
Sial, sekali. Ketika sudah sampai di sekolah gerbang masuk sudah ditutup oleh satpam. Karena bus tadi sempat menepi sebentar ketika dirinya berkelahi dengan Sasha.
"Yash, pak cuma telat 10 menit loh pak." ucap Cia memohon.
"Ya nggak bisa neng. Udah peraturan." jawab Satpam.
Cia benar-benar kesal. Tahu begini dia tadi memilih berangkat bersama Zayyan saja. Gak ketemu si penjaga kasir centil. Dan tentunya dia juga tidak akan terlambat karena Zayyan berangkat sejak jam setengah tujuh. Akhirnya Cia di hukum dengan hormat kepada bendera di lapangan dan berdiri menggunakan satu kaki selama jam pelajaran pertama.
"Sial banget gue..." gumam Cia.
Cewek itu melirik ke kanan kirinya sepi tidak ada siapapun. Sial banget sih memang, biasanya dia melihat kalau ada siswa atau siswi yang terlambat pasti ada temannya di hukum. Lah ini? Bisa-bisanya semua datang tepat waktu dan hanya dirinya yang terlambat datang ke sekolah.
Di Kelas 3-2
Zayyan tidak memperhatikan guru yang sedang menerangkan. Padahal tempat duduknya itu ada di meja nomor 3 dari depan yang lurus dengan papan tulis. Tapi dia tidak peduli dengan guru yang sudah pasti akan marah kepadanya. Cowok itu menatap ke luar jendela melihat Cia yang sedang menjalani hukumannya.
Andra yang duduk tepat di samping Zayyan merasa penasaran dengan apa yang dilihat sahabatnya itu. "Lihat apaan sih?" tanya Andra berbisik sambil melihat ke arah yang sejak tadi di perhatikan Zayyan.
"Lihat mbak doi." sahut Gebi juga berbisik yang duduk di belakangnya.
"Diam!" ucap Samuel dengan nada dingin. Tentunya juga dengan berbisik.
"ZAYYAN!" teriak guru perempuan yang ada di depan. Guru itu sadar sejak tadi Zayyan tidak memperhatikan dirinya menerangkan pelajaran.
Zayyan mengabaikan panggilan dari gurunya. Cowok itu tetap melihat keluar jendela. Sekalipun dirinya sudah menjadi pusat perhatian karena seisi kelas memandangnya, dia tetap masa bodoh.
"Zayyan Alfiano Maheswara!" panggil guru tersebut.
Setelah disebut nama lengkapnya Zayyan menghadap ke depan dengan tatapan datar dan dinginnya. Zayyan beradu tatapan dengan guru kimia yang terkenal sebagai guru killer. Baik Zayyan ataupun guru kimia tersebut saling melemparkan tatapan tajam.
"Lihat apa kamu?! Kenapa tidak memperhatikan?! Sudah bisa dengan pelajaran yang saya terangkan?!" tanya sang guru kimia.
"Sudah." jawab Zayyan yang membuat seluruh isi kelas tercengang.
"Kalau begitu kerjakan soal di depan!" perintah guru tersebut.
Tanpa banyak bicara, Zayyan maju dan mengerjakan soal di papan tulis dengan cepat. Setelah guru kimia itu menyatakan bahwa jawaban yang diberikan Zayyan benar Zayyan di perbolehkan duduk lagi dengan syarat harus memperhatikan pelajaran. Tetapi Zayyan tidak kembali ke mejanya. Cowok itu mengambil air mineral yang masih utuh di dalam tas guru kimia tersebut dan membawanya keluar kelas.
"ZAYYAN!" bentak guru tersebut. Tapi Zayyan tidak menggubrisnya. Akhirnya guru itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengelus dada bersabar.
"Baiklah, kita lanjutkan pelajarannya. Harap memperhatikan semuanya!"
"Baik Bu!"
Pelajaran berjalan lagi.
Di sisi lain Cia sudah mulai merasakan pusing di kepalanya karena terpapar sinar matahari terlalu lama. Ya, sekalipun itu sinar matahari pagi tetapi jika terlalu lama apalagi sambil berdiri dengan satu kaki pasti terasa pusing.
