Cute Badboy

Cute Badboy
Kelembutan Seorang Zayyan



Zayyan melajukan motornya dengan cepat. Cowok itu tidak peduli dengan pengendara lainnya yang kurang nyaman. Asal sudah memakai jaket kebanggaan Los Galacticos dan juga Vier Glanz tidak ada yang berani menegurnya sekalipun ugal-ugalan.


Saat ini yang ada di pikiran Zayyan hanyalah Cia. Feeling-nya sudah tidak enak sejak semalam melihat seorang pengendara motor menatap ke arah rumah mereka. Dan kali ini ada orang yang menguntit Cia. Walaupun belum tentu benar, tapi cowok itu yakin orang yang menguntit Cia adalah orang yang sama dengan yang menatap rumah mereka semalam.


Sesampainya di cafe. Zayyan langsung menyapu seisi cafe dengan pandangannya mencari dimana keberadaan Cia. Cowok itu mengerutkan keningnya ketika melihat seseorang memasukkan sesuatu kedalam tas Cia. Setelah memasukkan benda tersebut orang itu langsung kabur dari cafe.


Zayyan berniat mengejar orang tersebut, tapi dia urungkan niatnya dan memilih menghampiri Cia karena khawatir benda yang di masukkan orang tersebut adalah benda berbahaya.


"Cia!!" panggil Zayyan. Cowok itu langsung berlari menghampiri Cia dan mengobrak-abrik tas istrinya tersebut.


"Lo ngapain disini?!" tanya Cia kaget. "Jangan berantakin tas gue heh!"


"Diamlah!" bentak Zayyan.


Cia langsung diam karena takut di bentak oleh Zayyan. Bahkan Vinna juga ikut takut, karena ini pertama kalinya mereka melihat Zayyan berbicara sekeras itu. Biasanya nada bicara Zayyan selalu datar dan tidak bernada. Beruntung cafe lumayan sepi, jadi mereka tidak menjadi pusat perhatian.


"Lo kenapa?" tanya Vanno.


Setelah menemukan benda yang dicarinya Zayyan meletakkannya benda kecil berwarna hitam di atas meja.


Baik Cia, Vinna dan Vanno begitu terkejut melihat benda yang di temukan Zayyan di dalam tas Cia. Yap, benda tersebut adalah alat penyadap suara.


"Bagaimana bisa ada di sana?!" tanya Cia terkejut.


"Lo gak sadar ada orang yang masukin ini ke tas Lo tadi?" tanya Zayyan dengan raut wajah datarnya.


Cia menggelengkan kepalanya. "Nggak, gue fokus ngerjain tugas ini." jawab Cia sambil menundukkan kepalanya.


Zayyan menatap Cia dan buku-buku yang berserakan bergantian. Cowok itu menghela napasnya, kemudian menyuruh Vanno ke rumahnya bersama Vinna nanti malam untuk mengerjakan tugas kelompok di rumahnya saja. Setelah mengatakan itu Zayyan mengemasi tas Cia dan mengajak cewek itu pulang.


Di sepanjang jalan Cia tidak berani mengajak bicara Zayyan. Baginya Zayyan sangat menakutkan ketika marah tadi.


"Tumben gak ngoceh?" batin Zayyan.


Cowok itu menatap rambu-rambu lalulintas yang menandakan jalan bergelombang. Zayyan langsung memelankan motornya. Mungkin jika dia sendiri dia akan tetap melakukan motornya dengan cepat. Tapi dia membonceng Cia, entah kenapa dia ingin memberikan cewek di belakangnya ini kenyamanan.


"Ci.." panggil Zayyan.


"A-apa?" tanya Cia gelagapan.


"Pegangan." ucap Zayyan dengan nada lembut.


Dengan ragu Cia berpegangan dengan memegang pinggiran jaket Zayyan. Cewek itu agak gengsi kalau harus memeluk Zayyan terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah Cia masih belum berbicara kepada Zayyan. Mahen dan Samuel sudah pulang sejak tadi ya guys. Jadi sekarang tinggal mereka berdua yang ada di rumah.


"Kenapa diam dari tadi?" tanya Zayyan sesudah memasuki kamar.


"Lo tadi nyuruh gue diam." jawab Cia sambil menundukkan kepalanya.


