mendengar pertanyaan Zayyan barusan. Cewek itu langsung berbalik membelakangi Zayyan agar tidak melihat wajah menyebalkan cowok itu.


"Di naikin ngelunjak!" cetus Cia.


Zayyan tertawa. Lalu menjawab pertanyaan Cia tadi. "5,4 menit. menurut buku yang pernah gue baca." jawab Zayyan.


"Serius gue tanya, sakit atau nggak?" tanya Cia lagi. Tetapi cewek itu tetap membelakangi Zayyan.


"Gue enggak." jawab Zayyan. "Hadap sini, jangan belakangin gue gitu. Gue gak akan apa-apain Lo." ucap Zayyan.


Disaat suasana tegang-tegangnya. Tiba-tiba terdengar suara cewek dari speaker. Dan Cia sangat mengenali suara tersebut. Itu adalah suara Vannesa, Raya, dan juga Bunga.


"Gue gak suka lihat mereka tetap ada di sekolah ini!" ucap seorang cewek.


"Lo kira gue juga suka gitu?! Pokoknya kita harus buat mereka keluar dari sekolah ini." sahut cewek lainnya.


"Udahlah, jangan ganggu mereka." ujar satu cewek lainnya.


"Nanti sepulang sekolah. Gue bakal jebak si Cia." ujar Vannesa.


"Gimana caranya?" tanya Raya.


"Kalian tahu kan? Cowok yang dulu pernah kita tolong? Gue bakal suruh dia per.ko.sa Cia di UKS." kata Vannesa menjelaskan rencananya.


"Gue ga mau ikutan lagi!" ucap Bunga menolak ketika akan di ajak melakukan sesuatu lagi.


"Bantah aja, dan gue pastiin bokap Lo kehilangan pekerjaannya." ancam Vannesa.


Cia seketika berbalik menghadap Zayyan dengan tatapan kaget.


...***...


...Bersambung......


...Mianhae kemarin nggak up, soalnya kemarin sakit:( di sekolah sempat ngetik satu episode yang Cherophobia. Niatnya mau ngetik lagi setelah pulang sekolah, tapi pulang sekolah malah kepala dan perut tiba-tiba sakit.:(...