Tiba-tiba seseorang menarik dirinya untuk meneduh ke bawah pohon yang ada di pinggir lapangan. Yap, itu adalah Zayyan. Cowok itu mengusap keringat Cia menggunakan sapu tangannya. Kemudian menyodorkan air mineral.
"Lo gak ikut pelajaran?" tanya Cia setelah meminum air yang diberikan Zayyan.
"Bolos." jawab Zayyan singkat.
"Gak mau. Ayo ke kantin." ajak Zayyan.
Cia menggelengkan kepalanya. Cewek itu kekeuh menyuruh Zayyan kembali ke kelasnya untuk mengikuti pelajaran. Tapi Zayyan tetaplah Zayyan yang hobi bolos, dia tidak mau kembali ke kelas.
"Lo tadi belum sarapan. Nanti sakit gak bisa buatin gue susu." ucap Zayyan.
Cia cengo seketika. Bisa-bisanya Zayyan mengatakan hal seperti itu dengan wajah yang super datar. Tidak ada ekspresi sedikitpun di wajah cowok itu.
"Gue bisa beli sarapan sendiri." jawab Cia.
"Bantah suami itu dosa!"
Sialan, Cia tidak bisa menjawab sekarang.
Melihat Cia diam Zayyan langsung menarik tangan Cia agar berdiri dan mengikutinya ke kantin. Tapi cowok itu langsung melepaskan tangannya ketika mendengar Cia mengaduh kesakitan.
"Kenapa?" tanya Zayyan.
"Kaki gue sakit tolol!"
Zayyan melihat kaki Cia. Sudah tentu kaki Cia terasa sakit karena dia sudah berdiri dengan satu kaki kira-kira selama dua puluh lima menit. Gimana kaki nggak sakit coba. Cowok itu diam sebentar, lalu tanpa ragu Zayyan menggendong Cia ala bridal style.
"Yak! Turunin Zayyan!"
"Gak." jawab Zayyan.
"Turunin atau gue panggil baby Ay!" ancam Cia agar Zayyan mau menurunkan dirinya.
Tapi salah, Zayyan masa bodoh dengan ancaman Cia. "Terserah." ucap Zayyan dengan wajah datarnya.
Seluruh siswa siswi yang ada di kelas berebutan mengintip adegan romantis antara badboy dan penghuni tiga besar yang terjadi di lapangan upacara. Para cewek langsung berteriak histeris karena baper.
"Ckckck... kalau udah bucin susah ya." ucap Gebi yang melihat dari jendela bersama siswa-siswi lainnya.
Di tempat lain Vinna dan Vanno juga melihat kejadian tersebut. "Njir, kayak di drakor please. Mau juga di gendong pangeran." ucap Vinna yang terang-terangan bilang iri melihat Cia yang di gendong Zayyan.
"Bukannya Lo udah sering gue gendong?" tanya Vanno.
"Dih, Lo mah Kasim! Bukan pangeran!" celetuk Vinna yang langsung di sambut tawa seisi kelas.
Ketika sebagian besar siswa dan siswi merasa Zayyan dan Cia romantis. Tetapi ada juga yang tidak suka melihat mereka seperti itu. Ya. Mereka adalah Vannesa, Raya, dan Bunga yaitu orang yang menjebak Cia dan Zayyan saat di perkemahan.
"Apa sih?! Bukannya dikeluarkan malah dinikahkan!" cetus Vannesa merasa kesal.
"Tahu! Harusnya di keluarin! Di sebarin kalau mereka udah berzina!" sambung Raya.
Bunga hanya diam saja. Cewek itu tidak terlalu suka menggosip. Makanya setiap Vannesa dan Raya menggosipkan Zayyan dan Cia dia tidak pernah ikut bergabung. Dia hanya ikut menjalankan rencana yang sudah di susun Vannesa dengan patuh. Dia tidak bisa menolak karena ayahnya Vannesa merupakan direktur di tempat kerja papanya. Ketika dia menolak melakukan sesuatu, maka Vannesa akan mengancam dengan menyuruh ayahnya memecat papanya yang hanya manager di kantor tersebut.
...***...
...Bersambung......