"Tatap gue kalau bicara, jangan nunduk gitu." ucap Zayyan.


Cia mendongakkan kepalanya menatap Zayyan. Mata cewek itu terlihat memerah menahan air mata.


Melihat hal itu, Zayyan mengusap wajahnya dengan kasar. Cowok itu menarik Cia kedalam pelukannya. Sekarang dia paham mengapa sejak tadi Cia hanya diam saja. Ternyata cewek itu masih takut karena bentakannya tadi.


"Maaf, tadi gue khawatir.." ujar Zayyan sambil mengelus lembut kepala Cia.


Zayyan melepaskan pelukannya, kemudian menyeka air mata yang membasahi pipi Cia sambil tersenyum tipis. "Kemana Cia yang galak? Kemana Cia yang ngomelin gue kemarin? Kenapa jadi cengeng gini?" tanya Zayyan.


"Ish!" Cia mendorong Zayyan menjauh darinya karena kesal.


Zayyan hanya tertawa melihat Cia yang seperti itu. Sungguh, jika tertawa dan tersenyum seperti ini tingkat ketampanan Zayyan naik 1001%. Ditambah matanya yang ikut tersenyum dan juga lesung pipi yang menambah keimutan seorang Zayyan Alfiano Maheswara.


"Bisa nggak sih tiap saat kaya gini aja?" tanya Cia.


"Kayak gini gimana?"


"Ya gini, muka Lo jangan datar kayak tembok! Gue lebih suka Lo yang imut gini daripada Lo yang dingin." ucap Cia terus terang.


Zayyan menggelengkan kepalanya. "Gue bakal kayak gini di waktu tertentu aja." ujar Zayyan dengan wajahnya yang sudah kembali datar.


"Kan.. datar lagi. " gumam Cia sambil memutar bola matanya. Cewek itu menatap Zayyan dengan kesal. "Terus kapan Lo hangat kayak tadi?" tanya Cia.


"Gue malas jawab." jawab Zayyan sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


Cia hendak bertanya lagi kepada Zayyan. Tapi perhatian cewek itu di alihkan dengan darah yang merembes di perban lutut Zayyan. Cia langsung sigap mengambil kotak P3K dan segera mengganti perban Zayyan.


"Lo ngapain?" tanya Zayyan sembari bangkit dari tidurnya.


"Kenapa bisa merembes sih?! Masa cuma ganti perban sama ngobatin luka aja gak bisa?! Lo juga! Tahu lutut belum sembuh udah di pakai buat jalan kesana-kemari. Siapa juga tadi yang nyuruh Lo gendong gue?! Kan jadi kebuka lagi lukanya." omel Cia sambil mengobati lutut Zayyan.


Zayyan menghela napas. "Namanya luka di lutut pasti lama sembuhnya." ujar Zayyan.


"Emang nggak sakit?" tanya Cia.


"Mau cobain?" tanya Zayyan balik.


"Emang bisa? Gimana caranya?"


"Sini, gue parut lutut Lo." ucap Zayyan dengan senyum tertekan.


"Nggak deh. Makasih tawarannya." jawab Cia. Kemudian cewek itu kembali fokus mengobati luka Zayyan.


Zayyan mengamati setiap inci wajah Cia. Tidak bisa dipungkiri wajah cewek yang sekarang sudah menjadi istrinya tersebut memanglah sangat cantik. Bahkan nyaris sempurna.


"Ngapain Lo lihat gue kayak gitu?" tanya Cia.


"Punya mata." jawab Zayyan tanpa memalingkan tatapan dari wajah Cia.


"Jangan lihatin gue terus!" ujar Cia dengan pipi yang sedikit merona.


"Kenapa?" tanya Zayyan.


Cia tidak menjawab. Tapi dengan sekali lihat Zayyan sudah mengetahui alasannya adalah karena Cia malu. Terlihat dengan pipi Cia yang merah merona hingga ke telinga.


"Kayaknya gue harus berterima kasih kepada mereka yang udah jebak kita." batin Zayyan. Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman kecil. "Kalau mereka gak jebak kita, mungkin gue gak bakal sadar cewek yang sering bertengkar sama gue secantik ini." sambungnya lagi di dalam batinnya.


...***...


...Bersambung......


...Males ngetik, gada yang nyemangatin:(...