Cute Badboy

Cute Badboy
Andra, Vinna, Gebi



Setelah dari sekolah, Zayyan tidak mengajak Cia langsung pulang ke rumah. Cowok itu mengajak Cia ke tempat berkumpul Los Galacticos yang ada di dekat rumah mereka. Cia terkejut saat disana sudah ada Vinna. Dia kira hanya ada anggota Los Galacticos yang lain.


"Zayn." panggil Andra.


Raut wajah Zayyan menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Ketika Andra memanggilnya dengan nama Zayn, itu pasti ada hubungannya dengan dunia motornya. Cowok itu langsung menatap Andra dengan tatapan tajamnya.


"Penguntit itu suruhan Arion." ujar Andra.


"Gue udah lacak dia melalui alat penyadap suara yang Lo temuin kemarin." sahut Diego.


"Sejak kapan Lo bisa melacak orang?" tanya Cia.


"Shhtt! Lo diam dulu!" cetus Vinna sambil menarik tangan Cia agar duduk di sampingnya.


Mereka membicarakan mengenai perihal dunia motor yang sama sekali tidak bisa dipahami oleh Cia dan Vinna. Mereka berdua bahkan kaget bahwa anggota Los Galacticos yang tidak pernah ikut-ikutan balapan juga mengetahui serba serbi dunia motor.


"Lo mudeng nggak?" tanya Cia.


"Enggak." jawab Vinna.


"Yaudah, sama. Nyimak aja kita." ujar Cia yang langsung di angguki oleh Vinna.


Setelah berbagai pembicaraan yang tidak dimengerti oleh Cia. Akhirnya Zayyan menyebutkan namanya.


"Dia urusan belakangan. Sekarang gue gak mau tahu pokoknya Vannesa harus keluar dari sekolah! Dia bahaya buat Cia!" ucap Zayyan.


"Oh! Gue punya bukti!" cetus Cia.


Semua anggota Los Galacticos langsung menatap ke arah Cia. Cewek itu mengeluarkan handphonenya dan memutar rekaman suara pembicaraan antara Vannesa, Raya, dan Bunga. Dengan rekaman suara tersebut terlihat jelas siapa yang baik siapa yang jahat.


"Kirim rekamannya ke gue!" perintah Samuel.


Cia segera mengirimkan rekaman suara itu ke Samuel. Setelah di kirimkan ke Samuel, cowok itu mengirimkannya ke grup Los Galacticos.


"Sekarang masing-masing dari kita punya rekaman suara tersebut." ucap Mahen.


"Besok tunjukin rekaman itu ke Vannesa, tanya mereka mau ngaku dan keluar dari sekolah baik-baik atau dipermalukan lalu di keluarkan dari sekolah dengan cara hina." ucap Zayyan dengan nada dingin. Cowok itu menggenggam tangan Cia dan menarik kembali Istrinya tersebut agar berdiri. "Terserah kalian mau pulang atau masih mau disini." kata Zayyan. Setelah itu Zayyan menggandeng Cia naik ke atas untuk istirahat di kamarnya.


Sisa anak-anak Los Galacticos dan juga Vinna yang ada disana. Sunyi dan sepi. Mereka saling memandang satu sama lain. Suasana canggung menghampiri.


"Emm, Van ayo balik." ajak Vinna.


"Nggak ah, gue pengen nginep disini." ucap Vanno.


"Lah, anjr. Terus? Gue balik sama siapa?"


"Terserah sih, naik angkot atau becak juga boleh." jawab Vanno ngawur.


Plakk!!


"Gue tanya baik-baik anjir!"


"Nginep disini aja, kita semua juga mau nginep kok." ujar Mahen.


"Nah, emang Lo berani di rumah sendirian? Ayah sama bunda kan di luar negeri." tanya Vanno.


Vinna terdiam. Benar juga yang dikatakan Vanno. Sekalipun dia pulang, di juga tidak akan bisa tidur karena takut jika sendirian. Akhirnya cewek itu pasrah mengikuti adik kembarannya menginap. Toh ada banyak kamar disana. Totalnya ada 7, masing-masing anggota Los Galacticos satu. Vinna bisa tidur bareng Vanno.


Sebelum tidur para cowok bermain biliard yang ada di ruang tengah. Benar-benar Vinna saat ini dilanda gabut.


