
Malam harinya. Cia menonton drama Korea di temani Zayyan. Entah kenapa, malam ini Zayyan lebih manja dari biasanya. Cowok itu tiduran di paha Cia yang fokus melihat drama.
"Ci.." panggil Zayyan.
"Hm? Apa?" tanya Cia. Tetapi matanya tidak beralih dari laptopnya.
"Ishh. Lihat gue! Jangan laptop Mulu!" rengek Zayyan.
"Apa sih Zay?" tanya Cia sambil menatap Zayyan yang tiduran di pahanya.
Cowok itu terlihat kesal karena sejak tadi dia di abaikan. Cia terlalu fokus menonton. Kadang tertawa sendiri, kadang menangis sendiri. Ekspresi Zayyan saat ini bibirnya yang cemberut disertai tatapan kesal kepada Cia.
"Kenapa Lo natap gue kayak gitu?" tanya Cia kebingungan.
"Kenapa manggilnya Zay?" tanya Zayyan dengan tatapan yang masih terlihat kesal.
"Lah, kan emang nama Lo Zayyan kan?"
Zayyan memutar bola matanya malas. Kemudian cowok itu bangkit dari pangkuan Cia dan beralih rebahan beralaskan batal di kepalanya bukan paha Cia Lagi. Cowok itu bersikap cuek kepada Cia.
Cia mengerutkan alisnya melihat tingkah aneh Zayyan. Cewek itu memikirkan kesalahan apa yang dia perbuat? Mungkinkah ada kesalahan dalam kalimat yang dia ucapkan? Gak mungkin kan kalau Zayyan marah cuma gara-gara dia terlalu fokus menonton drama.
Setelah menyadari apa yang membuat suaminya tersebut kesal. Cia tersenyum gemas. Cewek itu segera menutup laptopnya dan menghampiri Zayyan yang asik dengan handphonenya.
"Jangan ngambek dong, baby Ayy." ujar Cia sambil mencolek-colek pipi Zayyan.
"Maaf ih, katanya gak suka dipanggil baby Ayy?" tanya Cia sambil menggoyang-goyangkan tubuh Zayyan.
Zayyan tetap diam. Cowok itu sama sekali tidak menghiraukan Cia yang berusaha membujuk dirinya. Dia tetap fokus dengan handphonenya. Zayyan ingin membalas Cia yang tadi terlalu fokus dengan drama sehingga mengabaikan dirinya.
Cia tidak kehabisan akal. Cewek itu terpikir sesuatu yang gak akan mungkin Zayyan diam saja. "Yaudah, kalau gak mau maafin. Gue juga gak mau buatin susu." ujar Cia. Karena Cia tahu betul Zayyan tidak akan bisa tidur tanpa meminum susu.
"Ahh! Jangan gitu!" ucap Zayyan sambil meletakkan handphonenya.
Cia tertawa melihat ekspresi Zayyan.
"Lo tuh benaran ketua geng bukan sih?" tanya Cia sambil tersenyum geli.
"Iya lah! Bukannya Lo udah sering lihat gue balapan?!"
Cia menggelengkan kepalanya. "Iya sih. Persepsi gue mengenai Lo dulu dan sekarang itu beda." ucap Cia. "Dulu gue kira Lo kayak Badboy pada umumnya. Yang nakal, dan suka membantah omongan orang tua. Ehh ternyata kayak bayi baru keluar dari perut. Ketua geng minum susu, gak bisa mandi sendiri, gak bisa makan sendiri, gak bisa pakai baju sendiri." tutur Cia sambil mencubit pelan pipi Zayyan yang gembul.
"Emang gak boleh? Kan cuma ke Lo gue gitu." ujar Zayyan.
Cia langsung tertegun mendengar perkataan Zayyan barusan. "Apa nih maksudnya?" batin Cia. Gak mungkin kan Zayyan mencoba menjelaskan hanya kepada dirinya dia bersikap manja. Tapi dilihat dari kalimatnya, jelas sekali Zayyan memperjelas bahwa dia hanya manja kepadanya tidak kepada wanita lain.
"Entah, terserah Lo dah." ucap Cia sambil memalingkan wajahnya.
"Cii..." rengek Zayyan sambil meletakkan kepalanya di bahu Cia.
"A-apa?" tanya Cia gelagapan. Bukan karena apa. Bulu kuduk cewek itu seketika berdiri ketika napas Zayyan menyapu lehernya.
