
Jam istirahat telah tiba. Saat ini Cia hanya berdua bersama Vinna di rooftop sambil memakan camilannya. Para cowok asik bermain basket. Bahkan Zayyan yang lututnya masih belum sembuh juga ikut bermain basket.
Di rooftop Cia dan Vinna tidak saling bicara. Mereka tenggelam di dalam pikirannya masing-masing. Sampai tidak sadar camilan mereka sudah habis.
"Yahh.. habis.." ujar Cia dan Vinna bersamaan.
Kedua cewek itu saling tatap. Lalu menghela napas panjang bersamaan.
"Lo duluan." ucap Cia.
Vinna menggelengkan kepalanya. "Lo duluan aja."
Cia diam sebentar lalu menatap Zayyan dibawah sana yang sedang bermain basket dengan lincahnya. Padahal luka di lututnya masih belum kering sempurna.
"Lo ada masalah sama Zayyan?" tanya Vinna.
"Nggak! Nggak gitu. Cuma gimana ya..." Cia diam lagi.. "Lo pikir hubungan kita kayak gimana sih?" tanya Cia kepada Vinna.
"Suami istri lah, kayak apa lagi?"
"Ish! Nggak gitu! Maksud Lo gue sama Zayyan saling suka nggak?" tanya Cia.
Vinna mengerutkan keningnya. Bisa-bisanya sahabatnya yang satu ini malah menanyakan hal seperti itu. Bukannya yang paling tahu perasaan masing-masing yang mereka sendiri?
"Lah? Menurut Lo sendiri gimana?"
Cia menatap datar Vinna. Lalu mendengus kesal. "Gue tanya Lo karena gue gak bisa mikir!" cetus Cia.
Vinna manggut-manggut. "Menurut gue, kalian itu sebenarnya saling suka. Wait! Jangan nyela omongan gue!" ucap Vinna sambil menunjuk Cia yang hendak menyela kalimatnya. "Karena gue lihat dari tatapan kalian, kelihatan banget sebenarnya kalian udah saling suka! Terus perbuatan kecil kayak pas Zayyan ngumpulin anak Los Galacticos cuma buat bahas siapa yang jebak kalian. Tadi pagi gue juga lihat Zayyan bantuin Lo turun dari motor." ujar Vinna panjang lebar.
"Itukan Zayyan yang nunjukin suka ke gue." sahut Cia.
"Lo juga sama aja tolol! Kata Vanno Lo ngomel-ngomel waktu Zayyan luka. Di ruang LG Lo juga nempel sama Zayyan. Tadi pagi gue lihat Lo peluk pinggang Zayyan." ucap Vinna sambil menaik turunkan alisnya meledek Cia.
Cia diam sebentar lalu bertanya lagi. "Jadi, kesimpulan pertama Lo pikir kita udah saling suka gitu?"
Vinna mengangguk. "Saling suka, ehh nggak. Tepatnya malu-malu tapi mau. Kalian itu saling suka tapi gengsi." terang Vinna yakin.
"Lo tadi? Mau ngomong apa?" tanya Cia.
Sekarang giliran Vinna yang terdiam. Cewek itu menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal karena bingung memulai bicara dari mana.
"Weh? Kok diam?" tanya Cia lagi.
"Tahu ah! Bingung gue mulai dari mana." ujar Vinna sambil menatap Andra yang sedang bermain basket. Tiba-tiba Gebi bergerak ke samping Andra hendak merebut bola basket, sehingga cowok itu juga masuk ke pandangan Vinna.
"Menurut Lo gue gak peka kah?" tanya Vinna.
"Emang!" jawab Cia dengan cepat.
"Lah? Kenapa gitu?"
"Ya Lo ada yang suka malah suka yang udah punya pawang." celetuk Cia.
Vinna langsung diam. Cewek itu kembali teringat ucapan saudara kembarnya tadi pagi. Vanno juga mengatakan hal yang sama persis dengan yang di ucapkan Cia barusan.
"Siapa sih emangnya yang suka gue? Vanno tadi juga bilang gitu tapi gak ngasih tahu siapa orangnya." tanya Vinna.
"Kan, kan.. Gak peka lagi kan Lo." ucap Cia. Cewek itu langsung kabur dari sana karena tidak mau menjawab pertanyaan Vinna. Dia harus tahu dengan sendirinya siapa orang yang menyukainya dengan tulus.