"Haish, ngapain juga tadi gue mau di ajak kesini?" gumam Vinna.


"Akh!"


"Sorry. Gue mau bicara sama Lo." ucap seseorang tersebut yang tidak lain adalah Andra.


Andra mengajak Vinna ke halaman belakang untuk berbicara. Sungguh saat ini Vinna sangat gugup. Bagaimana tidak? Mereka hanya berdua di halaman belakang. Em, ralat. Sebenarnya bertiga karena Gebi yang melihat mereka pergi tadi mengikuti mereka sampai ke halaman belakang.


"Ada apa?" tanya Vinna.


"Lo suka gue?" tanya Andra terang-terangan.


Jantung Vinna berdegup cepat. Dia bingung harus menjawab iya atau tidak. Cewek itu tidak menyangka perasaannya akan ketahuan hari ini.


"Gak usah bohong. Gue udah tahu. Gue cuma mau bilang, jangan suka gue. Gue bukan yang terbaik buat Lo. Ada cowok yang lebih baik, yang sayang dan cinta sama Lo." ujar Andra


"Ketahuan ternyata..." gumam Vinna sambil tersenyum miris. "Gue gak berharap Lo balas perasaan gue, karena gue tahu Lo udah punya Bunga. Tapi jangan larang gue jatuh hati sama Lo." kata Vinna dengan mata berkaca-kaca.


Andra menggelengkan kepalanya tegas. "Berhenti suka sama gue! Ada cowok yang sayang dan cinta sama Lo. Hargai dia. Jangan kejar yang gak akan mungkin bisa Lo dapatkan." tandas Andra. Kemudian cowok itu berbalik dan masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati Gebi menguping pembicaraan mereka. Andra berhenti dan bertatapan dengan Gebi.


"Gebi..." gumam Vinna yang melihat dari kejauhan.


"Kenapa Lo lakuin itu?" tanya Gebi kepada Andra.


"Gue gak mau persahabatan kita hancur. Cukup tadi siang Lo diam sama gue. Samperin dia." perintah Andra. Kemudian cowok itu masuk kedalam.


Gebi mengalihkan pandangannya kepada Vinna yang masih menangis di luar sana. Cowok itu menghampirinya dan mengajaknya duduk di kursi yang ada disana. Di usapnya air mata yang jatuh di pipi Vinna.


"Jangan nangis, nanti cantiknya hilang." ucap Gebi.


Bukannya berhenti menangis, Vinna malah semakin menangis menjadi-jadi.


"Bi, gue harus nyerah kah?" tanya Vinna.


"Gue gak bisa ambil keputusan buat Lo. Yang bisa buat keputusan itu Lo sendiri." jawab Gebi. Tangan cowok itu terangkat merapikan rambut Vinna yang berantakan.


"Bantu gue. Tolong bantu gue move on dari Andra." pinta Vinna.


Gebi mengerutkan keningnya. "Bantu gimana?" tanya Gebi.


"Jadi pacar gue."


Di lantai atas, tepatnya di balkon. Cia dan Zayyan melihat semua kejadian barusan. Posisi mereka agak-agak ya kalau dilihat orang. Karena Cia berdiri dan dipeluk Zayyan dari belakang. Dan Zayyan menenggelamkan kepalanya di pundak Cia.


"Kisah mereka unik gak sih?" tanya Cia.


"Enggak, lebih unik kisah kita." jawab Zayyan. Cowok itu masih menenggelamkan kepalanya di bahu Cia.


"Jangan gitu ih! Geli!"


Zayyan mengangkat kepalanya. Lalu membalikkan tubuh Cia agar menghadap ke dirinya. Cowok itu menatap mata Cia dengan tatapan yang teduh dan hangat.


"Lo tadi pagi tanya gue suka atau nggak sama Lo. Kalau gua jawab iya jawaban Lo gimana? Kalau gue jawab nggak jawaban Lo gimana?" tanya Zayyan.


Cia meletakkan tangannya di dagu seolah sedang berpikir. "Kalau iya, gue bakal jawab gue juga. Kalau nggak gue bakal jawab tapi gue suka, dan Lo wajib suka." jawab Cia sambil mengalungkan tangannya di leher Zayyan.


"Kalau gitu gue jawab iya." ucap Zayyan sambil tersenyum. Kemudian mengecup kening Cia.


...***...


...Bersambung......