"Astaga gue kira mau apa.." gumam Cia.
Zayyan langsung menegakkan kepalanya dan menatap Cia. "Emang Lo pikir gue mau apa?" tanya Zayyan.
Cia terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Zayyan. "Kayaknya emang otak gue yang terlalu kotor sih." batin Cia sambil tersenyum kikuk. Yang ada di bayangan Cia adalah cowok-cowok di novel biasanya kalau hembusin napas di leher ngajak 'itu' tapi dia lupa, Zayyan gak bakal mungkin ngakak begituan.
"Gak ada! Bentar gue buatin susu!" ucap Zayyan lalu segera pergi dari kamar.
Sambil membuatkan susu untuk Zayyan, Cia malu dengan pikirannya sendiri. "Haishh, gue jadi ngerasa bersalah. Bisa-bisanya gue mikirin hal kayak gitu ke Zayyan yang polosnya udah kayak bocah bayi." gumam Cia.
Disisi lain Zayyan tersenyum tipis mengingat tingkah Cia. "Gue tahu apa yang Lo pikirin. Tapi gue gak akan maksa Lo." gumam Zayyan. "Karena gue tahu Lo gak cinta sama gue." sambung Zayyan di dalam hatinya. Yap, Zayyan gak sepolos itu guys. Sebenarnya dia tahu apa yang ada di pikiran Cia tadi. Tapi cowok itu memilih diam, daripada Cia Malu. Duh idaman banget.
Beberapa saat kemudian Cia kembali membawa susu di dalam botol susu kesayangan Zayyan.
"Nih, susu Lo." ujar Cia sambil menyodorkan susu kepada Zayyan.
"Makasih." ucap Zayyan. Cowok itu rebahan sambil meminum susunya. Cowok itu melihat Cia yang masih berdiri, tangannya menepuk tempat tidur di sampingnya. Mengisyaratkan agar Cia berbaring di sampingnya.
"Baby Ayy.." panggil Cia.
"Hng?" tanya Zayyan tanpa melepaskan botol susu dari mulutnya.
"Lo gak pengen minum susu dari tumbler?" tanya Cia.
Zayyan melepaskan botol susu dari mulutnya lalu menjawab pertanyaan Cia. "Enggak. Enak dari botol bayi." jawab Zayyan. Lalu cowok itu meminum susunya lagi. Beberapa saat kemudian Zayyan kembali melepaskan botol susu dari mulutnya dan menatap Cia.
"Apaan?"
"Mungkin gue mau minum susu dari tempat lain. Tapi bukan Tumbler." ucap Zayyan tiba-tiba.
Cia mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan perkataan Zayyan. "Terus? Kalau bukan Tumbler? Dari apaan?" tanya Cia.
"Dari sumbernya langsung." jawab Zayyan. Kemudian kembali meminum susunya.
Cia diam sejenak memikirkan apa yang dimaksud Zayyan. "Ih, yakali Lo mau minum susu langsung dari sapi." celetuk Cia sambil menoyor pelan kepala Zayyan. Menurut pemahaman Cia, sumber susu yang dimaksud adalah sapi. Padahal sebenarnya bukan.
Zayyan mendengus kesal. Cowok itu memilih tidak menanggapi Cia. Setelah susunya habis, cowok itu tertidur sambil memeluk Cia. Begitupun dengan Cia. Karena nyaman dengan pelukan hangat dari Zayyan, akhirnya Cia bisa tertidur.
Kling. Mungkin sekitar 20 menit Zayyan tertidur. Tiba-tiba handphonenya berbunyi menunjukkan notifikasi dari Los Galacticos. Zayyan langsung terbangun.
"Anak-anak udah berkumpul di markas. Kapan Lo kesini?" tanya Andra di grup Los Galacticos.
Zayyan melirik Cia yang sudah tertidur pulas. Kemudian mengirimkan pesan balasan kepada di grup tersebut. "Gue berangkat."
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Zayyan mengecup kening Cia sekilas. Kemudian dengan perlahan beranjak dari tempat tidur agar Cia tidak terbangun. Sebelum berangkat keluar rumah diperiksanya seluruh jendela dan pintu rumah. Dia pastikan semua sudah terkunci rapat. Barulah dia pergi ke markas.
...***...
...Bersambung......