Di sisi lain, Zayyan dan Gebi tidak bisa fokus bermain karena mereka sejak tadi tahu di perhatikan Cia dan Vinna dari rooftop.
"Gue istirahat!" ucap Gebi. Cowok itu berlari ke tepi lapangan dan meminum airnya. Ketika melihat ke rooftop ternyata Vinna sudah tidak ada disana.
"Cie yang pada di lihatin doinya." ledek Andra.
"Bacot!" sahut Zayyan kemudian segera meneguk minumannya.
"Doi? Siapa?" tanya Gebi.
"Si Vinna sama Cia lihatin kalian sejak tadi dari rooftop. Kalian gak tahu?" tanya Andra.
Gebi hanya diam. "Urus aja cewek Lo." ucap Gebi dengan ketus. Lalu segera pergi dari lapangan basket. Bukan karena apa Gebi kesal. Dia memang tahu, Vinna melihat ke arah mereka tadi. Tapi arah tatapannya bukan kepadanya. Melainkan ke arah Andra.
Semua anggota Los Galacticos langsung tercengang melihat Gebi yang seperti itu. Karena tidak biasanya seorang Gebi bersikap ketus.
"Gak peka Lo An." ucap Diego.
"Lah? Gue kenapa?" tanya Andra.
Zayyan menghela napasnya. "Vinna suka Lo." celetuk Zayyan. Kemudian pergi mengikuti kemana perginya Gebi.
Andra langsung mematung di tempatnya mendengar hal tersebut. Dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Sekarang dia mengerti, alasan kenapa Vinna setiap bertemu dirinya selalu menghindar. Dan inilah alasan kenapa setiap dirinya meledek Gebi dengan Vinna, sahabatnya yang satu itu terlihat tidak suka.
"Bukan salah Lo. Takdir yang buat kayak gini. Gebi suka sama Vinna. Sedangkan Vinna suka sama Lo. Dan Lo sahabat Gebi." ujar Mahen sambil menepuk pundak kanan Andra.
"Hm, sorry gue gak pernah bilang kalau kakak gue suka sama lo. " ucap Vanno.
"Samperin Gebi. Jangan sampai persahabatan kalian rusak." kata Samuel sambil menepuk pundak kiri Andra.
Andra mengangguk. Lalu cowok itu berlari mencari dimana keberadaan Gebi.
Kita ke Cia dan Vinna. Kedua cewek itu hendak turun tangga. Tapi langkah mereka terhenti karena mendengar pembicaraan seseorang di bawah tangga.
"Gue gak suka lihat mereka tetap ada di sekolah ini!" ucap seorang cewek.
"Lo kira gue juga suka gitu?! Pokoknya kita harus buat mereka keluar dari sekolah ini." sahut cewek lainnya.
"Udahlah, jangan ganggu mereka." ujar satu cewek lainnya.
Cia dan Vinna memilih menguping pembicaraan tersebut. Baik Cia ataupun Vinna mengenali siapa pemilik suara yang mereka dengar itu. Yap, mereka adalah Vannesa, Raya, dan Bunga. Entah ide dari mana, Cia mengeluarkan handphonenya untuk merekam pembicaraan ketiga cewek tersebut.
"Nanti sepulang sekolah. Gue bakal jebak si Cia." ujar Vannesa.
"Gimana caranya?" tanya Raya.
"Kalian tahu kan? Cowok yang dulu pernah kita tolong? Gue bakal suruh dia per.ko.sa Cia di UKS." kata Vannesa menjelaskan rencananya.
"Gue ga mau ikutan lagi!" ucap Bunga menolak ketika akan di ajak melakukan sesuatu lagi.
"Bantah aja, dan gue pastiin bokap Lo kehilangan pekerjaannya." ancam Vannesa.
Bunga langsung diam tidak bisa berkutik. Itu yang selalu Vannesa gunakan untuk mengancam Bunga jika dirinya tidak mau mengikuti kemauan Vannesa.
Triiiiinggg..... Bel berbunyi mereka bertiga kembali ke kelasnya masing-masing tanpa sadar bahwa Cia dan Vinna menguping pembicaraan mereka.
"Njir gila, jadi selama ini Bunga dipaksa." celetuk Vinna.
"Kita gak bisa diam aja." ujar Cia.
...***...
...Bersambung......
...Mampir yuk ke Novel author "Cherophobia" masih sepi banget huhu... Gak mau baca gapapa beneran, minta like sama komen "next" aja pliss...